Selasa, 12 Februari 2008

SEBUAH MEMORY


By.Tanti

Pagi ini aku gundah,entah kenapa.Panasnya terik matahari yang menyengat tak juga meluluhkan resahku.Aku berjalan gontai mendekati kursi yang terletak di pinggiran pantai Ancol.Kuterdiam sesaat,kupandang kelepas pantai yang seharusnya bisa mneyegarkan kembali fikiranku.Tapi aku heran suasana yang begitu menggoda tak jua mampu memberikan ketenangan.



Barawal dari sms adikku semalam"mbak mas Aries mau nikah"itu katanya.Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidupku.Entah juga kenapa jujur kuakui selama ini hanya dia yang mampu memberiku hati untuk tetap tersenyum seperti mentari pagi,yang membuatku tenang meski hujan badai menyapa di malam hari.Mengingatnya sudah bisa membuatku bergairah mengadapi tantangan hidup.Tapi sekarang semuanya bagai hilang terbawa awan.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang"gumanku,apakah semua ini karena keegoisanku?.Kuakui selama ini aku begitu takut menghadapi keluargaku yang selalu menuntut tentang kriteria untuk calon suami.Usiaku memang sudah 29 tahun,dan memang pantas seandainya orang tuaku lebih mengajurkanku untuk mencari suami bukan lagi pacar.Tapi tuntutan mereka terlalu jauh dari apa yang aku hadapi saat itu.Aries hanyalah seorang karyawan kecil pada sebuah perusahaan.Dan aku selalu menolak dengan berbagai alasan dikala dia ingin melamarku.Karena aku takut,keluargaku tidak bisa menerimanya.Sampai akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkanku,saat itu aku bagai kehilangan kendali,walau bagaimanapun aku sangat mencintainya.Tapi mungkin aku berfikir juga dia bukan jodohku.keluargaku yang mengetahui soal putusnya hubungan kami sangat senang ,karena mereka memang tidak mengehendaki hadirnya Aries dalam hidupku.

Waktu terus bergulir,hari berganti bulan berlalu dan tahunpun menyapa.Sudah setahun ini aku lebih memilih kerja di jakarta ,diperusahaan temanku sebuah travel.Mungkin dengan menjauh darinya aku berfikir bisa melupakan aries.Tapi ternyata aku salah,semakin lama aku lari darinya,justru kerinduan yang dalam yang aku rasakan.Aku hanya masih berharap setiap lebaran tiba aku masih bisa memandang dan menyapanya.Ternyata aku masih tetap mencintainya.Bahkan mungkin aku berharap masih bisa kembali kepadanya.Rentang jarak dan waktu tak pernah menggoyahkan aku tuk menggantinya dalam hati.Semenjak perpisahan itu kudengar dia sempat menanyakan kabarku,tapi hanya selintas.Aku tahu dia sangat marah denganku,hanya saja andai dia tahu.Saat itu aku berada diantara dua pilihan keluargaku atau dia.Aku juga tahu dia sangat terluka dan kecewa atas sikapku.Mungkin memang aku
egois,terkadang aku ingin menyimpan dan mengatasi sgala persoalanku sendirian.

Dan saat ini dikala aku mendengar namanya,masih ada desiran aneh terasa.Sebegitu kuatkah dia dalam jiwaku?.Tetapi setelah aku melihat kenyataan yang ada dihadapanku,aku menyerah.Ternyata dia telah mendapatkan pendamping hidup.Tidak tahu apakah aku harus bahagia mendengarnya ataukah menangis?.Tapi untuk apa menangis,semua ini aku yang memulai.Dan inilah akhir dari semua yang aku harus terima.Mungkin kejujuran terkadang sangat menyakitkan,tapi aku berfikir untuk menerimanya.Kalau aku benar- benar mencintainya."kenapa aku tidak membiarkanya bahagia"?meski bukan bersamaku.Aku harus tetap bangkit,aku tidak mau dibayangi masa lalu lagi.Biarlah dia bahagia di jalannya.Aku yakin waktu akan mempertemukanku dengan sang ang jodoh.Aku harus merelakanya,aku tahu tidak mungkin untuk memulai sesuatu yang baru lagi bersamanya.Biarlah dia menemukan kebahagiaan lain bersama calon istrinya..Keikhlasan dalam do'aku insyaalloh kan membawa kehidupan yang tenang dalam menjalani hari depan mereka.

"De' ngelamunin apa"sentuhan lembut dibahu sempat membuatku kaget terhenyak tersadar dari lamunan tentangnya."ah,tidak ada apa-apa"balasku sambil tersenyum.Dia duduk disampingku.Namanya Deki,akhir-akhir ini dialah yang selalu menemaniku kemanapun aku ingin pergi.Dia boss ku di kantor,masih single.Entahlah walau banyak teman kantorku yang suka denganya tapi dia bilang lebih merasa tenang jika berjalan bersamaku.Mungkin karena kami teman lama,jadi kita tidak merasa canggung jika harus bercerita atu sama lain.Dan bukanya aku menutup mata dengan segala perhatianya selama ini,dia pernah terang-terangan menyatakan isi hatinya kepadaku,saat itu aku belum berani menjawabnya,karena masih terbayangi masa lalu bersama aries.Namun sampai saat ini dia masih tetap dengan sabar menunggu jawaban dariku.sekilas kupandang wajah bersihnya,aku tersenyum mungkin senyum termanis yang pernah aku berikan untuknya.Dia heran"kenapa de' tumben manis hari ini"katanya menggodaku."apakah kamu masih minta jawaban yang tertunda kemaren"balasku lirih.Dia terpana"maksud dede'?"dia berkata seolah-olah tak percaya."Aku juga ingin menjadi bagian dari hidupmu,balasku mantap"kutatap tajam matanya.

Tiba-tiba dia memelukku erat,mencium keningku dengan sayang,memandang wajahku seolah-oleh dia ingin menemukan kejujuran dalam ucapanku,Aku mengangguk dan air mataku mengalir,kucoba tersenyum untuk meyakinkanya.Dia memelukku kembali lebih erat sambil mendesah lirih"iya dede' aku masih menunggu jawaban itu,aku menunggu luluhnya hatimu,terima kasih...Hiduplah bersamaku,isi ruang hatiku yang slama ini hampa"dan kamipun larut dalam suasana hati.Aku sendiri heran kenpaa kau tiba-tiba ingin menerimanya?apakah karena aku mendengar arise menikah?ataukah karena aku memang sudah ingin mengakhiri lelahnya hati?Entahlah,yang aku tahu berada dalam pelukan deki membuatku nyaman,penantian dia yang penuh kesabaran menyadarkanku dari lamunan masa lalu,masa depan masih terbentang panjang,dan aku tidak mau bayangan yg lalu muncul dalam setiap nafasku.Aku sekarang mantap berjalan bersamanya.Kuyakinkan hatiku mungkin memang dia jodohku.Perlahan kami berjalan meninggalkan pantai ancol diiringi tenggelamnya sang surya di ufuk barat.Kami tersenyum karena yakin esok pagi akan menjadi milik kami.

Hk.june'05

Dari:
TANTI

0 komentar: