Senin, 03 Desember 2012

Berusaha Mandiri setelah Tempat Kerja Bangkrut

Tak hanya bisnis dibidang kuliner saja yang tak pernah sepi dari pelanggan. Pekerjaan sebagai penjahit pun agaknya sama seperti bisnis kuliner. Selalu dibutuhkan orang dan bisa menambah pundi-pundi tabungan.

Perempuan kelahiran 13 Maret 1978 ini sedang sibuk menjahit saat dikunjungi Peduli di tokonya yang berada di jalan Kenongosari no 21 itu. Di toko yang dibangun di halaman depan rumahnya itulah ia membuka usaha terima jahitan disamping wartel, isi ulang pulsa, terima laundry, perlengkapan tulis menulis dan segala macamnya.


Anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Muslikan dan Asmi ini berkisah awal ia memutuskan untuk membuka usaha menerima jahitan seperti sekarang ini dilakukannya setelah butik tempat kerja sebelumnya bangkrut dan ditutup tahun 2008 lalu. Sejak kuliah di jurusan tata busana di Universitas Adi Buana Surabaya pada tahun 1999, Ana memang sudah bekerja di butik yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Pagi hingga sore ia bekerja di butik dan sekitar jam 5 sore ia berangkat kuliah hingga malam hari. Pekerjaannya di butik itu justru sebagai karyawan penjaga butik atau SPG, bukan sebagai desainer.

”Butiknya cuma jual pakaian jadi yang sudah dikirim dari Jakarta dan Bandung. Jadi tidak butuh desainer ataupun penjahit lagi,” ungkap Ana.

Untuk menambah biaya kuliahnya, ia pun tak segan-segan berdagang juga. Rumahnya yang kebetulan berada di pinggir jalan oleh orang tuanya dihalaman depannya dibangun sebuah bangunan toko di tahun 2000 sebagai tempat usaha.

”Waktu itu saya meminjam uang di koperasi simpan-pinjam yang ada di kantor desa sebesar 5 juta untuk usaha. Uang itu saya belanjakan untuk membeli perlengkapan bayi seperti selendang gendongan, popok, baju, selimut bayi, celana bayi begitu. Kebetulan di seberang toko kan ada klinik bersalin, jadi kalau jualan perlengkapan bayi lumayanlah. Banyak yang beli. Selain itu juga jual aneka kebutuhan anak sekolah seperti kaos kaki, pulpen, kertas folio, amplop, penghapus dan macem-macemnya. Bukanya pagi sebelum saya berangkat kerja di butik. Kalau saya ke butik tokonya saya tutup. Kalau saya lagi tidak ada kuliah seperti Sabtu dan Minggu tokonya saya buka setelah magrib sampai jam sepuluh malam,”papar Ana.

Rupanya Ana juga punya ketrampilan menjahit sejak SMA. Ibunya, nyonya Asmi dulunya juga seorang penjahit, maka Ana pun diminta untuk ikut kursus menjahit ketika ia masih sekolah Aliyah (setingkat SMA untuk sekolah Islam) dulu.

”Tapi juga nggak begitu niat. Gurunya keliatannya nggak begitu bersemangat kalau mengajar. Jadi saya juga setengah hati kalau belajar. Saya malah banyak belajar dari tetangga saya yang seorang penjahit. Ibu saya memang penjahit, tapi yang di jahit baju kebaya zaman dulu yang modelnya pakai kutubaru itu. Jadi bukan penjahit moderen. Makanya saya belajarnya justru dari tetangga saya,” ungkap Ana.

Tanpa Pesangon

Lulus Aliyah ia sempat menjadi guru privat mengaji selama setahun. Ketika ibunya memintanya untuk melanjutkan kuliah di bidang agama, Ana menolaknya. Alasannya ia memang tidak begitu tertarik untuk mencari ilmu di bidang agama untuk saat itu. Ia akhirnya mengatakan kalau akan memperdalam dunia tata busana dan ingin menjadi guru di bidang tata busana. Maka ia pun memutuskan untuk kuliah di kampus Adi Buana jurusan tata busana. Sembari bekerja dan kuliah, ia pun mulai menerima jahitan di tokonya tersebut.

Sayangnya, setelah lulus kuliah dan hendak mengikuti ujian masuk pegawai negeri di daerah Situbondo, sang pemilik butik memintanya untuk terus membantunya. Karena tidak tega akhirnya Ana pun membatalkan rencana ikut ujian masuk pegawai negeri tersebut.

”Yang punya butik istri polisi. Jadi jarang ada di butik. Saya diminta mengurusnya,” imbuh Ana.

Seiring berjalannya waktu butik tempat Ana tak sanggup bersaing dan akhirnya terpaksa harus tutup. Ana yang waktu itu dipercaya sebagai pekerja sempat dipercaya oleh sang pemilik untuk mengurus penjualan aset-aset butik untuk dijual supaya bisa kembali dalam bentuk uang.

”Baju-baju yang tersisa di butik saya jual sampai laku seharga 14 juta. Sayangnya setelah uang saya berikan dan butik tutup saya tidak diberi pesangon sedikit pun. Entah kenapa sampai begitu,” kata Ana menjelaskan.

Lantaran tak ada komunikasi lagi dengan sang pemilik butik maka Ana pun akhirnya memutuskan untuk mandiri dan konsen mengurus tokonya tadi .

”Saya pinjam uang lagi ke koperasi simpan pinjam desa untuk usaha. Uangnya saya puter sebagi modal untuk beli segala macem isi toko. Kebetulan juga ada tetangga yang mau menjual 2 KBU wartelnya. Saya beli dan saya pasang di sini juga,”sambungnya.

Tanpa Papan Nama

Meski di tokonya tidak tertulis papan namanya sebagai penjahit namun Ana mengaku tak pernah sepi jahitan. Jika para penjahit umumnya mengaku panen jahitan saat menjelang lebaran ataupun saat musim pernikahan, Ana justru mengaku setiap hari menerima jahitan.

”Para pelanggan butik tempat saya bekerja dulu, begitu tahu kalau saya bisa menjahit akhirnya malah lari ke sini untuk menjahitkan baju. Alhamdulillah setiap hari ada sekitar 3 buah jahitan yang datang. Padahal saya satu hari cuma bisa menyelesaikan 1 buah baju saja, yang saya kerjakan kan tidak hanya menjahit kadang juga terima pesanan merangkai hantaran peningset juga. Jadi untuk menyelesaikan dengan cepat jahitan yang datang agak susah juga. Misalnya lagi konsen memotong atau menjahit tiba-tiba ada yang datang beli pulsa, beli alat tulis, beli jajan ataupun pakai wartel begitu, makanya menyelesaikan jahitannya agak susah juga,” jelas Ana.

Agar pelanggan jahitannya puas Ana pun mengaku mengerjakan sendiri semuanya. Ia memilih tidak menggunakan jasa karyawan. Ia mengerjakan sendiri bahkan hingga mengesum jahitan pun dikerjakannya tanpa menyuruh orang lain.

”Bukannya apa-apa sih, tapi saya memang inginnya begitu. Belajar dari pengalaman teman yang juga seorang penjahit. Dia memperkerjakan karyawan untuk mengesum jahitan, setelah jadi dan diberikan ke pelanggan ternyata ada komplain dari pelanggan, entah kurang apanya. Teman saya jadi membongkarnya dan mengesumnya sendiri. Itu kan jadi 2 kali kerja namanya. Kalau mau menyuruh lagi takut karyawannya tersinggung. Jadi nggak enak sendiri. Makanya saya mengerjakan semuanya sendiri. Biar pelanggan puas,” akunya.

Untuk ongkos jahit, Ana mengaku bervariasi. Tergantung tingkat kesulitan juga. Untuk baju seragam anak sekolah untuk satu stel-nya Ana mematok harga Rp65.000. Untuk kain batik yang dibentuk sewek bawahan saat berkebaya dengan model sederhana ongkos jahitnya Rp35.000. Sedangkan untuk kebaya dengan furing model sederhana tanpa payet ongkosnya sekitar Rp70.000. Dan untuk baju model gaun pesta harga ongkos jahitnya bisa mencapai Rp100.000 lebih.

”Alhamdulillah rezeki ada saja. Jahitan selalu datang terus. Kadang meski jahitan yang sebelumnya belum selesai, ada aja pelanggan yang sudah datang membawa bahan baru untuk dijahitkan lagi. Padahal yang kemarin saja belum selesai kok sudah ditambahi lagi. Tapi ya diterima aja, disyukuri karena ada rezeki yang datang,” katanya menutup perbincangan. [niken anggraini]

0 komentar: