Sabtu, 26 Mei 2012

Manis Legitnya Bisnis Kue (2)

Di Atas Pukul Lima Sore Diskon 10%

Bicara tentang kebutuhan mengenyangkan perut, Kota Surabaya boleh dibilang sebagai satu tempat yang cukup menyenangkan. Di setiap sudut kota ini terhampar tempat-tempat yang menyuguhkan hidangan ‘penggoyang lidah’. Tak hanya hidangan kelas berat, sajian ringan juga lengkap tersaji. Salah satu tempat tersebut tercatat nama Pindy Cake. Berdiri sejak tahun 2004 silam di pusat perbelanjaan Giant Hypermart, Pindy Cake menyediakan aneka jajanan istimewa mulai dari cake hingga jajanan tradisional. Beberapa sajian yang ditawarkan antara lain resoles mayones, resoles makaroni, chicken roll, black forest, hingga lemper. “Yang paling banyak dicari resoles mayonaise,” ujar Pindy, pemilik Pindy Cake. Resoles mayonaise ini berisi sosis ayam dan telur yang dipadu dengan mayones. Jangan salah karena jenis jajanan ini merupakan hasil olahan sang pemilik dan tidak akan ditemui di toko kue lainnya. ’’Saya yang buat resepnya, tidak hanya resoles mayones tapi semua kue adalah buatan sendiri,’’ imbuh gadis berusia 19 tahun ini. Soal harga juga relatif murah, dengan uang sebesar Rp 2.250 Anda sudah bisa menikmati jajanan ini. Meski terbilang belia, Pindy berani membuka usaha ini berkat ketrampilannya memasak terutama aneka kue. “Sejak SMP saya hobi bikin kue hingga sering terima pesanan. Ternyata lulus SMU saya pingin banget punya toko kue kecil-kecilan. Punya cukup modal saya langsung buka usaha ini,” terangnya. Gadis yang sering otak-atik resep ini mengaku tak butuh modal banyak untuk membuka usaha ini. ’’Kalau total modal yang saya keluarkan sekitar Rp 20 juta. Di bulan keenam modal saya sudah balik saking banyaknya pemesan,’’ terangnya. Pindy punya strategi khusus agar kue dagannya cepat laku. Apalagi kue buatannya rata-rata adalah kue basah yang cepat basi bila terlalu lama. Yang pertama adalah pintar-pintar membuat kreasi kue yang nikmat dan mengikuti perkembangan. Misalnya saja saat ini makanan berbahan mayonnaise sedang tren. Maka Pindy membuat kreasi kue resoles yang diisi mayonnaise. ’’Usai membuat inovasi resep langsung saya bagikan ke teman kuliah atau tetangga lalu saya Tanya pendapat mereka. Dari sana saya bisa menciptakan kue yang enak dan sesuai lidah orang Indonesia,’’ terangnya. Strategi lainnya adalah memberlakukan harga paket dan diskon. Di toko miliknya ia memberlakukan harga promo Rp 10 ribu dapat tiga kue. Setelah jam 5 sore, setiap kue di diskon 10%. ’’Toko saya ada diskon sebesar 10 % untuk setiap pembelian kue jenis apapun diatas jam lima sore. Nah pada saat inilah kue saya langsung diserbu pembeli,’’ kata mahasiswi semester II Universitas Dharma Cendika Surabaya. Dengan berbagai pilihan yang ada serta harga terjangkau, kue-kue yang ada di Pindy Cake sering dipesan untuk beragam acara seperti ulang tahun, pernikahan, arisan dan acara-acara kantor seperti coffee break atau rapat-rapat instansi. Untuk kue ulang tahun dan pernikahan, Pindy menyiapkan berbagai desain unik dan sesuai dengan permintaan konsumen. ’’Kalau soal desain saya selalu berusaha mengikuti perkembangan saat ini. mulai dari kreativitas bahan, aksesori, sampai penyajiannya,’’ pungkas Pindy. [dewi] Lie Tek Ting, Pemilik Usaha Kue Bakpao Ming ’’Inovasi paling Penting!’’ Salah satu makanan khas Tiongkok yang terkenal lezat adalah bakpao. Di tangan Lie Tek Ting, bakpao buatannya menjadi santapan lezat turun temurun sejak tahun 1973. Lie memang mengawali bisnis ini secara turun temurun dari kakeknya. Namun agar bisnis ini tetap bertahan tidaklah gampang. Butuh pemikiran matang dan inovasi produk agar makanan ini tetap digemari ditengah banjirnya produk makanan barat. ’’Kalau dulu bakpao hanya isi kacang hijau dan daging saja. Sekarang saya buat lebih beragam mengikuti selera konsumen terutama anak-anak muda,’’ ungkap pria yang telah 35 tahun berbisnis bakpao melanjutkan bisnis kakeknya ini. Saat ini bakpao milik Lie yang diberi nama Bakpao Ming punya beragam rasa. Diantaranya rasa telur spesial, jasio, ho yek pau (go ruk), ikan tuna, ayam, kacang hitam, kacang ijo, daging dan pandan. ’’Saat ini yang lagi diminati adalah bakpao model gapit yang tengahnya berisi daging ayam atau daging sapi. Kadar kalorinya tinggi sangat cocok untuk eksekutif muda yang butuh mobilitas tinggi tapi nggak sempat sarapan,’’ kata Lie Penjualan bakpao akan meningkat drastis biasanya bila bertepatan dengan perayaan masyarakat Tionghoa seperti Imlek, Cap Gomeh hingga Natal. Sayangnya selain momen tersebut belakangan ini bisnis bakpao mengalami penurunan akibat animo konsumen yang beralih pada kue ala barat seperti burger dan stik. ’’Namun saya tetap optimistis bisnis bakpao tetap stabil sebab keunggulan bakpao ini dengan resep tradisional, rasa khas tanpa bahan pengawet maupun pemutih sehingga saat dinikmati tak lengket dan masih kenyal meskipun disimpan hingga besok pagi,’’ jelas pria yang kini memiliki Kedai Bakpao Ming di kawasan Pasar Atum Surabaya dan 4 tempat lainnya di Jatim Dibalik kelezatan bakpao Ming tersimpan kenangan dalam eksistensi bisnis. ”Awalnya kakek saya dulu hanya bikin bakpao 50 biji dengan sekilo tepung. Lalu dijual keliling kampung pakai keranjang seng. Kemudian saya buat sistem penjualan paket 1 dus ada yang isi 6 bakpao ada yang isi 12 bakpao. Dengan ketekunan dan ketelatenan bisnis saya berkembang pesat hingga sekarang,” kenangnya. Tak hanya berjualan bakpao, Lie juga menjual beragam kue khas Tionghoa lainnya. Seperti misalnya kue ku, kue lobak, kue kukus, kue wajik, kue mangkok dan kue cang. Namun order bakpao tetap lebih unggul dibandingkan varian kue. Diakui, dalam pemasaran, mengalami pasang surut, apalagi sekarang bahan baku tepung dan minyak mengalami kenaikan sedangkan penjualan masih tetap sedangkan bila harganya dinaikkan bakpaonya tak laku. Lie menambahkan, kiat agar eksis dalam berbisnis makanan terutama kue harus pantang menyerah dan berani berinovasi. ’’Jangan pantang menyerah,’’ sarannya. [DEWI]

Manis Legit Bisnis Kue

Urusan perut tak pernah bisa ditawar. Bila lapar, meski tak punya uang sekalipun harus tetap diisi makanan. Tak ayal bisnis makanan adalah bisnis yang paling eksis meski krisis ekonomi melanda. Salah satu yang terus diminati adalah bisnis kue. Di Indonesia, baik kue tardisional maupun ke impor akan tetap diminati. Buktinya, kini banyak bermuculan toko kue-kue impor di mal-mal. Ada BreadTalk, Donat JCo, Ringmaster dan beragam merek impor lainnya. Namun kue local tak pernah sepi peminat. Setiap resepsi dapat dipastikan kita akan menemukan baragam kue tradisional yang tersaji. Mulai lemper, wajik, resoles, lumpia dan masih banyak lagi. Inilah yang membuktikan bahwa bisnis kue tetap akan menarik sampai kapanpun. Lie Tek Ting, pemilik usaha kue Bakpao Ming mengungkapkan, bisnis kue akan tetap diminati meski banyak kue impor yang berdatangan. ”Bakpao memang berasal dari Tiongkok. Namun saya membuatnya 100% dengan citarasa dan bahan lokal. Jadi bisa dikatakan bakpao juga kue tradisional kita,” ungkap Lie. Lie tak menampik persaingan bisnis kue makin bersaing. Namun Lie tak pantang menyerah. Dengan inovasi produk Bakpao Ming yang berdiri mulai tahun 1973 bisa eksis hingga kini. ”Kalau dulu bakpao hanya isi kacang hijau dan daging saja. Sekarang saya buat lebih beragam mengikuti selera konsumen terutama anak-anak muda,” ungkap pria yang telah 35 tahun berbisnis bakpao melanjutkan bisnis kakeknya ini. Saat ini bakpao milik Lie yang diberi nama Bakpao Ming punya beragam rasa. Diantaranya rasa telur spesial, jasio, ho yek pau (go ruk), ikan tuna, ayam, kacang hitam, kacang ijo, daging dan pandan. Lain halnya dengan Pindy Sheila, pemilik Toko Kue Pindy Cake. Selain inovasi produk, Pindy juga menerapkan strategi penjualan yang jitu sehingga kue buatannya laris manis. Pindy punya strategi khusus agar kue dagannya cepat laku. Apalagi kue buatannya rata-rata adalah kue basah yang cepat basi bila terlalu lama. Yang pertama adalah pintar-pintar membuat kreasi kue yang nikmat dan mengikuti perkembangan. Misalnya saja saat ini makanan berbahan mayonnaise sedang tren. Maka Pindy membuat kreasi kue resoles yang diisi mayonnaise. “Usai membuat inovasi resep langsung saya bagikan ke teman kuliah atau tetangga lalu saya Tanya pendapat mereka. Dari sana saya bisa menciptakan kue yang enak dan sesuai lidah orang Indonesia,” terangnya. Strategi lainnya adalah memberlakukan harga paket dan diskon. Di toko miliknya ia memberlakukan harga promo Rp 10 ribu dapat tiga kue. Setelah jam 5 sore, setiap kue di diskon 10%. Tak hanya itu, bagi pemesan diatas 1.000 kue, Pindy memebrikan bonus kue 20 buah. ’’Kita harus menjaga ikatan batin dengan konsumen lewat beragam penawaran manerik sehingga mereka tetap loyal,’’ ungkapnya. Meski hanya berjualan kue, ternyata strategi pemasaran yang tepat memang harus diterapkan. Siapa tahu bisnis kue ini dapat berkembang menjadi bisnis raksasa. Toh, Anda juga yang menuai hasilnya. So, jangan remehkan bisnis kecil! [DEWI] Tips berbisnis kue: 1. Inovasi produk, sesuaikan dengan tren yang sedang berkembang 2. Jangan ragu-ragu untuk memanjakan konsumen dengan diskon dan harga promo 3. Menjaga loyalitas pelanggan dengan memberikan “lebih” 4. Jangan mematok harga terlalu mahal 5. Pilihlah bahan pembuat kue yang terbaik dengan citarasa yang terus terjaga 6. Jangan bosan-bosan untuk mencoba beragam resep

Puji Hariati: Tidak Ikhlas kalau Membatik untuk Sambilan

Membatik. Pekerjaan ini sudah mendarah daging pada diri Puji Hariati. Ia memang keturunan keluarga pembatik. Neneknya, ibunya, lalu dirinya, semuanya membatik. Bahkan, karena memang sudah keturunan pembatik dan sejak kecil sehari-hari melihat orang membatik, Puji mengaku tidak perlu belajar secara khusus untuk bisa membatik. Bagi Puji, membatik tidak saja sebagai pekerjaan, tetapi juga ekspresi rasa seni. Terlebih, untuk bisa membatik dengan hasil yang baik, selain diperlukan ketekunan dan ketelatetan, juga memang diperlukan perasaan halus. Dan perasaan halus itu dapat muncul dari perasaan seni. Karena itu, dari membatik, selain mendapatkan keuntungan secara finansial, dirinya juga mendapatkan keuntungan secara spiritual berupa kepuasan batin. Jiwa seni yang ada padanya pula, untuk melakukan pembaharuan motif batikan, atau mencipta motif baru, dirinya tidak mengalami kesulitan. Dia mengaku ide motif terkadang muncul seketika. Terkadang, hanya karena melihat kupu-kupu terbang saat dirinya membatik, Puji sudah bisa mendapat inspirasi untuk motif baru. Di mana nilai seni sebuah kain batik? Menjawab pertanyaan Peduliini, Puji yang tengah mendemontrasikan membatikmengatakan, ''Seninya terletak pada batikan yang bengkok-bengkok, yang tidak nurutgaris polanya. Lihat ini, garis-garis batikan yang saya buat ini kantidak lurus benermengikuti garis polanya. Kalau dilihat bener-bener, garis-garis batikan ini sebenarnya pating pletot. Tapi justri inilah nilai seninya sebuah kain batik tulis,'' terang Puji, yang lantas menyambung, ''Tapi, ya jangan lantas sengaja dipletot-pletotkan. Lha, kalau itu sihbukan mbatik, tapi ngrusakbahan (tertawa).'' Terkait dengan pekerjaan membatik itu, Puji mengatakan bahwa dirinya sangat ingin para karyawannya memperlakukan membatik itu sebagai sumber penghasilan, bukan sambilan. Selama ini, oleh sebagian karyawannya membatik masih dipandang sebagai pekerjaan sambilan. ''Saya kurang ikhlas kalau mbatikuntuk sambilan. Tapi untuk mengubah pola pikir karyawan, susah. Diajak maju, susah,'' keluh Puji. Puji pun mengungkapkan salah satu kendala yang datang dari karyawan. Kata dia, banyak karyawannya yang rajin membatik hanya kalau sedang membutuhkan uang. ''Jeleknya orang-orang sini, kalau butuh uang, mbatiknya nyerang(rajin, Red). Tapi kalau habis panen padi, mbatiknya teledor,'' kata Puji. [KUS/PUR] Kiat Sukses: Selalu Memperbaharui Motif dan Rajin Pameran Saat ini, diakui pasangan Puji Hariati dan Hemi Suyatmono, pasar batik cenderung menurun. Kalau dilihat dari sejarahnya, yang memulai usaha hanya dengan modal dua lembar kain mori, suami-istri tersebut memang tergolong sukses karena Batik Tulis Puri bisa berkembang jadi besar dan pemasaran produknya mencapai wilayah yang luas. Bahkan, karena itu, tak salah jika mereka berpendapat bahwa perkembangan usahanya itu sangat mencolok. Perkembangan mencolok itu terjadi sejak tahun 1990-an. Namun, sebagai pebisnis yang paham situasi perbatikan, mereka mengakui bahwa kondisi perbatikan semakin lama tidak seperti tahun 1990-an. Pasar batik menurun, kata Hemi, karena imagebatik di masyarakat menurun. ''Itu yang pertama. Yang kedua, karena kita itu jauh dari kota. Itu juga menjadi kendala. Yang ketiga, kita juga jauh dari sarana-sarana komunikasi seperti internet. Internet akan sangat membantu kita,'' kata Hemi. Kondisi itu memang menggelisahkan mereka. Namun, keduanya menyikapinya secara positif. Mereka terus berusaha agar usaha batiknya tetap berjalan dengan baik dan, bahkan, diusahakan terus meningkat. Untuk itu, terus dilakukan pembaharuan motif dan juga rajin mengikuti pameran. Pembaharuan motif, menurut Puji, sangat penting dilakukan supaya produk-produk bisa terus diminati pasar. Untuk pembaharuan motif itu, dilakukan beberapa hal, yakni memadukan moif-motif yang sudah ada, melakukan modifikasi, mengamati alam: padi, kupu-kupu, bunga, dan lain-lain), dan meniru. ''Biasanya kita kanlihat majalah, TV, dan lain-lain. Dari sana kita tahu, misalnya, dari yang dipakai orang-orang. Kita tahu dari sana, o, orang Surabaya itu sekarang ngetrendnya motif ini. Ya, kita modifikasi. Ada juga yang langsung kita buat motif yang sama dengan yang lagi trend itu,'' ungkap Puji. Tidak buat yang khas Pacitan? ''Sebetulnya Pacitan sendiri belum ada khasnya ya. Kalau dibilang khas itu kandi daerah lain ndakada ya. Ternyata batik-batik kita itu di daerah lain juga ada. Mungkin khasnya di pewarnaan. Kalau Pacitan itu, cenderung warna gelap. Mungkin karena dekat dengan pesisir atau dekat dengan Jogja. Ada juga yang bilang orang Pacitan itu tegas-tegas. Jadi, warna pun ikutan tegas. Kalau motif, motif khas itu belum ada,'' terang Puji. Pameran menurut Puji, pameran merupakan salah satu wahana pemasaran yang sangat penting. Oleh karena itu, selain memanfaatkan wahana dan strategi lain, Pujia rajin mengikuti pameran. Bahkan, tak hanya di Pulau Jawa. Ada pameran di Sumatera dan Kalimantan pun, ia ikut. Sebab, pengalaman membuktikan pameran memang efektif untuk pemasaran. ''Pengaruhnya sangat besar. Kalau pameran, setidaknya ada satu atau dua pelanggan baru,'' kata Puji. Namun, Puji cenderung kecewa dengan pelaksanaan pameran akhir-akhir ini. Menurut dia, beberapa kali pameran yang terakhir, produk yang membawa ke tempat pameran adalah para pegawai pemda, bukan perajinnya. Perajinnya malah tidak diikutkan. ''Namanya yang pameran bukan yang punya, pasti nggak ngototmenawarkan kepada pengunjung supaya laku. Malah bisa jadi cuma ditunggui saja. Lakunya jadi kurang maksimal. Lagipula, dengan tidak diikutkannya perajin saat pameran, ada kesulitan jika ada pertanyaan-pertanyaan,'' kata Puji. Jadi, efektivitas pameran sebagai salah satu wahana pemasaran dan mendapatkan pelanggan baru, sekarang pun telah menurun seperti menurunkan imagebatik di mata masyarakat. [KUS/PUR]

Usaha Kerajian Batik Tulis ''Puri'' di Pacitan

Modal Hanya 2 Lembar Mori, Kini Karyawan 40 Orang Puji Hariati dan Hemi Suyatmono, bukan saja pasangan suami-istri yang serasi. Melainkan, warga Desa Cokrokembang, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, itu juga merupakan sepasang tim kerja yang kompak. Keduanya berhasil mengembangkan usaha kerajinan batik tulis yang diberi nama Kerajian Batik Tulis ''Puri''. Di Usaha Kerajinan Batik Tulis ''Puri'' tersebut, Puji Hariati menangani bagian produksi, sedangkan Hemi Suyatmono menangani bagian pemasaran. Dalam praktik memang tidak split ofbenar karena Hemi juga membantu pada urusan produksi dan Puji juga membantu pada urusan pemasaran produk. Namun, pembagian tugasnya jelas: Puji bertanggungjawab pada bagian produksi dan Hemi bertanggungjawab pada bagian pemasaran. Hasil dari kerjasama yang baik itu, Usaha Kerajinan Batik Tulis ''Puri'' berkembang pesat. Setiap hari bisa berproduksi, pemasarannya pun relatif lancar. Bahkan, usaha rumahan tersebut kini telah mampu mempekerjakan sebanyak 40 orang karyawan. Pemasarannya pun tak hanya dilakukan di butiknya di rumah, tetapi dilakukan juga melalui jaringan. Berkat kerjasama dengan para relasi di berbagai daerah, pemasaran produk pun tak hanya seputar Pulau Jawa, tetapi sudah melebar ke luar Pulau Jawa, seperti Kalimantan dan Sumatera. Padahal, di awal usahanya dulu, oleh ibu kandung Puji Hariati, keduanya hanya diberi modal berupa dua lembar kain mori sebagai bahan untuk mulai mbatik. ''Usaha ini usaha keturunan. Mbah buyutmemang suka mbatikdan itu ditiru oleh ibu saya. Ibu saya meneruskan usaha mbah buyutitu sejak kelas 6 SD. Waktu itu karena ibu saya ditinggal mati kedua orangtuanya. Usaha ini sudah berjalan sejak 60 tahun yang lalu. Dari mbah buyutturun ke ibu. Terus saya kansetiap harinya tahu orang mbatik. Jadi, tanpa belajar secara khusus pun, ya saya sudah bisa. Waktu saya memulai usaha, saya hanya diberi modal kain mori dua lembar oleh ibu,'' terang Puji. Dari dua lembar kain mori itu kini telah berkembang menjadi berlembar-lembar. Hasilnya tidak hanya dapat untuk menghidupi keluarga sendiri, tetapi juga mampu memberikan penghasilan kepada sekitar 40 orang yang menjadi karyawannya. Puji mengatakan, karyawan sekitar 40 orang itu terbagi dua: karyawan tetap dan karyawan borongan. Karyawan tetapnya berjumlah 10 orang, sisanya karyawan borongan. Karyawan tetap bekerja di rumah produksi milik Puji dan Hemi. Pekerjaan mereka adalah memroses kain yang sudah dibatik, memberi warna kain batik. Karyawan borongan, yang berjumlah lebih dari 30 orang, pekerjaannya adalah mbatik. Mereka bekerja di rumah masing-masing. Kain mereka bawa pulang untuk dibatik. Kalau batiknya selesai, dibawa ke rumah produksi lagi untuk diberi warna. ''Karyawan tetap digaji harian. Kerjanya pukul 08.00-4.30. Gajinya Rp 25.000/orang/hari. Kalau yang mbatik(karyawan borongan, Red), ya kita lihat batikannya. Gajinya Rp 20.000-Rp 25.000/potong. Bahkan, ada yang Rp 15.000/potong kalau batikannya belum bagus. Mereka mbatikdi rumah masing-masing karena ibu-ibu itu kerjanya (mbatik, Red) sehabis ngurusi rumahtangga. Siangnya baru mbatik,'' ungkap Puji. Produk Produk yang dihasilkan dan dipasarkan oleh Puji Hariati dan Hemi Suyatmono bukan baju batik, melainkan kain batik. Satu produk berupa satu potong kain yang telah dibatik dengan ukuran 2 meter. Produk-produk kain batiknya ada yang berbahan kain mori primis, kain mori prima, ada pula yang berbahan kain sutera. ''Kain didatangkan dari Solo karena di Jatim tidak ada. Kain kalau beli, gulungan besar. Kain sutera belinya Rp 1,5 juta/gulung Segulung kain sutera itu nanti jadinya kain batik sekitar 15 potong,'' ungkap Puji. Tiap hari, kata Puji, berproduksi, tetapi jumlah produknya sulit dikatakan jumlahnya berapa tiap harinya. Sebab, jumlah produk bergantung pada pesanan dan juga motif yang diminta oleh pemesan. Pemesannya ini, selain calon pemakai langsung, juga banyak dari kalangan pedagang yang memesan untuk dijual kembali. ''Kalau motifnya mudah, satu orang pembatik bisa menyelesaikan satu potong batikan hanya dalam satu hari. Tapi kalau motifnya itu motif sulit, biasanya nggakcukup nyanting (mbatik, Red) satu hari. Bisa satu minggu baru selesai,'' kata Puji. Puji mengemukakan, ongkos produksi untuk sepotong kain batik bervariasi Rp 20.000 hingga Rp 40.000/potong. Nanti, harga jual yang ia tetapkan juga bervariasi, yakni Rp 60.000 hingga Rp 250.000/potong. ''Harga tergantung bahan, tingkat kesulitan pengerjaan, dan lama pengerjaan. Harga Rp 60.000/potong itu harga terendah, yakni dari bahan mori prima,'' terang Puji. Paling ramai pembeli? Hemi Suyatmono mengatakan, pembeli paling ramai saat mau Hariraya Idul Fitri, mau Hariraya Idul Adha, dan saat pegawai akan mengadakan suatu acara. [KUS/PUR] Proses Membatik 1. Beli kain (gulungan). 2. Kain gulungan dipotong-potong. Setiap potong berukuran 2 meter. 3. Kain yang sudah dipotong berukuran 2 meter itu, kemudian dipola. 4. Siapkan malam dan cantingnya. Malam dilarutkan dengan cara dipanasi dengan api kompor kecil berbahan bakar spritus. 5. Kain yang sudah dipola, lantas dibatik. Dengan canting, malam yang sudah cair dituliskan pada kain, Menuliskannya mengikuti pola yang sudah ada pada kain. 6. Meramu obat untuk warna. 7. Menempatkan obat ramuan untuk pewarna pada bak-bak. 8. Kain yang sudah dibatik, kemudian diberi warna sesuai dengan keinginan menggunakan obat ramuan di bak-bak tersebut. Ketika diobati, bagian kain yang kena malam akan berwarna putih. [KUS/PUR]