Jumat, 25 September 2009

Melawan Mitos tentang Brutu

Orang, kalau berdagang, umumnya cari dagangan yang dibutuhkan atau disukai oleh sebanyak-banyaknya orang. Dengan begitu, dagangan laris dan mendatangkan banyak keuntungan. Namun, pedagang satu ini justru sebaliknya. Ia malah menjual masakan yang tidak disukai kebanyakan orang di sekitarnya.

Anda tahu brutu? Jika Anda orang Jawa, kemungkinan besar Anda tahu. Brutu (bhs. Jawa) adalah kata yang merujuk pada badan ayam bagian belakang, meliputi bagian ekor berikut anus. Itulah brutu. Bagian badan ayam yang disebut brutu itulah yang diolah Tomy Satrio (31), warga Dusun Teratai, Desa Banjarejo, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, menjadi sebuah menu masakan dan dijual di warung di depan rumahnya.

Banyak orang Jawa enggan mengonsumsi brutu. Kebanyakan bukan jijik karena brutu merupakan bagian badan ayam tempat ayam mengeluarkan tinjanya, melainkan karena ada sebuah mitos yang cukup mengerikan berkaitan dengan brutu. Terutama oleh orang Jawa, diyakini bahwa orang yang mengonsumi brutu, apalagi jika sering, ia akan mudah lupa.

Mudah lupa! Mengerikan, bukan? Bayangkan saja. Misalnya Anda mengonsumi brutu. Lantas, tiba-tiba Anda pergi ke pasar lupa nggak pakai baju atau celana, atau malah nggak pakai kedua-duanya gara-gara lupa. Apakah itu tidak mengerikan?

Tomy Satrio sendiri kepada Peduli, Senin mengungkapkan dirinya tahu betul adanya mitos itu. Bahkan, ia mengungkapkan hampir 100% warga di sekitar rumahnya adalah orang Jawa dan masih percaya dengan mitos itu. Berarti, Tomy tahu bahwa brutu termasuk dagangan yang kurang marketable di desanya. Tapi, ia tetap menjual masakan berbahan brutu itu.

Sate
Brutu oleh Tomy diolah menjadi sate brutu. Brutu yang dibuat sate adalah brutu ayam potong. Satu porsi sate brutu terdiri dari 3 tusuk sate brutu dan sepiring nasi. Bumbu satenya sama dengan bumbu sate pada umumnya. Sate brutu sebanyak 3 tusuk atau 1 porsi itu terdiri dari 6 brutu. Satu porsi sate brutu dijual Tomy seharga Rp 5.000.

Apa ada yang beli?! ’’Ada, Mas, yang beli,’’ ungkap Tomy sambil senyum, ’’Biasanya yang makan malah orang jauh-jauh. Yang deket-deket sini malah enggak. Takut mitosnya itu lho. Yang suka makan kebanyakan orang-orang Cina dan Bali.’’

Menurut Tomy, warung itu dibuka baru sekitar dua bulan. Sebelumnya, Tomy jualan nasi tiap pasaran kliwon di pasar. Di sana ia jual pecel, soto, dan sebagainya. Karena merasa kurang beruntung, ia banting stir: jual sate kambing dan sate ayam. Tapi karena banyak pesaing, akhirnya ia mencoba jualan menu baru yang langka itu: sate brutu.

Awalnya, agak susah Tomy mendapatkan brutu karena brutu tidak dijual khusus. Sekarang lebih mudah mendapatkannya. Tapi harganya yang semula murah, kini disamakan dengan harga daging ayam (Rp15.000/kg), setelah para pedagang tahu oleh Tomy brutu dijual dalam bentuk sate brutu. Dari 1 kg brutu, menurut Tomy, jadi sekitar 10 porsi sate brutu.

Dan ternyata, menjual dagangan yang menjadi ’pantangan’ banyak orang tak selalu berarti bubruk alias tak laku. Hasil penjualan sate brutu ternyata cukup lumayan. Tomy mengaku, baru sekitar dua bulan warung dibuka, kini omzetnya rata-rata sudah 20 porsi per hari. Dan dari seporsi sate brutu, untungnya di atas Rp 20.000. Bukan tidak mungkin, omzetnya akan terus meningkat setelah semakin banyak orang tahu.

Atau, Anda pengin uji mitos? Silakah datang ke warung milik Tomy Satrio di Dusun Teratai, Desa Banjarejo, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, dan cicipi sate brutu-nya. [KUS]

0 komentar: