Selasa, 04 Desember 2012

Usaha Jenang Syabun di Tulungagung

Pasar Bagus, Untung Bagus, Modal Kurang


Kesulitan mengembangkan usaha dialami oleh pasangan Asro’i dan Siti Fathonah, pemilik usaha rumahan jenang syabun di Kabupaten Tulungagung. Bagaimana tidak? Pasar bagus, untungnya juga lumayan. Tapi sayangnya, mereka kesulitan modal.
Diakui oleh Siti Fathonah, selain bulan puasa dan saat-saat sekolah libur, pasar penganan berbahan utama beras ketan, gula, dan kelapa tersebut sangat bagus dan cukup stabil. Sehingga, menurut dia, usaha itu sebetulnya bisa dijadikan sumber penghasilan yang bisa diandalkan.

Pasar terbaik bagi produk jenang syabun adalah saat-saat menjelang lebaran, saat ada pertunjukan di daerah sekitar, atau saat musim hajatan. Di waktu-waktu itu, menurut Fathonah, pemesan atau pembeli jenang syabun sangat banyak.

Untung yang didapat dari jenang syabun juga lumayan. Selama ini, untuk sekali membuat jenang syabun, Fathonah menghabiskan beras ketan sebanyak 10 kg dan 35 kelapa. Dari 10 kg beras ketan itu, jika habis terjual semua, keuntungan yang diperoleh sebanyak Rp 762.500.


Bahan sebanyak 10 kg beras ketan itu, dijelaskan Fathonah, jadi sebanyak 2000 biji jenang syabun. Jenang syabun produk Asro’i dan Fathonah selain dijual sendiri ke konsumen langsung, juga sebagian dititipkan ke toko-toko terdekat. Jenang dijual dalam bentuk kemasan. Tiap kemasan berisi 8 biji jenang dan oleh keluarga itu satu kemasan dijual seharga Rp 4.250. ’’Nanti, di toko, satu kemasnya dijual Rp 4.500 – Rp 5.000,’’ kata Fathonah.

Ibu dari 6 orang anak itu mengaku, dirinya sering kebingungan sendiri saat menghadapi banyak pesanan. ’’Kami bingung bukan apa-apa. Tapi karena tak punya modal untuk memenuhi pesanan-pesanan itu. Soalnya, hasil selama ini, ya untuk makan sehari-hari. Padahal sebetulnya, untuk sekali buat jenang, dengan bahan 10 kg ketan, modalnya nggak banyak. Hanya Rp 300.000. Itu sudah komplit,’’ kata Fathonah yang mengaku menjalankan usaha itu sudah turun-temurun.

Pinjaman Modal

Jenang syabun rasanya manis. Kalau digigit atau dikunyah, layaknya jenang, ia agak a lot. Jenang ini, kata Fathonah, disukai anak-anak. Banyak juga yang membeli untuk oleh-oleh. Di tempat-tempat hajatan dan saat lebaran, jenang ini disuguhkan kepada tamu bersama kue-kue jenis lain.

Ya, pasar jenang syabun termasuk bagus. Buktinya, baru melayani permintaan di sekitar tempat tinggalnya saja, Fathonah dan suaminya sudah kewalahan.

Fathonah mengatakan, kalau ada yang memberikan pinjaman modal, itu sangat bagus. ’’Kalau ada yang meminjami, bagusnya menjelang lebaran. Saat itu, banyak pesanan. Kalau ada modalnya, buat jenang bisa sampai satu kuintal beras ketan dalam sehari. Bener lho, Mas, ini. Tapi itu kalau ada dananya itu tadi,’’ ungkap Fathonah tertawa.


Untuk saat ini, kata dia, boro-boro masak 1 kuintal ketan tiap hari. Bisa bertahan sekali masak 10 kg ketan saja perhari, itu sudah bagus. ’’Habis gimana? Anak yang besar sudah SMA, adiknya SMP, semua butuh biaya, sedang jenang syabun inilah sumber penghasilan kami satu-satunya,’’ ungkap warga Desa Sembung tersebut.

Itulah sebabnya Fathonah merasa kesulitan untuk mengembangkan usahanya itu. Kini, bersama sang suami dan dibantu oleh anak-anaknya, Fathonah hanya bisa berusaha untuk bertahan bagaimana bisa tetap berproduksi seperti biasanya, yakni 10 kg beras ketan sekali masak. [KUS & PUR]


Siti Fathonah, pengusaha jenang syabun


Jenis usaha: pembuatan jenang
Nama produk: Jenang syabun
Pengusaha: Asro’i dan Siti Fathonah
Alamat: Desa/Kecamatan Sembung, Kabupaten Tulungagung
Modal: Rp 300.000 (untuk sekali masak sebanyak 10 kg beras ketan)
Keuntungan: Rp 762.500 (dari beras ketan 10 kg)
Reaksi:

0 komentar: