Selasa, 12 Februari 2008

D I A H


Cerpen Cenik Kemboja

Gadis itu masih juga sendiri duduk di bawah pohon beringin yang rindang, keadaan sekeling memang sedikit aneh, tak jarang ada yang bicara sendiri sambil tertawa lepas, ada yang berteriak-teriak histeris ketakutan dan ada pula yang mengomel tak henti-henti tapi entah dengan siapa. Tepatnya sudah satu bulan gadis itu berada di tempat ini, sesuatu yang mungkin juga asing untuknya. Padahal senjapun sudah ingin berlalu, karena harus digantikan dengan malam. Matanya menatap lepas keangkasa, seperti menanti kehadiran kerlip bintang, tapi tatapan itu kosong, mulutnya nampak berguman seolah dia sedang bicara dengan seseorang, sembari tersenyum jemari-jemari lentiknya memainkan ujung-ujung rambut yang tergerai lepas tertiup angin senja.



Mata itu masih disitu, menatap ke angkasa tampa reaksi nyata. Namun ada basah di sudut matanya, mengalir jadikan menganak sungai namun tidak sedikitpun dia menyekanya atau sesungukan seperti lajimnya orang menangis. Malam mulai menjemput, menghadirkan bulan yang datang dengan malu-malu menyembul di pelataran angkasa luas bersama bintang-bintang gemerlap. Sunyi yang ada hingga terdengar jelas nyanyian serangga malam menghadirkan lagu kidung malam, disegudang keperihan dalam kegelapan. Iya dia masih disitu kini terdengar lirih suaranya melangukan kidung kerinduan akan sesuatu untuk bisa dia dekap dalam hadir nyata. Malang sungguh telah hadir di kehidupannya kini, tiada siapa yang bisa tau akan apa yang telah terjadi dalam kenyataan yang pernah dihadapinya saat harus kehilangan semua yang di cintai.

Adakah puing-puing berserakan kan bisa menjadi kesaksian yang nyata? Bisakah sang angin beritakan kejadian yang sesungguhnya dan bisakah sang senja kala itu menaungi rasa takut yang mencekam diri dan saudara-saudaranya. Saat itu yang ada hanya pasrah dalam doa, entah hari ini atau lusa dia atau keluarga yang lain yang menjadi giiliran kebiadaban perang.

Sore itu, sekembalinya dari sekolah, belum sempat Diah melepas seragam sekolah dan melepas penat karena seharian berkutit dengan pelajaran, tiba-tiba bapaknya dan ibunya menyuruh Diah dan adik-adiknya agar siap-siap karena mereka harus pindah untuk sementara ke desa sebelah.

“memangnya ada apa lagi pak?” tanya ku penasaran saat sehabis sholat Isya berjamaah, meski aku sudah menduga pasti ada kerusuhan lagi yang akan terjadi di desa ini seperti yang sudah-sudah. “kabarnya penduduk desa mendengar kalau akan ada penyerangan oleh perusuh-perusuh kedesa kita”. Aku dan adik-adikku cuma bisa membayangkan kengerian pasti kan terjadi. Malam itu kami sekeluarga berjaga-jaga agat tidak tertidur terlampau pulas. Ku lihat ibu membelai kening si kecil Milah yang saat itu masih berumur tujuh tahun dan adikku Ridho berusia dua belas tahun. Tidak bisa rasanya mataku untuk terpejam walau barang sejenak. Bapak pun tak bisa menyembunyikan kegelisahan di raut wajahnya yang sudah termakan usia, namun masih nampak tegar meski terkadang sakit-sakitan. Ibu menatapku penuh kesedihan sekakan dia dapat merasakan kegelisahan dalam keluarga, apa yangkan terjadi nanti.

Saat pukul tiga pagi kami sekeluarga memang masih terjaga, kami sekeluraga mendengar teriakan-teriakan warga desa. “Ada perusuh datang! Ada perusuh datang!!” Rasa takutkupun kian mencekam, kupeluk Ridho yang tengah duduk disampingku. Tampa perlu di komando kami semua bersama warga keluar rumah, ibu pun berlari sambil mengendong Milah, sementara aku mengandeng Ridho, kami bersama warga coba menyelamatkan diri sebisa mungkin, karena warga juga bapak tidak menyangka kalau secepat ini perusuh-perusuh itu datang.

Pemandangan yang saat tadi hening mencekam kini kian menjadi riuh disebabkan teriakan dan lengkingan histeris para warga yang terkena sabitan senjata tajam, anak panah yang melesat yang menerjang tampa belas kasihan menghujam tubuh tampa dosa, serta peluru yang mebabi buta. Kami coba lari ketempat-tempat yang kami rasa aman, akhirnya aku dan keluargaku juga warga berlari menuju masjid. Ternyata mereka masih mengejar, kami dapat saksikan dari celah-celah kaca bagai mana mereka membakar rumah-rumah kami, bagai mana mereka meledakkan bom-bom disekitar kami.

Bukan tampa perlawanan kami lari, pemuda-pemuda desapun dengan sekuat tenaga memberikan perlawanan, tapi apalah kemampuan dari hanya sebilah golok dan bambu runcing. Bergelimpangan tubuh-tubuh mereka, ada yang tertebas kepalanya hingga putus. Ada yang terkena peluru di kepala dan tubuhnya, sekujur tubuh bersimbah darah, bau anyir darah, lantai dan pelataran sekitar banjir darah. “Ya Allah…ada lagi korban tepat di depanku dia jatuh bersimbah darah seraya memegangi dadanya yang terkena tembakan, disini darah disana pula darah dan erangan kesakitan, lantas mana bapak?” Ku tak kuasa menahan airmata, menyaksikan pemandangan yang memilukan, aku resah, aku bingung, karena aku tidak melihat bapak di sekitar kami. “Kak .Bapak!!” Ya Allah ternyata bapak telah terluka, terkena sabitan golok, Ridho memegangi bapak sambil menangis, ”Pak…tahan ya pak…pasti kita selamat” “Bapak…!”ku peluk bapak yang bersimbah darah…sudah tak ku hiraukan lagi, darah membasahi bajuku. “Diah…jaga ibu dan adik-adikmu ya!” “Bapak!!! Aku dan Ridho coba menguncang bapak agar dia bangun..namun sia-sia. Belum usai sedihku tiba-tiba adikku Milah jatuh terbujur tepat juga dihadapanku dan ibu rebah bersimbah darah dan anak panah menancap di dada kirinya.

[]

Gadis itu masih juga sendiri duduk di bawah pohon beringin yang rindang. Mata itu masih disitu, menatap ke angkasa tampa reaksi nyata. Namun ada basah di sudut matanya, mengalir jadikan menganak sungai namun tidak sedikitpun dia menyekanya atau sesungukan seperti lajimnya orang menangis. Gadis itu lirih berucap " Malam mulai menjemput, menghadirkan bulan sementara aku? sedih sepanjang hari, aku merasa kehilangan teramat sangat tampa bisa ku berteriak lagi, aku rindukan mereka menjemputku juga, menjemput kepelukan mereka hingga waktu tiba".
Satu yang tersisa yang ku punyapun pergi, karena terserang penyakit yang mewabah di sekitar pengungsian. Selamat jalan Ridho, ibu, bapak dan Milah juga ikut menjemputmu, meninggalkan kakak sendirian berpijak disini, entah sampai kapan semua kan tertahan di rongga dada, sesak jiwa bernafas walau sekedar menghirup udara.

Biarlah semua membisu, mematung di jejeran pemakaman ,gugurkan bunga kemboja pada pusaran, basah sudah ku hempaskan jiwa. Menyeka perih jika ada yang tertinggal saat tertidur tadi.

Ku ingin semua usai, kuingin semua hilang, tampa ada goresan pisau di lubuk hatiku, ku kehilangan jiwa dan angan kehidupan setelah semua hilang dari kehidupanku, dari yang di kasihi.

Ku terhempas lunglai, rapuh tampa tau kelanjutan hidupku, ku ingin semua usai, yah semua.

Tampa beban, ku ingin hari-hariku penuh ceria dan tawa, tiada mendung kesedihan di bola mataku

Ku ingin bebaskan jiwa penatku, bersenandung kidung manja milik ibu, kidung rindu milik bapak dan kidung riang milik adik-adikku.

Selamat jalan semua, ku ingin tidurku terpulas malam ini, tampa harus terusik oleh siapapun, kuingin terbang pergi kekayangan para dewa-dewi menata hari tampa letih dan kepedihan. Biarku tertidur disini, menjemput mimpi saat kembalikan hidup tampa sukma terjaga, ku ingin terpulas saat ini juga selamanya, bersama kerdil dan kebodohan yang tak bisa kutahan lagi, selamat malam mimpi, selamat tinggal kehidupan dan angan kepedihan, kusudahin hingga kehari ini.

“Suster Mira! mana Diah?” “Kenapa belum juga dia ada di ruanganya?” tanya suster Sri yang juga bertugas menjaga para pasien di rumah sakit jiwa tersebut. “Tadi dia ingin duduk-duduk di halaman samping”, “masa Diah belum masuk, malamkan sudah larut”, ujar suster Mira”, “Meski pikiranya agak terganggu tapi Diahkan tidak biasanya seperti ini”, Suster Sri resah. “Biar aku cari Diah”. Jawab Suster Rina yang baru tiba dari ruang sebelah dan kebetulan mendengar percakapan mereka.

“Ya ampun.. Diah.. apa yang sudah terjadi dengan kamu nak?!!!” Suster Rina menemukan Diah tergolek kaku bersandar di kursi tepat dibawah pohon beringin. “ternyata teriakan Suster Rina terdengar oleh yang lainya, hingga para petugas lainpun datang dengan penuh tanda tanya.

Ternyata Diah memang tidur untuk selamanya, menjemput kembali keluarganya, menjemput semua kenangan pedih untuk dilepaskan, meski jalan tertempuh salah, dengan seutas tali pengikat dilehernya.

Rembulan dan bintang kesaksian bisu yang takkan pernah berucap, meski tau apa yang terjadi, serangga malampun hanya bisa berkidung duka dengan nyanyian, malam kian merayap kelam di hempasan arus kehidupan, menyudahi untuk agar mentari esok tetap bisa bersinar kembali.

dikirim pada tanggal 20 Oct 2006

DARI:rumah Cenik Kemboja

0 komentar: