Sabtu, 02 Februari 2013

Pekerjaan dan Hobi Jalan Terus

Menjadi pekerja sekaligus menjadi pelaku usaha UMKM ternyata bisa dilakoni oleh perempuan yang satu ini. Disamping masih aktif menjadi juru warta disebuah tabloid yang terbit di Surabaya, istri dari Achmad Setyoadi ini juga getol menjadi wirausahawan kecil-kecilan menyeriusi usaha yang berawal dari hobinya sejak dulu.

Tak selamanya menjadi pekerja dan pebisnis tak bisa dilakoni secara bersamaan. Hal ini dibuktikan perempuan kelahiran Surabaya, 2 Februari 1982 silam ini. Usai berkosentrasi menulis berita, ia bisa saja segera beralih berkosentrasi membuat bros cantik untuk mempermanis penampilan seorang muslimah.




Dimata Rere Nia Achmad, jarum, benang dan kain perca bisa mencuri perhatiannya ketika ia penat dengan pekerjaannya. Meski bukan penjahit, tapi wanita yang pernah menulis buku Kisah Klasik Penyandang Disabilitas yang digagas oleh Peduli Difabel ini juga mahir mengubah guntingan-guntingan kain perca yang ada menjadi bentuk bros yang cantik.

”Menurut saya ini kegiatan yang sederhana. Mendesain bros, dijahit sana-sini, bisa jadi semacam pelarian lelah saya ketika bosan dengan pekerjaan,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Rere ini kepada Peduli.

Ketika disinggung mengapa ia masih melakoni kegiatan mencari uang meski sudah memiliki penghasilan tetap tiap bulan, perempuan berzodiak Aquarius ini mengaku ingin mendapatkan tambahan penghasilan disamping mendapatkan penghasilan dari pekerjaan rutinnya sebagai kuli tinta saat ini.

”Saya pengen punya penghasilan tambahan tapi tidak menganggu pekerjaan rutin saya. Kan bisa jadi usaha untuk bekal hari tua,” imbuhnya.




Ide memulai usaha pembuat bros ini dimulai pada 19 September 2012 silam. Waktu itu ia ingin membuka bisnis online tanpa modal awal. Dia pun membangun butik virtual yang kala itu dikhususkan untuk menjual busana muslimah dan anak-anak melalui alamat blog di http://raniasuit.blogspot.com. Butik online itu diberi nama Rania yang memiliki arti cantik. Selain itu Rania juga merupakan kependekan dari namanya sendiri Radian R. Nia. Di butik ini, ia hanya menjadi perantara penjualan dari pemilik merek busana itu. Jika ada penjualan dari butiknya barulah ia mendapatkan keuntungannya.

Sayangnya perempuan yang juga terlibat dalam penulisan buku Entrepreneur Story hasil kompetisi menulis di Es Teler 77 ini tidak memiliki keahlian dalam berniaga dan menawarkan barang-barang dagangannya. Beruntunglah ia punya sahabat yang membantunya. Dari sahabatnya yang bernama Agustina itulah Rere mengaku banyak belajar berbinis. Mulailah ia menjadi reseller dari salah satu merek busana muslimah.

”Urusan penyediaan dan pengiriman barang dibantu oleh Mbak Tina (panggilan Agustina). Saya melayani customer yang order dan promo,” lanjut anak kedua dari tiga bersaudara.

Rupanya, blog Butik Online Rania mendapat respon positif. Butik ini banyak dikunjungi orang. Agar lebih bervariatif lagi barang-barang di butik onlinenya itu Rere pun menambah barang dagangannya dengan menjual bros-bros hasil karya teman-temannya. Lamban laun, Rere terpikir untuk memajang bros handmade-nya sendiri. Berbekal dari seringnya ia melihat cara membuat bros dari buku-buku dan berekperimen membuat bros sendiri maka munculah pemikiran untuk menjual bros buatannya itu. Dengan modal Rp 50.000 ia mulai kulakan bahan aneka kain untuk bahan membuat bros. Beruntung Rere memiliki ibu yang rajin mengumpulkan kain sisa dari menjahitkan baju. Ia juga memiliki seorang budhe yang bekerja sebagai penjahit, sehingga sisa kain perca bisa dihibahkan padanya. Dengan begitu biaya bahan untuk membuat bros lumayan tersedia.
”Jujur waktu itu saya nggak pede sama sekali menjual bros-bros buatan saya. Saya bukan orang yang expert membuat bros. Tapi justru teman saya membantu meyakinkan,”jelasnya.

Perempuan yang mengaku doyan makan bakso dan mie ayam ini tidak menyangka kalau bros-bros buatannya yang berbagai model itu akhirnya mendapat sambutan yang bagus dari khalayak. Dari waktu ke waktu grafik penjualan brosnya semakin naik. Agar pelanggan tak kecewa Rere pun berusaha memprioritaskan kualitas bros handmade-nya ketimbang kuantitas barang produksi. Bros-bros ini diberi label Rania sama dengan nama butiknya.

Selain berjualan secara online pemilik kulit sawo matang ini juga giat membawa bros-bros buatannya saat ia pengajian. Dari berjualan di pengajian ini juga rasa percaya diri Rere makin berkembang. Respon positif dari pembeli makin meyakinkannya kalau bros buatannya sangat diminati pasar. Ia pun gencar mengikuti sejumlah bazar yang ada di dalam dan luar kota. Bahkan hingga keluar pulau. Butik online dan bros handmade Rania juga menjadi sponsor acara. Aneka bros-bros cantik dari bahan kain kaos, katun, sifon dan flanel dipadu dengan kancing bikinannya ini dijual di mall, pusat perbelanjaan, toko souvenir dan busana yang ada di Surabaya dan Sidoarjo.

”Sebagai pemula didunia bisnis, ini adalah langkah kecil yang menyenangkan. Semua tidak lepas dari doa orang-orang baik di sekeliling saya, dan yang utama izin suami dan ridha Allah SWT,” ungkapnya.

Ketika ditanya soal harga jual, wanita yang belum dikaruniai keturunan ini menyebutkan harganya ramah dikantong. Murah tapi tidak murahan, begitu dia menegaskan. Pembelian grosir atau minimal 12 buah, harga terendah Rp 3000 perbuah.

”Saya sengaja melayani grosir karena ada beberapa pembeli yang ingin menjual kembali bros-bros Rania. Klik saja di facebook Rania Suit Suit atau blog-nya,” kata Rere setengah berpromosi.[niken anggraini/foto dok:pribadi]
Reaksi:

0 komentar: