Rabu, 25 Maret 2009

’’Apakah karena Orang Lain Bisa maka Saya harus Bisa?’’

Suatu hari, salah seorang kawan kita yang bekerja di bumi beton ini mengirimkan SMS, berisi sebuah pertanyaan yang agak klise rupanya: ’’Usaha apa yang kira-kira paling prospektif untuk saya jalankan ketika nanti saya pulang kampung dan tidak bekerja di Hong Kong lagi?’’ Itu mirip-mirip dengan keluhan, ’’Waduh, kepala saya pusing. Apakah obatnya?’’ Seorang dokter pun akan ragu untuk memberikan jawaban sebelum mengajukan beberapa pertanyaan dan mendapatkan jawabannya. Begitulah pertanyaan kawan kita tadi, seorang ekonom pun perlu mengajukan sekian banyak pertanyaan untuk bisa memberikan jawaban yang cukup memadai.

Untuk pertanyaan: ’’Usaha apakah yang paling prospektif saat ini?’’ sebenarnya ada jawaban yang tepat, yakni: ’’Semua usaha itu prospektif.’’ Jawaban itu tepat, tatapi tentu tidak akan memberikan apa-apa kepada Sang Penanya. Sebab, pertanyaan itu mengharapkan jawaban satu atau beberapa saja di antara semua jenis bisnis yang bisa dilakukan orang. Dan jawaban seperti diharapkan Sang Penanya itu sebenarnya bisa diberikan, setelah sekian faktor diketahui menyangkut: jumlah modal, lokasi usaha, bidang yang paling diminati, serta hal-hal lain yang potensial mendukung maupun menghambat.

Biasanya, orang tidak telaten untuk menganalisis diri sendiri, melihat potensi-potensi positif maupun negatif yang dimiliki. Melihat ke dalam biasanya tidak menarik, dan melihat ke luar sering mengasyikkan. Melihat orang lain sukses menjalankan usahanya, sering serta-merta membuat orang tertarik untuk melakukan kopi-paste. Meniru, maksudnya. Karena itulah, ketika jenis tanaman tertentu sedang naik daun di sebuah kampung, semua orang menjajal peruntungannya dengan menanam, mengembangkan tanaman tersebut. Padahal, tanaman itu hanya dinikmati keindahannya, dan bukan jenis tanaman produktif yang bisa dimanfaatkan bunga atau buahnya.

Maka, ketika pasar mencapai titik jenuh, kelompok yang belakangan coba-coba menjadi kelompok yang merugi. Dan para pendahululah yang menikmati keberuntungan. Yang lebih konyol lagi ialah mereka yang ikut coba-coba padahal sebelumnya tak pernah akrap dengan dunia tumbuh-tumbuhan, tidak pernah bermimpi menjadi petani, minimal penanam, sehingga keseriusannya memerlakukan tanaman kesayangan justru ’membunuh’ tanaman itu.

Di titik ini juga kita perlu agak kritis terhadap kalimat yang sering jadi kalimat sakti para motivator: ’’Kalau orang lain bisa, maka kita mesti bisa!’’ Kalimat itu kadang masih ditambahi ilustrasi bahwa orang-orang sukses itu, banyak di antara mereka pendidikan formalnya tidak lebih tinggi daripada ’kita’. Bahwa mereka juga makan nasi. Bahwa mereka juga pernah mengalami kegagalan dalam berusaha.

Orang-orang yang benar-benar sukses dan merasa sudah sukses di bisnis MLM, misalnya, tampaknya juga cukup sering memakai kalimat semacam itu tadi. Lalu dengan berapi-api memaparkan kisah sukses mereka. Pendengar pun terbuai, termotivasi, dan dalam tempo sesingkat-singkatnya mendaftarkan diri sebagai down-line. Di dalam benaknya ada pemandangan yang seolah sebegitu nyatanya, bahwa dalam tempo sekian bulan akan menjadi jutawan. Memang, banyak di antara mereka menjadi jutawan. Tetapi, mereka yang gagal menjadi jutawan sepertinya tidak pernah punya cukup kesempatan untuk memaparkan kisah gagal mereka di forum yang sama kualitasnya dengan kawannya yang sukses.

Membaca kisah sukses orang lain sangatlah penting. Dan sepenting itu pulalah sebenarnya membaca kisah gagal orang lain. Tetapi, yang lebih penting dari yang sangat penting itu ialah membaca kisah sukses dan kisah gagal diri sendiri. Melihat ke dalam diri sendiri. Mengenali potensi-potensi diri sendiri, ya yang negatif, ya yang positif.

Lalu, ketahuilah bahwa setiap orang memiliki keunikannya masing-masing. Memiliki kapasitasnya masing-masing. Memiliki potensi yang tidak sama persis dengan orang lain. Maka, kalau hanya sekadar untuk menyemangati diri, sebagai semacam mantra, bolehlah dipakai kalimat ini: ’’Ia bisa, maka saya harus bisa.’’ Tetapi, jangan dipakai dalil, karena akibatnya adalah pemerkosaan terhadap diri sendiri. Nah, jika setuju, ini ada kalimat yang lebih cerdas, dan lebih masuk akal: ’’Saya boleh tidak bisa melakukan apa yang bisa dilakukan orang lain, dan alangkah baiknya bila saya bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan orang lain!’’
Apakah kalimat itu kurang memotivasi?

BONARI NABONENAR
untuk Peduli edisi April 2009

1 komentar:

nirmana mengatakan...

usaha yang prospek lebih ditekankan pada analisa pasar dan manajement usaha.

analisa pasar ini mengingat adakalanya usaha ini bisa jadi prospek di satu wilayah tapi mungkin diwilayah lain tidak.

sementara manajement usaha tentu berkaitan dengan strategi pemasaran dan pengembangan suatu usaha agar survive dlm persaingan.