Kamis, 17 September 2009

Sukardi dengan Kelontong Berjalan

Namanya cukup unik, kelontong berjalan. Artinya, toko kelontong yang tidak menetap di suatu tempat melainkan mendatangi para pelanggannya. Mungkin kita biasa mengenal usaha ini dari ’’pedagang mlijo’’ yang keliling komplek atau kampung dengan mengendarai sepeda atau sepeda motor berdagang sayuran dan kebutuhan sehari-hari. Memang mirip. Bedanya, pria yang satu ini menempuh jarak yang cukup jauh.

Adalah Sukardi, pria asal Sragen, Jawa Tengah, yang menyuplai kebutuhan pokok masyarakat di Pulau Gili Trawangan, Lombok, sekitar 50 km dari kota Mataram. Pria yang pernah bekerja sebagai kuli bangunan ini mengunjungi Pulau Gili Trawangan tahun 2000. Kala itu ia melihat peluang usaha di pulau seluas 8 km persegi ini. Pulau yang hampir setiap hari didatangi turis asing ini menyimpan potensi wisata yang besar dengan puluhan hotel. Sayangnya, dengan transportasi yang terbatas, pemenuhan kebutuhan pokok sangat sulit.

Kunjungan awal ke pulau ini, membuat pria ini mantap mengembangkan usaha kelontong berjalan. Sebulan kemudian, pria yang akrab dipanggil Kardi ini kembali dengan beragam kebutuhan pokok yang dibutuhkan penduduk pulau ini.

’’Awal mula usaha ini saya mendapatkan pinjaman dari saudara Rp 5 juta. Uang itu langsung saya belanjakan sayuran, telur, gula, sirup, beras dan kebutuhan pokok lain dan langsung saya angkut dengan kapal ke Gili Trawangan,’’ terang Kardi yang ditemui wartawan majalah ini di kapal kelothok menuju Gili Trawangan. Begitu sampai, dagangan Kardi langsung laris manis.

Langkah awal yang sukses ini, membuat Kardi makin optimis berbisnis seperti ini. Seminggu kemudian, Kardi melengkapi dagangannya tak hanya kebutuhan pokok saja namun kebutuhan lainnya seperti sendok, garpu, sprei, gorden, kain, baju, sandal, dan lain-lain.

Kiat

Kini Kardi memberi kelonggaran para pelanggannya untuk melakukan pembayaran di belakang [tidak kontan] sebagai kiat untuk menghadapi pesaing. ’’Kalau nggak bayar mundur dagangan saya nanti kalah bersaing dengan yang lain. Biasanya saya tagih sebulan kemudian setelah barang diambil,’’ tegasnya.

Kardi yang keluarganya belum diboyong ke Lombok ini mengaku, ia bisa mendapatkan keuntungan hingga 100 persen. Bahkan, untuk barang-barang souvenir yang dijualnya [batik, kaos, celana, dan sejenisnya] ia bisa mendapatkan keuntungan hingga 150 persen.

’’Sekarang saya baru percaya, tak perlu pergi jauh-jauh keluar negeri untuk cari uang. Kalau kita ulet dan bisa menangkap peluang, bekerja di dalam negeri pun bisa memberi rezeki yang berlimpah,’’ ujarnya.

Dari hasil berdagang kelontong berjalan, Kardi kini bisa membeli truk dan rumah di kampungnya. Truk dimanfaatkannya untuk menyuplai barang-barang dari Sragen ke Lombok. Sementara ini ia memang masih belum berniat pindah ke Lombok bersama keluarganya. Baginya, kota asalnya, Sragen, masih melekat di hatinya untuk hidup di hari tua nanti. [DEWI]

0 komentar: