This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 06 September 2009

Beternak Kambing PE (4)

Kambing dan Kesejahteraan Warga Nganggring

Seperti kebanyakan kelompok maupun organisasi lainnya, keanggotan Kelompok Tani Mandiri juga mengalami pasang surut. Pada awal berdirinya kelompok ini beranggotakan 40 orang. Jumlah tersebut sempat menyusut karena sebagian anggota muda meninggalkan desanya untuk merantau ke kota lain atau bahkan negara lain. Penyusutan anggota juga terjadi karena adanya anggota yang meninggal dunia dan keluarganya tak ada yang mau melanjutkan keanggotaan.


Namun kemajuan nyata dari adanya kelompok ternak ini akhirnya memanggil anak-anak muda untuk pulang dan bertahan di desanya. Menurut Winarto, Ketua Seksi Peternakan Kelompok Tani Mandiri, keberadaan usaha kambing kelompok di Nganggring sangat berdampak terhadap kondisi kesejahteraan warganya.

Kardi Utama yang terlibat dalam kelompok sejak awal berdirinya menuturkan, tahun 1980-an baru ada dua rumah tembok di Kampung Nganggring. Sepeda motor juga baru ada dua buah di kampung ini. Kesuksesan usaha peternakan kambing pada akhirnya mengubah semua itu.

Dampak tersebut tak hanya dirasakan oleh anggota, namun juga oleh semua warga Nganggring. Dengan jumlah uang kas yang cukup besar yang berasal dari iuran anggota, penyewaan lahan, kunjungan, pengawinan, penjualan susu, maupun penjualan kambing, kelompok ini bahkan mampu membiayai fisik di Nganggring. Seperti pembangunan masjid, pemasangan instalasi listrik, pemasangan instalasi air bersih, hingga pengerasan jalan kampung. Pengerasan jalan inilah yang pada akhirnya membuat Nganggring semakin banyak dikunjungi orang.

Usaha peternakan kambing di kampung ini dapat dikatakan sebagai pusat aktivitas ekonomi warga Nganggring. Beternak telah menjadi mata pencaharian sekaligus kebanggaan warga, termasuk anak-anak mudanya. Menurut Winarto, keberhasilan salah seorang anggota muda dalam kelompok ini mampu memotivasi anak muda lainnya untuk terjun dalam usaha peternakan kambing.

Kemajuan lain yang dicapai oleh kelompok ini adalah diadakannya pasar kambing khusus peranakan Ettawah (PE) pada bulan Maret 2007. Pasar ini diadakan setiap hari Rabu dan Minggu. Ide pendirian pasar kambing PE ini dilatarbelakangi tingginya permintaan kambing PE dari DI Yogyakarta dan sekitarnya. Sementara itu pasar kambing PE baru ada satu, yaitu di Kaligesing, Purworejo.

Pada setiap pasaran, tak hanya para anggota saja yang menggelar dagangannya, tetapi juga pedagang dari dari luar Nganggring, bahkan luar Sleman seperti Solo, Boyolali, dan Magelang. Para pedagang ini selain datang untuk menjual ternaknya biasanya juga membeli ternak dari aktivitas di pasar ini.

Dari setiap kambing yang terjual, kelompok memungut retribusi sebesar Rp 500/ekor. Dalam setiap minggunya rata-rata kambing yang terjual sebanyak 10-15 ekor. Namun penjualan kambing tidak hanya terjadi pada hari pasaran saja. Di kelompok ini, jual-beli kambing dapat terjadi setiap hari.

Dalam hal produksi susu, Kelompok Tani Mandiri memiliki mekanisme tersendiri. Anggota kelompok yang ingin menjual susu kambingnya tidak perlu memerah sendiri. Sebab telah tersedia tenaga pemerah yang juga merupakan anggota kelompok. Dengan demikian, pemilik kambing tinggal menerima hasil bersih dari uang penjual susu kambing mereka.

Kelompok ini menjual susu kepada konsumen seharga Rp.20 ribu /liter. Kebijakan satu pintu, yaitu penjualan melalui kelompok, menjadikan harga susu relative stabil. Dari setiap liter susu kambing, pemilik mendapatkan hasil Rp 11.500. Selebihnya untuk ongkos pemerahan, biaya operasional, dan kas kelompok. Meski jumlah kambing dalam kelompok cukup banyak, tetapi susu yang dihasilkan rata-rata hanya 15 liter per hari atau sekitar 30% dari permintaan pasar.

Tampaknya sebagian besar anggota kelompok memang lebih berorientasi pada pembibitan, sehingga membiarkan anakan memperoleh asupan susu yang cukup dari induknya. Sebab hasil dari usaha pembibitan cukup menjanjikan. Anakan usia tiga sampai empat bulan dari induk dengan ras PE yang tinggi dapat terjual hingga empat juta rupiah. Bahkan belum lama ini, seekor anakan usia tiga bulan terjual seharga Rp 25 juta! [am]

Beternak Kambing PE (3)

Berkelompok, Manfaatkan Tanah Kas Desa

Membincang usaha peternakan kambing peranakan Ettawa (PE) yang berada di kawasan DI Yogyakarta, tak lengkap rasanya jika tak menyertakan usaha peternakan yang dilakukan oleh warga Dusun Nganggring, Girikerto, Turi, Sleman. Dusun yang terletak di lereng Gunung Merapi ini dikenal sebagai desa wisata dengan tujuan wisata andalannya berupa peternakan kambing PE terbesar di wilayah Kabupaten Sleman.


Kambing jenis PE mulai dikenal oleh warga Nganggring pada tahun 1982. Saat itu pemerintah daerah setempat memberikan bantuan ternak secara bergulir kepada kelompok tani Dusun Nganggring. Program ini ternyata berjalan dengan lancar, hingga semua anggota kelompok tani mendapatkan jatah bantuan ternak.

Keberhasilan ini tentu tidak terjadi begitu saja. Sebab usaha ternak kambing memang telah dilakoni oleh warga Nganggring sejak lama. Menurut Kardi Utama, Ketua Kelompok Tani Mandiri Nganggring, sebagai daerah tangkapan air lahan di Nganggring tak mungkin ditanami padi. Dengan demikian penghasilan warga kurang memadai. Untuk menambah penghasilan, maka hampir seluruh petani lahan kering di dusun ini memelihara kambing. Saat itu jenis kambing Jawa yang menjadi pilihan warga.

Melihat keberhasilan warga mengelola bantuan ternak kambing secara bergulir menjadikan Dinas Peternakan Kabupaten Sleman melontarkan gagasan untuk membuat kandang kelompok. Akhirnya dibangunlah kandang kelompok di tanah kas desa seluas 2,75 ha. Ini terjadi pada tahun 1989.

Di lahan seluas hampir tiga hektare ini, setiap anggota diberi hak pakai lahan masing-masing 250 meter persegi. Seratus meter persegi di antaranya untuk kandang dan selebihnya untuk menanam tanaman pakan. Jika jatah tersebut masih kurang, maka dapat mengajukan permintaan tambahan seluas 100 meter persegi. Saat ini semua ternak dan bangunan kandang di lokasi tersebut merupakan milik pribadi anggota kelompok.

Kardi menuturkan bahwa lahan tanaman pakan seluas 150 meter persegi tersebut, sebenarnya hanya mampu mencukupi kebutuhan pakan untuk tiga ekor kambing. Dengan demikian, anggota yang memiliki lebih dari tiga ekor kambing harus mencukupi kebutuhan pakannya dengan menanam tanaman serupa di lahan masing-masing. Atau, “Tergantung kreativitas,” tambahnya. Maksudnya anggota dengan lahan terbatas namun gigih biasanya mencari pakan tambahan dari luar, berupa sisa sayuran, air kedelai, ampas tahu, ketela pohon, katul, dan sebagainya.

Meski berada di areal yang sama, tetapi orientasi usaha masing-masing anggota kelompok berbeda. Winarto, Ketua Seksi Peternakan Kelompok Tani Mandiri menuturkan, ada anggota yang berorientasi pada pembibitan, pembesaran, maupun produksi susu. Dapat juga terjadi seorang anggota kelompok melakukan ketiganya sekaligus.

Selain orientasi usaha anggota yang berbeda, jumlah kepemilikan ternak setiap anggota juga berbeda-beda. ’’Ada yang hanya punya satu ekor, tapi juga ada yang sampai 30,’’ jelas Winarto. Meski jumlah kepemilikan berbeda, tetapi kewajiban setiap anggota tetaplah sama, seperti menghadiri pertemuan anggota setiap 35 hari sekali dan membayar iuran wajib sebesar Rp 1.000/pertemuan.

Saat ini tercatat ada 60 anggota Kelompok Tani Mandiri. Tak hanya beranggotakan para laki-laki, dalam kelompok ini juga terdapat enam orang anggota perempuan. Tak hanya perempuan, anak muda pun banyak yang terlibat sebagai anggota dalam kelompok ini. [am]

Susu Kambing Peranakan Ettawa


Permintaan lebih Tinggi daripada Persediaan

Sejak memulai usaha peternakan kambing peranakan Ettawa (PE) pada September 2008, Yudhi sudah menancapkan orientasi bisnisnya pada produksi susu kambing. Hal ini didasarkan pada hasil pengamatannya bahwa permintaan konsumen terhadap susu kambing jauh di atas persediaan. Dengan demikian, berapa pun susu yang tersedia pasti dapat terserap oleh pasar.


Yudhi bersama kedua saudaranya mengawali usaha peternakan ini dengan 12 ekor kambing betina kualitas standar yang siap kawin dan seekor kambing jantan kualitas bagus (ras Ettawah tinggi). Kedua belas kambing tersebut ditempatkan dalam sebuah kompleks kandang seluas 220 meter persegi.

Dalam hal pakan, pengusaha kambing PE seperti Yudhi harus cukup kreatif. Selain mengusahakan makanan utama seperti daun kleresede, kalanjana, dan kaliandra, Yudhi juga harus menyediakan makanan tambahan berupa rumput, ampas tahu, maupun sayur-sayuran. Untuk memenuhi kebutuhan itu, Yudhi menjalin kerja sama dengan produsen tahu dan pemilik rumah makan di sekitar lokasi kandang. Ia juga mengaku menambahkan ampas bir sebagai campuran pakan agar rasa susu tidak bau (prengus).

Saat ini kambing di Peternakan Ash Shifa memproduksi rata-rata 750 ml -1000 ml setiap harinya. Untuk memperolah hasil susu yang optimal, pemerahan biasanya dilakukan setiap pagi setelah kambing cukup istirahat sepanjang malam.

Setiap harinya Ash Shifa mampu menjual sekitar enam hingga delapan liter susu. Namun pada hari libur, penjualan biasanya meningkat. Bahkan sering kekurangan persediaan. Susu kambing Ash Shifa dikemas dalam botol plastik berkapasitas 330 ml/botol dengan harga sembilan ribu rupiah. Sedangkan per liternya, dijual dengan harga Rp.30 ribu. Untuk kolostrum, Yudhi menjual seharga Rp.200 ribu/liter. Namun jumlah kolostrum ini sangat sedikit karena hanya dihasilkan pada hari ke tiga hingga ke tujuh setelah melahirkan. Itu pun baru diperah jika anakan kambing tampak kurang bagus. Jika kualitas anakan bagus maka kolostrum tetap disusukan.

Sejauh ini promosi yang dilakukan Yudhi baru melalui plang yang dipasang di tepi jalan menuju obyek wisata di kawasan Gunung Merapi. Upaya pemasaran dengan cara lain belum dilakukan karena persediaan yang masih terbatas. Untuk pasar di Yogyakarta sendiri, Ash Shifa belum mampu memenuhi. Sehingga permintaan pasar di Jakarta sebanyak 200 liter/dua minggu terpaksa ditolak.

Sifat susu kambing yang cepat rusak setelah lebih dari empat jam, maka susu produksi Peternakan Ash Shifa biasanya langsung didinginkan atau dibekukan. Susu kambing dalam keadaan beku ini dapat bertahan hingga dua bulan.

Ash Shifa juga membangun jaringan dengan produsen makanan olahan berbahan baku susu. Produsen makanan olahan inilah yang akan membeli susu yang tidak terjual secara eceran. Dari susu kambing ini, dapat diproduksi berbagai jenis makanan olahan seperti dodol, permen, susu bubuk, maupun kerupuk.

Tak hanya berhenti sampai di situ. Kotoran kambing di Peternakan Ash Shifa ternyata juga memiliki nilai ekonomis tersendiri. Setiap minggunya, pedagang pupuk kandang datang untuk mengambil kotoran kambing yang kemudian diolah menjadi pupuk organik.

Dengan gambaran seperti itu, Yudhi menuturkan usaha susu kambing PE ini cukup menguntungkan. ’’Dalam satu kali masa perah saja sudah menutup harga satu kambing,’’ katanya. [am]

Beternak Kambing PE (2)


Untung Besar, Risiko Besar

Berkecimpung dalam usaha peternakan kambing peranakan Ettawah (PE) merupakan hal baru bagi Yudhi. Menyadari hal itu, sarjana teknik kimia ini pun secara serius belajar mengenai seluk-beluk kambing PE. Menurut Yudhi, secara umum kambing hasil persilangan kambing jenis unggul India (Ettawa) dengan kambing kacang yang asli Indonesia ini, memiliki kondisi yang lebih ringkih dibanding jenis kambing lokal. Yudhi mengistilahkan usaha kambing PE ini memiliki risiko yang besar. Meski demikian ia mengakui, ’’Keuntungannya (dari usaha ini) juga besar.’’


Cacingan, masuk angin karena udara dingin dan lembab, serta tidak nafsu makan yang mengakibatkan kematian, merupakan penyakit yang paling sering menyerang kambing PE. Oleh karena itu, perawatan kesehatan pada ternak ini harus benar-benar diprioritaskan. Setidaknya sebulan sekali kambing-kambing tersebut harus diperiksa dan diberi vitamin untuk menjaga kesehatan mereka.

Tak hanya dalam hal perawatan kesehatan, jenis makanan kambing PE juga berbeda dengan kambing lokal yang makanan utamanya adalah rumput. Jenis kambing PE hanya menjadikan rumput sebagai makanan tambahan saja atau camilan. Sedang makanan pokoknya adalah daun-daunan. Itu sebabnya Yudhi terlebih dahulu mempersiapkan lahan seluas dua ribu meter persegi yang ditanami berbagai jenis tanaman berprotein tinggi seperi kaliandra, kalanjana, dan kleresede yang merupakan pakan utama kambing PE. Setelah tanaman ini dapat dipanen, barulah usaha peternakan dimulai.

Bersama kakaknya, sejak awal Yudhi memfokuskan usahanya pada produksi susu kambing PE. Dengan demikian Yudhi tidak perlu memilih kambing dengan kualitas terbaik atau kambing dengan ras PE tinggi yang berharga mahal. Menurutnya kambing betina kualitas standar dengan harga sekitar Rp 1,5 juta hingga dua juta sudah cukup. Asal kambing tersebut dalam kondisi siap kawin.

Kondisi kambing siap kawin ini akan mempercepat masa produksi susu. Dalam satu masa menyusui, setiap kambing dapat menghasilkan susu selama lima bulan. Jika kualitas susu telah menurun, kambing perahan ini biasanya segera dikawinkan. Meski demikian, pada saat bunting muda susu kambing tetap dapat diperah.

Yudhi menuturkan bahwa rata-rata kambing PE dapat diperah hingga tujuh atau delapan kali masa melahirkan. Namun kualitas susu terbaik biasanya didapat pada kelahiran ke tiga atau ke empat.

Karena orientasi usaha Ash Shifa pada susu, maka anakan kambing biasanya dipisahkan dari induknya. Sebagai gantinya, kambing-kambing anakan ini diberi susu sapi karena secara dagang dinilai lebih menguntungkan. ’’Harga susu sapi itu berapa, taruhlah paling mahal seliter enam ribu, susu kambing bisa dijual tiga puluh ribu per liter, kan masih untung,’’ ujar Yudhi.

Biasanya anakan pada kelahiran pertama dan kedua langsung dijual karena kualitasnya kurang bagus. Barulah anakan pada kelahiran ketiga dan seterusnya yang dipelihara. Anakan yang tidak diorientasikan untuk dipelihara langsung dipisahkan dari induknya. Dengan demikian kolostrum (susu yang dihasilkan induk pada hari-hari pertama setelah melahirkan) dapat dijual. Namun untuk anakan yang hendak dipelihara tetap mendapatkan susu dari induknya setidaknya selama satu minggu.

Meski berasal dari kelahiran ketiga dan seterusnya, jika anakan tersebut jantan biasanya juga dijual karena peternakan yang berorientasi pada hasil susu tidak membutuhkan banyak kambing jantan. Kecuali jika anakan jantan tersebut secara fisik tampak bagus maka akan dipelihara menjadi bibit pejantan. [am]

Beternak Kambing Peranakan Ettawa


Memulai dengan Kejelasan Orientasi

Peranakan Ettawa (PE) merupakan jenis kambing yang semakin banyak dilirik orang. Dengan postur tubuh dan rupa yang menawan banyak orang tertarik memeliharanya sebagai kelangenan. Bahkan di Kaligesing, Purworejo, yang merupakan pusat pengembangan kambing PE di wilayah Jawa Tengah bagian selatan, secara berkala diadakan kontes untuk memilih kambing PE terbaik.


Tak hanya berpostur bagus, kambing PE juga mampu memproduksi daging dan susu dengan kualitas bagus pula. Susu kambing PE memiliki kandungan lactosa rendah, sehingga tidak memicu timbulnya diare. Selain itu, susu kambing juga dapat menjadi alternatif bagi penderita alergi karena tidak mengandung beta-lactoglobulin. Senyawa alergen beta-lactoglobulin inilah yang sering menjadi pemicu munculnya alergi.

Keunggulan-keunggulan ini menjadikan banyak orang melirik kambing PE sebagai komoditas bisnis. Peternakan dengan skala besar maupun kecil terus tumbuh di berbagai kota. Terutama di dataran tinggi dan berhawa sejuk, yang dianggap sebagai tempat paling sesuai untuk hidup kambing jenis PE.

Di wilayah Kabupaten Sleman, Propinsi DI Yogyakarta, kambing PE banyak dibudidayakan di seputaran lereng Gunung Merapi yang memang berhawa sejuk. Namun ternyata tak hanya di lereng Merapi saja, peternakan kambing PE dapat ditemukan. Di wilayah yang hanya berjarak belasan kilometer dari pusat Kota Yogyakarta pun, kambing PE juga banyak diternakkan.

Ash Shifa merupakan salah satu peternakan kambing PE yang terletak 16 kilometer arah utara pusat Kota Yogyakarta. Di sebuah kampung yang terletak di ruas Jalan Kaliurang ini, Yudhi bersama dua orang kakaknya mencoba membangun usaha peternakan kambing PE.

Menempati lahan sewaan seluas 220 meter Yudhi memulai usaha peternakan kambing PE sejak September 2008 lalu. Sebelumnya ia menyempatkan diri belajar tentang seluk-beluk kambing PE selama dua bulan di Kaligesing, Purworejo. Tak hanya tentang karakteristik dan pemeliharaan, selama dua bulan itu Yudhi juga belajar tentang usaha peternakan kambing PE.

Menurut Yudhi, konsep usaha merupakan hal yang harus dipersiapkan sejak awal. ’’Mengawali bisnis harus punya orientasi jelas, mau diapakan, diambil apanya, sehingga langkah yang dilakukan juga jelas,’’ katanya. Yudhi menjelaskan, ketidakjelasan orientasi berdampak pada tidak optimalnya usaha yang dijalankan.

Orientasi usaha pembibitan, tidak akan optimal jika digabungkan dengan usaha pemerahan susu. Sebab untuk menghasilkan bibit kambing PE dengan kualitas bagus, selain dibutuhkan indukan yang bagus, gizi juga harus tercukupi. Sehingga dalam usaha pembibitan, pemerahan susu jarang dilakukan karena susu indukan dikonsumsi langsung oleh anak kambing yang bersangkutan.

Orientasi awal ini juga akan menentukan kambing dengan kondisi dan kualitas seperti apa yang harus dimiliki. Menurut Yudhi, untuk usaha produksi susu, tidak dibutuhkan kambing dengan ras Ettawa yang tinggi. Tinggi rendahnya ras ini hanya berpengaruh terhadap harga kambing, tetapi tidak tidak berpengaruh terhadap kualitas susunya. [am]