This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 02 Februari 2013

Sop Ikan Batam Nagoya di Surabaya

Indonesia yang merupakan negara maritim memang kaya akan ikan. Surabaya juga merupakan tempat yang menjanjikan untuk bisnis kuliner berbahan ikan. Ikan tidaklah sulit dicari di sini. Selain bisa diolah dengan bumbu penyet, ikan juga bisa dimasak dengan bumbu berkuah.




Masakan Jawa Timur memang identik dengan pedas dan asin. Sehingga bila ada masakan dengan citarasa seperti itu, maka bisa dipastikan jika orang Jawa Timur akan menyerbunya lantaran sesuai dengan lidah mereka.

Sop Ikan Batam Nagoya yang merupakan makanan khas dari Batam itu ketika merambah Surabaya juga diserbu warga Surabaya. Pengunjung resto ini tak hanya dari Surabaya saja, beberapa diantaranya malah ada yang datang dari Sidoarjo, Malang dan Gresik pula. Terkadang ada pula pengunjung yang datang dari Sulawesi ke tempat itu bila mereka sedang ada urusan di Surabaya. Pertimbangan dipilihnya Surabaya sebagai tempat pengembangan dari resto ini juga didasarkan karena Surabaya merupakan kota kedua terbesar setelah Jakarta, dimana perputaran roda ekonomi berjalan dengan cepat sehingga daya beli masyarakat juga ikut bergerak cepat pula.

Jadi dengan fakta yang sedemikian ini maka tinggal kreatif-kreatifnya seseorang saja dalam menciptakan menu yang digemari masyarakat. Jika selama ini ikan kebanyakan dimasak dengan penyetan sambal atau menjadi bahan untuk pembuatan kerupuk ataupun abon maka kali ini resto tersebut mencoba menyajikannya dalam bentuk berkuah sebagai alternatif pilihannya.

”Surabaya itu identik dengan makanan yang pedas, makanya kami juga menyediakan varian menu yang mendekati selera orang Jatim di resto Sop Ikan Batam ini. Selain Sop Ikan Batam, sebagai alternatif menu lainnya kami juga menyediakan Sop Kepala Kakap dan Gulai Ikan Kakap yang bercitarasa mendekati masakan Jatim,”ujar Anwar Hidayat selaku operational manager dari Sop Ikan Batam Nagoya kepada Peduli.

Kendati merupakan usaha waralaba, namun penggunaan ikan di resto ini tidak langsung didatangkan dari Batam lagi. Semuanya menggunakan ikan-ikan yang ada di Surabaya. Hanya bumbu saja yang secara khusus masih didatangkan dari Batam. Ini sengaja dilakukan untuk menjaga kesegaran dari ikan yang menjadi bahan baku dari masakan ini. Meski berbahan ikan namun masakan yang ada di resto ini tidak menimbulkan rasa amis. Dengan bumbu yang sengaja dirahasiakan saat ditanya Peduli tapi yang jelas bau amis yang ada di ikan tidak terasa dalam masakan di resto ini. Pengunjung yang datang pun terbilang lumayan banyak. Dalam sehari resto yang kini ada di Tunjungan Plaza Mall I lantai 5 ini bisa menjual 80-90 porsi Sop Kepala Ikan yang berbahan dari ikan tengiri itu. Soal harga jual juga terbilang ramah di kantong warga Surabaya. Sop Ikan Batam dijual dengan harga 20 ribu, Sop Kepala Kakap 25ribu, Gulai Kepala Kakap 45 ribu, Tomyam 25 ribu, dan Nasi Goreng Sea Food dijual dengan harga 18 ribu.

Untuk menjaga kualitas mutu bahan dan rasa, di resto ini masakan baru di masak ketika pengunjung datang memesan makanan. Sebelum disajikan ke pengunjung bagian quality control akan mencicipi dulu masakan tersebut sudah sesuai belum dengan stadarisasi rasa yang sudah diberikan oleh pemilik waralaba ini atau belum. Bila rasa masakan dirasakan kurang dari standar maka bagian quality control akan meminta memasak ulang menu yang di pesan tersebut.

Saat ditanya oleh Peduli bagaimana kiatnya untuk menyisati harga jual makanan agar pelanggan tak kabur ketika terjadi kenaikan harga bahan baku masakan yang terkadang fluktuatif tergantung pada keadaan, pria asal Bogor berumur 36 tahun ini mengatakan kalau nilai kenaikan bahan baku tidak berkelanjutan maka kenaikan harga jual tidak perlu dilakukan.

”Paling kalau harga BBM naik aja yang mau nggak mau terpaksa harga jual menu ikut naik. Buat kami kalau selama ada profit, itu harga jual nggak perlu naik. Kecuali kalau sudah chaos gitulah baru ambil action harga jual menu baru naik. Karena kami bahan bakunya ikan semua jadi di sini nggak mungkin memberlakukan subsidi silang. Jadi naik satu ya naik semua. Tapi kalau kenaikan harga bahan baku yang sifatnya cuma sementara aja dan tidak berkelanjutan ya kami nggak menaikan harga. Misalnya pas lebaran yang lalu, harga ikan tengiri yang biasanya 1 kg cuma 36 ribu tiba-tiba naik menjadi 50 ribu, karena kenaikan ini cuma sementara dan kami masih ada keuntungan jadi kami tidak menaikah harga jual. Karena kenaikannya cuma sementara aja. Habis itu harga ikan kembali normal lagi,”katanya membeberkan kiatnya.[niken anggraini]

Pekerjaan dan Hobi Jalan Terus

Menjadi pekerja sekaligus menjadi pelaku usaha UMKM ternyata bisa dilakoni oleh perempuan yang satu ini. Disamping masih aktif menjadi juru warta disebuah tabloid yang terbit di Surabaya, istri dari Achmad Setyoadi ini juga getol menjadi wirausahawan kecil-kecilan menyeriusi usaha yang berawal dari hobinya sejak dulu.

Tak selamanya menjadi pekerja dan pebisnis tak bisa dilakoni secara bersamaan. Hal ini dibuktikan perempuan kelahiran Surabaya, 2 Februari 1982 silam ini. Usai berkosentrasi menulis berita, ia bisa saja segera beralih berkosentrasi membuat bros cantik untuk mempermanis penampilan seorang muslimah.




Dimata Rere Nia Achmad, jarum, benang dan kain perca bisa mencuri perhatiannya ketika ia penat dengan pekerjaannya. Meski bukan penjahit, tapi wanita yang pernah menulis buku Kisah Klasik Penyandang Disabilitas yang digagas oleh Peduli Difabel ini juga mahir mengubah guntingan-guntingan kain perca yang ada menjadi bentuk bros yang cantik.

”Menurut saya ini kegiatan yang sederhana. Mendesain bros, dijahit sana-sini, bisa jadi semacam pelarian lelah saya ketika bosan dengan pekerjaan,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Rere ini kepada Peduli.

Ketika disinggung mengapa ia masih melakoni kegiatan mencari uang meski sudah memiliki penghasilan tetap tiap bulan, perempuan berzodiak Aquarius ini mengaku ingin mendapatkan tambahan penghasilan disamping mendapatkan penghasilan dari pekerjaan rutinnya sebagai kuli tinta saat ini.

”Saya pengen punya penghasilan tambahan tapi tidak menganggu pekerjaan rutin saya. Kan bisa jadi usaha untuk bekal hari tua,” imbuhnya.




Ide memulai usaha pembuat bros ini dimulai pada 19 September 2012 silam. Waktu itu ia ingin membuka bisnis online tanpa modal awal. Dia pun membangun butik virtual yang kala itu dikhususkan untuk menjual busana muslimah dan anak-anak melalui alamat blog di http://raniasuit.blogspot.com. Butik online itu diberi nama Rania yang memiliki arti cantik. Selain itu Rania juga merupakan kependekan dari namanya sendiri Radian R. Nia. Di butik ini, ia hanya menjadi perantara penjualan dari pemilik merek busana itu. Jika ada penjualan dari butiknya barulah ia mendapatkan keuntungannya.

Sayangnya perempuan yang juga terlibat dalam penulisan buku Entrepreneur Story hasil kompetisi menulis di Es Teler 77 ini tidak memiliki keahlian dalam berniaga dan menawarkan barang-barang dagangannya. Beruntunglah ia punya sahabat yang membantunya. Dari sahabatnya yang bernama Agustina itulah Rere mengaku banyak belajar berbinis. Mulailah ia menjadi reseller dari salah satu merek busana muslimah.

”Urusan penyediaan dan pengiriman barang dibantu oleh Mbak Tina (panggilan Agustina). Saya melayani customer yang order dan promo,” lanjut anak kedua dari tiga bersaudara.

Rupanya, blog Butik Online Rania mendapat respon positif. Butik ini banyak dikunjungi orang. Agar lebih bervariatif lagi barang-barang di butik onlinenya itu Rere pun menambah barang dagangannya dengan menjual bros-bros hasil karya teman-temannya. Lamban laun, Rere terpikir untuk memajang bros handmade-nya sendiri. Berbekal dari seringnya ia melihat cara membuat bros dari buku-buku dan berekperimen membuat bros sendiri maka munculah pemikiran untuk menjual bros buatannya itu. Dengan modal Rp 50.000 ia mulai kulakan bahan aneka kain untuk bahan membuat bros. Beruntung Rere memiliki ibu yang rajin mengumpulkan kain sisa dari menjahitkan baju. Ia juga memiliki seorang budhe yang bekerja sebagai penjahit, sehingga sisa kain perca bisa dihibahkan padanya. Dengan begitu biaya bahan untuk membuat bros lumayan tersedia.
”Jujur waktu itu saya nggak pede sama sekali menjual bros-bros buatan saya. Saya bukan orang yang expert membuat bros. Tapi justru teman saya membantu meyakinkan,”jelasnya.

Perempuan yang mengaku doyan makan bakso dan mie ayam ini tidak menyangka kalau bros-bros buatannya yang berbagai model itu akhirnya mendapat sambutan yang bagus dari khalayak. Dari waktu ke waktu grafik penjualan brosnya semakin naik. Agar pelanggan tak kecewa Rere pun berusaha memprioritaskan kualitas bros handmade-nya ketimbang kuantitas barang produksi. Bros-bros ini diberi label Rania sama dengan nama butiknya.

Selain berjualan secara online pemilik kulit sawo matang ini juga giat membawa bros-bros buatannya saat ia pengajian. Dari berjualan di pengajian ini juga rasa percaya diri Rere makin berkembang. Respon positif dari pembeli makin meyakinkannya kalau bros buatannya sangat diminati pasar. Ia pun gencar mengikuti sejumlah bazar yang ada di dalam dan luar kota. Bahkan hingga keluar pulau. Butik online dan bros handmade Rania juga menjadi sponsor acara. Aneka bros-bros cantik dari bahan kain kaos, katun, sifon dan flanel dipadu dengan kancing bikinannya ini dijual di mall, pusat perbelanjaan, toko souvenir dan busana yang ada di Surabaya dan Sidoarjo.

”Sebagai pemula didunia bisnis, ini adalah langkah kecil yang menyenangkan. Semua tidak lepas dari doa orang-orang baik di sekeliling saya, dan yang utama izin suami dan ridha Allah SWT,” ungkapnya.

Ketika ditanya soal harga jual, wanita yang belum dikaruniai keturunan ini menyebutkan harganya ramah dikantong. Murah tapi tidak murahan, begitu dia menegaskan. Pembelian grosir atau minimal 12 buah, harga terendah Rp 3000 perbuah.

”Saya sengaja melayani grosir karena ada beberapa pembeli yang ingin menjual kembali bros-bros Rania. Klik saja di facebook Rania Suit Suit atau blog-nya,” kata Rere setengah berpromosi.[niken anggraini/foto dok:pribadi]

Minggu, 30 Desember 2012

SELAMAT TAHUN BARU 2013

Selamat! Kita sudah memasuki tahun yang baru. Jangan lupa bersyukur, Yang Mahakuasa telah memberikan kepada kita kesempatan untuk meghirup udara tahun baru (2013) ini. Dan berdoalah kita, semoga udara yang kita hirup semakin bersih dari segala bibit penyakit. Dan dengan semangat makin membaja kita tantang masa depan yang jauh membentang. Bukankah peta sudah dibuat, dan segala bekal semakin siap? Lalu dengan kerja kita bentangkan layar. Sebab harapan tak boleh pupus, harus semakin mekar.


Jika menjelang perayaan tahun baru Anda sempat mengintip dinding Facebook teman-teman kita, Anda akan mendapati bahwa mereka sudah bulat dengan rencana perayaan tahun baru, dengan cara mereka masing-masing. Beberapa di antaranya merencanakan pesta, makan bersama, joget bersama. Seolah mereka lupa, pesta sering membuat orang mabuk. Bukan karena minuman beralkohol, tetapi kemeriahan itu cenderung membuat orang melayang di awang-awang yang salah, bermimpi tanpa juntrungan, bukan mimpi yang berhimpitan dengan rencana-rencana yang kita susun, yang bahkan, mungkin, sudah mulai atau lewat setengah jalan. Bukan mimpi yang kita tunggu menjelma kenyataan. Mimpi orang di dalam kemeriahan pesta biasanya adalah tujuan itu sendiri. Dan itu maya alias semu. Suka-cita yang disebut orang Jawa: ”Mung sagebyare thathit,” (= hanya sekelebat kilat).

Apakah kita tak boleh berpesta? Oh, tentu boleh. Yang tidak boleh atau sebaiknya tidak, adalah: menyiapkan diri untuk tenggelam di dalam pesta itu dan karenanya yang tertanam di dalam kesadaran kita hanyalah bahwa tahun baru adalah ketika kembang api dinyalakan. Mungkin kita suntuk semalaman hingga terkapar, mabuk kesenangan. Hingga ketika bangun keesokan harinya, dalam sadar sesadar-sadarnya pun tetap saja tidak tahu pada kordinat mana kita berdiri. Dan titik mana mesti kita parani (tuju). Dan dalam konteks seperti inilah ayat ini, ”Demi waktu, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian…” sungguh pas banget!

Sering kita merasa sadar, merasa tahu, padahal kita nyaris tak ubahnya manusia tidur berjalan. Atau seperti ranting hanyut di arus deras, dan sambil bersiul atau bernyanyi riang kita biarkan tubuh dan jiwa kita terbawa arus, yang kadang disebut tren, mode, gaya hidup anak gaul, atau apa-pun-lah sebutannya. Sering batin kita berteriak, ”Inilah aku!” Tetapi, jagad sakisine atau seru sekalian alam hanya mendengar teriakan itu sebagai sebuah igauan, sebab pada saat yang sama masing-masing kita tidak pernah dapat menjadi ’aku.’ Tampaknya, memang, kita tak lebih dari sebuah kerumunan. Kecuali, mereka yang kapan dan di mana pun selalu sadar takaran. Semoga, di dalam perkecualian itu ada engkau, juga saya! Amin. Selamat tahun baru. Merdeka!

Kamis, 13 Desember 2012

Siska Sumartono: ”Barang Kita harus Limited Edition”

Selama ini sulam sering berkonotasi jadul. Maka, ibu 3 anak ini ingin sulam digemari anak-anak muda. Melalui label Sari Ronche miliknya, ia mulai mengaplikasikan sulamannya itu pada celana jeans, rok jeans, overcoat dan blus kerja wanita.Tak ayal, segala jenis produk buatannya bisa bernilai jual tinggi.
Siska menunjukan salah satu aplikasi sulam pada baju

Semula, istri Stefanus Sumartono ini tak pernah membayangkan kalau keahliannya menyulam sejak kecil itu bisa dijadikan lahan untuk mengais rezeki. Ini terbukti lulusan STM Pembangunan Teknik Kimia alumni tahun 1990 ini tercatat malah pernah bekerja di sebuah perusahaan kosmetik selama 17 tahun. Tak tanggung-tanggung, kala itu posisinya sudah bukan karyawan biasa. Namun, dalam perjalanannya itu akhirnya ia menyadari bahwa menjadi karyawan bukanlah minatnya.

”Aku sudah 17 tahun kerja di perusahaan kosmetik. Itu posisinya sudah bagus dan punya anak buah 200 orang. Tapi, akhirnya aku ngerasa di situ bukanlah passion-ku. Aku resign tahun 2007. Dari situ aku ngerasa ingin mulai berbisnis kecil-kecilan. Kebetulan suka sulam sejak kecil. Jadi ya mulai buat produk terus ikut pameran, masuk ke instansi pemerintah dan akhirnya bisa ketemu banyak komunitas yang akhirnya menginspirasi supaya lebih baik lagi,” katanya.
Sulam pada baju bolero

Di saat awal menerjuni bisnis sulam, semula ibu dari Frans Galih Sumartono (15), Imanuel Gading Sumartono (10), Nikolas Ganesya Sumartono (4) ini menjalin kerja sama dengan salah seorang temannya yang memiliki usaha busana muslim ternama di Surabaya. Ia menyulam baju-baju muslim hasil rancangan sang teman tersebut. Namun, akhirnya pada 2009 ia memutuskan untuk mendirikan CV sendiri dan mengeluarkan produk yang diberi nama Sari Ronche.

”Aku awalnya kerja sama dengan temenku yang punya merek baju muslim terkenal di Surabaya. Aku banyak belajar dari dia. Tapi, akhirnya aku putuskan kerja sendiri dengan mendirikan Sari Ronche di tahun 2009. Dengan pesangonku dari perusahaan kosmetik dulu,” imbuhnya.

Banyak terinsiprasi dari baju muslim yang rata-rata disulam maka perempuan kelahiran Surabaya 21 Maret 1970 ini mulai menggunakan sulam pada baju kerja miliknya dan baju-baju yang biasanya dipakai anak muda zaman sekarang.

”Baju-baju kerjaku aku sulam. Itu banyak terinspirasi oleh baju-baju muslim yang disulam pada waktu itu. Karena bukan jiwaku, nuwun sewu saya kurang suka dengan baju-baju yang tertutup, saya suka baju yang modis. Karena sulam imagenya selama ini identik dengan sesuatu yang kuna, jadul, muslim, atau mungkin taplak meja aja, jadi saya ingin mencoba sesuatu yang bisa diterima anak muda. Intinya aku ingin sulam itu bisa dipakai anak muda, ini hanya masalah peletakan sulam, pilihan warna dan desainnya aja kok. Kamu bisa tampil manis dengan sulam. Jadi rok jeans saya sulam. Harga beli jeansnya semula Rp 125.000 atau Rp 150.000, setelah disulam harga jualnya jadi 3 x lipat,” pemilik usaha yang beralamat di Karang Menjangan 8/4 Surabaya ini mengisahkan.

Industri Kreatif

Dengan menyulam desain rumput, perdu, kupu-kupu, capung, rumah laba-laba ataupun pemandangan dan burung, produk-produk keluaran Sari Ronche bahkan bisa menembus harga hingga Rp 2,8 juta untuk sebuah baju saja. Ada kalanya juga penulis buku Baju Kerja Berbahan Tenun Jatim ini menambahkan aksen goni yang ia sulam untuk mempercantik baju-baju rancangannya tersebut. Produk-produk buatan Siska ini bahkan sudah digemari oleh masyarakat yang ada di Balikpapan, Samarinda, Palangkaraya, Jakarta, Ternate dan Palembang.

Perihal harga jual yang mahal, Siska mengatakan tidak ada batasan atau patokan khusus jika itu berkaitan dengan produk seni. Asalkan baju itu berkualitas dan desainnya tidak ’pasaran’ maka harga jual dari suatu produk bisa saja bervariasi.

”Harga jual itu dipengaruhi kualitas bahan, desain, dan kerapian. Untuk sesuatu yang berbau seni, karena sulam juga pekerjaan seni, kita tidak bisa mengukur atau di break down misalnya biaya produksi 25 ribu terus harga jualnya tinggal ditambah 30% dari harga produksi tadi sudah cukup. Tidak bisa begitu. Tapi, dengan catatan barangnya bagus ya. Tidak pasaran. Tidak sama dengan barang-barang konveksi. Istilahnya barang kita harus limited edition. Trik berbisnis saya, saya banyak bermain di pasar atas. Kalau saya mau merebut pangsa kelas bawah jelas saya kalah sama yang punya ratusan karyawan, saya terbentur tenaga kerja juga. Saya juga nggak mau barang saya pasaran. Saya ingin menggaji karyawan saya dengan layak juga. Jadi harga jual tidak ada patokannya,” tuturnya.
Sulam pada bungkus kotak tisu

Siska memang tidak sekadar berproduksi, tidak asal menghasilkan barang sebanyak-banyaknya untuk memburu keuntungan yang lebih besar, melainkan dengan mengoptimalkan daya kreasinya. Begitulah cara kerja industri kreatif yang sering didengung-dengungkan belakangan ini. (niken anggraini)

Rabu, 05 Desember 2012

Sahani: Berjuang bersama Petani



Mencari kios Sahani bukan pekerjaan mudah. Kios di Jalan Palagan Tentara Pelajar, Jongkang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini, letaknya memang agak menjorok ke dalam. Sebuah patung perempuan bercaping dengan keranjang berisi hasil bumi di tangan kanannya, terpajang di halaman. Apa sih sebenarnya Sahani itu? Sejak memasuki halamannya, kita akan merasa bahwa kios ini bukan kios seperti pada umumnya. Pada dinding depan terpajang baliho besar bertuliskan ’’Sahabat Petani Organik’’. Demikian juga ketika masuk ke dalam ruang, informasi mengenai pertanian organik dan kondisi pertanian Indoneisa dapat kita temukan dalam bentuk poster yang terpasang di dinding serta berbagai brosur yang tersusun di meja.

Kios itu diberi nama ’Sahani’ yang berarti sahabat petani. Dengan slogan aman, sehat, adil, Sahani berkiprah di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya dengan menjadi sahabat petani organik memasarkan hasil produksinya. Pertanian organik dipilih Sahani bukan saja karena lebih sehat karena terbebas dari unsur-unsur kimia, melainkan karena adanya nilai besar yang diusung pada saat pendiriannya.

Prihatin

Menurut Imam Hidayat, Manajer Sahani, awalnya Sahani merupakan bagian dari kelompok kerja yang membawahi urusan bisnis Konsorsium Masyarakat Fair Trade yang berdiri di Yogyakarta pada tahun 1991. Kelahiran konsorsium ini sendiri dilatarbelakangi oleh keprihatinan atas buruknya kondisi petani di Indonesia.

Sebagai tulang punggung pemenuhan kebutuhan pangan pokok, petani tidak pernah menjadi tuan bagi usaha pertaniannya. Segala hal yang berkaitan dengan pertanian telah ditentukan harganya oleh pihak luar, seperti harga benih, harga pupuk, bahkan harga jual produk pertanian. Dengan kondisi demikian, petani tak beda dengan buruh di tanah sendiri.

Sebagai langkah awal keluar dari jerat tersebut, dirintislah usaha pertanian organik di beberapa wilayah seperti Magelang, Muntilan, Boyolali, Klaten, Sragen, dan Kebumen di wilayah Jawa Tengah dan Sleman, DI Yogyakarta. Budi daya pertanian organik dipilih karena dalam keseluruhan proses memperhatikan kearifan lokal dan juga ramah lingkungan.

Lebih dari itu, benih tanaman yang dibudidayakan merupakan tanaman lokal --bukan merupakan hasil rekayasa genetic-- yang pemuliaannya sepenuhnya berada dalam tangan petani. Penekanan pada kemandirian petani ini penting karena selama ini, sejak digulirkannya Revolusi Hijau tahun 1970-an, petani tidak memiliki kedaulatan atas jenis padi yang mereka tanam, pupuk yang mereka gunakan, sampai pada tingkat harga produk yang merka hasilkan.

Lebih Mahal

Sebagai sebuah upaya penghargaan terhadap para petani, Sahani mematok harga produksi pertanian di atas harga rata-rata bahan pangan yang dijual di pasaran. Sebagai contoh beras jenis C4 yang di pasar saat ini dijual dengan harga sekitar Rp5.000,00/kg, oleh Sahani dijual dengan harga Rp7.000,00/kg. Itu merupakan harga beras terendah yang dijual oleh Sahani.

Beras lokal yang merupakan produk andalan Sahani dijual lebih tinggi dari harga tersebut. Misalnya mentik Rp7.500,00/kg, beras merah Rp8.000,00/kg, dan rojolele Rp9.000,00/kg. Tahun ini bahkan mulai diproduksi dan dipasarkan juga beras hitam, sebuah varietas yang hampir punah dengan harga jual di tingkat konsumen Rp15.000,00/kg.

Selain beras, Sahani juga menyediakan berbagai hasil pertanian lain seperti sayuran, berbagai jenis kacang (kacang hijau, kedelai, dsb.) dan produk olahan dari hasil pertanian tersebut seperti kecap, emping garut, pati ganyong, dan lain-lain.

Meski harganya cukup tinggi, sejauh ini Sahani tidak mengalami kesulitan berarti dalam hal pemasaran. Hal itu disebabkan pangan organik memiliki segmen pasar tersendiri. Selain mereka yang berkeinginan untuk meningkatkan kualitas kesehatan, masyarakat yang paham akan ketidakadilan dalam sistem pertanian menjadi segemen utama pemasaran produk-produk pertanian organic tersebut.

Idealisme

Sebagai sebuah lembaga bisnis yang menjunjung tinggi idealisme, Sahani hanya bersedia menjadi mitra bisnis petani yang mengorganisasikan diri. Saat ini setidaknya terdapat 11 kelompok tani di wilayah sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta yang bermitra dengan Sahani. Selain membantu dalam memasarkan hasil pertanian kelompok-kelompok tersebut, Sahani juga berusaha membantu kelompok tersebut dalam hal penguatan kapasitas.

Dalam upaya penguatan kapasita, Sahani biasanya menggandeng lembaga mitranya yang bergelut dengan isu-isu yang dibutuhkan oleh kelompok. Demikian juga ketika sebuah kelompok tani menghadapi masalah berkait dengan ketidakadilan struktural yang mereka hadapi, Sahani akan mencarikan lembaga mitra yang mampu mendampingi kelompok tersebut memperjuangkan keadilan.

Dalam hal memasarkan produk pertanian anggota kelompok, Sahani juga menerapkan sebuah idealisme tersendiri. Bersama kelompok-kelompok tani, Sahani membuat kesepakatan bahwa setiap kali panen, petani harus menyisihkan sepertiga di antaranya sebagai bahan pangan keluarga. Sepertinya lainnya untuk kegiatan sosial di tempat tinggalnya (seperti nyumbang dalam tradisi Jawa), dan sepertiga lagi untuk dijual.

Pada awalnya ini bukan hal yang mudah dilakukan. Banyak petani tergiur untuk menjual semua hasil pertaniannya karena harganya lebih tinggi dari produk pertanian non-organik dan memenuhi kebutuhan pangan mereka dari produk non-organik. Kondisi demikian tentu tidak akan merubah situasi ketertindasan petani. Itulah mengapa Sahani kemudian merasa perlu membuat kesepakatan dengan mereka.

Jaringan Pemasaran

Saat ini jaringan pasar Sahani telah terbangun di empat kota yaitu Yogyakarta, Jakarta, Bogor, dan Surabaya. Meningkatnya kesadaran hidup masyarakat dan berkembangnya gaya hidup kembali ke alam menjadikan minat konsumen akan pangan organik semakin meningkat. Namun demikian, tanpa stabilitas ekonomi yang baik, peningkatan kesadaran tersebut tidak berbanding lurus dengan perluasan dan perkembangan pasar produk organik karena tingginya harga.

Meski di sisi pemasaran cukup stabil, hingga saat ini Imam tetap merasakan kegelisahan berkait dengan kesadaran masyarakat akan kondisi pertanian di negri ini. Menurut dia, sejauh ini konsumen Sahani lebih banyak mengkonsumsi produk-produk pertanian organic karena alasan kesehatan dan bukan alasan pemahaman akan hak-hak petani. Kenyataan ini menjadikan Imam dan teman-temannya di Sahani merasa perlu melakukan upaya lebih keras lagi untuk menyebarluaskan informasi kedaulatan petani ini kepada konsumen, baik melalui selebaran maupun perbincangan langsung dengan mereka. [am]