Kamis, 10 Januari 2008

Masakan Codot ’Batman’ Goreng di Kediri

Tambah Rame Pembeli setelah Masuk TV dan Majalah


Codot [bhs. Jawa] adalah kelelawar buah. Kelelawar ini beda dengan yang biasa tinggal di atap rumah kosong. Memang keduanya sama-sama biasa berkeliaran setelah hari gelap. Namun, makanan codot khusus, yakni buah-buahan masak semisal sawo dan duku.

Di Kota Kediri, Jawa Timur, tepatnya di Desa Gayam, Kecamatan Mojoroto, ada sebuah keluarga yang menjadikan codot sebagai sumber penghasilan. Tukimin dan istrinya, Inamah, adalah keluarga yang dimaksud. Caranya, keluarga ini menggoreng codot-codot hasil tangkapan, kemudian menjualnya, layaknya masakan lain semisal satai, ayam goreng, dan pecel lele.

Ketika Senin [07/05] Peduli bertandang ke rumahnya yang sekaligus jadi rumah makan sederhana, Pak Min—panggilan Tukimin—mengaku, masakan Batman Goreng—nama menu codot goreng itu—disukai banyak pembeli.

’’Ada saja orang datang ke sini. Ada yang mau mencicipi rasanya seperti apa, ada pula yang datang karena ketagihan. Apalagi setelah Batman Goreng ini masuk majalah dan TV. Tambah rame lagi. Tak hanya orang Jawa Timur menginginkan Batman Goreng. Orang di Jakarta, Jawa Barat, bahkan Singapura ada yang pesan. Kami mengirimnya lewat paket,’’ ungkap Pak Min.

Selain karena masakan tak biasa dan langka, Batman Goreng diburu pembeli juga karena dipercaya berkhasiat menyembuhkan asma dan alergi. ’’Bukan kami yang bilang bisa menyembuhkan asma. Pembeli membuktikan sendiri, lalu bilang pada kami,’’ ungkap Inamah.

Sejak 1985

Bagi banyak orang, codot goreng memang menu baru. Bahkan sebagian orang sudah merasa ngeri ketika membayangkannya, apalagi menyantapnya. Namun bagi Pak Min dan beberapa temannya, menyantap codot goreng sudah biasa. Sejak tahun 1975, Pak Min sudah sering mengonsumsi codot. Baru tahun 1985, usaha makanan Batman Goreng dibuka.

Sejak usaha Batman Goreng, setiap malam Pak Min berburu codot dengan senapan angin. Selain berburu sendiri, Pak Min juga membeli codot dari pemburu lain. Tak hanya wilayah Kediri dijelajahi Pak Min dan kawan-kawan untuk mendapatkan codot. Mereka berburu sampai ke Blitar dan Nganjuk. Yang didatangi adalah tempat-tempat yang banyak terdapat buah-buahan masak. Dalam semalam didapat codot sebanyak 100—150 ekor. Pak Min mengatakan, dari para penangkap, codot dibelinya seharga Rp 2.000/ekor.

Harga pembelian codot dari pemburu itu termasuk mahal. Namun, menurut Pak Min, mendapatkan codot ketika berburu memang juga termasuk susah, apalagi jika tidak sedang ada musim buah. Sementara itu, untuk membudidayakan codot, dipandang Pak Min masih belum bisa. Pasalnya, itu memerlukan pakan berupa buah-buahan masak yang tentu tidak sedikit. Selain itu, kata Pak Min, codot itu kalau beranak cuma satu dan dibawa ke mana-mana. ’’Tidak seperti kucing yang sekali beranak bisa dua, tiga, atau empat. Lagipula, berburu codot kan termasuk membantu para pemilik kebun buah. Soalnya, codot ini kan termasuk hama buah-buahan,’’ kata Pak Min.

Pengolahan

Pengolahannya, codot terlebih dahulu dikropok (dibakar dengan arang) supaya bulu halusnya hilang. Setelah dikropok, daging codot dimasukkan ke dalam panic, lalu disiapkan bawang putih, bawang merah, cabai rawit merah, dan merica. Bumbu-bumbu itu dihaluskan, lalu dimasukkan ke dalam panci berisi daging codot tadi, kemudian dimasak sampai bumbu meresap. Setelah itu, codot digoreng dan siap santap.

Satu porsi Batman Goreng terdri dari seekor codot goreng, sepiring nasi, dan sepiring sambal. Satu porsi dijual seharga Rp 4000. Setiap hari, Pak Min dan istrinya dapat mengolah 80—100 ekor codot.

Saat berkunjung ke warung Pak Min, Peduli sempat mencoba satu porsi Batman Goreng itu. Gimana rasanya? Emh, nyam nyam nyam nyam. Jawabnya, datang dan cicipi sendiri aja, ya? [KUSWINARTO]

2 komentar:

Rangga mengatakan...

saYa sangat tidak setuju kLo memang nyatanya CODOT dijadikan Sebuah 'Batman' goreng atau menjadi santapan orang-orang.
jika memang itu terjadi, maka POPULASI CODOT akan sangat berkurang dan akan menyebabkan Kepunahan. seLain itu, jiKa meMang POPULASI CODOT berkurang, maka Penyerbukan yang terjadi diwaktu sore atau maLam hari akan sangat berkurang. dan bisa-bisa nantinya akan menyebabkan kepunahan jenis-jenis yang lainnya.

terima kasih.

Anonim mengatakan...

Setuju dgn rangga, orang yg berbisinis diatas hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan akibat ke lingkungan atau environment,padahal CODOt itu penting dalam kehidupan,codot bukan wabah tanaman, seharusnya mereka nonton bee's movies. and I hate people who take advantage on little creature such a "codot"