This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label jasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jasa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2012

Memulai Usaha: Modal Ngutang Mertua

Sebenarnya dua sahabat Wirawan Dwi dan Raditio Ario Yudono ini semula adalah orang-orang yang sudah bekerja di 2 perusahaan berbeda dengan jabatan yang enak dan gaji yang cukup. Hanya saja karena ingin menjadi orang yang lebih maju lagi dalam banyak hal, akhirnya keduanya memutuskan berhenti dari pekerjaan masing-masing dan berusaha mendirikan usaha sendiri.





 Sedang melakukan pemotretan

Dijumpai Peduli pada 7-8 Januari 2012 silam keduanya tampak giat bekerja mulai mengabadikan moment akad nikah, foto keluarga, foto post wedding hingga foto resepsi yang di gelar di hari yang berbeda. Meski harus repot karena memburu moment yang tak bisa diulang namun keduanya berusaha sebisa mungkin menghasilkan foto yang bagus dan bercitarasa seni, bukan sembarangan memotret mengabadikan moment semata. Akhirnya wawancara dengan Peduli baru bisa dilakukan usai mereka bekerja memotret pernikahan klien tersebut pada 8 Januari 2012 silam.

”Saya dulunya bekerja sebagai humas di salah satu LSM muslim. Saya dari dulu itu punya prinsip, kalau sudah punya pengalaman bekerja lima tahun sebagai karyawan, selanjutnya saya harus segera mandiri dengan mendirikan usaha sendiri,” terang Wira, panggilan akrab Wirawan sehari-hari membuka kisahnya.

Karena itulah di tahun 2008, setelah 5 tahun bekerja, ayah dari Zayd Vivere Gazanezard ini mulai memikirkan untuk mandiri. Bisa dibilang nekat, sebab saat itu karirnya sebagai humas sedang bagus-bagusnya namun ia malah memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya kala itu. Didukung latar belakang pendidikan S-1nya di bidang komunikasi dan pengalaman kerjanya sebagai humas selama 5 tahun maka pria kelahiran Surabaya, 21 Agustus 1982 ini nekat mendirikan usaha yang bergerak di media konsultan. Bukan sekedar mendirikan usaha tanpa perhitungan, pendirian usaha ini justru didukung berdasarkan pertimbangan yang sangat matang.





 Aryo sedang melakukan pemotretan [FOTO: NIKEN]


”Kalau menurut saya, di zaman sekarang ini, hampir semua instansi yang ada itu perlu media untuk mempererat hubungan dengan customernya, entah itu dalam bentuk buletin ataupun majalah. Nah, kan tidak semua instansi punya SDM untuk mengelolanya. Di situlah kami melihat adanya peluang untuk membuka usaha di bidang ini. Kami membantu instansi tersebut untuk membuat media yang mereka perlukan, dari membuat berita hingga majalah yang mereka perlukan itu jadi dalam bentuk majalah,” ungkap Wira di awal perbincangan dengan Peduli.

Dengan adanya celah bisnis ini maka Wira pun ingin menggarap usaha barunya ini lebih serius lagi. Ia pun akhirnya mengajak teman kecilnya dulu, Raditio Ario Yudono untuk berpatner mengelola usaha baru tersebut. Sebagai langkah pertama tentunya mereka memerlukan kamera yang lumayan canggih untuk mendukung kinerja mereka ke depannya nanti.

”Waktu itu saya meminjam uang dari mertua saya. Karena kamera second yang akan kami beli saat itu harganya 6 juta, akhirnya saya dipinjami uang mertua 3 juta ditambah tabungan saya, akhirnya bisa punya satu kamera untuk mendukung operasinonal kami saat itu,” lanjut suami dari Lusie Wardani ini.

Demi bisa menghasilkan gambar yang bagus, putra pasangan alm.Masduki dan Umrin ini rela belajar fotografi pada Yuyung Abdi dan Mamuk Suhermo, dua orang fotografer dari koran terkemuka di Surabaya sebagai tempat menimba ilmunya. Sembari belajar fotografi, Wira pun gencar memperkenalkan usaha barunya ini pada beberapa instansi lagi. Di dukung dengan latar belakangnya yang pernah bekerja sebagai humas, setidaknya ia punya contac dengan sejumlah instansi yang sewaktu-waktu bisa ia tawari untuk bekerjasama. Tak lama kemudian sahabatnya, Ario menyusulnya membeli sebuah kamera lagi untuk operasional. Dengan memanfaatkan uang hasil dari angpau pernikahannya, suami dari Sri Handaru Widiyastuti ini menambah satu lagi alat operasional untuk usaha yang baru didirikan mereka saat itu.

”Saya sebelum bergabung dengan sahabat saya ini dulunya bekerja sebagai tim keuangan di sebuah perusahaan. Sebenarnya kerjaan saya saat itu lumayan enak, jam 6 sore saya sudah ada di rumah. Tetapi istri saya melihat saya saat itu sepertinya tidak bahagia dengan pekerjaan saya. Akhirnya setelah saya ceritakan, istri saya tidak keberatan kalau saya memanfaatkan uang dari angpau yang kami dapatkan sewaktu menikah dulu sebagai modal usaha. Padahal sekarang saya kalau pulang ke rumah bisa sampai jam 12 malam lho, malah terkadang tidur di kantor pula, gitu istri saya tidak marah. Dia tahu saya menikmati kerjaan saya saat ini,”sahut Ario.





 Menunjukkan hasil pemotretan kepada pelanggan [FOTO: NIKEN]



Dengan dua kamera itu kinerja mereka semakin maksimal lagi. Apalagi Wira yang kala itu sudah mulai bisa menghasilkan foto bagus pelan-pelan berani melangkah dengan mengembangkan usaha barunya ini. Selain sebagai konsultan media, keduanya juga membuka usaha baru yakni di bidang fotografi. Mereka mendirikan usaha baru di bawah bendera usaha yang berbeda yang mereka namai dengan Story Photography, yang bergerak untuk menangani pembuatan foto ataupun syuting acara.

”Sekarang ini ya, kalau menurut saya semua event itu memerlukan dokumentasi, mulai dari kelahiran hingga kematian itu orang inginnya di dokumentasikan. Nah, itulah celah bisnis yang bisa kami garap dengan serius,”imbuh Wira.

Gencar Berpromosi

Untuk usaha barunya ini Wira pun mengaku gencar berpromosi memperkenalkan usahanya tersebut, maklum saja usaha serupa juga banyak di geluti orang, jadi persaingan pun lumayan ketat. Karena itulah di awal usahanya ini keduanya juga rela memotret orang secara gratisan.

”Dulu saya kalau ada orang punya hajat suka ikutan motret begitu, itu saya lakukan secara gratisan.Ya nggak apa-apa juga kalau agak rugi di awal usaha. Saya kan sedang mencari nama. Ya siapalah saya saat itu, orang tidak tahu saya dan hasil foto saya. Jadi wajar kalau cara berpromosinya masih dengan jalan gratisan seperti itu. Hasilnya saya tunjukan mereka, terus mereka bilang foto saya bagus dan orang itu bilang ke temannya. Temannya bilang ke temannya lagi, lama-lama banyak yang tahu. Ya getok tular begitu,”sambung Wira.

Karena instansi yang mereka datangi makin hari semakin banyak, dan kebanyakan dari customers yang mereka datangi mulai menanyakan kantor dan badan usaha yang mereka geluti saat itu maka keduanya pun mulai serius untuk membuat sebuah CV dan memiliki sebuah kantor yang representatif agar customer yang mereka tangani semakin percaya dengan mereka. Mereka akhirnya mendirikan kantor sekaligus studio di griyo Mapan Sentosa FB/IV-31 Waru-Sidoarjo. Dan mereka pun mulai mendirikan CV yang mereka beri nama Garis Miring – Integrated communications.

”Untuk nama tadinya ada banyak pilihan, tapi akhirnya dipilihlah Garis Miring sebagai nama, karena kalau orang desain bilang ya, jika ada tiga garis vertikal, terus ada satu garis miring saja di situ, tiga garis vertikal tadi kalah. Karena usaha kami bergerak di bidang desain, media dan fotografi jadi nama itu kami pilih sebagai nama dari CV kami,” papar Wira.
Dan pada akta pendirian CV-nya, Ario di dapuk sebagai persero aktifnya dan Wirawan sebagai persero pasifnya.

”Tapi kalau di kegiatan sehari-harinya, saya sebagai direktur keuangannya, dan mas Wira ini sebagai direktur marketingnya. Sengaja begitu karena dia memang banyak link-nya, sedangkan saya kan dulunya kerja di bagian keuangan. Jadi saya dipercaya untuk mengelola keuangan yang dihasilkan oleh usaha kami ini, termasuk mengelola karyawan kami yang kalau dijumlahkan bersama para freelance-nya ada sekitar 10 orang. Nah, bagian menggaji karyawan, membeli peralatan, melunasi hutang dan segala macamnya itu tugas saya,”imbuh sarjana jebolan Ekonomi Managemen Unair ini menuturkan. [niken anggraini]

Rabu, 11 Januari 2012

Bisnis Salon Kecantikan

Butuh Keterampilan, Strategi dan Ketelatenan


Modal, keterampilan dan strategi pemasaran yang optimal merupakan syarat mutlak yang dibutuhkan saat anda membuka suatu usaha. Begitu pula bila anda ingin menggeluti bisnis salon kecantikan. Bisnis ini termasuk bisnis dengan pendapatan yang tidak dapat diprediksi. Tanpa ketiga hal tersebut, sangat mustahil bisnis ini mampu bertahan.
Membuka salon kecantikan sepertinya terlihat mudah. Sebagian orang berpikir bahwa mengelola bisnis ini hanya dibutuhkan peralatan dan tenaga saja. Padahal, bisnis salon kecantikan merupakan bisnis ‘elit’. Pertama, karena bisnis ini membutuhkan modal yang tidak sedikit.

Untuk membuka salon sederhana dengan memanfaatkan rumah sendiri saja (tanpa sewa tempat), dana yang dibutuhkan berkisar Rp 10 juta hingga Rp15 juta. Modal tersebut paling banyak dipakai untuk membeli alat-alat salon yang sudah modern menggunakan tenaga listrik seperti steamer, hair dryer, catok, alat facial, alat keramas dan masih banyak lagi. Belum lagi perlengkapan pendukung lain seperti gunting, macam-macam sisir, meja rias, kursi, rak, kaca, dan etalase. Dan, berbagai obat-obat kimia yang dipakai seperti bahan keriting, creambath, facial, make-up dan sebagainya.

“Memang ada yang dijual dengan harga miring contohnya peralatan salon. Tapi, barang-barang murah itu justru cepat rusak. Kalau sudah rusak begitu malah membutuhkan biaya ekstra karena harus membeli peralatan lagi,” ujar Inge Magdalena, Kepala Sekolah Tata Rias dan Salon Rudy Hadisuwarno.

Kedua, dibutuhkan keterampilan dan kemampuan menata rambut dan kecantikan yang juga mahal. Sebelum membuka usaha salon kecantikan, anda harus memiliki keterampilan yang bagus tentang tata rias rambut, wajah dan tren kecantikan. Dan semua itu hanya dapat diperoleh dari pendidikan formal yang harga yang tidak sedikit.


“Di sekolah ini misalnya, untuk menguasai dasar-dasar potong rambut, pewarnaan, keriting, sanggul dan rebonding butuh waktu belajar selama 4 bulan dengan biaya sekitar Rp 4 juta untuk level pertama. Pada tahap ini sebenarnya sudah bisa membuka bisnis salon kecantikan, tapi belum maksimal karena orang tersebut beru memiliki kemampuan dasar saja,” sambung Inge.

Nah, untuk belajar ke tingkat lebih mahir, bisa melanjutkan ke tingkat lanjutan yakni level 2 dan 3. Siswa yang lulus 3 level ini setara dengan lulusan Diploma 3. Sehingga
menurut Inge, di Jakarta sendiri telah tersedia kuliah lanjutan (S1) bagi yang ingin melanjutkan ke jenjang sarjana.

Selain keterampilan tata rambut si pemilik juga menguasai tata rias pengantin adat dan Eropa beserta tata cara adatnya atau menyediakan jasa spa. Karena biasanya, justru di bidang itulah yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat.

Ketiga, butuh strategi yang matang agar salon tersebut diminati pelanggan. Strategi ini sangat dipengaruhi oleh lokasi, tingkat kebutuhan penduduk sekitar dan kreatifitas pemilik dan pengelola salon. Misalnya saja dengan memberikan potongan harga bagi pelanggan tetap. Tanpa strategi pemasaran yang optimal, bisnis ini tidak akan mendapatkan pelanggan. Jika ini berlangsung secara terus menerus, maka lambat laun akan mengalami kerugian yang tidak sedikit. Utamanya bila obat-obat kimia dan peralatan yang telah dibeli menjadi rusak dan kadaluwarsa.

“Selain ketiga hal tersebut, juga diperlukan ketelatenan atau kesabaran. Saya rasa ini paling penting untuk memulai usaha salon kecantikan. Artinya, si pemilik salon harus selalu menjaga loyalitas pelanggan dengan mementingkan kepuasan mereka dan selalu mengikuti perkembangan tren. Tanpa itu, besar kemungkinan salon tersebut tidak akan bertahan lama.” (kd)


Bisnis Salon Kecantikan

Sekolah tata rambut dasar: Rp 4 juta waktu 4 bulan
Modal awal : Rp 10-15 juta
Panghasilan/bulan : antara Rp 250 ribu-Rp 25 juta


Sabtu, 31 Oktober 2009

TAK SELAMANYA BISA MENGGENDONG


Sebagai buruh yang mengandalkan kekuatan fisik dalam menjalankan pekerjaan, para buruh gendong di Pasar Beringharjo sadar benar bahwa usia sangat berpengaruh terhadap kerja-kerja mereka. Maka sebagian dari para buruh ini melakukan usaha lain, seperti bekerja pada pedagang pasar atau bahkan berdagang saat tidak ada gendongan.

Mak Ndung merupakan salah satu buruh gendong yang kini tidak menjadikan jasa gendongan sebagai andalan. Sejak tahun 1994, perempuan yang memilih bercerai dari suami karena dipoligami ini berjualan pakaian dalam dan baju anak di antara los pasar. Ia mengaku meski membuka lapak dagangan, aktivitas menggendong masih tetap ia lakukan. ’’Ya kalau ada gendongan ini saya tutup,’’ katanya.

Perempuan yang menjawab tidak tahu ketika ditanya berapa usianya itu, sadar bahwa suatu saat ia tak akan kuat menggendong lagi. Sehingga usaha ini awalnya ia niatkan sebagai cadangan. Modal berdagang waktu itu ia dapatkan dari pinjaman. Hal itu bisa dipahami karena mereka memang berasal dari kalangan ekonomi lemah. Kondisi ekonomi keluarga itu pulalah yang menjadikan pendidikan mereka terbatas, sehingga kalah dalam persaingan di bidang kerja yang lebih baik.

Seperti halnya Mak Ndung, Tuminah yang saat ini menjabat sebagai ketua Paguyuban Sayuk Rukun, juga menekuni usaha lain yaitu jual-beli besi bekas. Saat ini ia hanya menjual jasa gendongan kepada para pelanggannya saja. Para pelanggan jasa gendongan ini sebagian besar adalah para pedagang pasar. Saat menerima order gendongan, Tuminah memilih untuk menutup kiosnya.

Mak Ndung dan Tuminah merupakan contoh dari buruh gendong yang kemudian mengembangkan diri tak sekedar sebagai penjual jasa gendongan saja, melainkan juga berdagang. Buruh gendong lain yang tidak memiliki modal dan tidak mempunyai kemampuan dagang, memilih bekerja secara lepas pada para pedagang pasar sambil menunggu pengguna jasa gendongan. Namun tak sedikit buruh gendong yang terpaksa harus berpangku tangan menahan kantuk sambil menunggu pekerjaan, karena tak memiliki sambilan.

Melihat potret mereka serta situasi kerja seperti itu, tak heran jika seorang fotografer di Yogyakarta merasa malu setelah mengabadikan gambar dan berbincang dengan mereka. Ia mengatakan, saat para buruh gendong itu bingung apa yang akan dimakan hari ini, ia justru bingung memilih menu. [siti aminah]

KEHIDUPAN HARUS TETAP BERJALAN

Kalau saja ada pilihan yang lebih layak, tentu perempuan-perempuan itu tak perlu menjual tenaga sebagai buruh gendong demi menyambung hidup mereka. Bisa dipastikan tak ada satu pun di antara mereka pernah membayangkan akan menjalani kehidupan sebagai buruh gendong. Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hiduplah yang akhirnya mendamparkan mereka pada profesi tersebut.

Mak Ndung, perempuan asal Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta mengaku keterlibatannya sebagai buruh gendong dipicu oleh praktek poligami suaminya. ’’Suami punya isteri tiga,’’ katanya awal Mei lalu. Sebagai isteri pertama, Mak Ndung merasa diabaikan kebutuhannya. Suami tidak lagi memberi nafkah padanya, sehingga Mak Ndung harus memutar otak, mencari cara agar kehidupannya bersama anaknya tetap bisa berjalan.

Maka mulailah babak baru kehidupan perempuan itu. Tahun 1980 Mak Ndung memutuskan menjadi buruh gendong di Pasar Beringharjo. Sehari-hari ia menghabiskan waktu di pasar yang berjarak kurang lebih 20 kilometer dari desa asalnya. ’’Waktu itu sambil momong anak. Kalau nggendong (beban), kadang anak saya tumpangkan di atas,’’ cerita Mak Ndung tentang masa lalunya.

Jauhnya jarak rumah dan tempat kerja menjadikan Mak Ndung dan sebagian besar buruh gendong lain menyewa kamar di sekitar pasar. Menurut pihak Yayasan Annisa Swasti (Yasanti) Yogyakarta, dulu banyak di antara mereka yang tidur di pasar. Tetapi sekarang hal itu sudah jarang ditemui. Para buruh ini tinggal di kamar sewaan secara berkelompok. ’’Seribu rupiah seharinya,’’ jawab Mak Ndung ketika ditanya berapa biaya sewa kamar mereka.

Mengenai pendapatan, Amin Muftiyanah, Direktur Yasanti mengungkapkan rata-rata mereka mendapatkan penghasilan setiap harinya sebesar Rp 15 ribu rupiah. Penghasilan ini didapatkan dari setidaknya 10 kali menggendong beban seberat 50-100 kilogram. Sebab untuk beban seberat itu mereka rata-rata hanya mendapatkan upah Rp 1500.

Dengan konstruksi pasar bertingkat seperti sekarang, jelas beban kerja mereka semakin berat. Tak jarang para buruh perempuan ini harus menggendong dari lantai bawah ke lantai atas, atau sebaliknya. Menurut Amin, ini tentu saja berpengaruh terhadap kesehatan perempuan, termasuk di dalamnya fungsi reproduksi perempuan. Terlebih sebagian buruh tersebut berada dalam kategori usia usia subur atau produktif.

Untuk itulah Yasanti bersama Paguyuban Buruh Gendong Pasar Beringharjo ’’Sayuk Rukun’’ mengadvokasi agar buruh gendong dapat mengakses layanan kesehatan masyarakat di kawasan pasar. Sebab sangat sulit bagi mereka mengakses layanan kesehatan di daerah asal, karena aktivitas keseharian mereka di pasar. Tak hanya itu, Yasanti dan Sayuk Rukun juga mengusahakan agar para buruh gendong diberi ruang beristirahat mengingat pekerjaan mereka menguras banyak tenaga.

Tak hanya pemerintah yang diharapkan memberi perhatian pada mereka. Masyarakat sebagai pengguna jasa pun diupayakan memiliki kepedulian dan penghargaan terhadap kerja para buruh perempuan ini. ’’Paling tidak dengan mengupah mereka secara layak,’’ kata Amin.[siti aminah]

Buruh Gendong Pasar Beringharjo Yogyakarta

Potret Keras dan Beratnya Kehidupan

Adzan dhuhur tengah berkumandang ketika tiga orang perempuan sibuk membongkar muatan dari sebuah mobil yang terparkir di lantai dua Pasar Beringharjo di pusat Kota Yogyakarta. Satu di antara mereka tampak sekuat tenaga mengeluarkan muatan dari dalam kendaraan. Sedang dua orang lainnya mengangkut dari kendaraan ke gudang yang terletak di antara los pasar.


Itulah rutinitas yang dijalani oleh para perempuan buruh angkut yang biasa disebut buruh gendong. Dinamakan buruh gendong karena mereka mengangkut beban dengan cara digendong. Berbeda dengan buruh angkut laki-laki yang biasanya memanggul beban tanpa alat bantu selendang seperti halnya buruh perempuan.

Keberadaan buruh gendong ini sangat mudah dikenali. Selendang lurik yang mereka selempangkan serta celemek yang mereka kenakan menjadi penanda bahwa mereka adalah buruh gendong. Amin Muftiyanah, direktur Yayasan Annisa Swasti yang sejak tahun 1990-an mendampingi para buruh ini mengatakan bahwa usia mereka beragam. Mulai dari 20 - 60 tahun. Rata-rata para buruh gendong ini mampu membawa 50 - 100 kilogram dalam satu kali gendongan.

Meski Amin menilai bahwa pekerjaan buruh gendong tampak tidak manusiawi, tetapi banyak perempuan yang terlibat dalam sektor ini. Di Pasar Beringharjo yang berlantai tiga ini saja jumlahnya tak kurang dari 500 orang. Mereka tersebar dari lantai satu sampai lantai tiga.

Menurut Mak Ndung, mantan ketua Paguyuban Buruh Gendong Pasar Beringharjo ’’Sayuk Rukun’’, sebagian besar buruh di gendong di pasar ini berasal dari Kabupaten Kulon Progo, Propinsi DI Yogyakarta. Namun ternyata tak hanya dari wilayah DI Yogyakarta saja. Buruh yang berasal dari Kabupaten Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo ketiganya terletak di Propinsi Jawa Tengah, juga banyak ditemukan di sini.

Sebagian dari mereka berasal dari desa yang sama. Ini terjadi karena biasanya mereka yang telah menjadi buruh membawa serta para tetangga atau menjadi jalan masuk warga sedesanya ke dalam lingkungan pasar. Selain dengan cara ini, masuknya para perempuan ini ke pasar sebagai buruh gendong karena diajak oleh orang orang tua atau justru menggantikan profesi orang tua mereka.

Dapat dikatakan menjalani hidup sebagai buruh gendong sebenarnya adalah pilihan terakhir ketika tak ada lagi yang dapat mereka pilih. Bahkan, Mak Ndung yang telah menjadi buruh gendong sejak tahun 1980 melontarkan, ’’Orang yang mau jadi buruh gendong itu paling jelek. Tidak punya kepinteran tidak punya keterampilan, hanya mengandalkan tenaga.’’

Kondisi ini ternyata tidak membuat mereka terus berada dalam keterbatasan dan keterpurukan. Keterlibatan mereka dalam paguyuban merupakan salah satu bukti bahwa ada tekad dalam diri mereka untuk memajukan diri. Seperti kata Tuminah, setiap 35 hari sekali (selapan) buruh gendong yang tergabung dalam paguyuban ini mengadakan pertemuan. ’’Setiap Minggu-Pon di Masjid Muttaqien,’’ kata Tuminah.

Dalam pertemuan rutin ini, selain diisi dengan berbagai materi juga diadakan arisan dan simpan pinjam. Namun seperti halnya kegiatan simpan pinjam di banyak tempat, belakangan, ’’Simpanan bubar, tinggal pinjaman,’’ Mak Ndung menuturkan.

Meski tidak semua kegiatan berjalan lancar, setidaknya keberadaan paguyuban telah diakui kemanfaatannya oleh para buruh gendong. Jika dulu keberadaan mereka tidak dianggap, kini Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pasar telah mengakui buruh gendong sebagai warga pasar. Dengan pengakuan ini, setidaknya para buruh dapat bekerja dengan lebih nyaman, tidak lagi dianggap sebagai pihak yang harus ’disingkirkan’ dari lingkungan pasar. [siti aminah]

Sabtu, 26 September 2009

Usaha Penggilingan Gabah Keliling: Petani Panen Ikut Panen


Selama masih ada petani menanam padi, mesin giling [huller] pasti dibutuhkan. Dulu, untuk jadi pengusaha penggilingan padi mesti punya modal lebih besar [daripada yang dibutuhkan sekarang], karena mesti memiliki mesin giling standard an memiliki lahan yang cukup.

Oh, tidak hanya itu. Punya lahan pun, jika lokasinya tidak memungkinkan pasti akan menemui kendala. Karena, selain mengeluarkan limbah [debu] dan kebisingan suaranya juga bisa mengganggu dan menimbulkan protes dari para tetangga. Kurang praktis pula, karena mesin model lama itu mesti menunggu pemilik gabah kering membawa gabahnya untuk digilingkan.

Sekarang, ada mesih giling berjalan [portable huller] yang bisa dibawa ke mana-mana, mendatangi pemilik gabah. Jadi, pemilik mesin giling bisa lebih proaktif menjemput bola, eh, gabah!

Nursalim [35] warga Desa Karangsoko Trenggalek, memulai usaha penggilingan keliling dengan modal modal Rp 10 juta. Uang itu dibelikan mesin giling yang telah dirakit pada rangka mobil sehingga dapat dijalankan layaknya sebuah mobil.

Saling Menguntungkan
Pada bulan-bulan sebelum panen raya tiba biasanya setiap dua hari sekali Nursalim berkeliling kampung untuk melayani pelanggannya. Bagi Nursalim saat panen raya tiba merupakan saat-saat yang ditunggu untuk mendapatkan rezeki dari jasa penggilingannya.

Setelah panen biasanya petani akan segera menggilingkan hasil panennya karena rata-rata petani menjual hasil panennya dalam bentuk beras. Itu mendatangkan keuntungan tersendiri bagi para pemilik Portable Huller, juga bagi petani yang tidak usah mengeluarkan biaya transport untuk ankutan ke tempat penggilingan.

Aktifitas yang biasanya hanya dilakukan setengah hari akan menjadi sehari penuh, pendapatannya pun lumayan. Nursalim yang pada hari-hari biasa hanya mampu mengantongi pendapatan Rp 15 – Rp 20 ribu, pada musim panen bisa pulang membawa hasil mencapai Rp 100 ribu/hari.

Daripada Buruh Tani
Bagi petani sendiri ternyata ongkos penggilingan ini tidak terlalu memberatkan. Setiap karungnya dengar berat antara 40 - 50 kg hanya dikenai ongkos giling sebesar Rp 5.000. Namun, bila bekatulnya diberikan pada pemilik gilingan ongkos gilingnya hanya sebesar Rp 1.000/karung.

Dari hasil gilingannya ini bila dibandingkan saat Nursalim masih menjadi pekerja serabutan [buruh bangunan, buruh-tani] yang belum tentu bisa dipastikan hasilnya karena kadang bekerja dan kadang tidak, ternyata roda ekonomi keluarganya mulai tertata.

Yang jelas, setiap berkeliling ayah satu anak ini pasti pulang membawa uang.

’’ Pokoknya mau berkeliling kampung , sedikit banyak ada hasil. Memang, bila sedang sepi pulang membawa Rp 10.000, sudah untung, tutur Nursalim. [PUR]

Jumat, 25 September 2009

Yuliati, 50 Tahun Tekuni Bisnis Rias Pengantin

Buka Kursus Rias, Masak, dan Membuat Aksesoris

KETEKUNAN, keuletan dan kerja keras adalah modal utama yang dimiliki Yuliati, pemilik Yulia Sanggar Rias dan Salon. Karena itu, wanita kelahiran 20 Juli 1940 ini bisa eksis selama 50 tahun berkarya dalam bisnis wedding, yang memang sudah sejak lama ia gemari.

’’Saya sangat senang dengan dunia fashion dan kecantikan. Kok rasanya kagum melihat orang-orang jadi lebih cantik ketika usai didandani. Karena itu saya berkomitmen akan terus menjalankan bisnis ini dengan sungguh-sungguh,’’ ujarnya mengawali pembicaraan tentang awal menekuni bidang ini.

Istri Katib dengan tiga anak ini lalu menuturkan, bahwa Jl. SMEA, (dekat SMA Khatidjah, Wonokromo, Surabaya) itu bukanlah tempat pertama ia mengawali usahanya. Dulu, pada 1957 Yuliati mengawalinya membuka sekolah dengan nama Praktis Modes. Sekolahnya itu menjadi salah satu sekolah modes yang disegani di Surabaya. Saat itu lokasinya, di Jl. Karang Rejo III/ 22 Surabaya.

’’Tahun itu, rasanya kok cuma sekolah modes milik saya yang mengenakan seragam. Dan saya masih ingat betul, tempat saya sampai penuh sesak karena banyaknya peminat kursus,’’ kenangnya.

Kemudian tahun 1967 Yuliati pindah ke Jl. Stasiun Wonokromo dan berlanjut di Raya Wonokromo. Baru pada tahun 1983, Yuliati memilih tempat di Jl. SMEA, hingga sekarang.
Seiring dengan perkembangan, Yuliati kemudian mencoba melengkapi sanggarnya. Dengan les memasak, membuat kue dan ketrampilan lain, berupa membuat aksesoris dan manik-manik pengantin.

Kini, rumah usaha Yuliati yang menempati lahan sekitar 6 x 12 meter itu, semakin berkembang dengan terus melakukan terobosan berupa paket Rias Pengantin dengan harga mulai Rp 15 juta. ’’Semua itu all in, termasuk busana dan rias pengantinnya,’’ ujarnya. Selain itu untuk make up, juga disediakan paket wisudawan, acara khusus dan pesta. ’’Andalan kami adalah pelayanan yang berkualitas. Karena kami ingin, semua konsumen kami menjadi puas,’’ ungkapnya.

Mengenai konsumen, menurutnya datang dari beragam kalangan. Pengusaha, pegawai bahkan ada jutawan pernah mencicipi sentuhan tangan Yuliati. Secara spesifik, Yuliati mengaku lebih suka mengerjakan busana pengantin tradisional dengan bahan kain tile dan bludru. Ini terbukti dengan ratusan koleksi yang terpajang di etalase. “Sebenarnya kami bisa mengerjakan semua yang terkait dengan pengantin atau hajatan lain. Tapi yang banyak memang yang bertema tradisional,” katanya.

Beragam penghargaan pernah Yuliati raih. Namun yang menurutnya paling berkesan adalah saat 2004, dimana ia bersama beberapa pengusaha lain di Surabaya menerima peniti emas di Jakarta dalam even bertema Beauty Revolution 2004. ’’Saya sangat bangga sekali, bisa menjadi bagian dalam penerimaan penghargaan itu,’’ katanya penuh bangga.

Meskipun usahanya cukup lama berkembang, namun suka duka dan pasang surut, juga sempat ia alami. Dan ia masih ingat, ketika tahun 2005 suaminya sakit dan disusul dirinya satu tahun berikutnya. ’’Bahkan saya sempat opname lho. Keadaan ini sempat membuat kegiatan Yuliati berkurang. Tapi, kami terus berusaha agar kembali eksis dan semakin berkembang,’’ imbuhnya.

Tapi itu tak membuat ia jadi patah semangat. Dengan kerja keras dan dedikasi tinggi, ia berupaya terus memajukan usahanya. ’’Anda lihat sendiri, meskipun usia saya sudah 67 tahun, saya masih terus berkarya dan berkreasi. Ini adalah dunia saya. Dunia yang memang sangat saya cintai,” tuturnya.

Meski sibuk dengan usahanya, Yuliati ternyata juga telah ’memiliki’ generasi yang bakal meneruskan usahanya. Setidaknya ada dua anaknya, Diah Anggraini dan Indah Sulistiyawati serta menantunya Ery Vivi Damayanti yang siap meneruskan usahanya. Bahkan, mereka telah mengembangkan sayap dengan menambah usaha di bidang foto. [DEWI]

Minggu, 20 September 2009

Bisnis Permak Jeans [2]

Manjakan Karyawan dan Pelanggan

Usaha permak jeans yang sukses dikelola Dhany rupanya berasal dari tehnik manajemen yang dipilihnya. Sebab, tehnik manajemen tradisional yang digunakan terutama dalam sistem penggajiannya sebagai dasar untuk mengelola usaha permak jeans itu sangat menguntungkan karyawannya dan memuaskan pelanggan.

’’Saya anggap karyawan bukan sebagai bawahan tetapi sebagai mitra kerja,’’ ungkap Dhany.

Dengan pembagian penghasilan 40 persen untuk karaywan, 40 persen untuk Dhany dan sisanya sebagai biaya operasi. Cara ini rupanya disukai oleh karyawannya. Ia selalu berusaha agar karyawannya juga merasa memiliki usaha tersebut sehingga terpacu untuk bekerja lebih giat. Sehingga 10 karyawannya kini bisa memperoleh penghasilan rata-rata Rp 2 juta setiap bulan. Angka ini tentu jauh diatas UMR kota Surabaya. cukup menggiurkan bukan?

Dhany juga memanjakan karyawannya dengan membeli mesin jahit dengan teknologi canggih yang biasa digunakan oleh pabrik garmen. Puluhan juta yang ia keluarkan untuk membeli mesin itupun ia lakoni untuk meringankan kerja karyawannya sekaligus memuaskan pelanggan. Baginya, manajemen waktu sangatlah penting.

’’Maksudnya, kami harus bisa melayani pelanggan tepat waktu. Jadi, permak apapun yang diminta pelanggan harus segera dilakukan dan tidak boleh ditunda supaya bisa langsung selesai dan dibawa pulang pada hari itu,’’ sambung ayah dua anak ini.

Pentingnya kepuasan pelanggan ini juga yang membuat Dhany tak pernah menaikkan ongkos jasanya selama hampir enam tahun pendiriannya. Untuk memotong celana jeans atau celana biasa biayanya Rp 5 ribu. Sedangkan untuk permak pinggang celana jeans dikenai Rp 12.500. Paling mahal, jika melakukan rombak total jaket atau jeans dikenai Rp 25 ribu.

Yang menarik, selama perjalanan karirnya itu banyak pula pesanan yang tidak diambil oleh pemiliknya. Mungkin lantaran biaya permak total yang menghabiskan dana Rp 25 ribu tergolong mahal jika dibanding beli jeans obralan seharga Rp 50 ribu. sehingga, banyak orang memilih untuk tidak mengambil celana yang dipermaknya itu. Padahal, sistem penggajian karyawanya bergantung pada hasil pendapatan setiap harinya. Sehingga, bila ada yang tak dibayar, maka karyawan yang bersangkutan tak bisa mendapat upah atas pekerjaannya itu. Makanya, setiap kali order ia meminta persekot 50 persen dari biaya.

’’Ada berkarung-karung jeans di gudang saya yang belum diambil. Tapi, saya tidak berani mengambil karena itu bukan milik saya. Takut kalau suatu saat mereka datang sambil membawa bon ternyata barangnya sudah tidak ada,’’ ipungkasnya. [NUY HARBIS]

Bisnis Permak Jeans [1]

Gaji Karyawannya RP 2 juta per Bulan


Siapa yang tak kenal Doctor Jean’s? Permak Jeans yang berada di samping POM Bensin jalan Kertajaya, Surabaya ini memang perintis usaha yang kini menjamur ini. Sejak didirikan tahun 2000 silam, pemiliknya telah jatuh bangun untuk mempertahankan usahanya. Terakhir, usaha yang menghasilkan omzet rata-rata Rp 25 juta per bulan itu digusur Pemerintah Kota Surabaya. Bagaimana kisahnya?

Berawal dari nuraninya yang terusik, Dhany’s Hormansyah (45) pun banting stir memilih usaha lain. Padahal, pada 1999 ia bekerja pada sebuah pabrik jeans di Cihampelas, Bandung sebagai kepala produksi.

’’Tapi, karena saya disuruh ‘nembak’ barang-barang bermerek, maka saya keluar. Karena itu melanggar hak paten mereka,’’ ujar Dhany, panggilan akrabnya.

Sebelumnya, ia juga sempat berjualan sayur di Surabaya dan Jakarta selama enam bulan sebelum akhirnya memilih untuk membuka usaha permak jeans. Hanya bermodalkan dua mesin jahit yang dimilikinya plus uang Rp 150 ribu yang ia peroleh dari meminjam pada tukang kredit ia memulai usahanya. Lokasi yang ia pilih sebagai tempat mangkal pun berada tepat di pojok POM bensin jalan Kertajaya.

’’Karena saya dulu tinggal di Juwingan, gang dekat POM bensin itu. Jadi saya pikir, daripada jauh-jauh malah repot,’’sambung pria asal Kalimantan Selatan ini.

Doctor Jeans
Nama Doctor Jean’s sendiri terinspirasi dari teman sekolahnya saat bertemu di Jakarta sekitar Juni 2000. ’’Setelah sempat bicara tentang profesi temannya yang seorang dokter, teman saya itu kemudian bilang, kalau begitu kita sama-sama tukang jahit. Cuma saya tukang jahit manusia,’’ kelakarnya seraya tertawa.

Sejak itu, ia mulai tertarik memakai nama Doctor jeans. Meskipun, ia sempat ragu memasang nama itu sebagai trade mark. Rupanya, nama itulah yang akhirnya mempopulerkan usaha permak jeansnya yang kala itu memang belum pernah ada di kota Surabaya. Malah, banyak orang yang ingin mengikuti jejaknya dengan membuka usaha yang sama. Di sepanjang jalan Pucang hingga Ngagel Jaya Selatan pun kini tercatat ada 20 usaha sejenis.

Kehilangan Pelanggan
Meski demikian, ia tak ambil pusing. Ordernya terus mengalir deras. Dengan dibantu delapan orang karyawannya, omzet Dhany mencapai Rp 30 juta – 35 juta setiap bulan. Bahkan, saking banyaknya pelanggan, pada 2002 ia kerap menolak mereka. Ia tak menyadari bahwa, usahanya itu amat bergantung pada pelanggan. Tak heran, satu per satu pelanggannya mulai beralih ke tempat lain yang juga menawarkan jasa permak jeans.

’’Saya akui itu memang salah saya sendiri. Karena saking banyaknya pelanggan, saya sampai terlena. Padahal, kita besar karena konsumen,’’ akunya lirih.

Pada Juni 2003 omzet Dhany mengalami penurunan hingga 30 persen lantaran pelanggannya menurun drastis. Padahal, biasanya ia menerima 100 sampai 150 pelanggan setiap hari.

’’Disitulah saya mulai sadar dan mulai memberikan pelayanan sebaik mungkin agar mereka puas,’’ ungkapnya pada Majalah Peduli. Alhasil, ia lantas memperbaiki kualitas pelayanan dan menata manajemen keuangan usahanya yang masih berantakan.

Manajemen Keuangan
Guna memperbaiki pelayanan dan menata manajemen keuangannya, banyak buku yang Dhany pelajari. Mulai tren mode jeans dan seluk beluknya, buku-buku ekonomi, sampai teknologi mesin jahit terbaru.

Ia juga terus berupaya untuk mengganti mesinnya untuk perbaikan kualitas. Berbagai mesin canggih seperti mesin jahit dengan benang lima atau mesin untuk menjahit bahan kaos pun dia beli seharga Rp 20 juta –50 juta per mesin.

’’Saya berusaha untuk menurunkan level peralatan pabrik ini ke pedagang kaki lima supaya bisa semakin memuaskan pelanggan dan karyawan,’’ lanjutnya.

Ia bahkan berani membeli tanah seharga Rp 700 juta untuk memperluas usahanya. Sayang, ia tak jadi melakukannya lantaran terganjal tata ruang kota yang lokasinya masuk daftar pelebaran jalan. Padahal sebelumnya, lokasi awal usahanya di POM bensin Kertajaya telah digusur oleh petugas Pamong Pramaja kelurahan Gubeng Agusutus lalu.

’’Saya sudah kapok kena gusur. Gara-gara digusur kemarin empat orang karyawan saya lari dan tidak kembali. Dia pikir karena digusur maka rejekinya juga akan lari. Tapi untunglah rejekinya tidak ikut lari,’’ sahutnya.

Karena nama usahanya makin populer, ia pernah ditawari sebuah perusahaan garmen. ’’Tapi saya tidak mau karena dua alasan. Pertama ada kekhawatiran nanti kalau perusahaan mereka besar mereka bisa menendang saya karena merasa tidak dibutuhkan. Selain itu, kalau perusahaan macam itu kan tidak bisa menyentuh semua kalangan karena biayanya mahal,’’ lanjutnya panjang lebar.

Kini, selama hampir enam tahun pendiriannya, Dhanys memiliki tiga rumah di bilangan Pucang dan sebuah mobil. Ia juga memiliki sebuah cabang di Barata Jaya XVII Blok C No 14 hasil frenchaise dengan sistem setoran Rp 50 ribu per hari. Sedangkan modalnya berupa dua buah mesin jahit dan perlengkapan jahit senilai Rp 20 juta serta gedung senilai Rp 15 juta ditanggung oleh Dhany.

Sebuah cabangnya yang berada di Pucang Anom Timur 28 A kini menjadi pusat usahanya. Nantinya, Dhany sudah membayangkan pusat usahanya itu akan pindah di depan rumah kediamannya kini di kawasan Pucang. Malah, ia masih berniat untuk membuka sebuah cabang lagi di seputar Pucang.

’’Images Doctor Jean’s sudah melekat di kawasan ini. Jadi, saya salah kalau meninggalkan Pucang.’’ [NUY HARBIS]

Bisnis Jasa Perlengkapan Pernikahan [3]

Tinggalkan Kerja Kantoran karena Banjir Order

Lusi dan Henny, semula merasa nyaman sebagai public relation [PR]. Tetapi lama-kelamaan merasa jenuh juga dengan rutinitas orang kantoran. Rasa jenuh itulah yang mengantar keduanya ke bisnis beromzet puluhan juta! Padahal, modal yang mereka keluarkan tak seberapa. Berkat keuletan dan strategi pemasaran yang jitu, usaha yang awalnya hanya dijalani sebagai sambilan itu, kini diseriusi dan mereka memilih berhenti sebagai PR.

Dua sahabat, Lusi dan Henny sebelumnya sama-sama bekerja sebagai public relation di sebuah hotel dan resto. Untuk menekan rasa jenuh tehadap rutinitas kantor, keduanya sepakat menjalani usaha sampingan membuat box atau kotak untuk hantaran, peningset, dan kado.

Melihat kemampuan Lusi di bidang kerajinan, Henny mendukungnya dengan memperjual-belikan kotak-kotak hantaran yang unik dan cantik. Henny mulai getol menitipkan box-box tersebut di toko-toko yang menyediakan hantaran untuk pernikahan, mal, dan toko kerajinan.

’’Awalnya iseng saja karena hobi. Tapi dalam jangka waktu tiga bulan pertama ternyata usaha ini omzetnya Rp 20 juta!’’ terang Lusi yang pernah menjadi PR di Radisson Plaza Suites Hotel (sekarang Surabaya Plaza Hotel, red). Mereka pun mengaku lupa berapa modal awal yang mereka keluarkan.

Modal Kecil
’’Karena tak serius, kami tak pernah menghitung berapa modal awal yang kami keluarkan. Mungkin hanya sekitar Rp 300 ribu-an,’’ sambung Lusi.

Respon masyarakat ternyata sangat luar biasa. Mereka pun akhirnya mantap meneruskan usaha ini menjadi usaha andalan mereka.

Apalagi saat Lebaran beberapa waktu lalu, usaha yang diberi nama Luna Creative Box ini banjir order untuk parsel. Memasuki bulan Desember ini yang dikenal sebagai bulan ’’besar’’ dimana banyak orang Jawa menggelar pesta pernikahan, mereka pun kebanjiran order pembuatan box peningset untuk hantaran pernikahan. Harganya bervariasi, mulai yang berharga Rp 10 ribu hingga Rp 70 ribu per box.

’’Untuk bulan Desember ini, kami sudah mendapatkan order 400 box khusus untuk hantaran pernikahan,’’ jelas Henny.
Bermodalkan kemampuan negosiasi dan pemasaran saat mereka menjadi PR, usaha yang belum genap setahun ini sudah kebanjiran order.

Punya Karyawan Tetap
’’Kebanyakan pemesan masih di sekitar Surabaya saja. Meski begitu order kami sudah cukup lumayan,’’ imbuh Henny yang kini sudah memiliki 1 pegawai tetap.

Mereka tidak berpromosi secara langsung, namun cukup banyak yang mengetahui usaha ini. Untungnya mereka berdua punya banyak teman, sehingga secara tak langsung teman-teman mereka turut membantu berpromosi.

’’Usaha kita ini masih sangat dini dan kami beruntung punya banyak teman yang turut berpromosi dari mulut ke mulut [maksudnya: dari mulut ke telinga, Red] sehingga usaha ini jadi banyak dikenal orang,’’ ungkap Henny.

Untunglah, rumah kedua sahabat ini tak begitu jauh. Keduanya pun memutuskan mendirikan workshop di rumah Lusy, sementara showroom berada di rumah Henny.

Penganekaragaman Produk
Ide pembuatan box cantik ini juga datang dari beragam cara. Mulai kreativitas sendiri, dari berbagai literatur hingga hasil kreasi bersama. Meski begitu keduanya sudah mantap berbagi tugas. Henny kebagian mengurus manajemen mulai keuangan, pemasaran, pembelian bahan, penggajian dan sebagainya. Sedangkan Lusi berkonsentrasi pada produksi dan diversifikasi/kreativitas produk. Misalnya saja, selain membuat box peningset Lusi juga membuat toples yang terinspirasi dari kaleng kerupuk berbahan seng namun diberi aksesoris menarik.

Ke depan, mereka berharap usaha ini dapat berkembang dengan pesat dan dikenal orang. Untuk itu mereka tak segan-segan mengikuti beragam pameran. Bahkan, mereka berencana akan mengikuti pameran tak hanya di Surabaya saja melainkan di kota besar lainnya seperti misalnya Jakarta. [KD]

Bisnis Jasa Perlengkapan Pernikahan [2]

One Stop Service

Hebatnya wedding organizer! Mintalah yang tak mereka punya, dan mereka akan memberikannya! Maka, bisnis yang satu ini jadi semakin menarik. Di bisnis ini, kompetiror lebih sering menjadi kawan yang bisa diajak kerjasama saling menguntungkan.


Sudah sejak 5 tahun lalu Hj. Jetty Hanaf menggeluti usaha wedding organizer. Ia menyediakan segala keperluan pesta pernikahan secara lengkap. Mulai kebutuhan acara siraman, widodaren, akad nikah dan resepsi. Selain melayani kebutuhan tata rias dan busana, usaha milik wanita yang akrab dipanggil Hj. Jetty dinamakan Firs Wedding Organizer ini juga melayani pembuatan undangan dan souvenir [cinderamata], penyewaan alat pesta, singgasana pengantin, dan catering, penyediaan gedung, electone, hingga karawitan.

Ia mengawali usaha ini dari mulai nol. Hj. Jetty dulu hanya menyediakan persewaan tata rias dan busana pengantin saja. Namun seiring berkembangnya permintaan, ia mulai menyediakan perlengkapan pernikahan lainnya. ’’Saya menyebut usaha saya ini one stop service, artinya semua bisa dilengkapi disini. Tinggal maunya calon pengantin apa saya bisa sediakan,’’ ungkapnya ramah.

Paket
Agar tak bingung, biasanya Hj. Jetty sudah menyediakan harga paket untuk pesta pernikahan lengkap. Mulai paket yang sederhana seharga Rp 2,5 juta hingga puluhan juta rupiah tersedia.

Paket yang paling murah terdiri dari tata rias dan sewa busana saja. Sedangkan yang termahal mulai siraman hingga pesta pernikahan lengkap dengan gedung dan kateringnya. Namun bila ada yang hanya ingin mengambil harga satuan saja diperbolehkan. Misalnya menyewa perlengkapan catering saja, atau menyewa terop dan kursi, hingga menyewa sound systemnya saja.

’’Memang kalau menyewa satuan jatuhnya lebih mahal ketimbang menyewa borongan. Meski begitu saya tetap akan layani dengan baik,’’ terang wanita yang masih cantik di usianya yang ke-40 ini.

Harga sewanya bervariasi. Untuk perlengkapan catering, Hj. Jetty menyediakan persewaan peralatan catering secara lengkap mulai sendok, garpu, piring, gelas, peralatan masak seperti panci hingga kompor gas. Sendok-garpu disewakan mulai Rp 100 per biji. Sementara piring mulai Rp 500 – Rp 10 ribu. Sementara panci dihargai mulai Rp 2.000 – Rp 20 ribu.

Sound system disewakan mulai Rp 800 ribu hingga Rp 2,5 juta. Terop disewakan mulai Rp 150 ribu – Rp 2,5 juta. ’’Yang paling mahal terop dua rangkap warna putih berhias bunga-bunga, per terop Rp 2,5 juta,’’ sambungnya. Ada pula singgasana pengantin lengkap dengan rangkaian bunga yang dihargai mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 15 juta.

’Harga’ Penyanyi
Sedangkan untuk electone plus pemain dan penyanyinya ia menghargai mulai Rp 1 juta. Perangkat karawitan lebih mahal sekitar 2,5 juta-10 juta apabila plus wayang dan dalangnya. Hj. Jetty juga menyediakan musik gambus ala Arab beserta penyanyi yang biasa ditanggap saat Ramadhan dan halal bihalal mulai Rp 1,5 juta.

’’Pokoknya semua ada. Makanya saya punya prinsip one stop service karena saya menyediakan semua kebutuhan sesuai keinginan customer,’’ terangnya.

Uniknya, apabila beberapa keperluan yang diminta calon pengantin tidak ada, ia bisa pula menyediakannya. Caranya dengan menyewakan barang yang dibutuhkan lewat temannya atau istilahnya di sub-kan. Oleh karena itu Hj. Jetty punya hubungan yang erat dengan sesama pelaku bisnis atau kompetitor di bisnis yang sama. Tak jarang mereka sering bertukar barang untuk disewakan.

’’Berhubungan baik dengan sesama pengusaha di bidang ini tak pernah ada ruginya. Bahkan, banyak untungnya karena bisa saling bertukar sewa barang saat butuh,’’ urainya. Kedepan Hj. Jetty optimistis bisnis ini sangat menguntungkan meski masa panen tak tentu. [KD/6-1]

Jenis usaha: penyedia jasa perlengkapan pesta
Modal awal: Rp15 juta
Omzet per bulan: Rp 10-50 juta
Biaya operasional: Rp 5juta
Jumlah karyawan: 20 orang part time
Kiat sukses: menjaga hubungan baik dengan kompetitor

Sabtu, 19 September 2009

Bisnis Jasa Perlengkapan Pernikahan [1]

Tak harus Modal Besar

Manakah pengantin atau mempelai yang tidak berbahagia di hari [pesta] pernikahannya? O! Ada lagi pihak lain yang turut bersukacita: yakni pebisnis yang berada di balik kesuksesan acara pesta pernikahan itu!

Memasuki bulan Muharam atau bulan Besar, bagi masyarakat Jawa ini merupakan bulan yang baik untuk melakukan prosesi pernikahan. Perkembangan zaman juga memengaruhi perkembangan tatacara pernikahan. Seperti yang kita tahu, menikah butuh segala persiapan yang matang. Dari undangan, souvenir, perlengkapan pesta, sajian makanan, singgasana (kuwadhe) dan masih banyak lagi.

Saat ini orang lebih suka yang praktis dengan menyerahkan seluruh pesta pernikahannya ke penyedia jasa: wedding organizer. Seluruh perlengkapan pesta pernikahan, mulai siraman, widodaren, akad nikah hingga resepsi sudah tersedia. Ragamnya banyak pula, jadi orang leluasa memilih sesuai dengan dana yang mereka siapkan. Tak pelak bisnis ini menjanjikan untung berlipat di bulan-bulan tersebut.

Banyak Customer

Hj. Jetty Hanif sudah lima tahun bergelut di bisnis penyedia perlengkapan pesta. Perempuan yang awalnya hanya menyediakan tatarias dan busana pernikahan kini mampu menyediakan seluruh kebutuhan pernikahan mulai hal-hal kecil seperti sendok dan garpu, hingga menyediakan sound system dan hiburan untuk pesta pernikahan. Uniknya, ia tak perlu membeli semua perlengkapan itu untuk disewakan.

’’Saya tak perlu punya keseluruhan barang-barang tersebut. Karena saya punya hubungan baik dengan sesama pelaku bisnis ini sehingga saya sering tukar-menukar barang dan saling melengkapi untuk pinjam dan disewakan,’’ urainya.

Makanya saat ramai pesanan, Hj. Jetty dalam sehari mampu melayani hingga 4 tempat pesta pernikahan.

Sementara Sofi Mustikasari, melihat peluang ini sebagai potensi bisnis yang menggiurkan. Perempuan berjilbab yang memiliki usaha kerajinan Sofie’s Craft ini memenuhi kebutuhan perlengkapan pernikahan khususnya untuk pembuatan undangan, souvenir dan perangkat hantaran pengantin.

’’Kadang-kadang saya juga mendapat pesanan untuk menghias kamar pengantin. Ongkosnya lumayan. Bila dengan sewa perangkat kamar pengantin bisa sampai Rp 1 juta,’’ terangnya. Katanya pula, ranjang pengantin lengkap dengan meja dan kursinya pun disewakannya pula.

Lebih Mengntungkan

Ada juga pebisnis di bidang ini yang memilih lebih berkonsentrasi pada pembuatan box atau kotak hantaran pengantin seperti yang dilakukan oleh dua sahabat, Lusi dan Henny. Mantan public relation di hotel dan resto ini bahkan menyatakan, berwirausaha ternyata lebih menguntungkan ketimbang bekerja kantoran.

’’Kami tidak menyangka ternyata berbisnis sendiri seperti ini lebih menguntungkan dan lebih nyaman ketimbang ikut orang,’’ terang Henny. Mereka mengaku tak mengeluarkan modal yang besar untuk usaha yang kini beromzet puluhan juta ini, hanya Rp 300 ribu saja. Murah bukan!

Menurut Lusi, untuk sukses berbisnis tak perlu keluar ongkos produksi yang besar. Dengan kreativitas dan keuletan, ia yakin bisa sukses berwirausaha.

Jadi, jangan pernah ragu untuk mulai beriwirausaha. Karena kesuksesan akan mendatangi siapa saja yang mau ulet dan berusaha!

Beberapa Saran

A. Untuk pebisnis perlengkapan pesta sepert catering, terop, kursi-meja dsb:

1. Selalu memperbaharui model perlengkapan yang disewakan. Terop misalnya, saat ini sedang digemari bentuk rangkap dengan hiasan bunga atau gordyn, singgasana pesta saat ini lebih disenangi yang minimalis tradisional dan tidak terlalu ramai warnanya.
2. Menjaga hubungan baik dengan sesama pelaku bisnis ini sehingga bisa saling pinjam-memninjam dan melengkapi.
3. Pasang harga paket persewaan yang murah namun fasilitas yang ditawarkan lengkap.
4. Sering menyebarkan brosur.
5. Melakukan pelayanan dengan maksimal. Jangan pernah terlambat memenuhi pesanan agar tidak mengecewakan.
6. Untuk persewaan sound system sebaiknya lakukan tes atau check sound sebelum acara berlangsung agar hasilnya maksimal.
7. Untuk persewaan hiburan, sebaiknya mengetahui kualitas para pemain sehingga sesuai dengan apa yang diinginkan penyewa. Busana penyanyi diusahakan sopan dan disesuaikan dengan suasana pesta

B. Untuk bisnis perlengkapan pesta seperti undangan, souvenir, hantaran, dan sebagainya:
1. Ikuti tren terbaru karena biasanya pengantin menginginkan pernikahannya berjalan sempurna.
2. Sering-sering ikut pameran dan menyebarkan brosur atau kartu nama
3. Jangan malu-malu menanyakan apa yang diinginkan oleh calon pengantin sehingga terhindar dari komplain atau mengecewakan customer.[kd/6-1]

Cari Modal di Hong Kong Cukup 2 Tahun

Lilik-Suroto Buka Toko dan Wartel

Hanya satu periode (dua tahun) saja Lilik Yunariati (32) menjadi pekerja rumahtangga di Hong Kong. Namun, ia sukses bawa sejumlah modal untuk mendirikan usaha demi menopang biaya hidup sekeluarga.


Pasangan Lilik-Suroto (36) yang berdomisili di Desa Sidorejo RT 17 RW 06, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Jawa Timur, kini sibuk dengan usaha toko pracangan dan kios wartelnya.

’’Meski banyak warga yang sudah punya HP, ternyata wartel saya masih eksis dan mampu menghasilkan uang. Dua tahun silam ketika usaha wartel ini mulai berdiri, memang sangat menjanjikan. Setelah semua orang sudah pegang HP, sya merasa grogi, khawatir wartel saya nggak laku. E, ternyata semua di luar dugaan, meski hasilnya sedikit turun,’’ kata Suroto.

Selama ditinggal Lilik menjadi pekerja rumahtangga di Hong Kong sejak tahun 1998, Suroto bekerja sebagai buruh kasar. Menjadi kuli batu sampai di Balikpapan, Kaltim. Setelah ada kiriman uang dari istrinya, Suroto mencoba membeli mobil pick-up bisnis jasa angkutan. Tak peduli siang atau malam, mobilnya laris mengantar pedagang bakso keliling setiap ada pertunjukan wayang, ludruk, atau ketoprak. Sering pula dicarter pedagang untuk mengambil dagangan di kota. Kalau sedang lowong dan tidak ada yang mencarter, dia gunakan mobil itu untuk berjualan ikan. Ia membeli ikan segar di Pantai Sendang biru lalu menjajakannya dari satu desa ke desa yang lain.

Setelah dirasa cukup lama menyusuri jalanan, Lilik Suroto sepakat mendirikan usaha rumahan. Teras rumahnya yang dulu hanya sebagai ruang kosong direhab menjadi sebuah toko dan ditempati dua KBU Wartel. Isi dangangan tokonya sudah lumayan lengkap sehingga mampu mencukupi kebutuhan masyarakat di sekitarnya.

Tahun 2000 sang istri kembali ke tanah air, dan tidak lagi tertarik untuk kembali mendulang dolar di luar negeri.
Hasil dari toko dan wartel sudah lumayan untuk mencukupi kebutuhan sehar- hari.

’’Lebih enjoy dan lebih mantap kalau berkeluarga itu berkumpul jadi satu. Setelah saya telusuri dengan cermat, kalau terus-terusan suami-istri itu berpisah, apa pun bisa terjadi. Misalnya percekcokan, perceraian, dan lain sebagainya. Suami yang dirumah kalau nggak betah juga akan keluyuran dan menghabiskan uang yang dikirimkan,’’ tutur Lilik .

Keluarga Lilik-Suroto yang merasa baghagia ini dikaruniai dua orang anak. Yang sulung laki-laki diberi nama Gidion Obing Prastyo sedang si bungsu perempuan dengan nama Imelda Paulin. [RIDWAN ASMARA/5-1]

Jumat, 18 September 2009

Perempuan Penjahit Pakaian Perempuan


Di pelosok desa, menjadi penjahit umum saja biasanya tak begitu ramai. Jauh lebih sepi daripada kalau usaha jasa itu dibuka di kota. Anehnya, Kusmini dengan berani memutuskan untuk menjadi penjahit spesial, maksudnya hanya menangani pakaian perempuan. Bagaimana hasilnya? Ikuti kisahnya berikut ini:

Lincah dan murah senyum. Itulah kesan pertama dari seorang Kusmini(34), istri Sumardi (38), perempuan penjahit pakaian perempuan asal Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek. Ia merupakan salah satu penjahit pakaian perempuan yang cukup berhasil di daerahnya.

Usaha ini dirintis sejak 1992. Merasa memiliki ketrampilan menjahit yang diperoleh dari kursus, Kusmini memutuskan untuk menerima jasa jahitan pakaian perempuan. Apalagi, ia melihat peluang untuk usaha jasa jahit masih terbuka lebar, karena di daerahnya belum ada penjahit yang khusus menangani pakaian perempuan.

Berbekal 1 mesin jahit dan satu mesin obras, ia memberanikan diri untuk menerima pelanggan. Mula-mula pelanggannya hanya dapat dihitung dengan jari. Sebatas famili dan tetangga kiri-kanan saja. Namun, hal tersebut tidak menjadikan putus asa. Ketekunan dan kesabarannya pun mulai menampakkan hasil pada tahun berikutnya. Bahkan, menjelang hari raya Idul Fitri, Kusmini kewalahan menerima pesanan jahitan.

Berkembang
Tahun 2000 Kusmini memutuskan untuk menambah modal usahanya, simpanan yang diperoleh selama 8 tahun ia putuskan untuk membeli peralatan kerja: 5unit mesin jahit dan satu unit mesin obras.

Langkah lain yang dilakukan adalah merekrut empat orang karyawan untuk tenaga jahitnya. ’’Dengan dibantu empat karyawan satu harinya saya dapat menyelesaikan paling tidak tujuh setel pakaian. Namun, untuk pemotongan kainnya, tetap saya lakukan sendiri,’’ ujarnya.

’’Ongkos satu setel pakaian untuk saat ini saya patok antara Rp 30.000 - Rp 40.000 tergantung dari modelnya,’’ lanjut Kusmini menjelaskan.

Omsetnya sekarang dalam satu bulannya dapat mencapai Rp 7 juta. Angka yang cukup besar untuk ukuran usaha jasa di wilayahnya.

Menabung
’’Kadang-kadang saya juga tidak mengira bila usaha saya bisa sampai seperti ini, mengingat dulunya hanya saat-saat mau lebaran saja banyak pelanggan yang dating,’’ ujar kusmini sambil mengingat masa lalunya.

Keuletan ternyata telah mengubah kehidupan Kusmini sekeluarga. Dari segi ekonomi Kusmini tidak lagi mengalami kesulitan, bahkan dari hasil usahannya ia mampu memperbaiki rumah tempat ia bekerja yang dulunya dari kayu sekarang sudah terbuat dari batu-bata. Buku tabungannya pun makin tebal.

’’Hitung- hitung untuk jaga-jaga hari tua, setiap bulannya saya sisihkan sekitar dua juta rupiah untuk disimpan, Namanya usaha, kan ada pasang surutnya,’’ tuturnya bijak. [PURWO SANTOSA]

Bisnis Warnet [3]

Pengusaha Warnet di Plasa Tunjungan
’’Jika Tak Paham IT Jangan Harap Untung’’

Bisnis warnet ternyata merupakan bisnis yang tidak terlalu menguntungkan bagi Harry Budianto, pemilik ABA Communication, warnet yang berada di Plasa Tunjungan (PT) Surabaya. ’’Usaha ini akan lebih menguntungkan jika dibarengi dengan usaha lain seperti wartel dan fotocopy.’’

Ketika pertama kali mendirikan usaha ini pun Harry memulainya dari bisnis wartel yang berada di PT 1 lantai dasar. Selang tujuh bulan kemudian baru wartel. Proses pendirian bisnis ini terbilang cukup panjang. Setidaknya, ada tiga hal penting yang harus dipertimbangkan. Pertama adalah target dan kondisi pasar tempat usaha.

’’Bagi saya ini sangat penting. Sebab, percuma membuka usaha ini kalau ternyata pasarnya sepi. Saya dulu melakukan survei selama setahun untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan pasar ,’’ ujar Harry.

Survey yang dilakukan ini mencakup letak dan sewa outlet yang diinginkan, tingkat kebutuhan pasar akan bisnis ini, target bisnis maksimal, lama waktu pelayanan dan hal-hal teknis seperti berapa komputer yang akan disediakan.
’’Saat itu saya lihat bisnis ini menguntungkan. Tapi, setelah dikurangi total pengeluaran ternyata untungnya tidak seberapa walaupun tidak pernah rugi,’’ lanjutnya.

Untuk itu, memang dibutuhkan bisnis sampingan. ’’Yang paling cocok adalah wartel. Karena setelah chatting biasanya pelanggan mencari telepon umum,’’ tukas Harry.

Selain pasar, koneksi atau jaringan (network) yang dipilih sangat berperan. Koneksi yang dipilih dalam hal ini adalah fasilitas Internet Service Provider (ISP). Di Surabaya telah banyak tersedia ISP. Seperti, Telkom, D-Net, Pesat Net atau Rad-Net.

’’Bisnis ini kan bisnis jasa. Jadi harus disediakan koneksi yang tidak pernah putus (selalu lancar) agar pelanggan puas. Cara paling aman adalah menyediakan minimal 2 ISP. Kalau bisa 3 atau 4 ISP malah lebih bagus,’’ papar pria yang memilih D-Net dan Speedy sebagai koneksi bisnis ini.

Fungsinya, bila koneksi provider utama terhambat, maka dapat segera dihubungkan dengan koneksi lainnya. ’’Terus terang, ini adalah problem yang sering ditemui dalam usaha warnet. Kalau tidak tanggap biasanya dikomplain sama pelanggan-pelanggan bule,’’ lanjut Harry yang memiliki dua cabang warnet di PT 3 lantai 5 dan SPI ini.

Pemilih provider juga harus dipertimbang dari segi biaya. Yang dicari tentu provider yang memiliki koneksi lancar tetapi harganya lebih murah. Ini juga harus disesuaikan dengan kapasitas jaringan dan jumlah komputer yang disediakan. Sebab, program system yang digunakan oleh penyedia provider kini menggunakan sistem unlimited (berlangganan). ’’Kalau dulu kan menggunakan program system billing. Jadi jumlah pembayarannya disesuaikan jumlah waktu pemakaian. Kalau sekarang sistemnya dipakai atau tidak dipakai setiap bulan tarifnya sama,’’ ungkapnya.

Perhitungannya, setiap komputer membutuhkan 20 KBPS (kilo bytes per second). Sehingga, dari 30 komputer yang disediakan dibutuhkan dana sekitar Rp10 juta hingga Rp 15 juta untuk kapasitas 512 MBPS.

Hal lain yang tak kalah penting adalah masalah technical support. Setidaknya dibutuhkan seorang teknisi untuk menyediakan program-program baru berdasarkan kecanggihan teknologi dan untuk memperbaiki trouble teknis yang kerap terjadi. Seperti menyedian program webcam (kamera web), handsfree untuk melakukan chatting dengan suara atau membersihkan virus.

’’Namanya juga layanan umum. Terkadang ada tangan-tangan jahil yang mengacak-acak program yang telah tersedia atau menginfeksi virus. Nah, hal-hal seperti ini kita harus punya program antisipasinya,’’ sambungnya.

Rumitnya program teknis tersebut membuat pengusaha warnet harus memahami betul konsep IT. Termasuk tanggap akan teknologi informasi yang semakin canggih. ’’Kalau tidak memahami IT secara teknis jangan harap bisa untung. Yang ada malah rugi karena keuntungan ludes dipakai untuk perbaikan.’’ [NUY HARBIS]

Bisnis Warnet [2]

Balik Modal setelah 3 – 5 Tahun

Tetap diminati di masa yang sulit. Demikianlah usaha warnet berkembang bak jamur di musim hujan. Di satu sisi, warnet memang sangat dibutuhkan terutama dengan adanya tuntutan percepatan teknologi informasi. Namun di satu sisi, usaha ini membutuhkan modal yang cukup besar. Juga, BEP (Break Event Point) atau balik modalnya cukup lama, yakni sekitar 3-5 tahun.

Demikian yang sudah direncanakan oleh salah seorang pengusaha warnet Ari Gustian Abdi. Pria berputra satu ini harus menginvestastikan dana sekitar Rp 75 juta hanya untuk pembiayaan perangkat warnet. ’’Itu di luar renovasi rumah lho,’’ terangnya di awal perbincangan dengan Peduli.

Pria lulusan ITB Bandung tahun 2001 ini mantap menjalani usaha warnet, meski ia tahu harus menginvestasikan dana yang lumayan besar.

Modal awal sekitar Rp 75 juta tersebut dihabiskan untuk membiayai pembelian perangkat komputer (11 set), pembelian software Windows resmi untuk warnet, meubel dan cadangan biaya operasional selama 3 bulan.

Warnet yang baru saja buka belum genap seminggu merupakan usaha yang dirintis Ari berdampingan dengan usaha-usaha lain.

’’Saya berencana membuka beberapa usaha lain seperti printing dan desain web hosting, web design, internet marketing, art & craft homebase, serta net kafe,’’ urainya.

Izinnya Gampang
Ia mengaku tak banyak kesulitan ketika harus mengajukan izin pendirian warnet ke Plasa Telkom. ’’Izinnya nggak berbelit-belit, malah sehari sudah kelar,’’ terangnya.

Pertama, yang harus dilakukan sebelum membuka usaha warnet adalah mempersiapkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) terlebih dahulu. Baru kemudian mempersiapkan tempat dan dana.

Peminat usaha warnet kemudian bisa mendatangi Plasa Telkom untuk mengajukan diri membuat usaha warnet. Untuk pendaftaran ini, Ari mengaku tak dikenakan biaya sama sekali.

Petugas Telkom kemudian akan melakukan survei kelayakan tempat usaha. Setelah dianggap layak barulah usaha bisa dijalankan.

Ada beberapa jenis provider yang melayani jasa akses atau sambungan internet. Salah satunya, yang berada di bawah bendera Telkom adalah Speedy. Ada dua jenis sambungan internet Speedy yang bisa digunakan yakni limited seharga Rp 300 ribu dan unlimited seharga Rp 3 juta/bulan.

’’Kalau saya lebih senang pakai yang unlimited karena dengan Rp 3 juta kita bisa menggunakan internet semau kita tanpa dikenakan biaya tambahan lagi,’’ urainya.

Faktor Lokasi
Ari memprediksi bisnis warnet miliknya akan balik modal sekitar 3 tahun lagi dengan rata-rata omzet per bulan average Rp 15 juta.

Lokasi warnet juga menjadi faktor penentu kesuksesan sebuah usaha. Untuk itu Ari mendirikan usaha warnet di dekat kampus Unesa Ketintang.

’’Saya memanfaatkan rumah milik mertua untuk usaha ini. Namun, bila hanya mengandalkan usaha warnet saja saya kira tidak akan menghasilkan. Makanya saya dampingi dengan usaha lain,’’ urai pria asli Yogya ini.

Untuk itu saat ini Ari sedang giat membuat web design product khusus untuk kerajinan atau craft dengan pasar penjualan mancanegara. Ia punya cita-cita ingin memasarkan kerajinan Yogya terutama kerajinan pahatan batu dari Borobudur untuk pasar internasional. Untuk itu ia menginginkan warnet miliknya juga jadi ajang kumpul dan komunikasi para UKM kerajinan yang ingin memasarkan produknya ke luar negeri. [KD]

Bisnis Warnet [1]

Semakin Menjanjikan

Perkembangan teknologi komunikasi yang mengalami percepatan luar biasa belakangan ini membuka banyak lahan bisnis baru. Dulu orang tak pernah mengira kalau suatu saat akan tumbuh warung-warung telepon (wartel) bak jamur di musim hujan. Kini, yang namanya wartel bahkan telah bertumbuhan pula di pelosok-pelosok desa. Di kota-kota besar, wartel bisa tumbuh berjajar-jajar hanya dalam sebuah gang kecil saja.

Kini, di kota-kota bahkan telah sampai pula di kecamatan-kecamatan tumbuh menjamur pula bisnis jasa telekomunikasi yang dikenal dengan sebutan warnet (warung internet). Ini bisnis yang menggiurkan, walau perlu modal lumayan besar, karena semakin orang melek huruf, semakin tinggi pendidikan, semakin luas pergaulan, kebutuhan akan akses internet jadilah pula keniscayaan.

Anak-anak sekolah, terutama mulai tingkat SMP, kini semakin butuh akses internet. Apalagi para mahasiswa. Ketika musim tugas membuat makalah tiba, misalnya, maka dengan internetlah mereka dapat kemudahan-kemudahan untuk mendapatkan referensi penunjang. Bahkan, konon, ada yang layak disebut menjiplak karya tulis orang yang diakses melalui internet. Itu namanya ekses!

Banyak pula yang datang ke warnet hanya untuk sekadar chatting, memasuki dunia maya yang olah telah ’menyusutkan’ dunia dengan 5 benua dan 7 samudera (coba itung sendiri, benarkah jumlah itu) seolah-olah hanya menjadi segenggaman saja. Bayangkan, di hadapan layar 15 inchi itu kita dapat ngobrol dengan tulisan atau suara dan bahkan dengan saling melihat wajah pasangan bicara yang secara nyata sedang berada di benua lain manapun di muka bumi ini.

Dari warnet Mbak Asih di kawasan Causeway Bay itu, kita tak sekadar dengar kabar dari pacar lewat tulisan yang seketika bisa kita baca dan langsung kita balas. Tetapi, kita juga bisa mendengar deru nafas, dan bahkan bisa tahu apakah jerawat yang tumbuh di pucuk hidung pacar kita yang ada di Korea, di Taiwan, di Cilacap, di Banyuwangi, sudah meletus, sudah di-plithet atau belum!

Mengakses internet sedemikian menarik. Maka bisnis jasa telekomunikasi ini pun menjadi menarik pula. [B]

Kamis, 17 September 2009

Hendy Salon: Langganan Walikota dan Pemegang Piagam MURI

BERBEKAL rajin dan ulet, Hendy Prayitno merintis usahanya di bidang kecantikan dan tata rambut. Kini setelah 22 tahun, Hendy Salon berkembang pesat. Tak hanya rambut kalangan biasa dan selebritis yang pernah merasakan sentuhan tangannya. Walikota Surabaya Bambang DH dan wakilnya Arief Affandi, bahkan telah menjadi langganannya sejak lama.

Siapa sangka, dari usahanya yang semula kecil di Jalan Ngaglik pada tahun 1985, kini telah berubah menjadi usaha mapan di Jalan Pacar Surabaya. Bahkan kini, usaha yang dirintis suami Ratna Dewi ini telah berkembang dan menempati lahan seluas 500 meter persegi.

Hendy menuturkan, selama 22 tahun berkarya, ia telah tiga kali berpindah lokasi. Pertama, 1985 - 1990 di Jalan Ngaglik. Lalu tahun 1990 - 1996 di Jalan Kaca Piring dan dari 1996 sampai sekarang di Jalan Pacar, sebuah kawasan strategis di jantung kota Surabaya.

’’Untuk menjadi seperti sekarang ini, membutuhkan proses yang tidak pendek. Tapi semua itu saya lalui dengan besar hati dan dengan semangat pantang menyerah,’’ ujar bapak tiga anak ini.

Selain itu, untuk bisa eksis sampai sekarang, menurutnya adalah rajin dan ulet. Itulah kunci sukses agar tetap bertahan di tengah maraknya salon dan rumah kecantikan.

Mengenai awal ia terjun ke dunia tata rambut, sebenarnya bukalah hal yang disengaja. Semua berawal dari Hendy remaja, yang mencari jati dirinya, ditengah persaingan pekerjaan yang ketat. Ia pun, mengaku sempat menjadi pedagang. Tapi ternyata tak berhasil karena memang tidak cocok. Hingga akhirnya, ia memutuskan mencoba belajar dunia tata rambut, di Salon Indra kota Pare, Kediri.

’’Saat itu sekitar tahun 1979. Disanalah saya menimba ilmu tentang rambut,’’ aku Hendy yang lahir 29 April 1961 ini.

Berangkat dari belajar di Salon Indra, akhirnya Hendy mencoba peruntungan di bisnis tersebut. Kebetulan, saat itu, katanya belum banyak salon berdiri. Dan ini akhirnya menjadi titik balik keberhasilannya. Prestasinya pun semakin menonjol. Sentuhan tangannya juga ditunggu banyak orang. Maka itu, sampai sekarang Hendy masih turun tangan dalam urusan memotong rambut.

Meski sempat berpindah-pindah tempat, Hendy yang kini dibantu sekitar 14 pegawai, termasuk adiknya Anto dan Wanto, terus memegang prinsip bahwa kepuasan pelanggan adalah yang utama.

Karena itu selain model rambut dan make up yang terus up to date, Hendy selalu berupaya menghadirkan suasana rumah dalam salonnya. ’’Biarlah pelanggan menganggap bahwa Salon ini adalah rumah keduanya,’’ tuturnya.

Keramahan yang tulus, juga diberikan Hendy bersama crew nya, agar pelanggan merasa nyaman dan enjoy berada di tempatnya. Untuk kepentingan itu juga, di sebelah salonnya juga telah berdiri depot makan yang dikelola istrinya. Namanya Resto Bu Hendy. Harganya pun relatif murah, mulai Rp 5 ribu. ’’Selain karena faktor kenyamanan, resto itu juga bentuk pengembangan usaha kami,’’ tambahnya.

Jadi Langganan Walikota

Khusus style rambut, saat konsumen minta potong rambut model tertentu, Hendy juga tidak serta merta mengiyakan. Karena belum tentu juga, model rambut yang diminta sesuai dengan bentuk wajah. ’’Saya selalu memberi masukan, model dan warna apa yang pas dengan bentuk wajah mereka. Karena jika dipaksakan, hasilnya belum tentu bagus,’’ jelasnya.

Tidak salah jika kemudian, Hendy dipercaya menjadi ahli potong rambut tetap Walikota Surabaya Bambang DH dan wakilnya Arief Afandi. ’’Pak Walikota, biasa datang ke salon kami setiap tiga minggu sekali untuk merapikan rambutnya,’’ ungkapnya bangga.

Beberapa selebritis, seperti Ita Permata Sari, Bella Saphira, Diana Pungky, Yuni Shara dan Krisdayanti, juga tak luput dari sentuhan tangannya. Sebagai bentuk eksistansinya, Hendy juga pernah memecahkan Rekor MURI dengan memotong rambut sebanyak 340 kepala, dalam waktu 26 jam. Bentuk kepeduliannya pada sesama juga diwujudkan dengan kegiatan memotong rambut gratis buat kaum kurang beruntung, di beberapa lokasi seperti Panti Asuhan. [DEWI]

Bisnis Jasa: Cuci Sepeda Motor

Panen di Musim Hujan

Banyak usaha yang kebanjiran order berdasarkan musim. Musim hujan misalnya, membawa berkah bagi jasa pencucian sepeda motor karena banyak sepeda motor yang cepat kotor terkan Lumpur hujan.


Nurcholis [39] pria yang tinggal di kawasan Rungkut, Surabaya ini mampu menangkap peluang musim hujan sebagai ladang yang menjanjikan untuk membuka jasa tempat cuci sepeda motor. Apalagi sebelumnya pria dengan 3 anak ini sudah ahli dalam bidang perbengkelan sepeda motor.

Bermodalkan Rp 7 juta, dua tahun lalu Nurcholis membuka tempat penyucian sepeda motor lengkap dengan bengkel dan tambal ban.

’’Kalau musim hujan seperti sekarang ini tempat cuci motor memang laris. Dalam sehari saya biasa mencuci 5 - 10 motor. Bahkan, kalau Sabtu - Minggu bisa sampai 20 sepeda motor,’’ terang Nurcholis yang membuka usahanya di kawasan Rungkut Surabaya.

Untuk sekali cuci, Nurcholis mematok harga yang cukup murah, hanya Rp 5 ribu. Melihat kebutuhan akan servis kendaraan dan tambal ban, Nurcholis juga mengaku cukup banyak mendapatkan tambahan dari usaha tersebut.

’’Penghasilannya cukup lumayan lah, sebulan saya bisa dapat hingga Rp 2 juta,’’ ungkapnya yang memiliki 2 pegawai.

Sukses dengan usaha pertama, tahun 2006 lalu Nurcholis membuka cabang usahanya di kawasan Sedati. Meski belum setahun, menurut perhitungannya, cabangnya akan lebih ramai ketimbang usaha sebelumnya.

’’Pemilihan lokasi usaha itu penting. Dan melihat banyak pesaing atau tidak. Jadi yang ingin buka usaha ini sebaiknya melakukan survey dulu apakah lokasinya banyak dilewati kendaraan atau tidak,’’ terangnya. [KD]