This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 31 Oktober 2009

TAK SELAMANYA BISA MENGGENDONG


Sebagai buruh yang mengandalkan kekuatan fisik dalam menjalankan pekerjaan, para buruh gendong di Pasar Beringharjo sadar benar bahwa usia sangat berpengaruh terhadap kerja-kerja mereka. Maka sebagian dari para buruh ini melakukan usaha lain, seperti bekerja pada pedagang pasar atau bahkan berdagang saat tidak ada gendongan.

Mak Ndung merupakan salah satu buruh gendong yang kini tidak menjadikan jasa gendongan sebagai andalan. Sejak tahun 1994, perempuan yang memilih bercerai dari suami karena dipoligami ini berjualan pakaian dalam dan baju anak di antara los pasar. Ia mengaku meski membuka lapak dagangan, aktivitas menggendong masih tetap ia lakukan. ’’Ya kalau ada gendongan ini saya tutup,’’ katanya.

Perempuan yang menjawab tidak tahu ketika ditanya berapa usianya itu, sadar bahwa suatu saat ia tak akan kuat menggendong lagi. Sehingga usaha ini awalnya ia niatkan sebagai cadangan. Modal berdagang waktu itu ia dapatkan dari pinjaman. Hal itu bisa dipahami karena mereka memang berasal dari kalangan ekonomi lemah. Kondisi ekonomi keluarga itu pulalah yang menjadikan pendidikan mereka terbatas, sehingga kalah dalam persaingan di bidang kerja yang lebih baik.

Seperti halnya Mak Ndung, Tuminah yang saat ini menjabat sebagai ketua Paguyuban Sayuk Rukun, juga menekuni usaha lain yaitu jual-beli besi bekas. Saat ini ia hanya menjual jasa gendongan kepada para pelanggannya saja. Para pelanggan jasa gendongan ini sebagian besar adalah para pedagang pasar. Saat menerima order gendongan, Tuminah memilih untuk menutup kiosnya.

Mak Ndung dan Tuminah merupakan contoh dari buruh gendong yang kemudian mengembangkan diri tak sekedar sebagai penjual jasa gendongan saja, melainkan juga berdagang. Buruh gendong lain yang tidak memiliki modal dan tidak mempunyai kemampuan dagang, memilih bekerja secara lepas pada para pedagang pasar sambil menunggu pengguna jasa gendongan. Namun tak sedikit buruh gendong yang terpaksa harus berpangku tangan menahan kantuk sambil menunggu pekerjaan, karena tak memiliki sambilan.

Melihat potret mereka serta situasi kerja seperti itu, tak heran jika seorang fotografer di Yogyakarta merasa malu setelah mengabadikan gambar dan berbincang dengan mereka. Ia mengatakan, saat para buruh gendong itu bingung apa yang akan dimakan hari ini, ia justru bingung memilih menu. [siti aminah]

KEHIDUPAN HARUS TETAP BERJALAN

Kalau saja ada pilihan yang lebih layak, tentu perempuan-perempuan itu tak perlu menjual tenaga sebagai buruh gendong demi menyambung hidup mereka. Bisa dipastikan tak ada satu pun di antara mereka pernah membayangkan akan menjalani kehidupan sebagai buruh gendong. Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hiduplah yang akhirnya mendamparkan mereka pada profesi tersebut.

Mak Ndung, perempuan asal Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta mengaku keterlibatannya sebagai buruh gendong dipicu oleh praktek poligami suaminya. ’’Suami punya isteri tiga,’’ katanya awal Mei lalu. Sebagai isteri pertama, Mak Ndung merasa diabaikan kebutuhannya. Suami tidak lagi memberi nafkah padanya, sehingga Mak Ndung harus memutar otak, mencari cara agar kehidupannya bersama anaknya tetap bisa berjalan.

Maka mulailah babak baru kehidupan perempuan itu. Tahun 1980 Mak Ndung memutuskan menjadi buruh gendong di Pasar Beringharjo. Sehari-hari ia menghabiskan waktu di pasar yang berjarak kurang lebih 20 kilometer dari desa asalnya. ’’Waktu itu sambil momong anak. Kalau nggendong (beban), kadang anak saya tumpangkan di atas,’’ cerita Mak Ndung tentang masa lalunya.

Jauhnya jarak rumah dan tempat kerja menjadikan Mak Ndung dan sebagian besar buruh gendong lain menyewa kamar di sekitar pasar. Menurut pihak Yayasan Annisa Swasti (Yasanti) Yogyakarta, dulu banyak di antara mereka yang tidur di pasar. Tetapi sekarang hal itu sudah jarang ditemui. Para buruh ini tinggal di kamar sewaan secara berkelompok. ’’Seribu rupiah seharinya,’’ jawab Mak Ndung ketika ditanya berapa biaya sewa kamar mereka.

Mengenai pendapatan, Amin Muftiyanah, Direktur Yasanti mengungkapkan rata-rata mereka mendapatkan penghasilan setiap harinya sebesar Rp 15 ribu rupiah. Penghasilan ini didapatkan dari setidaknya 10 kali menggendong beban seberat 50-100 kilogram. Sebab untuk beban seberat itu mereka rata-rata hanya mendapatkan upah Rp 1500.

Dengan konstruksi pasar bertingkat seperti sekarang, jelas beban kerja mereka semakin berat. Tak jarang para buruh perempuan ini harus menggendong dari lantai bawah ke lantai atas, atau sebaliknya. Menurut Amin, ini tentu saja berpengaruh terhadap kesehatan perempuan, termasuk di dalamnya fungsi reproduksi perempuan. Terlebih sebagian buruh tersebut berada dalam kategori usia usia subur atau produktif.

Untuk itulah Yasanti bersama Paguyuban Buruh Gendong Pasar Beringharjo ’’Sayuk Rukun’’ mengadvokasi agar buruh gendong dapat mengakses layanan kesehatan masyarakat di kawasan pasar. Sebab sangat sulit bagi mereka mengakses layanan kesehatan di daerah asal, karena aktivitas keseharian mereka di pasar. Tak hanya itu, Yasanti dan Sayuk Rukun juga mengusahakan agar para buruh gendong diberi ruang beristirahat mengingat pekerjaan mereka menguras banyak tenaga.

Tak hanya pemerintah yang diharapkan memberi perhatian pada mereka. Masyarakat sebagai pengguna jasa pun diupayakan memiliki kepedulian dan penghargaan terhadap kerja para buruh perempuan ini. ’’Paling tidak dengan mengupah mereka secara layak,’’ kata Amin.[siti aminah]

Buruh Gendong Pasar Beringharjo Yogyakarta

Potret Keras dan Beratnya Kehidupan

Adzan dhuhur tengah berkumandang ketika tiga orang perempuan sibuk membongkar muatan dari sebuah mobil yang terparkir di lantai dua Pasar Beringharjo di pusat Kota Yogyakarta. Satu di antara mereka tampak sekuat tenaga mengeluarkan muatan dari dalam kendaraan. Sedang dua orang lainnya mengangkut dari kendaraan ke gudang yang terletak di antara los pasar.


Itulah rutinitas yang dijalani oleh para perempuan buruh angkut yang biasa disebut buruh gendong. Dinamakan buruh gendong karena mereka mengangkut beban dengan cara digendong. Berbeda dengan buruh angkut laki-laki yang biasanya memanggul beban tanpa alat bantu selendang seperti halnya buruh perempuan.

Keberadaan buruh gendong ini sangat mudah dikenali. Selendang lurik yang mereka selempangkan serta celemek yang mereka kenakan menjadi penanda bahwa mereka adalah buruh gendong. Amin Muftiyanah, direktur Yayasan Annisa Swasti yang sejak tahun 1990-an mendampingi para buruh ini mengatakan bahwa usia mereka beragam. Mulai dari 20 - 60 tahun. Rata-rata para buruh gendong ini mampu membawa 50 - 100 kilogram dalam satu kali gendongan.

Meski Amin menilai bahwa pekerjaan buruh gendong tampak tidak manusiawi, tetapi banyak perempuan yang terlibat dalam sektor ini. Di Pasar Beringharjo yang berlantai tiga ini saja jumlahnya tak kurang dari 500 orang. Mereka tersebar dari lantai satu sampai lantai tiga.

Menurut Mak Ndung, mantan ketua Paguyuban Buruh Gendong Pasar Beringharjo ’’Sayuk Rukun’’, sebagian besar buruh di gendong di pasar ini berasal dari Kabupaten Kulon Progo, Propinsi DI Yogyakarta. Namun ternyata tak hanya dari wilayah DI Yogyakarta saja. Buruh yang berasal dari Kabupaten Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo ketiganya terletak di Propinsi Jawa Tengah, juga banyak ditemukan di sini.

Sebagian dari mereka berasal dari desa yang sama. Ini terjadi karena biasanya mereka yang telah menjadi buruh membawa serta para tetangga atau menjadi jalan masuk warga sedesanya ke dalam lingkungan pasar. Selain dengan cara ini, masuknya para perempuan ini ke pasar sebagai buruh gendong karena diajak oleh orang orang tua atau justru menggantikan profesi orang tua mereka.

Dapat dikatakan menjalani hidup sebagai buruh gendong sebenarnya adalah pilihan terakhir ketika tak ada lagi yang dapat mereka pilih. Bahkan, Mak Ndung yang telah menjadi buruh gendong sejak tahun 1980 melontarkan, ’’Orang yang mau jadi buruh gendong itu paling jelek. Tidak punya kepinteran tidak punya keterampilan, hanya mengandalkan tenaga.’’

Kondisi ini ternyata tidak membuat mereka terus berada dalam keterbatasan dan keterpurukan. Keterlibatan mereka dalam paguyuban merupakan salah satu bukti bahwa ada tekad dalam diri mereka untuk memajukan diri. Seperti kata Tuminah, setiap 35 hari sekali (selapan) buruh gendong yang tergabung dalam paguyuban ini mengadakan pertemuan. ’’Setiap Minggu-Pon di Masjid Muttaqien,’’ kata Tuminah.

Dalam pertemuan rutin ini, selain diisi dengan berbagai materi juga diadakan arisan dan simpan pinjam. Namun seperti halnya kegiatan simpan pinjam di banyak tempat, belakangan, ’’Simpanan bubar, tinggal pinjaman,’’ Mak Ndung menuturkan.

Meski tidak semua kegiatan berjalan lancar, setidaknya keberadaan paguyuban telah diakui kemanfaatannya oleh para buruh gendong. Jika dulu keberadaan mereka tidak dianggap, kini Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pasar telah mengakui buruh gendong sebagai warga pasar. Dengan pengakuan ini, setidaknya para buruh dapat bekerja dengan lebih nyaman, tidak lagi dianggap sebagai pihak yang harus ’disingkirkan’ dari lingkungan pasar. [siti aminah]

Minggu, 11 Oktober 2009

MEMANGGIL REZEKI DENGAN TEROMPET


Tahun baru, tak afdol rasanya tanpa kehadiran terompet. Suara terompet yang kadang tak enak di dengar namun menjadi tanda pergantian waktu di tahun yang baru biasa dikumandangkan saat pesta pergantian tahun digelar. Itulah mengapa, terompet selalu hadir di jalan-jalan protocol di kota besar di Indonesia termasuk Surabaya.

Para pedagang kaki lima yang sehari-hari berjualan makanan maupun kebutuhan rumah tangga lainnya, dua minggu menjelang tahun baru berbondong-bondong beralih berdagang terompet.

’’Habis jualan terompet untungnya lumayan. Satu terompet bisa dapat untung hingga Rp 7 ribu,’’ ujar Siti Nur Rodiah (40) pedagang terompet ‘dadakan’ yang sehari-hari berjualan di sepanjang jalan raya Ngagel.

Bila tak masuk tahun baru, sehari-hari wanita yang akrab dipanggil Rodiah ini berjualan perlengkapan rumah tangga tradisional seperti pembakar sate, kipas bamboo dan aneka peralatan masak lainnya.

Namun memasuki tanggal 15 Desember, sudah tahun yang kelima Rodiah menambah jualannya yakni terompet.

Terompet-terompet yang dijual Rodiah ini didatangkan dari Jawa Barat. “Biasanya ada yang dating kesini mengirim barang jadi saya tidak harus kulakan di tempat lain. Teman-teman yang berdagang di sepanjang jalan raya Ngagel juga berasal dari penjual yang sama. Mereka tidak mematok harga jual, terserah kita yang penting kita setor harga kulakan ke mereka,” jelas Rodiah yang sudah 8 tahun berjualan di sepanjang jalan ini.

Namun karena kebersamaan, Rodiah membuat kesepakatan harga dengan sesama penjual di sepanjang jalan ini. “Biar bersaing secara sehat dan nggak saling iri,” ungkapnya.

Terompet yang ditawarkan Rodiah beragam, mulai yang berharga Rp 15 ribu dengan bentuk standar hingga yang berharga Rp 75 ribu. Yang paling mahal adalah terompet berbentuk saxophone dengan hiasan warna-warni. Selain itu, Rodiah juga menjual pernik-pernik tahun baru lainnya seperti topi dan topeng.

Setiap momen tahun baru, Rodiah biasa menjual 100 – 200 buah terompet. Namun semua tergantung musim. Bila cuaca lebih banyak bersahabat, Rodiah bisa menjual banyak. Namun bila setiap hari hujan, bisa dipastikan terompet-nya jarang laku. “Apalagi sekarang banyak saingan. Para penjual terompet juga makin kreatif, bentuknya sekarang macam-macam sehingga persaingannya tinggi,” terangnya.

Meski Cuma berjualan 2 minggu untung yang diraih cukup lumayan. Minimal Rodiah bisa mengantongi untung Rp 300 ribu. Sayangnya terompet hanya digunakan saat tahun baru. Maka Rodiah pun hanya akan mendapat untung tinggi setahun sekali. Sisanya 11 bulan, Rodiah pilih berjualan peralatan dapur dengan untung tak seberapa. [dewi]

''Perajin Batu Akik Butuh Pasar''

’’Akik adalah khas Pacitan. Nama batu akik Pacitan sudah dikenal. Tapi, kenapa di sini batu akik ndak bisa bertahan?’’ Hal itu disampaikan Pak Timbul, nama aslinya Paiman, saat berbincang-bincang dengan Peduli di rumahnya di Desa Gendaran, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan. Hal itu dikemukakan terkait dengan pasar batu akik yang saat ini, menurut dia, tak hanya lesu, tetapi sudah hancur karena dayabeli masyarakat anjlok sejak krismon tahun 1990-an.

Selain itu, saat ini ongkos produksi - termasuk bensin, solar, dan oli - juga jauh lebih mahal daripada masa jayanya bisnis batu akik dulu sebelum krismon. Kata Pak Timbul, kalau dipukul rata, dulu seorang pekerja dapat 1 kodi batu akik per hari. Ongkos produksi untuk 1 kodi batu akik dulu hanya sebesar Rp 500, tetapi sekarang ongkos produksinya mencapai Rp 10.000/kodi. Satu kodi berisi 20 biji batu akik. ’’Dulu bensin masih Rp 1.100, sekarang sudah berapa? Tapi, kendala utamanya adalah pasar,’’ tegas Pak Timbul yang mulai merajin batu akik sejak tahun 1968.

Karena rusaknya pasar batu akik, pekerja Pak Timbul pun kini menyusut drastis. Dulu waktu ramai, Pak Timbul mempekerjakan sampai belasan orang untuk mengolah batu akik. Yang bekerja pun saat itu sampai dipisah-pisah. Yang khusus memotong batu, ada sendiri. Yang khusus membentuk, ada sendiri, Yang khusus ndadekke, juga ada sendiri. Sekarang, dari belasan orang karyawan Pak Timbul, tinggal 4 orang saja yang masih bertahan. Selain yang 4 orang itu, semua sudah mencari pekerjaan lain.

’’Dulu waktu ramai, dapat I kodi langsung laku. Kalau sekarang, enggak. Kadang-kadang 1 bulan laku 1 kodi saja belum tentu. Lha, repot sekarang,’’ keluh Pak Timbul yang mengaku batu untuk bahan baku usahanya diperoleh dari petani. Ada orang-orang yang bekerja mencari batu di gunung, kemudian Pak Timbul membeli dari mereka.

’’Batu akik sebagian besar yang saya tekuni ya dari Pacitan. Carinya ke gunung. Tidak cari sendiri batunya, tapi kiriman dari petani. Selain dari Pacitan, kadang juga dari Trenggalek dan Ponorogo,’’ akunya.

Ditanya berapa pendapatannya kini sebagai perajin batu akik, Pak Timbul enggan mengungkapkan. ’’Sekarang hasilnya yang jelas warek dipangan (kenyang dimakan, Red),’’ katanya.

Butuh Bantuan
Terkait dengan hancurnya pasar batu akik, Pak Timbul mengaku cukup pusing. Pusing bukan karena memikirkan profesi lain apa yang bisa memberikan pendapatan yang lebih baik daripada profesi perajin batu akik. Bukan itu. Pak Timbul mengaku pusing memikirkan bagaimana caranya mengembalikan kejayaan bisnis batu akik.

Karena kendala utamanya adalah pasar, untuk mengembalikan kejayaan bisnis batu akik, menurut Pak Timbul, adalah memperbaiki pasar. Itulah yang memusingkan Pak Timbul. Yakni, memikirkan pasar atu akik.

Dan sebetulnya, Pak Timbul secara pribadi sudah punya solusi. Yakni, menurunkan harga jual produk batu akik. Namun, penurunan harga itu harus diimbangi dengan peningkatan efektivitas proses produksi. Dalam hal ini, menurut Pak Timbul, peralatan harus diperbaharui sehingga dengan peralatan yang lebih baik, proses produksi lebih cepat dan bahan baku yang terbuang dapat diminimalisasi. Pak Timbul yakin, dengan cara itu pasar batu akik bias lebih hidup daripada beberapa tahun terakhir ini.

Sekarang ini, menurut Pak Timbul, harga jual batu akik minimal Rp 2000/biji. Dengan harga jual sebesar itu, untung yang diperoleh Pak Timbul sebagai produsen batu akik sebetulnya tergolong minim. Karena, Pak Timbul hanya untung Rp 100/biji batu akik. ’’Kalau harga Rp 2000/biji itu dibilang murah, nyatanya tak ada orang mau beli?’’ ungkapnya.

Untuk menjalankan solusinya untuk mengatasi kehancuran pasar itu, Pak Timbul mengaku sangat membutuhkan bantuan modal, tapi bukan modal berupa uang, melainkan modal berupa alat untuk memperbaiki pasar. Untuk itu, Pak Timbul mengaku sudah menyampaikan keluhannya terkait dengan hancurnya pasar batu akik ke Pemkab Pacitan. Sayangnya, kata dia, hingga saat ini, pihak pemerintah belum memberikan tanggapan.

’’Padahal batu akik ini termasuk salah satu icon Kabupaten Pacitan. Nama Pacitan ini terangkat antara lain juga karena batu akik ini,’’ ungkap Pak Timbul penuh penekanan. [KUS/PUR]