This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 25 September 2009

Sate Kobra [2]

Sate Kobra dan Vitalitas Laki-laki

Ular kobra adalah hewan berbisa yang sangat mematikan. Hanya ada sedikit orang yang terpikir untuk memelihara apalagi memakannya. Tapi siapa sangka bagian-bagian tubuhnya justru sangat bermanfaat bagi kesehatan? Agoes Pramono adalah salah satu orang yang berani ‘bermain’ dengan ular dan membuka kedai sate kobra yang dijaganya sendiri di jalan Raya Gubeng, Surabaya. Seperti apakah sate kobra itu?


Pertama kali melihat sate kobra, sepintas akan terlihat seperti sate biasa. Disajikan dalam tusukan bambu dengan bumbu kecap membuat orang tanpa ragu bakal langsung menyantapnya. Memang, dagingnya terasa lebih kenyal daripada daging ayam. Tapi rasanya tidak kalah lezat.

’’Darah kobra punya banyak manfaat, bisa menyembuhkan berbagai penyakit dalam seperti maag, asam urat dan diabetes,’’ ungkap Agoes.

Darah kobra ini bisa membantu menetralisir racun dalam tubuh. Selain itu, darah kobra juga dapat membantu menstabilkan metabolisme tubuh, sebagai vitalitas dan meningkatkan kejantanan cowok.

Selain sate kobra, kedainya juga menyediakan variasi lain, yaitu sate biawak. Selain diolah menjadi sate, ular kobra dan biawak juga dibumbu rica-rica. Cara mengolahnya, pertama daging digoreng. Lalu diberi bumbu kecap akan menggugah selera orang yang melihat untuk segera menyantapnya.

Bagi yang nggak punya banyak waktu atau nggak berselera untuk memakannya dalam bentuk makanan, Agoes juga menyediakannya dalam bentuk seduhan jamu. Jamu ini diolah dari empedu, sumsum, dan darah ular kobra. Tapi, jangan khawatir untuk meminumnya. Sebab, meski terbuat dari darah, sumsum dan empedu kobra, tapi rasanya tidak seamis yang dibayangkan. Agoes punya cara tersendiri untuk meramu jamu bikinanya itu. Sayang, dia tak mau membagi resepnya.

’’Ini bisa meningkatkan kejantanan lho,’’ selorohnya sambil menunjukkan sebuah artikel dari majalah yang pernah mengulas khasiat jamunya untuk kejantanan pria.

Selain sate dan jamu, Agoes juga menyediakan minyak yang diambil dari daging kobra, bulus dan biawak. ’’Kalau biawak ini khasiatnya bisa untuk membantu menyembuhkan penyakit asma dan membantu menyembuhkan alergi,’’ ungkapnya.
Beraneka jenis sajian itu bisa dinikmati dengan harga yang tidak terlalu mahal. Untuk dapat menikmati paket jamu, Anda cukup merogoh kocek Rp 50 ribu setiap paketnya. Sedangkan untuk sate hanya Rp 20 ribu per bungkus.

Kalau masakan rica-rica lebih murah lagi, cukup dengan Rp 10 ribu saja, Anda sudah bisa menikmati kelezatan dan khasiatnya. Karena harganya sangat murah itulah yang memancing orang untuk beramai-ramai menikmatinya. Tak heran, Agoes dapat meraih keuntungan bersih sekitar Rp 3 juta per bulan yang digunakannya untuk menyekolahkan ketujuh anaknya. [NUY]

Sate Kobra [1]

Raih Keuntungan Rp 3 Juta per Bulan

Jika ada orang yang pantas dipuji karena hobinya yang tak lazim, dia adalah Agoes Brewok (44). Pasalnya, dari hobi yang tak lazim itulah dia bisa menjalankan sebuah bisnis hampir tanpa modal sama sekali dan mampu menghasilkan omzet Rp 5 juta per bulan. Rp 3 juta diantaranya adalah keuntungan bersih yang diperolehnya dari kecintaannya ‘bermain’ dengan ular.


Hobi yang ditekuni oleh pemilik nama asli Agoes Pramono ini boleh dibilang cukup berbahaya. Dia memiliki hobi memelihara dan bermain dengan ular. Bahkan, ular yang dipeliharanya bukanlah ular sembarangan, melainkan ular kobra yang dikenal paling berbisa di dunia. Wuih, serem ya!

’’Saya menekuni hobi ini sejak kelas 4 SD,’’ aku Agoes mengawali kisahnya.

Bakatnya ’bermain’ dengan ular ini tampaknya memang mengalir dalam darah keluarganya. Agoes yang mengaku masih memiliki darah Keraton Jogjakarta ini mengaku memperoleh kemampuan dari leluhurnya. Kemampuan uniknya ini juga menurun kepada anak-anaknya. Bahkan, anak ke-4 dan ke-5-nya, Ferry dan Yudha sempat diundang untuk tampil di beberapa acara televisi untuk menunjukkan kemampuannya ’bermain’ dengan ular yang sangat berbisa ini.

Hobi inilah yang mengantarkan dirinya menjadi pemilik kedai sate Kobra dan Biawak di Jalan Raya Gubeng yang terletak tak jauh dari Hotel Sahid. Pria kelahiran 4 Juni 1963 ini boleh dibilang cukup nekat. Pasalnya, dengan hanya berbekal ijazah STM dari Jogjakarta, kota kelahirannya, dia nekat merantau dan mencari pekerjaan hingga ke Surabaya.

’’Saya sempat kerja di kontraktor lho,’’ ungkapnya seraya tersenyum. Agoes memang sempat menjadi seorang teknisi pemasangan elevator dan eskalator di sebuah perusahaan swasta.

Saat tinggal di Surabaya ini, Agoes mulai melanjutkan kegemarannya pada binatang buas itu. Akhirnya, dengan dukungan dari teman-temannya, pada 1987 Agoes membuka kedai yang menyediakan sate daging kobra serta berbagai olahan organ kobra sebagai jamu. Lokasinya saat itu tepat berada di samping Hotel Sahid, Gubeng dan hanya berbekal sebuah warung kecil. Namun, lantaran bisnisnya ini tergolong kaki lima, maka ia kerap menerima obrakan alias penggusuran dari Satpol PP. Hingga akhirnya ia bergeser beberapa meter dari lokasi awal. ’’Yah, namanya juga pedagang kaki lima, sering kena obrak,’’ gerutunya.

Bila ditanya soal modal awal pendirian kedai sate kobra ini, Agoes mengaku usahanya tersebut dibuka hampir tanpa modal. Wah, kok bisa ya?

’’Soalnya ular-ularnya saya tangkap sendiri,’’ ungkapnya.
Kemudian, ia sendiri pula yang mengolahnya menjadi sebuah sajian yang lezat dan berkhasiat bagi tubuh. Agoes memilih usaha ini selain lantaran ular memiliki banyak manfaat, menurutnya, bisnis ini juga sangat menjanjikan. Sebab, dari segi persaingan tak banyak yang mau menggeluti dunia ini. Tak pelak, omzet yang diraihnya pun cukup menguntungkan. Dalam sebulan, dari usaha kedainya saja, Agoes bisa meraih penghasilan sekitar Rp 5 juta. Sebuah penghasilan yang cukup tinggi untuk usaha kaki lima yang telah digelutinya selama 20 tahun ini memang.

’’Sebaiknya buka usaha itu yang saingannya sedikit supaya hasilnya juga lumayan besar,’’ ucapnya santai.

Terbukti, sejak berjualan sate kobra Agoes mulai mencoba binatang lain untuk dijadikan santapan atau jamu. Ia mulai mencoba meracik biawak untuk dimasak sate dan rica-rica serta bulus untuk diambil minyaknya. Alhasil, Agoes pun membuka klinik pengobatan alternatif di rumahnya, jalan Gubeng Klingsingan, Surabaya.

’’Saya pernah dapat piagam dari UNICEF, dan dari TMII (Taman Mini Indonesia Indah),’’ ungkap Agoes sambil menunjukkan piagam dan potongan-potongan artikel dari berbagai media tentang usahanya ini.

Diampiri Dewi Persik
Pengetahuannya tentang pengobatan alternatif itulah yang membuatnya mampu mengolah ular Kobra menjadi sebuah jamu yang menyehatkan. ’’Tapi, ini (mengolah ular-Red) nggak bisa sembarangan lho. Kalau salah bisa celaka,’’ wanti-wanti Agoes yang pernah koma selama sembilan hari karena dipatok oleh ular Kobranya.

Usaha yang dibuka Agoes ini memang bukanlah tanpa kendala. Lantaran usahanya ini tergolong kaki lima, maka tak jarang dia juga berurusan dengan penggusuran Satpol PP. Meski demikian, bapak tujuh putra ini tetap berjuang untuk melanjutkan usahanya hingga kini telah berusia 20 tahun. Usaha kedai ular kobra dan biawak miliknya ini tergolong sangat sukses. Dalam sebulan Agoes mampu meraih omzet hingga Rp 5 juta, Rp 3 juta di antaranya adalah keuntungan bersih yang diperolehnya dari hobinya menggeluti ular berbisa. Ini diperolehnya dari 10 hingga 20 orang pembeli yang mampir ke kedainya saban hari.

’’Itu belum termasuk yang pesan, ada juga yang dari luar negeri seperti Jepang dan RRC,’’ terangnya dengan bangga.

Bahkan, beberapa selebriti Jakarta dan pejabat kota baik dari Surabaya maupun luar pulau juga menjadi pelanggan setianya. Salah seorang artis yang pernah mampir ke kedainya untuk menikmati sate dan jamu hasil racikannya adalah Dewi Persik. [NUY]

Melawan Mitos tentang Brutu

Orang, kalau berdagang, umumnya cari dagangan yang dibutuhkan atau disukai oleh sebanyak-banyaknya orang. Dengan begitu, dagangan laris dan mendatangkan banyak keuntungan. Namun, pedagang satu ini justru sebaliknya. Ia malah menjual masakan yang tidak disukai kebanyakan orang di sekitarnya.

Anda tahu brutu? Jika Anda orang Jawa, kemungkinan besar Anda tahu. Brutu (bhs. Jawa) adalah kata yang merujuk pada badan ayam bagian belakang, meliputi bagian ekor berikut anus. Itulah brutu. Bagian badan ayam yang disebut brutu itulah yang diolah Tomy Satrio (31), warga Dusun Teratai, Desa Banjarejo, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, menjadi sebuah menu masakan dan dijual di warung di depan rumahnya.

Banyak orang Jawa enggan mengonsumsi brutu. Kebanyakan bukan jijik karena brutu merupakan bagian badan ayam tempat ayam mengeluarkan tinjanya, melainkan karena ada sebuah mitos yang cukup mengerikan berkaitan dengan brutu. Terutama oleh orang Jawa, diyakini bahwa orang yang mengonsumi brutu, apalagi jika sering, ia akan mudah lupa.

Mudah lupa! Mengerikan, bukan? Bayangkan saja. Misalnya Anda mengonsumi brutu. Lantas, tiba-tiba Anda pergi ke pasar lupa nggak pakai baju atau celana, atau malah nggak pakai kedua-duanya gara-gara lupa. Apakah itu tidak mengerikan?

Tomy Satrio sendiri kepada Peduli, Senin mengungkapkan dirinya tahu betul adanya mitos itu. Bahkan, ia mengungkapkan hampir 100% warga di sekitar rumahnya adalah orang Jawa dan masih percaya dengan mitos itu. Berarti, Tomy tahu bahwa brutu termasuk dagangan yang kurang marketable di desanya. Tapi, ia tetap menjual masakan berbahan brutu itu.

Sate
Brutu oleh Tomy diolah menjadi sate brutu. Brutu yang dibuat sate adalah brutu ayam potong. Satu porsi sate brutu terdiri dari 3 tusuk sate brutu dan sepiring nasi. Bumbu satenya sama dengan bumbu sate pada umumnya. Sate brutu sebanyak 3 tusuk atau 1 porsi itu terdiri dari 6 brutu. Satu porsi sate brutu dijual Tomy seharga Rp 5.000.

Apa ada yang beli?! ’’Ada, Mas, yang beli,’’ ungkap Tomy sambil senyum, ’’Biasanya yang makan malah orang jauh-jauh. Yang deket-deket sini malah enggak. Takut mitosnya itu lho. Yang suka makan kebanyakan orang-orang Cina dan Bali.’’

Menurut Tomy, warung itu dibuka baru sekitar dua bulan. Sebelumnya, Tomy jualan nasi tiap pasaran kliwon di pasar. Di sana ia jual pecel, soto, dan sebagainya. Karena merasa kurang beruntung, ia banting stir: jual sate kambing dan sate ayam. Tapi karena banyak pesaing, akhirnya ia mencoba jualan menu baru yang langka itu: sate brutu.

Awalnya, agak susah Tomy mendapatkan brutu karena brutu tidak dijual khusus. Sekarang lebih mudah mendapatkannya. Tapi harganya yang semula murah, kini disamakan dengan harga daging ayam (Rp15.000/kg), setelah para pedagang tahu oleh Tomy brutu dijual dalam bentuk sate brutu. Dari 1 kg brutu, menurut Tomy, jadi sekitar 10 porsi sate brutu.

Dan ternyata, menjual dagangan yang menjadi ’pantangan’ banyak orang tak selalu berarti bubruk alias tak laku. Hasil penjualan sate brutu ternyata cukup lumayan. Tomy mengaku, baru sekitar dua bulan warung dibuka, kini omzetnya rata-rata sudah 20 porsi per hari. Dan dari seporsi sate brutu, untungnya di atas Rp 20.000. Bukan tidak mungkin, omzetnya akan terus meningkat setelah semakin banyak orang tahu.

Atau, Anda pengin uji mitos? Silakah datang ke warung milik Tomy Satrio di Dusun Teratai, Desa Banjarejo, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, dan cicipi sate brutu-nya. [KUS]

Mantan Buruh Migran Tulus Subagyo: Kini Dosen, Petani, dan Pengusaha Sukses

Rumahnya di salah satu kawasan elite di Kota Malang, tepatnya di Perum Graha Dewata Blok FF1 No. 1 Joyo Agung. Penmpilan lelaki mungil ini tampak bersahaja. Padahal, sebenarnya ia sebegitu hebatnya!

Dengan ramah Tulus Subagyo menerima Peduli di rumahnya setelah janjian. Ia tinggal di rumah itu bersama sang istri, dr. Ira Setya Waty Subagyo, dan kedua anaknya. Selain sebagai hunian, rumah itu sekaligus dijadikan tempat praktik istrinya sebagai dokter umum dan bisnis wartel.

Tak lama Peduli berada di rumah cantik tersebut. Sebab, bersama Tulus Subagyo, Peduli segera meluncur ke kebun seluas 400 m2. Kebun itu penuh dengan tanaman buah naga. Di kebun ini, Peduli berbincang panjang dengan mantan TKI Jepang ini. ’’Saya jadi TKI di Jepan selama 3 tahun, dari tahun 2000 sampai tahun 2003,’’ ungkap Tulus.

Lebih lanjut dia menuturkan bahwa ia berangkat ke Jepang beberapa saat setelah tamat dari pendidikannya di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Ia tamat dari ITN tahun 1998. Saat itu ia masih tinggal bersama orangtuanya di Probolinggo. Ia baru pindah dan menetap di Kota Malang sejak 2003, sepulang dari Jepang.

’’Di Jepang saya bekerja di sebuah perusahaan plastik yang memroduksi berbagai komponen elektronika,’’ ujar pria kelahiran Probolinggo, 29 November 1973 ini.

Investasi
Kerja di Jepang, kata Tulus, sangat enak. Hampir tanpa kendala dirinya selama kerja di negeri sakura tersebut. Gajinya juga besar. ’’Tahun pertama saja, gajinya di sana kalau dirupiahkan hampir Rp 10 juta per bulan. Itu di luar lembur lho. Tahun kedua, ketiga, dan seterusnya, gaji lebih besar lagi dan jatah lembur juga lebih banyak,’’ ungkapnya.

Hasil kerja di Jepang selama 3 tahun itu, sebagian besar diinvestasikan di pertanian, perikanan, dan usaha wartel. Di pertanian, Tulus membudidayakan buah naga super red sejak 2003. Di perikanan, ia beternak lobster.

Namun, tidak seperti budidaya buah naga dan usaha wartel, ternak lobster tidak dilakukan di Kota Malang, tetapi di Probolinggo, di rumah orangtuanya. ’’Saudara saya yang merawat lobster saya di Probolinggo,’’ katanya. Hasil dari lobster itu, kata Tulus, juga bagus. Setidaknya, dirinya bisa memperoleh pemasukan dari lobster Rp 3 - 4 juta/bulan.

Menikah
Ditanya kenapa cepat-cepat pulang kalau kerja di Jepang penghasilannya sangat besar, Tulus Subagyo menjawab sambil tertawa, ’’Lha, saya kan mesti menikah.’’ Benar, setahun setelah kembali ke Indonesia, tepatnya tahun 2004, Tulus menikah dengan gadis idamannya, Ira Setya Waty, yang kini telah memberinya dua orang anak.

Tulus mengisahkan, ia bertemu Ira ketika dirinya masih kerja di Jepang. Ketika itu ia cuti kerja di tahun ke-2 dan pulang ke Indonesia. Suatu saat, ia main ke tempat salah seorang temannya di Surabaya dan oleh temannya, ia dikenalkan dengan Ira yang waktu itu masih menjadi mahasiswi kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Dua tahun pacaran, Tulus langsung melamar Ira dan akhirnya menikah tahun 2004.

Tak berhenti sampai di situ kisah sukses Tulus Subagyo. Sebab, selain jadi pengusaha, sejak tahun 2004 pula, dirinya dipercaya menjadi dosen di Universitas Yudarta, Singosari, Malang. Di sana ia memberikan mata kuliah teknik mesin sesuai dengan bidang keahliannya. Dan untuk menunjang kualitas akademiknya, Tulus pun kini tengah menempuh program magister (S2) teknik mesin di Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Malang. Wah, wah, wah! [KUS]

Minggu, 20 September 2009

Berbisnis untuk Tabungan Pensiun

Menyadari usianya sudah mulai tua dan sang suami akan memasuki masa pension, Lilik Orianto memutar otak menciptakan usaha yang bisa menopang ekonomi keluarga saat suaminya pensiun nanti. Istri dosen ITS Surabaya ini kemudian memutuskan menjadi perajin mutiara dan akesoris sejak 2003.

Awalnya wanita Surabaya yang akrab dipanggil Lilik ini memang sangat menyenangi perhiasan mutiara. Saking cintanya, ia memutuskan mengunjungi peternak dan perajin mutiara di Lombok untuk belajar bagaimana budidaya mutiara dan membuat aksesoris mutiara. ’’Saya berkunjung ke Lombok beberapa kali karena ingin sekali bisa membuat aksesoris mutiara,’’ urainya ramah.

Tahun 2003 lalu, Lilik memutuskan untuk membuat usaha aksesoris berbahan dasar mutiara. Lilik membeli langsung mutiara-mutiara terbaik dari Lombok, kemudian ia melakukan pemolesan, pewarnaan dan pembentukan di Surabaya. Untuk usahanya ini, ia mengeluarkan tabungannya hingga Rp 15 juta.

’’Yang mahal ya biaya mondar-mandir ke Lombok. Tapi, saya senang karena usaha ini mulai menghasilkan untung lumayan,’’ tegasnya.

Segmen Pasar
Mutiara-mutiara itu dijadikan beragam akesoris menarik seperti kalung, gelang, anting, bros, dn sebagainya.

Ia membidik pasar menengah atas, karena disadari atau tidak peminat mutiara memang dari kalangan tersebut. Untuk itulah ia rajin mengikut berbagai pameran yang digalr di Surabaya maupun di kota-kota lainnya.

Untuk sekali pameran, Lilik dibantu anaknya dan satu asisten ini bisa mendapatkan laba hingga Rp 5 juta. Sehingga bila dalam sebulan ia mengikuti hingga 3x pameran, pendapatan rata-rata Rp 15 juta bisa dia peroleh.

Selain mutiara, Lilik mulai mengembangkan pambuatan aksesoris berbahan etnik seperti bebatuan, tulang, hingga gigi sapi.

Sulit Bahan Baku

Untuk aksesoris mutiara, ia menjualnya mulai Rp 15 ribu hingga jutaan rupiah. Sedangkan aksesoris berbahan lainnya dijualnya rata-rata Rp 20 ribu hingga 150 ribu.

Kesulitan utama berbisnis ini, menurut Lilik, adalah bahan baku yang memang hanya bisa didapatkan di Lombok.

’’Budidaya mutiara hanya bisa dilakukan di Lombok karena kualitas air lautnya masih terjaga sehingga hasilnya bagus. Kalau laut Surabaya sudah banyak tercemar jadi mutiara tidak bisa tumbuh bagus,’’ terangnya.

Meski begitu Lilik masih punya harapan bisa memiliki budidaya mutiara sendiri. Kecintaannya pada mutiara membuatnya memantapkan diri untuk mengembangkan bisnis ini menjadi besar. [KD/8-1]