This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 24 Agustus 2008

Korban Penipuan Kiai Bertambah

BANYUWANGI - Kiai gadungan H Ir Cahyadi Sugiarta alias KH Ghozali Saefunuha alias KH Soca Manggala, 46, hingga kemarin masih terus menjalani pemeriksaan di Mapolsek Muncar. Polisi masih terus menyelidki kemungkinan ada korban lain.


Kapolsek Muncar AKP Ketut Redana mengatakan, hingga kini korban kiai gadungan yang mengaku asal Jl Pisangan Baru, Matraman, Jakarta Timur masih dua orang. ''Karena itu warga yang merasa menjadi korban silakan lapor polisi,'' saran Kapolsek.

Diberitakan sebelumnya, beberapa warga Desa Tambakrejo, Kecamatan Muncar menghajar seorang kiai gadungan. Lelaki yang mengaku bernama Kiai Haji (KH) Soca Manggala alias KH Ghozali Saefunuha alias H Ir Cahyadi Sugiarta itu, diduga menipu warga setempat dengan modus penggandaan uang. Akibatnya, dua warga Desa Tambakrejo mengalami kerugian Rp 54 juta. Dalam menjalankan aksinya, pria 46 tahun selalu menggunakan surban di kepala. Sebelumnya, dia memperdayai Sugiyono, 42, dan Sarji Riyadi, 46, warga Desa Tambakrejo.

Kapolsek masih enggan mengungkap hasil pemeriksaan. Dia hanya mengatakan, tersangka memiliki dua KTP dengan nama dan alamat yang berbeda. "KTP atas nama Cahyadi Sugiarta tertera alamatnya Jakarta Timur, sedang atas nama KH Ghozali Saefunuha alamatnya Cianjur, Jawa Barat," ungkapnya.

Salah satu sumber di polsek menjelaskan, dalam aksinya tersangka memang professional. Dalam pemeriksaan awal, kiai gadungan ini membantah telah bertemu dengan kedua korban di Pantai Grajagan. Dia datang ke Banyuwangi menemui kedua korban karena diajak oleh temannya saat bertemu di Malang. Teman yang mengajak itu, jelas sumber di polsek, guru sepritual dari kedua korban.

Dalam pertemuannya di Malang, tersangka diminta tolong untuk membantu kedua muridnya yang sedang kesusahan. "Keterangan ini memang berbeda dengan keterangan kedua korban, tapi tidak masalah," cetus anggota itu. (abi/aif)


Radar Banyuwangi [Minggu, 24 Agustus 2008]

Sabtu, 23 Agustus 2008

Ditelepon Cewek, Rp 10 Juta Amblas

BOJONEGORO - Modus penipuan melalui ponsel terus berkembang. Setelah beberapa waktu lalu santer beredar SMS (sort message service) yang berisi iming-iming hadiah puluhan juta rupiah. Kini, para pelaku tak segan-segan langsung menelepon calon korbannya. Seperti yang dialami Stevanus Semianta, warga Jalan Rajalawi Bojonegoro.


Informasi dari Polres Bojonegoro menyebutkan, peristiwa itu terjadi Jumat (22/8). Ketika itu korban menerima telepon dari seorang cewek bernama Amanda. ''Cewek itu mengaku sebagai staf bagian informasi sebuah perusahaan telekomunikasi nasional di Surabaya,'' ujar salah seorang petugas Polres Bojonegoro kemarin (23/8).

Menurut petugas, saat itu Amanda menginformasikan bahwa korban mendapatkan hadiah uang tunai Rp 35 juta dan sebuah motor. Hadiah-hadiah itu sebagai ucapan terima kasih perusahaan telekomunikasi tersebut kepada korban sebagai pelanggan.

Lantas, korban yang juga seorang pendeta itu diminta datang ke mesin ATM (autamic metchine teller) salah satu bank terkemuka yang ada di Bojonegoro. Tanpa curiga, korban mengikuti panduan Amanda melalui ponselnya. Namun, saat ia memeriksa kembali saldo di rekeningnya, ternyata berkurang hampir Rp 10 juta. Merasa tertipu, korban lantas melaporkan kejadian tersebut ke Polres Bojonegoro.

Kabag Bina Mitra Polres Bojonegoro Kompol Kusen Hidayat membenarkan adanya laporan kejadian tersebut. Untuk menemukan pelaku, lanjut Kusen, pihaknya berusaha menelusuri pemilik nomor rekening sebagaimana laporan korban. Juga, nomor ponsel yang digunakan pelaku saat menghubungi korban. ''Menurut pengakuan korban, nomor rekening penerima transfer itu atas nama Andul Rahman,'' terang Kusen. (dim)

Radar Bojonegoro [ Minggu, 24 Agustus 2008 ]

Jumat, 15 Agustus 2008

Diperdaya Lewat ATM, Uang Ilham Rp 36 Juta Amblas

Muhammad Aminudin – detikSurabaya

Malang - Modus penipuan dengan memperdaya korbannya melalui ATM sebuah bank kembali terjadi di Malang, Jawa Timur. Akibatnya, uang sebesar Rp 36 juta milik Ilham Bakti (53) habis dikuras sang penipu.



Penipuan dengan modus ini terjadi pada Ilham Bakti(53), warga Jalan Borobudur Agung Timur, Blimbing, Kota Malang. Dia menjadi korban penipuan dari calon pembeli mobil Honda Jazz miliknya yang akan dijualnya melalui iklan di sebuah surat kabar.

Pelaku yang mengaku bernama dr Agung asal Surabaya ini menelepon korban dan memastikan akan membeli mobil miliknya yang akan dijual.

Untuk menyakinkan korban, pelaku siap mentransfer uang muka sebesar Rp 7 juta sesuai kesepakatan. Pelaku menghubungi korban melalui nomor telpon yang tercantum pada iklan penjualan mobil.

"Kita disuruh datang ke ATM untuk mengetahui uang telah ditransfer," ujar Ilham pada petugas kepolisian saat melaporkan kasus ini ke Mapolresta Malang Jalan Jaksa Agung Suprapto Malang, Jumat (15/8/2008).

Namun, pada saat hendak mengecek saldo, korban pada waktu itu menyuruh istrinya untuk datang ke ATM BCA Jalan Ahmad Yani, mendadak pelaku menghubungi melalui pesawat telpon.

Pelaku melalui nomor telpon 081386053641 meminta istri korban mengikuti perintahnya dengan menggunakan akses transfer melalui ATM.

Kesempatan itu ternyata digunakan pelaku untuk menguras uang dalam rekening korban. "Saat saldo diperiksa, uang 36 juta dalam rekening kami hilang," imbuh Ilham.

Bersamaan juga nomor HP pelaku sudah tidak lagi dapat dihubungi.

Sementara ini Polresta Malang masih melakukan penyelidikan modus baru penipuan melalui ATM ini. (bdh/bdh)

Detik, Sabtu, 16/08/2008 01:11 WIB

Senin, 11 Agustus 2008

Untung Sedikit yang Penting Pelanggan Tak Lari

Usaha meracang telah dilakoni perempuan lulusan Universitas Airlangga jurusan Ekonomi Akuntansi ini. Sejak menikah Nur Azizah memang memfokuskan diri menjadi ibu rumah tangga. Setelah putra-putrinya beranjak besar, ia kemudian memutuskan membuka meracang di depan rumahnya untuk mengisi kesibukan.


Zizah –begitu ia akrab dipanggil, menjual aneka kebutuhan pokok rumah tangga. Ada gula, beras, minyak goreng, telur, mie instant, kosmetika, kebutuhan wanita, kebutuhan bayi, rokok, hingga makanan dan minuman ringan.

Memulai usaha pada 2003, Zizah mengeluarkan modal awal sekitar Rp 7 juta. Dana tersebut untuk pembelian rak dan perangkatnya sebesar Rp 2 juta dan pembelian isi dagangan sebesar Rp 5 juta.

Zizah cukup bersyukur tempat tinggalnya cukup jauh dengan pasar tradisional ataupun pusat belanja sehingga penduduk sekitar memang sangat membutuhkan toko meracang sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, lanjut Zizah, di lingkungan tempat tinggalnya banyak bertebaran tempat-tempat meracang sehingga kadang-kadang persaingan harga jadi tak sehat.

’’Selisih Rp 50 saja, pelanggan langsung lari ke tempat lain. Makanya, prinsip saya untung sedikit nggak apa-apa yang penting pelanggan tak lari,’’ ungkapnya.

Untuk memantapkan usahanya, Zizah sering bertanya kepada para pelanggannya apa saja yang mereka butuhkan, sehingga Zizah bisa langsung melengkapi dagangannya.

Misalnya saja, saat lingkungannya banyak anak sekolah, Zizah melengkapi kebutuhan untuk anak-anak sekolah seperti buku dan peralatan tulis dan makanan yang disukai anak-anak seperti es krim dan aneka snack.

Untuk kulakan, Zizah juga tak bosan-bosan mencari informasi tempat kulakan yang paling murah untuk mengejar harga dagangan yang kompetitif. Meski untuk itu Zizah harus menempuh jarak yang cukup jauh.

Uniknya, pembeli yang berhutang pun sering ditemuinya. Zizah masih menoleransi beberapa pelanggan yang berhutang. Nyatanya, menurut Zizah mereka akan membayarnya tepat waktu. [dw]


Jenis usaha: Meracang
Modal awal: Rp 7 juta
Omzet per bulan: Rp 3 - 4 juta
Kiat sukses: Untung sedikit yang penting pelanggan tak lari
Metode pemasaran: Selalu melengkapi kebutuhan pelanggan

Berharap Pemerintah Tertibkan Minimarket

Begitu lulus SMU, pria ini langsung memutuskan membantu orangtuanya melanjutkan bisnis meracang. Telah berpuluh-puluh tahun orangtua Kafi Maulana membangun bisnisnya ini.


’’Saya nggak ingat kapan orangtua buka usaha ini. Tapi, sejak saya lahir orangtua sudah punya usaha ini,’’ jelas pria single yang lahir 1975 ini.

Sebenarnya Kafi sempat ingin bekerja di pabrik atau kerja kantoran, namun melihat orangtuanya sudah cukup tua, Kafi bersama kakak perempuannya memilih meneruskan bisnis keluarganya.

Toko Kafi yang terletak di pinggir jalan Gedangan Sidoarjo, Jawa Timur, cukup besar dan berisi beragam kebutuhan. Mulai kebutuhan pokok seperti gula, beras, minyak goreng, telur dan sebagainya, hingga kebutuhan pendukung lainnya seperti kebutuhan sekolah, kebutuhan memasak, kebutuhan perempuan dan sebagainya. Kafi juga menambahkan penjualan pulsa dan wartel di tokonya ini. Hal ini untuk mengantisipasi sepinya pembeli, setelah banyak orang memilih minimarket yang kini sudah merambah gang-gang kecil di pinggiran kota.

’’Di wilayah saya sudah ada tiga minimarket yang berdiri. Ini sama saja ’membunuh’ usaha kecil seperti saya ini. Padahal, harga mereka jauh lebih mahal. Selisih harganya saja bisa sampai Rp 500,’’ ungkapnya.

Padahal, bila pelanggan belanja di tempatnya dan terlalu mahal mereka langsung protes. Anehnya, lanjut Kafi, mereka menikmati belanja di minimarket meski harganya jauh lebih mahal.

Padahal, bedanya hanya soal tempat saja, minimarket memang menyediakan tempat yang nyaman dan dilengkapi AC.

Kafi berharap, pemerintah memiliki kebijakan untuk menertibkan minimarket-minimarket yang didirikan seenaknya.

Kalau hal ini dibiarkan, ia yakin bisnis meracang seperti yang berpuluh tahun menjadi sumber kehidupannya akan mati pelahan-lahan. Untuk itu segala trik bisnis diterapkannya agar usahanya laris. Termasuk diperbolehkannya pembeli berhutang dalam jumlah tertentu, atau bayar mundur sebulan sekali saat gajian.

’’Ada yang sudah langganan bertahun-tahun, bayarnya kalau suaminya gajian setiap awal bulan. Ya nggak apa-apalah, ketimbang nggak laku. Yang penting modal kembali,’’ terangnya. [dw]


Jenis usaha: Meracang dilengkapi wartel dan penjualan pulsa
Modal awal: Sekitar Rp 200 ribu
Omzet per bulan: Rp 5 - 6 juta
Kiat sukses: Beri kelonggaran cara pembayaran pada pelanggan