This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 25 Agustus 2009

Ramadhan, Ibadah, Bisnis

Bulan Ramadhan kembali tiba. Seperti biasanya, di bulan yang biasa dijuluki sebagai bulan penuh berkah ini kaum muslim seperti dikomando menjadi semakin taat beribadah. Yang biasanya shalat pun banyak bolong-nya (kadang 5 hari sekali padahal seharusnya 5 kali sehari), kemudian berusaha untuk memenuhi jatah, bahkan menambah dengan beberapa jenis shalat sunat, termasuk shalat tarawih, selain juga memenuhi shalat wajib yang 5 kali sehari itu.

Maka bulan Ramadhan seolah-olah adalah bulan peribadatan semata. Seolah-olah semua jenis kalkulator disetel dengan perhitungan pahala dan dosa, dan dijauhkan dari itung-itungan untung-rugi duniawi.

Padahal, seharusnya keduanya tetap berjalan beriringan. Pekerjaan memenuhi kebutuhan duniawi pun, termasuk demi keberlangsungan kehidupan keluarga yang sehat, bahkan bernilai ibadah. Maka, tidaklah dilarang, di bulan Ramadhan orang tetap menjalankan bisnisnya, tetap mengejar keuntungan duniawi. Tentu saja dengan cara-cara yang diperkenankan oleh aturan, baik aturan negara maupun aturan agama. Mengejar keuntungan duniawi dengan cara-cara yang curang, misalnya, jangankan di bulan Ramadhan, di bulan-bulan lainnya pun, kapan pun, tidak diperbolehkan. Kecurangan tetaplah kecurangan, dan kejahatan tetaplah kejahatan.

Bahkan, dari sisi ekonomi, di kalangan masyarakat muslim, Ramdhan boleh disebut sebagai bulan percepatan laju perekonomian. Datanglah ke kampung-kampung, dan hitung berapa kali orang menggelar selamatan sejak menjelang Ramadhan hingga tiba hari lebaran. Maka, janganlah heran kalau kemudian harga-harga kebutuhan pokok, bahan pangan, termsuk harga daging dan telur, mengalami lonjakan drastis pada bulan Ramadhan.

Banyaknya ritual selamatan itu menjadi salaha satu faktor yang meningkatkan angka permintaan barang-barang kebutuhan pokok: beras, sayur, lauk-pauk, selain kenyataan bahwa konsumsi sehari-hari orang berpuasa itu biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan mereka di luar bulan Ramadhan. (Hasilnya: berat badana pun justru bertambah setelah sebulan berpuasa).

Di bidang sandang demikian pula. Sudah jadi semacam mitos, bahwa kuranglah afdol berlebaran tanpa baju/pakaian baru. Maka, permintaan akan sandang pun meningkat tajam menjelang lebaran. Dan itulah peluang, bagi orang-orang yang mau berpikir dan berusaha.

Pada bulan Ramadhan roda perekonomian di kalangan masyarakat muslim macam di Indonesia menggelinding lebih cepat daripada biasanya. Sebagian orang menumpanginya dan memperoleh kemajuan dengan cepat pula, dan sebagian yang lain lagi adalah mereka yang tergilas oleh roda yang melaju semakin cepat itu. []

Jumat, 26 Juni 2009

Yang Sedih dan Yang Gembira

’’Mbak, kapan saya bisa mampir di tempat usaha sampeyan?’’ tanya Peduli kepada seorang mantan BMI-HK yang menekuni usaha bordir di kota P.

’’Ah, mbok datang ya datang aja, main-main ke sinilah, saya malu kalau diliput, usaha saya masih sangat kecil nih,’’ jawaban dari seberang sana.

’’Kecil kan tak menjadi soal, Mbak. Banyak bisnis yang sangat besar dimulai dari yang sangat kecil, kan?’’

Perempuan itu pun kemudian melunak. Siap untuk diliput. Sekalian nanti berbagi kabar dengan para sahabat, terutama kenalan dekat yangmasih di HK. Lha, ndilalah karena beberapa kesibukan, baru dua bulan kemudian Peduli siap berangkat, tetapi alangkah mengejutkannya jawaban via telepon ini, ’’Waduh Mas, kalau mau datang silaturahmi saja ya? Usaha saya sudah tidak ada lagi. Saya tak mau cerita soalbagaimana kisahnya. Saya sekarang lagi kalut, benar-benar kalut. Modal sudah habis, usaha saya ternyata gak bisa jalan lagi….’’

Sungguh kasihan ya? Lalu berkelebat pengandaian, seandainya ia punya kawan berdiskusi yang baik sebelum usahanya itu benar-benar gulung tikar, seandainya ia punya kawan sesame pengusaha border dan tambah lagi sesame mantan BMI seperti Mbak Mesti yang kini sering diundang jadi narasumber oleh Depnaker Jatim itu. Mungkin ceritanya jadi lain. Kegagalan adalah guru yang sanggat bijak, kata orang. Dan, beruntunglah orang-orang yang bisa belajar dari kegagalannya.

Mbak Mesti, misalnya, seperti pernah dikabarkan melalui Peduli juga, ia jadi seperti sekarang ini, sukses sebagai pengusaha bordir, antara lain juga karena kegagalannya di masa lalu. Ia pernah menjadi tukang kredit yang cukup sukses sebelum berangkat menjadi BMI, sampai kemudian ditipu pelanggannya. Piutangnya tak kunjung bisa tertagih. Maka utangnya pun terancam macet. Dan ia dengan cepat ambil keputusan: berangkat (ke Singapura) menjadi BMI.

Di Singapura Mbak Misti bekerja dengan giat, dengan sangat hati-hati (baca: tidak boros) sehingga seluruh utangnya terbayar. Dan dengan modal yang ia miliki ia kembali ke Indonesia untuk memulai bisnis bordir itu. Bahkan, pada awalnya ia belajar membordir dari karyawannya sendiri. Bisnis bordir tentu berbeda dengan ’perkreditan’. Tetapi, pengalaman gagal di bisnis ’perkreditan’ itu pastilah memberikan andil yang tidak sedikit dalam upayanya membangun, memertahankan, dan bahkan kemudian menumbuhkan/mengembangkan usaha bordir-nya.

Kemudian, apakah pelajaran yang dapat kita petik dari kegagalan itu? Kegagalan dalam berbisnis, terutama? Pertama, tentu adalah betapa pentingnya persiapan. Tidak hanya menyangkut modal yang berupa uang atau barang, melainkan juga pengetahuan/wawasan, termasuk gambaran mengenai risiko-risiko yang mungkin timbul di kemudian hari.

Wawasan itu sebaiknya diperoleh dari berbagai sumber teoritis dan terutama praktis karena buku yang berbeda akan menerangkan hal yang sama secara berbeda pula. Makin banyak orang yang kita tanya makin bervariasi jawaban atau solusi yang mereka tawarkan. Dengan bekal pengetahuan kita sebelumnya, pastilah semakin banyak versi jawaban tidak bakal membuat kita semakin bingung, melainkan akan semakin kaya akan bahan untuk dipertimbangkan guna mengambil keputusan.

Kawan kita yang lain, Mei Suwartini, menyuguhkan kabar gembira kepada kita. Setelah kembali dari HK Mbak Mei beserta sang suami tercinta membangun usaha Warnet Biru-nya (di sebelah timur Perempatan Jeruk Sing, Ponorogo, Jawa Timur). Di awal-awal bertubi-tubi masalah menderanya. Komputer yang sering ngadat, bahkan disebut-sebut ada indikasi dijahili hacker, sempat sangat memusingkannya. Lalu, ketika warnet itu tampak makin laris, makin dijejali pengguna, pemilik lahan yang disewa pun tergiur untuk membuka usaha yang sama. Warnet Biru yang semula berlokasi di sebelah utara Perempatan Jeruk Sing pun kemudian harus berpindah ke sebelah timur Perempatan Jeruk Sing. Dan syukurlah, tampaknya makin laris saja.

REDAKSI

Sabtu, 30 Mei 2009

Ketergantungan Impor Gandum harus Dikurangi

JAKARTA (Suara Karya): Konsumsi tepung terigu (berbahan baku gandum) terus meningkat cukup signifikan setiap tahunnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi terigu di Indonesia pada 2003 mencapai 19,8 gram per kapita per hari dan meningkat pada 2006 yang mencapai 22,6 gram per kapita per hari serta mencapai 38 gram per kapita per hari pada 2008.

Menurut catatan Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo), total kebutuhan terigu setara dengan sekitar 4,5 hingga 5 juta ton biji gandum yang seluruhnya masih diimpor. Diperkirakan kebutuhan terigu rata-rata tumbuh minimal 5 persen per tahun.

Ketua Umum Aptindo, Franciscus (Franky) Welirang, mengatakan, jika melihat laju permintaan terigu yang terus meningkat setiap tahun, maka dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan kebutuhan biji gandum nasional bisa mencapai 10 juta ton per tahun. Dengan kondisi ini, Indonesia dipastikan menjadi importir biji gandum terbesar di dunia. Saat ini predikat sebagai negara pengimpor biji gandum terbesar masih dipegang oleh Mesir, sekitar 8 juta ton.

Peningkatan konsumsi terigu menunjukkan berhasilnya program diversifikasi pangan di Tanah Air. Dalam hal ini, terigu merupakan salah satu sumber pangan utama bagi masyarakat Indonesia. Namun, besarnya kebutuhan terigu belum ditopang oleh ketersediaan bahan baku gandum yang memadai dari dalam negeri. Ketergantungan terhadap impor biji gandum tentunya tidak menguntungkan. Gejolak pasokan/ketersediaan gandum di pasar dunia tentu saja akan memengaruhi upaya pemenuhan kebutuhan terigu di dalam negeri. Ketergantungan pasokan gandum dari negara lain secara ekonomis maupun politis juga cukup berbahaya bagi Indonesia.

Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Prof Dr Kris Herawan Timotius, mengatakan, ketergantungan terhadap impor komoditas pangan, salah satunya gandum, akan membahayakan kestabilan ekonomi dan politik di Indonesia. Sebaliknya, negara-negara pemasok gandum juga dapat memanfaatkannya sebagai alat untuk menekan Indonesia, baik secara ekonomi maupun politik. Misalnya dalam isu-isu tertentu yang terkait dengan hubungan bilateral maupun multilateral.

"Contoh gampangnya, bila negara-negara pemasok gandum terbesar, seperti Amerika Serikat dan Australia, marah kepada Indonesia, maka mereka tidak perlu mengirim kapal perang dan pasukannya ke Indonesia, tetapi cukup dengan menghentikan pengiriman gandum. Maka, perekonomian dan situasi politik Indonesia bisa terguncang. Dengan penghentian pengiriman biji gandum, maka bisa saja produk mi instan yang selama ini dijual dengan harga Rp 1.100 per bungkus melonjak menjadi Rp 10.000 atau bahkan Rp 20.000 per bungkus," tuturnya.

Sebenarnya, kalangan produsen terigu (Aptindo) memulai upaya pengembangan tanaman gandum sejak 1998. Selanjutnya pada 2000, Aptindo menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi untuk mengembangkan budidaya gandum di Indonesia, seperti dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Brawijaya, dan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Peneliti menjalankan proyek pengembangan budidaya gandum di sejumlah lokasi. (Andrian)

Suara Karya Jumat, 3 April 2009

Selasa, 07 April 2009

Kepala BMG Tegal Jadi Korban Penipuan Model Baru

TEGAL - Apes! Itulah yang dialami Sartono, 54, kepala Stasiun Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Tegal. Pejabat asal Jalan Kolonel Sugiono 190, Tegal, itu menjadi korban penipuan model baru lewat faks yang diterimanya di kantor.

Isi faks itu memerintah dia mentransfer uang Rp 10.901.902 untuk pengadaan barang dan jasa di kantornya. Perintah tersebut datang dari ''pejabat'' Departemen Keuangan yang mengaku bernama Drs H Marwan Gunawan MSi. ''Isi faks tersebut bersifat undangan untuk mengikuti validasi pengadaan barang dan jasa. Dalam faks tersebut juga tercantum nomor ponsel 081316331181,'' kata Sartono saat melapor ke Polresta Tegal kemarin (7/4).

Korban selanjutnya disuruh menghubungi nomor ponsel tersebut. Penerima telepon di seberang menyuruh korban mengirimkan uang Rp 10 juta lebih lewat transfer.

Seperti kerbau yang dicokok hidungnya, dia menuruti saja perintah itu. Dia baru sadar sudah menjadi korban penipuan setelah selesai mentransfer uang tersebut.

Kasatreskrim AKP Taufan Dirgantoro SIK yang mewakili Kapolresta Tegal AKBP Drs Ahmad Husni membenarkan adanya laporan penipuan modus baru tersebut. ''Kami mengimbau warga masyarakat tidak mudah percaya dengan perintah dari mana pun tanpa cross check terlebih dahulu kepada instansi yang bersangkutan,'' tegasnya. (her/jpnn/ruk)

Jawa Pos
[Rabu, 08 April 2009]

Rabu, 25 Maret 2009

’’Apakah karena Orang Lain Bisa maka Saya harus Bisa?’’

Suatu hari, salah seorang kawan kita yang bekerja di bumi beton ini mengirimkan SMS, berisi sebuah pertanyaan yang agak klise rupanya: ’’Usaha apa yang kira-kira paling prospektif untuk saya jalankan ketika nanti saya pulang kampung dan tidak bekerja di Hong Kong lagi?’’ Itu mirip-mirip dengan keluhan, ’’Waduh, kepala saya pusing. Apakah obatnya?’’ Seorang dokter pun akan ragu untuk memberikan jawaban sebelum mengajukan beberapa pertanyaan dan mendapatkan jawabannya. Begitulah pertanyaan kawan kita tadi, seorang ekonom pun perlu mengajukan sekian banyak pertanyaan untuk bisa memberikan jawaban yang cukup memadai.

Untuk pertanyaan: ’’Usaha apakah yang paling prospektif saat ini?’’ sebenarnya ada jawaban yang tepat, yakni: ’’Semua usaha itu prospektif.’’ Jawaban itu tepat, tatapi tentu tidak akan memberikan apa-apa kepada Sang Penanya. Sebab, pertanyaan itu mengharapkan jawaban satu atau beberapa saja di antara semua jenis bisnis yang bisa dilakukan orang. Dan jawaban seperti diharapkan Sang Penanya itu sebenarnya bisa diberikan, setelah sekian faktor diketahui menyangkut: jumlah modal, lokasi usaha, bidang yang paling diminati, serta hal-hal lain yang potensial mendukung maupun menghambat.

Biasanya, orang tidak telaten untuk menganalisis diri sendiri, melihat potensi-potensi positif maupun negatif yang dimiliki. Melihat ke dalam biasanya tidak menarik, dan melihat ke luar sering mengasyikkan. Melihat orang lain sukses menjalankan usahanya, sering serta-merta membuat orang tertarik untuk melakukan kopi-paste. Meniru, maksudnya. Karena itulah, ketika jenis tanaman tertentu sedang naik daun di sebuah kampung, semua orang menjajal peruntungannya dengan menanam, mengembangkan tanaman tersebut. Padahal, tanaman itu hanya dinikmati keindahannya, dan bukan jenis tanaman produktif yang bisa dimanfaatkan bunga atau buahnya.

Maka, ketika pasar mencapai titik jenuh, kelompok yang belakangan coba-coba menjadi kelompok yang merugi. Dan para pendahululah yang menikmati keberuntungan. Yang lebih konyol lagi ialah mereka yang ikut coba-coba padahal sebelumnya tak pernah akrap dengan dunia tumbuh-tumbuhan, tidak pernah bermimpi menjadi petani, minimal penanam, sehingga keseriusannya memerlakukan tanaman kesayangan justru ’membunuh’ tanaman itu.

Di titik ini juga kita perlu agak kritis terhadap kalimat yang sering jadi kalimat sakti para motivator: ’’Kalau orang lain bisa, maka kita mesti bisa!’’ Kalimat itu kadang masih ditambahi ilustrasi bahwa orang-orang sukses itu, banyak di antara mereka pendidikan formalnya tidak lebih tinggi daripada ’kita’. Bahwa mereka juga makan nasi. Bahwa mereka juga pernah mengalami kegagalan dalam berusaha.

Orang-orang yang benar-benar sukses dan merasa sudah sukses di bisnis MLM, misalnya, tampaknya juga cukup sering memakai kalimat semacam itu tadi. Lalu dengan berapi-api memaparkan kisah sukses mereka. Pendengar pun terbuai, termotivasi, dan dalam tempo sesingkat-singkatnya mendaftarkan diri sebagai down-line. Di dalam benaknya ada pemandangan yang seolah sebegitu nyatanya, bahwa dalam tempo sekian bulan akan menjadi jutawan. Memang, banyak di antara mereka menjadi jutawan. Tetapi, mereka yang gagal menjadi jutawan sepertinya tidak pernah punya cukup kesempatan untuk memaparkan kisah gagal mereka di forum yang sama kualitasnya dengan kawannya yang sukses.

Membaca kisah sukses orang lain sangatlah penting. Dan sepenting itu pulalah sebenarnya membaca kisah gagal orang lain. Tetapi, yang lebih penting dari yang sangat penting itu ialah membaca kisah sukses dan kisah gagal diri sendiri. Melihat ke dalam diri sendiri. Mengenali potensi-potensi diri sendiri, ya yang negatif, ya yang positif.

Lalu, ketahuilah bahwa setiap orang memiliki keunikannya masing-masing. Memiliki kapasitasnya masing-masing. Memiliki potensi yang tidak sama persis dengan orang lain. Maka, kalau hanya sekadar untuk menyemangati diri, sebagai semacam mantra, bolehlah dipakai kalimat ini: ’’Ia bisa, maka saya harus bisa.’’ Tetapi, jangan dipakai dalil, karena akibatnya adalah pemerkosaan terhadap diri sendiri. Nah, jika setuju, ini ada kalimat yang lebih cerdas, dan lebih masuk akal: ’’Saya boleh tidak bisa melakukan apa yang bisa dilakukan orang lain, dan alangkah baiknya bila saya bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan orang lain!’’
Apakah kalimat itu kurang memotivasi?

BONARI NABONENAR
untuk Peduli edisi April 2009