Minggu, 24 November 2013

”Semoga Pemerintah segera (lebih) Melek”


Di kalangan BMI-HK begitu banyak grup/komunitas/organisasi, baik yang berbasis online (lebih banyak melakukan interaksi melalui telepon dan/atau internet) maupun offline (lebih banyak berinteraksi dalam pertemuan langsung). Tentu ini kabar yang baik. Komunitas/organisasi adalah sejenis wadah tempat para anggotanya berinteraksi, menggalang solidaritas, saling asah dan saling asuh dalam suasana kekeluargaan yang penuh cinta-kasih. Sementara itu, di tanah air juga ada banyak komunitas yang beranggotakan buruh/mantan buruh, dengan pembidangan yang beraneka-macam. Ada yang mengkhususkan bidang advokasi, ada yang memusatkan perhatian dan kegiatan-kegiatannya pada pemberdayaan ekonomi, seni, kerajinan, pertanian termasuk di dalamnya perikanan dan peternakan, dan lain-lain.

Oleh kerena itu, seharusnya tidak muncul dari mantan perantau yang setelah berbilang bulan menetap kembali di kampung halaman keluhan bahwa mereka kesepian. Tetapi, faktanya keluhan demikian sering terdengar. Sosok yang jika hari libur bergerak nyaris bak gangsing saking banyaknya kegiatan diikuti sewaktu di HK, baik yang berorientasi sosial, rekreasi, maupun berorientasi keuntungan finansial, mendadak merasa bagaikan kepompong di kampung halaman sendiri. Syukur jika segera mendapatkan sayap dan semakin tinggi mobilitas dan jangkauannya. Jika berangsur membeku? Itulah gawatnya.

Pengalaman berorganisasi/berkomunitas di perantauan akan menjadi lebih bermakna jika kemudian dikembangkan di kampung halaman. Bisa tetap berkomunitas dengan sesama mantan pekerja migran, bisa pula merekrut teman-teman di kampung yang memiliki ketertarikan/minat pada bidang yang sama. Kata-kata yang dapat dipedomani dalam hal ini adalah: ”Sesuatu yang susah atau bahkan nyaris mustahil diraih sendirian akan dengan mudah diraih bersama-sama.”


Perihal Komunitas

Tadi sudah disebut betapa banyak grup/komunitas/organisasi yang ada dikalangan BMI-HK. Tidak perlu disebut namanya karena akan tidak adil hanya menyebut satu-dua. Bahkan, di dalam satu bidang, sebutlah bidang seni-kerajinan misalnya, ada beberapa grup Facebook-nya. Demikian pula di bidang seni-pentas, bahkan, kalau dipersempit lagi bidangnya, misalnya menjadi seni-tari, kita masih akan menemukan ’banyak’ grup/komunitas.

Sejauh saling terjadi interaksi positif antarkomunitas, tentu semakin banyak jumlah grup itu semakin baik. Namun, akan semakin baik lagi jika dibentuk forum atau semacam wadah besar yang menaungi semua grup yang sama bidang garap atau wilayahnya.

Masing-masing grup tentu dibentuk dengan latar-belakang, visi, serta misi masing-masing. Namun, jika bidang garapnya sama, misalnya sama-sama di wilayah seni tari, atau seni kerajinan, pasti ada bagian yang dapat digunakan sebagai pilar untuk mempertemukan mereka. Dan bertumpu pada pilar itulah gerakan bersama bisa semakin bertenaga, suara bersama bisa semakin keras, dan doa bersama semakin besar peluang untuk terkabulkan.

Sebuah komunitas terbentuk/dibentuk untuk satu atau beberapa tujuan. Kemungkinannya antara lain: mempererat persaudaraan antarindividu/perorangan yang memiliki ketertarikan/minat/profesi di bidang yang sama, membangun solidaritas, dan memperluas jejaring komunikasi. Semakin besar sebuah komunitas/organisasi, semakin banyak anggotanya, semakin besar pula kekuatannya, posisi tawarnya.

Dalam konteks ini, andai saja ada kemauan untuk mempersatukan grup/komunitas yang tampaknya kini masih terlepas satu saama lain itu artinya adalah: sebuah kekuatan berlipat potensial didapat dari penyatuan itu. Kekuatan itu akan makin nyata jika sudah terbangun sistem yang bagus, ada komunitas/organisasi resmi yang kokoh (memiliki akta notaris), kemudian ada interaksi/komunikasi secara institusional lintas-komunitas yang memungkinkan dijalinnya kerja sama yang baik, termasuk dengan lembaga-lembaga di pemerintahan.

Komunitas dan Pemerintah

Kegiatan BMI yang masih di luar negri atau yang sudah kembali ke kampung halaman dan merintis usaha/bisnis sendiri patut mendapatkan apresiasi lebih. Sudah banyak contoh yang terbukti mampu membalik keadaan dari sebagai pencari kerja menjadi pemberi kerja. Dengan demikian, yang bersangkutan tidak hanya mengentaskan dirinyaa, melainkan juga mengentaskan banyak orang di sekitarnya. Komunitas-komunitas itu, baik yang bergerak di bidang literasi, melek baca, dan bahkan menulis, maupun yang bergerak di bidang produksi (makanan, kerajinan, busana, dll.) pasti sangatlah besar andilnya dalam mendukung gerakan pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah. Tanpa menguranagi rasa hormat pada upaya-upaya pemerintah, malahan sering terlihat apa yang dilakukan oleh BMI sendiri lebih bermakna daripada program top-down versi pemerintah.

Dalam konteks seperti itu sesungguhnya pemerintah mesti melihat dan merangkul kegiatan positif para BMI terutama yang terwadahi dalam aneka komunitas itu. Komunitas-komunitas di kalangan BMI itu sungguh berjasa dalam hal pemberdayaan searah dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah.

Interaksi lintas organisasi termasuk dengan lembaga pemerintah dapat dibangun dengan lebih baik oleh komunitas-komunitas terdaftar secara ’resmi’ (berakta notaris). Komunitas-komunitas yang sudah terdaftar secara resmi juga memiliki peluang untuk mengaakses berbagai macam bantuan dalam bentuk jasa, barang, maupun uang segar dari pemerintah.

Berbicara tentang Indonesia tentu tidaklah lengkap sebelum menyebut keberadaan BMI (pemerintah menyebutnya sebagai: TKI Luar Negri) yang pada semester pertama 2013 ini telah mengirim remiten ke tanahair sebesar Rp36,89 triliyun! Jangan dikira sumbangan mereka hanya berbentuk uang segar. Selain itu, mereka juga mengurangi beban berat di pundak pemerintaha berupa kewajiban menyediakan lapangan kerja di dalam negri. Oleh karenanya, pemerintah bisa dipandang sebagai ’durhaka’ terhadap sang pemilik sejati kekuasaan alias rakyatnya jika tidak bersikap apresiatif dan mendukung segenap upaya positif yang dilakukan para BMI.

Lebih ’durhaka’ lagi jika setelah tak mau memandang dengan serius upaya-upaya pemberdayaan yang dilakukan oleh para BMI itu lalu pemerintah lebih suka membelanjakan uang negara untuk proyek-proyek pencitraan, termasuk berbelanja iklan (melalui media cetak maupun elektronik, melalui pemasangan baliho, selebaran, termasuk temu sosialisasi, dan lain-lain), dan untuk mengimpor TKA (tenaga kerja asing) dengan gaji yang tinggi untuk pekerjaan-pekerjaan yang sesungguhnya dapat dilakukan oleh anak bangsa sendiri. Lebih lucu lagi, mengimpor dan menggaji tinggi orang asing untuk bermain(-main) sepakbola di Indonesia!


Peranan Komunitas

Warga Negara itu memiliki tabungan yang dibayarkan antara lain melalui pajak, dan asset berupa kekayaan alam yang dikelola oleh pemerintah untuk (seharusnya) kesejahteraan bersama. Pemerintah memanfaatkan dana itu berdasarkan APBN/APBD yang dibuat setiap tahun. Selain proyek/program yang dibuat oleh pemerintah, masyarakat juga memiliki hak untuk memanfaatkan dana negara itu untuk kegiatan-kegiatan kolektif maupun perorangan yang kontributif terhadap program-program pemerintah di berbagai bidang. Di sinilah terbuka peluang sangat lebar bagi komunitas/organisasi masyarakat (yang berakta notaris) untuk ikut memanfaatkan dana ”tabungan bersama” itu melalui mekanisme yang sudah diatur: mengajukan proposal melalui dinas terkait.

Bukan hanya dana segar (cash money) yang berhak diminta masyarakat dari pemerintah, melainkan juga bantuan berupa barang (misal: mesin/alat produksi, bibit tanaman/hewan ternak, buku, dll.), materi pelatihan, dan lain-lain.

Masyarakat juga memiliki semacam ”tabungan bersama” di dalam perusahaan-perusahaan besar, badan usaha milik swasta maupun pemerintah. Mereka biasanya menyalurkan/membayarkan/mengembalikan ”tabungan bersama” itu ke masyarakat melalui apa yang dikenal dengan CSR (corporate social responsibility). Semakin besar KOMUNITAS (semakin banyak jumlah anggotanya), semakin rapi tata-kelolanya, semakin eksis (padat dan berkualitas agenda kegiatannya) semakin besar pula kekuatannya untuk menarik serta ikut mengelola ”tabungan bersama” itu.” [Bonari Nabonenar]

Banjir Bandang yang Membawa Berkah

Abdul Rosyid, Produsen Alat Dapur
Di balik kesulitan itu sebenarnya ada kemudahan. Setelah usahanya ludes terbawa banjir bandang 2006 silam, kini usaha bapak 2 anak ini justru makin berkibar.
Banjir bandang yang melanda Jember di tahun 2006 silam itu memporakporandakan beberapa kecamatan. Tak hanya korban nyawa dan harta benda saja, Jember yang dikenal sebagai sentranya industri perabotan dapur itu, ketika banjir melanda membuat para korbannya kehilangan mata pencahariannya pula.

”Sebelum banjir home industry semacam saya ini ada 58 perajin. Gara-gara kebanjiran jadi vakum semua. Habis semua waktu itu. Banjir terjadi karena hutan gundul. Rumah-rumah banyak yang terkena longsoran. Rumah yang saya tempati selamat dari longsoran, hanya berjarak 500 meter saja dari longsoran tapi tempat produksi saya yang kena. Jadi rumah saya saat itu dipakai mengungsi orang-orang yang kehilangan rumahnya tadi. Ada 29 orang yang tinggal di rumah saya. Mereka tinggal selama 21 hari. Karena mereka pengungsi ya otomatis saya yang menanggung kehidupan mereka selama 21 hari itu,” jelas Abdul Rosyid berkisah.

Karena industri perabotan dapur ini merupakan salah satu andalan dari kabupaten Jember maka pemerintah setempat berupaya keras untuk membangun kembali usaha ini pasca banjir saat itu. Jumlah perajin yang semula sebanyak 58 itu, hanya tersisa 3 perajin saja.

”Kami mulai dari 0 lagi. Kan para perajin sudah pada kabur entah kemana. Karena barang-barang mereka banyak yang hilang. Yang tersisa cuma 3 orang aja. Waktu itu saya bermodalkan uang 400 ribu mulai membuka usaha ini lagi. Itu sampai modalnya kita mintakan ke sales gitu, saya bilang lagi butuh modal nanti barangnya dikirim kalau situasi sudah kondusif dan jembatan telah dibangun. Uang 400 ribu itu untuk beli bahan aja. Kadang saya kayak pengepul, kalau saya butuh barang, barang punya teman saya pinjam dulu, nanti kalau sudah laku saya bayar,” imbuhnya.

Berkah Banjir

Dinas Koperasi dan UMKM Jember kala itu langsung turun tangan membantu mempromosikan binaannya ini agar sentra perabotan dapur ini bisa bangkit kembali seperti sebelum banjir bandang terjadi. Sebagai langkah awalnya, Rosyid kerapkali diikutkan pameran di berbagai tempat, hingga dari ajang itu, suami dari Fenti Kusuma ini banyak mendapatkan pesanan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

”Saya merintis usaha ini sejak tahun 1994. Tapi, ya begitu itu, jatuh bangun. Susah sekali untuk gol, maksud saya nggak bisa berkembang. Semua usaha sendiri karena perhatian dari pemerintah nggak ada. Setelah kebanjiran itu jadi dikenal sama dinas koperasi. Kami dibantu pemasarannya. Dulu kami pemasarannya istilahnya jemput bola, door to door gitu sebelum banjir. Datang ke kantor-kantor PKK begitu untuk menawarkan produk. Tapi, setelah banjir kami dapat pembinaan, dan hampir seluruh Indonesia sudah saya ikuti pamerannya, jadi permintaan pun berdatangan dari berbagai daerah itu,”ungkapnya.

Kini omzet usaha ayah dari Wafa Prasetia dan Ibnu Affa ini dalam sebulan bisa mencapai 200 juta. Tak hanya itu, pemilik dari UD Sejahtera tersebut mengaku kalau bisnis ini sepi dari persaingan.

”Nggak ada cara untuk mengatasi persaingan. Yang ada kita malah kekurangan barang. Masalah persaingan itu nggak ada. Yang nggak ada kita itu malah kekurangan tenaga kerjanya. Ini semua manual. Nggak ada mesin khusus untuk membuatnya. Tenaga kerjanya juga bukan anak STM. Semuanya bisa dibilang otodidak. Misalnya saya ingin buat oven, ya saya ngajari tenaga kerja saya caranya membuat oven itu. Dari nol puthul malah ngajari mereka ini,” lanjutnya.

Sementara itu untuk bahan baku aluminumnya, ia mengaku mendapatkannya di Surabaya. Pria kelahiran Jember 16 Januari 1975 ini mengaku untuk ide desain bentuk dari produk-produknya itu selain berasal dari imajinasinya, juga banyak ia dapatkan dari permintaan konsumennya.
”Kalau soal desain barang kadang dari imajinasi saya sendiri, kadang juga dari pembeli. Kan pembeli itu suka juga minta dibuatkan barang yang bentuknya begini begitu. Ya coba kita buatkan sesuai permintaannya itu,” katanya.

Ditembak

Ia pun mengaku tak mempermasalahkan kalau desain produk miliknya itu pada akhirnya banyak ’ditembak’, alias ditiru produsen lain. Menurutnya keuntungan tidak ia dapatkan dari penjualan desain-desain baru produknya itu.

”Memangnya desain itu banyak ditiru orang. Nggak jadi masalah. Kita menangnya dari penjualan. Kita kejar omzet. Artinya kita sudah untung dari pembelian bahan baku. Kalau mereka beli secara eceran bahan bakunya, saya sudah beli partai. Meski harga jual barangnya sama tapi labanya tetap menang kita karena sudah beli secara partai tadi,” tambahnya.[niken anggraini]

Kamis, 31 Oktober 2013

Pasar Burung Online


Dalam beberapa bulan ini Peduli mengikuti geliat pasar (aktivitas penawaran-jual-beli) burung online, melalui beberapa grup Facebook yang dibuat secara khusus untuk area Malang Raya dan Surabaya. Khusus untuk area Malang Raya saja, secara sekilas bisa diperkirakan bahwa omzet jual-beli burung yang ditawarkan melalui media online ini bisa mencapai ratusan juta rupiah dalam sebulan. Di dalam media online ini penjual menawarkan dagangannya (burung) dengan menyertakan foto, kadang juga video, dan keterangan lengkap: usia, jenis kelamin, harga penawaran, lokasi, nomor telepon yang bisa dihubungi, dll. Para peminatnya lalu mengajukan tawaran melalui kolom komentar, kadang juga menanyakan informasi yang belum disampaikan. Ketika ada kecocokan harga, lalu disepakati untuk makukan transaksi dengan cara transfer agar kemudian barang dikirim melalui perusahaan jasa pengiriman, atau COD (cash on delivery) yakni pembayaran dilakukan dalam pertemuan penjual dengan pembeli di tempat yang disepakati, dan yang lebih sering tampaknya adalah yang dikenal dengan singkatan PCB (pantau, cocok, bayar). PCB berarti calon pembeli mengunjungi kandang penangkaran pihak penjual, mengamati burung yang hendak dibeli, dan jika terjadi kecocokan baru dilakukan pembayaran/transaksi.

Pasar burung online ini serta-merta membuka persepsi kita akan keluasan pasar, dan menyadarkan kita bahwa walaupun tidak termasuk kebutuhan pokok, burung merupakan komoditas yang sangat menjanjikan. Di pasar burung ini bukan hanya para penangkar dan penghobi (yang memelihara burung hanya untuk menikmati suara/kicaunya) melainkan juga terlibat para distributor/pengepul, dan blantik kecil yang membeli burung dari para tetangganya atau relasi yang sudah lama dibangun, atau juga dari para penjual online dalam jumlah hanya beberapa ekor, kemudian segera menjualnya ketika sedikit keuntungan diperoleh.

Para penyedia jasa pengiriman makhluk hidup (baca: hewan peliharaan) pun terlibat di pasar online ini sebagai pihak pengantar komoditas (dari penjual ke pembeli yang tidak melakukan pertemuan langsung karena terhalang jarak yang jauh).

Bagi para penangkar, terbukanya pasar online ini sungguh merupakan kabar baik. Mereka yang biasanya gagap ketika harus berhadapan langsung dengan pihak lain untuk menawarkan barang dagangan, kini tak perlu lagi grogi, sebab –bahkan—kita bisa membuat akun dengan nama lain untuk berperan sebagai penjual. Dengan catatan, nomor telepon dan alamat kita harus asli ketika dibutuhkan, dan kejujuran, seperti halnya di tempat lain, adalah taruhan utama di pasar online ini.

”Niatingsun (baca: saya berniat) dan sudah memulai beternak burung sekarang, karena saya tahu bahwa saya akan dapat menjual hasil penangkaran saya nanti dengan sangat mudah,” ujar seorang kawan. Ada pula lho, penangkar burung kenari di kawasan Malang Raya yang dapat suntikan modal tambahan dari istrinya yang bekerja Hong Kong. Nah!*

Sabtu, 28 September 2013

Fokus dalam Berusaha

Kualitas hasil sebuah tindakan yang kita lakukan antara lain ditentukan oleh seberapa kita fokus dalam melakukan atau mengupayakannya. Fokus itu artinya pusat, titik pusat yang dibidik, dituju, disasar. Fokus dalam bertindak atau berusaha artinya kita menyurahkan segenap perhatian dan segala sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan yang sudah kita tetapkan. Banyak orang memaknai ”fokus dalam berusaha” sebagai hanya melakukan satu tindakan, satu jenis usaha, untuk mengindari konsentrasi terbagi dan tujuan menjadi semakin sulit tercapai. Itu bisa benar, bisa pula salah! Ketika kita sudah dapat menilainya sebagai bisa benar atau bisa salah, pertimbangan-pertimbangannya bukan semata-mata makna kata secara harfiah. Mari kita lakukan uji awal dengan pertanyaan sederhana sambil mengupulkan rekaman pengetahuan kita mengenai fakta-fakta pendukung di sekeliling. Siapakah yang lebih atau paling berpotensi mencapai kesuksesan dalam usaha toko, mereka yang tokonya menjual hanya satu jenis barang atau yang menjual bermacam-macam barang? Yang hanya memiliki usaha toko atau memiliki jenis usaha lain, misalnya jasa transportasi, atau usaha produksi barang? Semua memiliki potensi yang sama untuk mencapai sukses bukan?

Begitu pun di dalam pertanian, kita mengenal pola tanam tumpangsari, beraneka jenis tanaman ditanam di lahan yang sama pada waktu yang relatif bersamaan. Jika benar pemilihan jenis-jenis tanamannya, pola tumpangsari itu sudah terbukti mendatangkan lebih banyak hasil/keuntungan. Seperti usaha toko yang dikerjakan seiring usaha produksi barang dan jasa angkutan tadi, itu juga potensial mendatangkan lebih banyak keuntungan sekaligus menjamin kelancaran seluruh usaha itu. Hasil produksi bisa segera didistribusikan dengan angkutan/transportasi yang selalu siap. Ada pula toko sendiri yang menjadi tempat penjualan langsung. Variasi jenis usaha ayang demikian tidak berpotensi mengurangi konsentrasi, malahan menjanjikan keuntungan lebih.

Persoalan modal mungkin muncul jika sekian jenis usaha dirintis bersamaan. Tetapi, bagi pemula yang bermodal tipis, perencanaan bisa dibuat bertahap.

Yang sering membuyarkan konsentrasi sesungguhnya bukanlah variasi jenis usaha yang tumbuh secara alamiah dari dalam, sesuai kebutuhan, tuntutan permintaan (pasar/client), dan ketersediaan modal. Yang benar-benar bisa menjadi ancaman konsentrasi dan membuat pelaku usaha tidak fokus biasanya adalah faktor eksternal (luar) berupa ketergiuran melihat pelaku usaha lain mengeruk keuntungan dengan cepat dalam bisnisnya yang tidak ada hubungannya dengan bisnis yang sudah dirintis. Apalagi, pepatah bilang, ”Baju yang cocok dikenakan seseorang belum tentu cocok ketika orang lain yang mengenakannya.”[p]

Jumat, 26 Juli 2013

peluang bisnis di penangkaran burung

Kini burung telah menjadi hewan kesayangan baik di desa-desa maupun di kota-kota. Memelihara burung bukan lagi hanya jadi klangenan (baca: kesukaan) para pensiunan untuk mengisi waktu luang sambil menikmati hari tua, melainkan juga jadi semacam gaya hidup. Keberadaan burung sebagai hewan piaraan juga memebuka banyak peluang usaha penyedia pakan (pabrikan maupun industry rumahan), pembudidayaan hewan pakan semisal jangkrik, ulat, dan lain-lain, pembuatan sangkar, dan tak ketinggalan pula peluang usaha jasa pengiriman hewan piaraan.

Jika dahulu, mula-mula para penghobi burung hanya/lebih banyak mengandalkan burung tangkapan dari alam liar, kini hampir semua jenis burung berhasil dibudidayakan, ditangkarkan, bahkan di kota-kota besar. Malang, misalnya, sejak lama dikenal sebagai kota penghasil burung kenari. Para pengepul/distributor kenari di Solo, Yogyakarta, bahkan Jakarta, banyak yang kulakan burung kenari ke Malang. Tetapi, lambat-laun peta penangkaran kenari pun berubah. Walau Malang masih dikenal sebagai penghasil burung kenari, kota-kota lain seperti Solo, Yogyakarta, dan bahkan Jakarta pun mulai menampakkan geliatnya di bisnis penangkaran burung mungil bersuara dering melengking ini.

Burung kenari banyak sekali jenisnya. Harganya pun berfariasi, dari kelas Rp100 ribu/ekor hingga jutaan rupiah. Coba, jika setahun bisa empat kali berproduksi (menetaskan telurnya) dengan 3 – 5 anak setiap kali produksi, berapa keuntungan dapat dikeruk? Ingat, pakan burung kenari adalah biji-bijian dan sayuran yang tidak mahal harganya. Dengan badan semungil itu, dapat dipastikan burung ini tidak mahal di pakan-nya.

Ada lagi burung gould amadin (baca: halaman 12 – 17) yang seperti halnya kenari, sama-sama mungil posturnya. Dan yang hinggga kini tak pernah sepi peminat adalah si paruh bengkok: lovebird.

Perkembangan media jejaring sosial seperti Facebook juga mendorong perkembangan penangkaran dan pemasaran berbagai jenis burung (sebenarnya juga termasuk banyak jenis hewan piaraan lainnya). Hampir setiap kota/kabupaten memiliki grup penggemar, penangkar, dan jual-beli-nya. Maka, jika kita memiliki kelemahan di bidang pemasaran produk, tinggal buka saja akun Facebook, unggah dan tawarkan burung hasil penangkaran kita yang hendak kita jual melalui grup jual-beli-nya, dan peminat akan datang ke tempat yang disepakati untuk bertransaksi. Jika kita sudah punya nama, para pembeli dari berbagai kota akan menaruh kepercayaan dan melakukan pembelian jarak jauh. Mereka mentransfer sejumlah uang, lalu burung kita kirim melalui layanan jasa pengiriman binatang/hewan piaraan.

Sungguh, memulai bisnis di penangkaran burung tidak memerlukan biaya besar. Syarat utama yang tidak bisa ditawar-tawar adalah: dapat dengan senang hati melakukannya, memiliki jiwa pengasih terhadap hewan yang dipelihara/ditangkarkan. Masihkah anda tidak juga tertarik? Atau sudah memulai, bahkan sudah menikmati keberhasilan? Selamat! Dan kepada para muslimin/muslimat pembaca majalah ini: Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir-batin.[bn]