Kamis, 17 September 2009

Usaha Sega Sambel sangat Menguntungkan

Lokasi dan Racikan Sambel Sangat Menentukan

Meski terbilang usaha kecil, warung sega sambel atau tempe penyet ternyata cukup menguntungkan. Asal mau bersabar dan tekun menjalaninya, bisnis dengan modal kecil ini mampu meraih omzet jutaan rupiah setiap malam. Letak lokasi warung dan racikan sambel adalah hal yang sangat menentukan sukses tidaknya usaha ini. Ingin mencoba?


Warung sega sambel atau tempe penyet memang telah menjamur di sana-sini. Coba lihat, di sudut kota maupun desa mana yang tak memiliki usaha ini? Setiap penjuru pasti ada. Malah, berjejaran. Ada yang berjualan hanya saat petang telah menjelang, adapula yang berjualan sejak pagi. Tak mengherankan memang, sebab membuka usaha ini tak membutuhkan banyak modal. Yaitu, rata-rata membutuhkan modal sebanyak Rp 5 juta seperti yang diungkap oleh Djoko Widodo [42] yang membuka warung SE-HO [Sesepuh HO-HA]di jalan Dharmawangsa, dekat Kampus B Universitas Airlangga, Surabaya.

’’Satu tahun lalu saya buka warung ini dengan modal Rp 5 juta,’’ aku Djoko kepada Peduli.

Modal tersebut digunakan untuk membeli berbagai perlengkapan warung. Seperti rombong, terpal untuk pelindung saat hujan, alas duduk atau kursi meja, kompor, piring, gelas, wajan dan peralatan serta kebutuhan dapur lainnya.

Saat pertama berjualan pun tak banyak beras atau lauk yang harus dipersiapkan. Cukup 2–3 kg beras, 1 kg ikan, 1 ekor ayam dan beberapa potong tempe tahu. Seperti yang dilakukan oleh Tardji [42] yang berjualan sega sambel di dekat kuburan Universitas Negeri Surabaya [Unesa] ini.

’’Waktu pertama berjualan di Warjoku [warung pojok kuburan] saya cuma kulakan 2 kg beras, 1 kg lele, dan 6 buah tempe tahu,’’ ujar Tardji yang telah berjualan selama sepuluh tahun ini. Saat ini, warungnya telah menghasilkan Rp 2,25 juta setiap malam dan menghabiskan beras sampai 40 kg, 10 kg lele, 200 buah tempe, 50 potong tahu dan berbagai ikan seperti gurami, kerapu serta dorang masing-masing 2 kg. Hebatnya, tak jarang dagangannya ini ludes di beli dalam kurun waktu tak sampai empat jam. Wah, cukup menggiurkan bukan?

Eits, tapi jangan senang dulu. Pasalnya, tidak mudah untuk mendapatkan hasil seperti ini. Butuh kesabaran dan ketekunan untuk menggeluti bisnis ini. Pemilihan lokasi warung rupanya sangat menentukan tingkat keberhasilan usaha ini. Bila ingin berhasil, maka lokasi warung harus berada di tempat yang cukup ramai. Dekat kampus atau pasar adalah contohnya. Lokasi yang dekat kos-kosan mahasiswa adalah tempat yang tepat untuk menggaet pelanggan yang rata-rata kelas menengah kebawah ini.

Selain lokasi, racikan sambel ternyata juga sangat berpengaruh pada tingkat keberhasilan usaha ini. Taste [cita rasa, Red] sambel harus memiliki ciri khas tersendiri yang disesuaikan dengan lidah pelanggan.

’’Kalau disini yang paling laris bebeknya. Soalnya kita menyediakan bumbu, serundeng dan sambelnya belum ada yang nyamain. Kita pakai sambel bajak supaya bisa tahan lama sampai 2-3 hari. Jadi cabe rawit dan cabe besar di goreng dulu baru digiling, terus di gongso lagi bersama bumbu-bumbu lainnya. Nah, kita gongsonya sampai 3 jam supaya bisa awet 4-5 hari di dalam kulkas,’’ papar Arialata [24] putri Suroso Maryono [48] yang memulai bisnis sega sambelnya sejak 1998 di kawasan Rolak yang kini dipenuhi kafe tenda. Arialat inilah yang membantu kedua orangtuanya menjaga warung Selera Anda yang menyediakan nasi sambel, bebek, ayam, burung dara, berbagai ikan goreng dan bakar pempek Palembang ini sejak duduk di bangku SMA.

Berbeda lagi dengan warung sega sambel SE-HO di Dharmawangsa yang memilih sambel terasi dari bahan-bahan segar yang di goreng dulu agar lebih gurih dan beraroma. Sedangkan resep buatan Warjoku memilih sambel terasi dengan campuran kacang goreng U taste lebih sedap.

’’Setiap kota memiliki taste yang berbeda. Kalau orang Surabaya lebih suka sambel yang pedas dan manis,’’ sahut Djoko, pemilik warung sega sambel SE-HO di Dharmawangsa.

Ciri khas lidah orang Surabaya yang suka pedas inilah yang membuat banyak pemilik warung enggan memperhatikannya. Apalagi jika harga cabe sedang melangit.

’’Kalau ingin sukses tak perlu irit cabe supaya hasilnya sepedas rasanya,’’ sambung Tardji memberi tips.

Jadi, sebelum Anda memutuskan untuk membuka usaha sega sambel sebaiknya Anda temukan dulu racikan sambel yang istimewa dan sesuaikan dengan karakter lidah masyarakat di kawasan tersebut. Selanjutnya, tawarkan dengan harga murah namun tetap untung. Tak perlu banyak mengambil untung tapi kemudian buntung gara-gara tak laku dijual.

’’Yang penting enak, pedas, dan murah,’’ tutur Arif, salah satu mahasiswa Unair. [NUY HARBIS]

0 komentar: