Minggu, 17 Februari 2008

Unibraw Kirim TKI dari Lulusan Perawat

MALANG - Program Studi Ilmu Keperatawan (SIK) Fakultas Kedokteran Unibraw membuat terobosan untuk alumninya. Jika saat ini alumi SIK banyak berkutat di dunia kerja dalam negeri, namun untuk satu tahun ke depan akan dikirim ke Timur Tengah (Timteng). Dengan pertimbangan, peluang kerja perawat ke wilayah tersebut masih menjanjikan.


Terkait rencana itu, Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan dr Subandi MKes DAHK menjelaskan, langkah ini justru akan menepis persoalan TKI. Tepatnya, tentang kesengsaraan dan penderitaan TKI di luar negeri, termasuk di kawasan Timteng. "Kami tidak mengirimkan TKI. Tapi, mengirimkan tenaga ahli. Ini yang membedakan," ucap Subandi sesaat sebelum penandatanganan MoU dengan salah satu jasa pengiriman tenaga kerja di Arab Saudi di gedung pusat pendidikan FK kemarin siang.

Karena itulah, meski kasus-kasus TKI terus mencuat, pihaknya tak akan surut melakukan terobosan dalam pengiriman tenaga ahli perawat. Terlebih, berdasarkan data yang ada, di kawasan Timteng masih membutuhkan ratusan tenaga ahli perawat. Bahkan, data dunia, kekurangan perawat mencapai ribuan.

Dari segi finansial, seorang perawat di luar negeri mendapatkan gaji USD 20 per jam. Sedangkan dari segi persaingan kerja, masih cukup minim. "Alasan ini yang membuat kami mau membuka diri dengan menggalang kerja sama dengan salah satu jasa pengiriman tenaga kerja," bebernya.

Dipilihnya kawasan Timteng, karena untuk saat ini baru biro ke Timteng yang menawarkan kerja sama. Ke depan, jika penyalur tenaga ahli perawat ke negara-negara Eropa dan Asia lainnya juga melakukan penawaran yang sama, maka akan lebih banyak pilihan.

Selain itu, langkah tersebut dinilai tepat untuk mengatasi pengangguran intelektual dari lulusan S1. "Peluang kerja di Indonesia sebenarnya juga banyak, tapi yang bersaing juga sangat banyak. Kalau tidak benar-benar kompeten akan sulit," tandasnya.

Hanya saja, tenaga ahli perawat yang bisa dikirim ke Timteng dipatok persyaratan. Minimal, berpengalaman di rumah sakit sekitar dua tahun. Kurang dari itu, maka tidak bisa karena dinilai belum profesional.

Subandi sendiri cukup yakin syarat itu sebagian besar bisa diatasi karena PSIK tidak hanya menerima mahasiswa baru lulusan SMA. Tapi, juga menerima mahasiswa baru lulusan diploma tiga. "Tiap semester, kami menerima mahasiswa lulusan D3 keperawatan dengan kuota 60 orang. Semester genap ini akan dibuka kembali. Selain itu, ada 40 perawat RSSA yang juga menempuh studi. Sisanya hanya sekitar 85 dari lulusan SMA," ucap dia. (nen/ziz)

Jawa Pos Radar Malang, Minggu, 17 Feb 2008

0 komentar: