This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 24 November 2013

”Semoga Pemerintah segera (lebih) Melek”


Di kalangan BMI-HK begitu banyak grup/komunitas/organisasi, baik yang berbasis online (lebih banyak melakukan interaksi melalui telepon dan/atau internet) maupun offline (lebih banyak berinteraksi dalam pertemuan langsung). Tentu ini kabar yang baik. Komunitas/organisasi adalah sejenis wadah tempat para anggotanya berinteraksi, menggalang solidaritas, saling asah dan saling asuh dalam suasana kekeluargaan yang penuh cinta-kasih. Sementara itu, di tanah air juga ada banyak komunitas yang beranggotakan buruh/mantan buruh, dengan pembidangan yang beraneka-macam. Ada yang mengkhususkan bidang advokasi, ada yang memusatkan perhatian dan kegiatan-kegiatannya pada pemberdayaan ekonomi, seni, kerajinan, pertanian termasuk di dalamnya perikanan dan peternakan, dan lain-lain.

Oleh kerena itu, seharusnya tidak muncul dari mantan perantau yang setelah berbilang bulan menetap kembali di kampung halaman keluhan bahwa mereka kesepian. Tetapi, faktanya keluhan demikian sering terdengar. Sosok yang jika hari libur bergerak nyaris bak gangsing saking banyaknya kegiatan diikuti sewaktu di HK, baik yang berorientasi sosial, rekreasi, maupun berorientasi keuntungan finansial, mendadak merasa bagaikan kepompong di kampung halaman sendiri. Syukur jika segera mendapatkan sayap dan semakin tinggi mobilitas dan jangkauannya. Jika berangsur membeku? Itulah gawatnya.

Pengalaman berorganisasi/berkomunitas di perantauan akan menjadi lebih bermakna jika kemudian dikembangkan di kampung halaman. Bisa tetap berkomunitas dengan sesama mantan pekerja migran, bisa pula merekrut teman-teman di kampung yang memiliki ketertarikan/minat pada bidang yang sama. Kata-kata yang dapat dipedomani dalam hal ini adalah: ”Sesuatu yang susah atau bahkan nyaris mustahil diraih sendirian akan dengan mudah diraih bersama-sama.”


Perihal Komunitas

Tadi sudah disebut betapa banyak grup/komunitas/organisasi yang ada dikalangan BMI-HK. Tidak perlu disebut namanya karena akan tidak adil hanya menyebut satu-dua. Bahkan, di dalam satu bidang, sebutlah bidang seni-kerajinan misalnya, ada beberapa grup Facebook-nya. Demikian pula di bidang seni-pentas, bahkan, kalau dipersempit lagi bidangnya, misalnya menjadi seni-tari, kita masih akan menemukan ’banyak’ grup/komunitas.

Sejauh saling terjadi interaksi positif antarkomunitas, tentu semakin banyak jumlah grup itu semakin baik. Namun, akan semakin baik lagi jika dibentuk forum atau semacam wadah besar yang menaungi semua grup yang sama bidang garap atau wilayahnya.

Masing-masing grup tentu dibentuk dengan latar-belakang, visi, serta misi masing-masing. Namun, jika bidang garapnya sama, misalnya sama-sama di wilayah seni tari, atau seni kerajinan, pasti ada bagian yang dapat digunakan sebagai pilar untuk mempertemukan mereka. Dan bertumpu pada pilar itulah gerakan bersama bisa semakin bertenaga, suara bersama bisa semakin keras, dan doa bersama semakin besar peluang untuk terkabulkan.

Sebuah komunitas terbentuk/dibentuk untuk satu atau beberapa tujuan. Kemungkinannya antara lain: mempererat persaudaraan antarindividu/perorangan yang memiliki ketertarikan/minat/profesi di bidang yang sama, membangun solidaritas, dan memperluas jejaring komunikasi. Semakin besar sebuah komunitas/organisasi, semakin banyak anggotanya, semakin besar pula kekuatannya, posisi tawarnya.

Dalam konteks ini, andai saja ada kemauan untuk mempersatukan grup/komunitas yang tampaknya kini masih terlepas satu saama lain itu artinya adalah: sebuah kekuatan berlipat potensial didapat dari penyatuan itu. Kekuatan itu akan makin nyata jika sudah terbangun sistem yang bagus, ada komunitas/organisasi resmi yang kokoh (memiliki akta notaris), kemudian ada interaksi/komunikasi secara institusional lintas-komunitas yang memungkinkan dijalinnya kerja sama yang baik, termasuk dengan lembaga-lembaga di pemerintahan.

Komunitas dan Pemerintah

Kegiatan BMI yang masih di luar negri atau yang sudah kembali ke kampung halaman dan merintis usaha/bisnis sendiri patut mendapatkan apresiasi lebih. Sudah banyak contoh yang terbukti mampu membalik keadaan dari sebagai pencari kerja menjadi pemberi kerja. Dengan demikian, yang bersangkutan tidak hanya mengentaskan dirinyaa, melainkan juga mengentaskan banyak orang di sekitarnya. Komunitas-komunitas itu, baik yang bergerak di bidang literasi, melek baca, dan bahkan menulis, maupun yang bergerak di bidang produksi (makanan, kerajinan, busana, dll.) pasti sangatlah besar andilnya dalam mendukung gerakan pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah. Tanpa menguranagi rasa hormat pada upaya-upaya pemerintah, malahan sering terlihat apa yang dilakukan oleh BMI sendiri lebih bermakna daripada program top-down versi pemerintah.

Dalam konteks seperti itu sesungguhnya pemerintah mesti melihat dan merangkul kegiatan positif para BMI terutama yang terwadahi dalam aneka komunitas itu. Komunitas-komunitas di kalangan BMI itu sungguh berjasa dalam hal pemberdayaan searah dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah.

Interaksi lintas organisasi termasuk dengan lembaga pemerintah dapat dibangun dengan lebih baik oleh komunitas-komunitas terdaftar secara ’resmi’ (berakta notaris). Komunitas-komunitas yang sudah terdaftar secara resmi juga memiliki peluang untuk mengaakses berbagai macam bantuan dalam bentuk jasa, barang, maupun uang segar dari pemerintah.

Berbicara tentang Indonesia tentu tidaklah lengkap sebelum menyebut keberadaan BMI (pemerintah menyebutnya sebagai: TKI Luar Negri) yang pada semester pertama 2013 ini telah mengirim remiten ke tanahair sebesar Rp36,89 triliyun! Jangan dikira sumbangan mereka hanya berbentuk uang segar. Selain itu, mereka juga mengurangi beban berat di pundak pemerintaha berupa kewajiban menyediakan lapangan kerja di dalam negri. Oleh karenanya, pemerintah bisa dipandang sebagai ’durhaka’ terhadap sang pemilik sejati kekuasaan alias rakyatnya jika tidak bersikap apresiatif dan mendukung segenap upaya positif yang dilakukan para BMI.

Lebih ’durhaka’ lagi jika setelah tak mau memandang dengan serius upaya-upaya pemberdayaan yang dilakukan oleh para BMI itu lalu pemerintah lebih suka membelanjakan uang negara untuk proyek-proyek pencitraan, termasuk berbelanja iklan (melalui media cetak maupun elektronik, melalui pemasangan baliho, selebaran, termasuk temu sosialisasi, dan lain-lain), dan untuk mengimpor TKA (tenaga kerja asing) dengan gaji yang tinggi untuk pekerjaan-pekerjaan yang sesungguhnya dapat dilakukan oleh anak bangsa sendiri. Lebih lucu lagi, mengimpor dan menggaji tinggi orang asing untuk bermain(-main) sepakbola di Indonesia!


Peranan Komunitas

Warga Negara itu memiliki tabungan yang dibayarkan antara lain melalui pajak, dan asset berupa kekayaan alam yang dikelola oleh pemerintah untuk (seharusnya) kesejahteraan bersama. Pemerintah memanfaatkan dana itu berdasarkan APBN/APBD yang dibuat setiap tahun. Selain proyek/program yang dibuat oleh pemerintah, masyarakat juga memiliki hak untuk memanfaatkan dana negara itu untuk kegiatan-kegiatan kolektif maupun perorangan yang kontributif terhadap program-program pemerintah di berbagai bidang. Di sinilah terbuka peluang sangat lebar bagi komunitas/organisasi masyarakat (yang berakta notaris) untuk ikut memanfaatkan dana ”tabungan bersama” itu melalui mekanisme yang sudah diatur: mengajukan proposal melalui dinas terkait.

Bukan hanya dana segar (cash money) yang berhak diminta masyarakat dari pemerintah, melainkan juga bantuan berupa barang (misal: mesin/alat produksi, bibit tanaman/hewan ternak, buku, dll.), materi pelatihan, dan lain-lain.

Masyarakat juga memiliki semacam ”tabungan bersama” di dalam perusahaan-perusahaan besar, badan usaha milik swasta maupun pemerintah. Mereka biasanya menyalurkan/membayarkan/mengembalikan ”tabungan bersama” itu ke masyarakat melalui apa yang dikenal dengan CSR (corporate social responsibility). Semakin besar KOMUNITAS (semakin banyak jumlah anggotanya), semakin rapi tata-kelolanya, semakin eksis (padat dan berkualitas agenda kegiatannya) semakin besar pula kekuatannya untuk menarik serta ikut mengelola ”tabungan bersama” itu.” [Bonari Nabonenar]

Banjir Bandang yang Membawa Berkah

Abdul Rosyid, Produsen Alat Dapur
Di balik kesulitan itu sebenarnya ada kemudahan. Setelah usahanya ludes terbawa banjir bandang 2006 silam, kini usaha bapak 2 anak ini justru makin berkibar.
Banjir bandang yang melanda Jember di tahun 2006 silam itu memporakporandakan beberapa kecamatan. Tak hanya korban nyawa dan harta benda saja, Jember yang dikenal sebagai sentranya industri perabotan dapur itu, ketika banjir melanda membuat para korbannya kehilangan mata pencahariannya pula.

”Sebelum banjir home industry semacam saya ini ada 58 perajin. Gara-gara kebanjiran jadi vakum semua. Habis semua waktu itu. Banjir terjadi karena hutan gundul. Rumah-rumah banyak yang terkena longsoran. Rumah yang saya tempati selamat dari longsoran, hanya berjarak 500 meter saja dari longsoran tapi tempat produksi saya yang kena. Jadi rumah saya saat itu dipakai mengungsi orang-orang yang kehilangan rumahnya tadi. Ada 29 orang yang tinggal di rumah saya. Mereka tinggal selama 21 hari. Karena mereka pengungsi ya otomatis saya yang menanggung kehidupan mereka selama 21 hari itu,” jelas Abdul Rosyid berkisah.

Karena industri perabotan dapur ini merupakan salah satu andalan dari kabupaten Jember maka pemerintah setempat berupaya keras untuk membangun kembali usaha ini pasca banjir saat itu. Jumlah perajin yang semula sebanyak 58 itu, hanya tersisa 3 perajin saja.

”Kami mulai dari 0 lagi. Kan para perajin sudah pada kabur entah kemana. Karena barang-barang mereka banyak yang hilang. Yang tersisa cuma 3 orang aja. Waktu itu saya bermodalkan uang 400 ribu mulai membuka usaha ini lagi. Itu sampai modalnya kita mintakan ke sales gitu, saya bilang lagi butuh modal nanti barangnya dikirim kalau situasi sudah kondusif dan jembatan telah dibangun. Uang 400 ribu itu untuk beli bahan aja. Kadang saya kayak pengepul, kalau saya butuh barang, barang punya teman saya pinjam dulu, nanti kalau sudah laku saya bayar,” imbuhnya.

Berkah Banjir

Dinas Koperasi dan UMKM Jember kala itu langsung turun tangan membantu mempromosikan binaannya ini agar sentra perabotan dapur ini bisa bangkit kembali seperti sebelum banjir bandang terjadi. Sebagai langkah awalnya, Rosyid kerapkali diikutkan pameran di berbagai tempat, hingga dari ajang itu, suami dari Fenti Kusuma ini banyak mendapatkan pesanan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

”Saya merintis usaha ini sejak tahun 1994. Tapi, ya begitu itu, jatuh bangun. Susah sekali untuk gol, maksud saya nggak bisa berkembang. Semua usaha sendiri karena perhatian dari pemerintah nggak ada. Setelah kebanjiran itu jadi dikenal sama dinas koperasi. Kami dibantu pemasarannya. Dulu kami pemasarannya istilahnya jemput bola, door to door gitu sebelum banjir. Datang ke kantor-kantor PKK begitu untuk menawarkan produk. Tapi, setelah banjir kami dapat pembinaan, dan hampir seluruh Indonesia sudah saya ikuti pamerannya, jadi permintaan pun berdatangan dari berbagai daerah itu,”ungkapnya.

Kini omzet usaha ayah dari Wafa Prasetia dan Ibnu Affa ini dalam sebulan bisa mencapai 200 juta. Tak hanya itu, pemilik dari UD Sejahtera tersebut mengaku kalau bisnis ini sepi dari persaingan.

”Nggak ada cara untuk mengatasi persaingan. Yang ada kita malah kekurangan barang. Masalah persaingan itu nggak ada. Yang nggak ada kita itu malah kekurangan tenaga kerjanya. Ini semua manual. Nggak ada mesin khusus untuk membuatnya. Tenaga kerjanya juga bukan anak STM. Semuanya bisa dibilang otodidak. Misalnya saya ingin buat oven, ya saya ngajari tenaga kerja saya caranya membuat oven itu. Dari nol puthul malah ngajari mereka ini,” lanjutnya.

Sementara itu untuk bahan baku aluminumnya, ia mengaku mendapatkannya di Surabaya. Pria kelahiran Jember 16 Januari 1975 ini mengaku untuk ide desain bentuk dari produk-produknya itu selain berasal dari imajinasinya, juga banyak ia dapatkan dari permintaan konsumennya.
”Kalau soal desain barang kadang dari imajinasi saya sendiri, kadang juga dari pembeli. Kan pembeli itu suka juga minta dibuatkan barang yang bentuknya begini begitu. Ya coba kita buatkan sesuai permintaannya itu,” katanya.

Ditembak

Ia pun mengaku tak mempermasalahkan kalau desain produk miliknya itu pada akhirnya banyak ’ditembak’, alias ditiru produsen lain. Menurutnya keuntungan tidak ia dapatkan dari penjualan desain-desain baru produknya itu.

”Memangnya desain itu banyak ditiru orang. Nggak jadi masalah. Kita menangnya dari penjualan. Kita kejar omzet. Artinya kita sudah untung dari pembelian bahan baku. Kalau mereka beli secara eceran bahan bakunya, saya sudah beli partai. Meski harga jual barangnya sama tapi labanya tetap menang kita karena sudah beli secara partai tadi,” tambahnya.[niken anggraini]

Kamis, 31 Oktober 2013

Pasar Burung Online


Dalam beberapa bulan ini Peduli mengikuti geliat pasar (aktivitas penawaran-jual-beli) burung online, melalui beberapa grup Facebook yang dibuat secara khusus untuk area Malang Raya dan Surabaya. Khusus untuk area Malang Raya saja, secara sekilas bisa diperkirakan bahwa omzet jual-beli burung yang ditawarkan melalui media online ini bisa mencapai ratusan juta rupiah dalam sebulan. Di dalam media online ini penjual menawarkan dagangannya (burung) dengan menyertakan foto, kadang juga video, dan keterangan lengkap: usia, jenis kelamin, harga penawaran, lokasi, nomor telepon yang bisa dihubungi, dll. Para peminatnya lalu mengajukan tawaran melalui kolom komentar, kadang juga menanyakan informasi yang belum disampaikan. Ketika ada kecocokan harga, lalu disepakati untuk makukan transaksi dengan cara transfer agar kemudian barang dikirim melalui perusahaan jasa pengiriman, atau COD (cash on delivery) yakni pembayaran dilakukan dalam pertemuan penjual dengan pembeli di tempat yang disepakati, dan yang lebih sering tampaknya adalah yang dikenal dengan singkatan PCB (pantau, cocok, bayar). PCB berarti calon pembeli mengunjungi kandang penangkaran pihak penjual, mengamati burung yang hendak dibeli, dan jika terjadi kecocokan baru dilakukan pembayaran/transaksi.

Pasar burung online ini serta-merta membuka persepsi kita akan keluasan pasar, dan menyadarkan kita bahwa walaupun tidak termasuk kebutuhan pokok, burung merupakan komoditas yang sangat menjanjikan. Di pasar burung ini bukan hanya para penangkar dan penghobi (yang memelihara burung hanya untuk menikmati suara/kicaunya) melainkan juga terlibat para distributor/pengepul, dan blantik kecil yang membeli burung dari para tetangganya atau relasi yang sudah lama dibangun, atau juga dari para penjual online dalam jumlah hanya beberapa ekor, kemudian segera menjualnya ketika sedikit keuntungan diperoleh.

Para penyedia jasa pengiriman makhluk hidup (baca: hewan peliharaan) pun terlibat di pasar online ini sebagai pihak pengantar komoditas (dari penjual ke pembeli yang tidak melakukan pertemuan langsung karena terhalang jarak yang jauh).

Bagi para penangkar, terbukanya pasar online ini sungguh merupakan kabar baik. Mereka yang biasanya gagap ketika harus berhadapan langsung dengan pihak lain untuk menawarkan barang dagangan, kini tak perlu lagi grogi, sebab –bahkan—kita bisa membuat akun dengan nama lain untuk berperan sebagai penjual. Dengan catatan, nomor telepon dan alamat kita harus asli ketika dibutuhkan, dan kejujuran, seperti halnya di tempat lain, adalah taruhan utama di pasar online ini.

”Niatingsun (baca: saya berniat) dan sudah memulai beternak burung sekarang, karena saya tahu bahwa saya akan dapat menjual hasil penangkaran saya nanti dengan sangat mudah,” ujar seorang kawan. Ada pula lho, penangkar burung kenari di kawasan Malang Raya yang dapat suntikan modal tambahan dari istrinya yang bekerja Hong Kong. Nah!*

Sabtu, 28 September 2013

Fokus dalam Berusaha

Kualitas hasil sebuah tindakan yang kita lakukan antara lain ditentukan oleh seberapa kita fokus dalam melakukan atau mengupayakannya. Fokus itu artinya pusat, titik pusat yang dibidik, dituju, disasar. Fokus dalam bertindak atau berusaha artinya kita menyurahkan segenap perhatian dan segala sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan yang sudah kita tetapkan. Banyak orang memaknai ”fokus dalam berusaha” sebagai hanya melakukan satu tindakan, satu jenis usaha, untuk mengindari konsentrasi terbagi dan tujuan menjadi semakin sulit tercapai. Itu bisa benar, bisa pula salah! Ketika kita sudah dapat menilainya sebagai bisa benar atau bisa salah, pertimbangan-pertimbangannya bukan semata-mata makna kata secara harfiah. Mari kita lakukan uji awal dengan pertanyaan sederhana sambil mengupulkan rekaman pengetahuan kita mengenai fakta-fakta pendukung di sekeliling. Siapakah yang lebih atau paling berpotensi mencapai kesuksesan dalam usaha toko, mereka yang tokonya menjual hanya satu jenis barang atau yang menjual bermacam-macam barang? Yang hanya memiliki usaha toko atau memiliki jenis usaha lain, misalnya jasa transportasi, atau usaha produksi barang? Semua memiliki potensi yang sama untuk mencapai sukses bukan?

Begitu pun di dalam pertanian, kita mengenal pola tanam tumpangsari, beraneka jenis tanaman ditanam di lahan yang sama pada waktu yang relatif bersamaan. Jika benar pemilihan jenis-jenis tanamannya, pola tumpangsari itu sudah terbukti mendatangkan lebih banyak hasil/keuntungan. Seperti usaha toko yang dikerjakan seiring usaha produksi barang dan jasa angkutan tadi, itu juga potensial mendatangkan lebih banyak keuntungan sekaligus menjamin kelancaran seluruh usaha itu. Hasil produksi bisa segera didistribusikan dengan angkutan/transportasi yang selalu siap. Ada pula toko sendiri yang menjadi tempat penjualan langsung. Variasi jenis usaha ayang demikian tidak berpotensi mengurangi konsentrasi, malahan menjanjikan keuntungan lebih.

Persoalan modal mungkin muncul jika sekian jenis usaha dirintis bersamaan. Tetapi, bagi pemula yang bermodal tipis, perencanaan bisa dibuat bertahap.

Yang sering membuyarkan konsentrasi sesungguhnya bukanlah variasi jenis usaha yang tumbuh secara alamiah dari dalam, sesuai kebutuhan, tuntutan permintaan (pasar/client), dan ketersediaan modal. Yang benar-benar bisa menjadi ancaman konsentrasi dan membuat pelaku usaha tidak fokus biasanya adalah faktor eksternal (luar) berupa ketergiuran melihat pelaku usaha lain mengeruk keuntungan dengan cepat dalam bisnisnya yang tidak ada hubungannya dengan bisnis yang sudah dirintis. Apalagi, pepatah bilang, ”Baju yang cocok dikenakan seseorang belum tentu cocok ketika orang lain yang mengenakannya.”[p]

Jumat, 26 Juli 2013

peluang bisnis di penangkaran burung

Kini burung telah menjadi hewan kesayangan baik di desa-desa maupun di kota-kota. Memelihara burung bukan lagi hanya jadi klangenan (baca: kesukaan) para pensiunan untuk mengisi waktu luang sambil menikmati hari tua, melainkan juga jadi semacam gaya hidup. Keberadaan burung sebagai hewan piaraan juga memebuka banyak peluang usaha penyedia pakan (pabrikan maupun industry rumahan), pembudidayaan hewan pakan semisal jangkrik, ulat, dan lain-lain, pembuatan sangkar, dan tak ketinggalan pula peluang usaha jasa pengiriman hewan piaraan.

Jika dahulu, mula-mula para penghobi burung hanya/lebih banyak mengandalkan burung tangkapan dari alam liar, kini hampir semua jenis burung berhasil dibudidayakan, ditangkarkan, bahkan di kota-kota besar. Malang, misalnya, sejak lama dikenal sebagai kota penghasil burung kenari. Para pengepul/distributor kenari di Solo, Yogyakarta, bahkan Jakarta, banyak yang kulakan burung kenari ke Malang. Tetapi, lambat-laun peta penangkaran kenari pun berubah. Walau Malang masih dikenal sebagai penghasil burung kenari, kota-kota lain seperti Solo, Yogyakarta, dan bahkan Jakarta pun mulai menampakkan geliatnya di bisnis penangkaran burung mungil bersuara dering melengking ini.

Burung kenari banyak sekali jenisnya. Harganya pun berfariasi, dari kelas Rp100 ribu/ekor hingga jutaan rupiah. Coba, jika setahun bisa empat kali berproduksi (menetaskan telurnya) dengan 3 – 5 anak setiap kali produksi, berapa keuntungan dapat dikeruk? Ingat, pakan burung kenari adalah biji-bijian dan sayuran yang tidak mahal harganya. Dengan badan semungil itu, dapat dipastikan burung ini tidak mahal di pakan-nya.

Ada lagi burung gould amadin (baca: halaman 12 – 17) yang seperti halnya kenari, sama-sama mungil posturnya. Dan yang hinggga kini tak pernah sepi peminat adalah si paruh bengkok: lovebird.

Perkembangan media jejaring sosial seperti Facebook juga mendorong perkembangan penangkaran dan pemasaran berbagai jenis burung (sebenarnya juga termasuk banyak jenis hewan piaraan lainnya). Hampir setiap kota/kabupaten memiliki grup penggemar, penangkar, dan jual-beli-nya. Maka, jika kita memiliki kelemahan di bidang pemasaran produk, tinggal buka saja akun Facebook, unggah dan tawarkan burung hasil penangkaran kita yang hendak kita jual melalui grup jual-beli-nya, dan peminat akan datang ke tempat yang disepakati untuk bertransaksi. Jika kita sudah punya nama, para pembeli dari berbagai kota akan menaruh kepercayaan dan melakukan pembelian jarak jauh. Mereka mentransfer sejumlah uang, lalu burung kita kirim melalui layanan jasa pengiriman binatang/hewan piaraan.

Sungguh, memulai bisnis di penangkaran burung tidak memerlukan biaya besar. Syarat utama yang tidak bisa ditawar-tawar adalah: dapat dengan senang hati melakukannya, memiliki jiwa pengasih terhadap hewan yang dipelihara/ditangkarkan. Masihkah anda tidak juga tertarik? Atau sudah memulai, bahkan sudah menikmati keberhasilan? Selamat! Dan kepada para muslimin/muslimat pembaca majalah ini: Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir-batin.[bn]

Minggu, 19 Mei 2013

Sentuhan yang Melipatgandakan Nilai


Tak selamanya kerutan di bahan kain membuat kain itu jadi tak sedap dipandang mata lagi. Dengan sedikit kreativitas seni, aksi kerutan itu malah bisa mempercantik sebuah penampilan. Alhasil nilai jual barang pun jadi meningkat dengan adanya sentuhan aksi kerut-kerutan ini.

Perhatikan aneka benda buatan istri dari bapak Suparno ini. Tas, bantal, rok dan taplak meja jadi terlihat menarik dengan aksen kerutan atau yang kita kenal dengan nama smok itu. Pada era tahun 60-an smok begitu populer. Kerutan yang timbul akibat teknik jahit ini sekarang mulai dikembangkan lagi untuk produk-produk peralatan rumah tangga seperti tutup galon, taplak lemari es, kerudung televisi, bed cover, tas wanita dan masih banyak lagi.

Dijumpai Peduli di salah satu cara pelatihan, ibu 4 anak ini terlihat begitu bersemangat memberi motivasi kepada para peserta pelatihan untuk mengusai teknik jahit yang satu ini.

”Membuat smok ini memerlukan kesabaran dan keterampilan khusus jadi kalau sudah jadi barang harga jualnya bisa mahal. Karena ini merupakan benda seni yang punya keunikan sendiri. Jadi punya pasar menengah ke atas,” ujar perempuan kelahiran Jombang 16 Mei 1952 ini.

Tak hanya smok yang dihasilkan oleh ibu dari Eko Adi Kurniawan, Djoko Kuswanto, Wahyu Teguh Ariyanto dan Yudha Prastyo Utomo ini. Melalui CV-nya Nena-Namo, perempuan 5 orang cucu ini menghasilkan aneka produk kerajinan lainnya.

”Produk saya lainnya berupa kain blacu yang saya lukis. Saya bawa ke pameran. Lukis kain ini medianya macem-macem, bisa di tas, bukan kerudung aja karena sekarang ini baju dan jilbab yang dilukis sudah banyak, jadi saya ngambil lahan yang lainnya. Saya melukis di media produk souvenir, kotak kaca, kotak tisu, tudung saji, sarung bantal atau mukena,” ungkap peraih Juara III Wirausahawan Perempuan Jatim 2011 Dinkop Provinsi Jatim ini menjelaskan.

Kiat

Bila kebanyakan orang mengikuti tren dalam menciptakan suatu produk maka tidak demikian dengan Juara III UKM Award Jatim 2012 Semen Gresik ini. Agar produknya tidak pasaran ia sengaja membuat sesuatu yang berbeda dan berusaha mempertahankan keberbedaan itu agar konsumen mencarinya karena perbedaan itu.

Di rumahnya yang berada di Jalan Kedung Sari no 21 C Surabaya itu ia terus berinovasi. Salah satunya dengan memanfaatkan karung goni yang biasa dipakai untuk tempat beras dan gula pasir itu menjadi barang bercitarasa seni.

”Karung goni itu saya jadikan tas jinjing, tas laptop ataupun box-box kecil untuk peralatan rias itu. Produk saya paling murah harga Rp5 ribu untuk sarung ponsel, dan paling mahal Rp1 juta untuk bed cover dari kain katun yang saya lukis satu set dari bantal, guling, hingga seprainya. Saya nggak ikutan tren karena saya mau menciptakan gaya sendiri. Soalnya tren kan musim-musiman, jadi saya ingin punya ciri khas yang berbeda dari yang ada di pasaran. Makanya saya pertahanankan itu,” imbuhnya.

Terampil berkreasi seni ini konon berawal dari niatan nominator Pengentasan Kemiskinan Dinas Kota Surabaya tahun 2010 ini yang ingin membantu perekonomian keluarganya. Sebagai istri dari seorang marinir dengan 4 orang anak tentunya ia ingin agar semua kebutuhan keluarga bisa terpenuhi tanpa sepenuhnya bergantung dari gaji suaminya.

”Saya ini awalnya ibu rumah tangga biasa. Suami ABRI sering tugas kemana-mana. Gaji kan pas-pasan, dari situ saya berinisiatif untuk bisa memenuhi kebutuhan anak-anak. Bagaimana anak-anak jangan sampai minta buku dan kebutuhan sekolahnya nunggu gajian dari bapaknya dulu. Saya ingin untuk segala kebutuhan sekolah mereka, saya selalu ada dananya. Saya memang bisa menjahit sejak dulu. Tapi nggak pernah membuka jahitan. Saya ngambil yang konveksi. Lama-lama bosan karena gajinya kecil. Akhirnya ngambil yang dari butik yang 1 bajunya bisa sampai 15 ribu-20 ribu. Jadi dalam semingu bisa dapat banyak pemasukan,” katanya berkisah.

Dari keahliannya menjahit itulah ia akhirnya ditahun 1998 silam diangkat sebagai Ketua Pokja 2 PKK di kelurahan tempat tinggalnya. Selaku ketua kelompok yang membawahi 20 orang ia merasa punya tanggung jawab moral untuk mengembangkan diri agar lebih banyak lagi ibu-ibu rumah tangga yang bisa berpenghasilan sendiri meski tetap berada di rumah. Dari kegigihannya melatih ibu-ibu itu serta ketekunannya mengembangkan keahliannya itulah yang lama-lama membuatnya di kenal oleh orang dari dinas-dinas terkait.

”Karena tetap eksis itulah saya dikenal sama dinas. Waktu itu saya dapat stimulan dari dinas, saya diajak ikut pameran ke sana-kemari sambil terus membuat inovasi terus dalam produk-produk saya. Tahun 2003 menantu saya yang dosen di UPN itu mengajak saya untuk membuat produk dari kain blacu yang di lukis. Hasil itu yang membuat saya akhirnya lebih di kenal orang lagi,” tuturnya menutup perbincangan.[niken anggraini]

Komunitas Pekerja Migran di Hong Kong

Belajar Gratis di Shiny Creative


BMI Hong Kong sepertinya tidak pernah lelah untuk terus berkarya dan berinovasi sesuai bidangnya masing-masing. Ini sudah terbukti dengan banyaknya organisasi atau komunitas. Saat ini muncul lagi sebuah komunitas yang di prakarsai oleh beberapa BMI yang tergabung di kelas jarak jauh Universitas Ciputra, atau yang lebih dikenal dengan sebutan UCDE (Universitas Ciputra Distance Education). Mereka memberi nama grup-nya Shiny Creative.


Saat ini Shiny Creative mempunyai anggota tetap sekitar 25 orang, dan mereka bebas berkegiatan apa saja, tidak terikat dengan jadwal group. Kebebasan itulah yang membuat mereka terlihat kompak dan santai. ”Kami tidak mengikat dalam hal keanggotaan, juga dalam hal berkegiatan. Karena dengan memberi mereka kebebasan, bisa membuat mereka leluasa dalam berkarya dan menuangkan ide-ide baru," ujar Ketua Shiny Creative, Anik Hernawati.

Selain belajar ketrampilan dan komputer, di Shiny Creative kita juga bisa belajar tentang perawatan kulit wajah (facial), atau mencoba ber-facial agar kulit muka terlihat segar dan alami.

Karena lokasi ngumpul mereka yang tidak tetap,kadang di Causewaybay, kadang di Saiwanho maka kalau ada group lain yang ingin belajar bersama, mereka bersedia diundang.

”Kami siap di undang untuk belajar bersama bagi teman-teman yang tinggalnya agak jauh dari Causeway Bay, mari kita gunakan waktu sebaik-baiknya untuk mencari tambahan ilmu," ajak Anik Hernawati.

Shiny Creative juga terbuka untuk BMI yang ingin belajar membuat akun di Facebook, nge-Blog, YouTube dan juga belajar untuk membuat/mendesain Olshop (toko online). Untuk belajar komputer ini mereka juga tidak memungut biaya alias gratis.

”Kami hanya ingin membagikan ilmu yang sudah kami dapat selama ini, dengan cara belajar bersama, berdiskusi bila ada yang belum diketahui," ujar Anik Hernawati.

Yang bertanggung jawab untuk kelas kerajinan di Shiny Creative ialah Artini, yang mengajarkan kerajinan tas anyam dari bahan tali kor. Artini juga bersedia membagi ilmunya dalam hal jahit-menjahit, bila ada yang berminat belajar menjahit. Untuk belajar tas anyam Artini tidak mematok harga. Bagi yang sudah punya bahan tali kor, bisa membawanya dan menemui Artini untuk belajar. Dan untuk yang belum punya bahan dan tidak tahu tempat membelinya, mka Artini pun siap untuk membantu membelikanya.

"Di sini saya murni ingin berbagi, sehingga saya tidak memungut biaya untuk teman-teman yang ingin belajar, yang berminat silakan datang dan saya siap berbagi ilmu," tutur Artini yang mulai mengajar ketrampilan tas anyam pada Mei 2012 ini.

Group ini di dirikan oleh 4 BMI yaitu Adhyma Rahardjo, Sinta, Artini, dan Anik Hernawati, November 2012 . Semula mereka hanya berkumpul untuk mengerjakan tugas jarak jauh tersebut, kemudian berinisiatif untuk menambah kegiatan seperti membuat kerajinan, dan juga membagikan ilmunya ke teman-teman yang lain.

”Karena setelah mengerjakan tugas kelas, kami masih punya banyak waktu luang ketika libur, dan kami ingin mengisinya dengan belajar ketrampilan, juga menerima bila ada teman-teman yang bertanya mengenai tugas di kelas jarak jauh UCDE, atau bertanya seputar menggunakan komputer," jelas Anik Hernawati, ketua Shiny Creative. [aqu]


MAU BERGABUNG?

Untuk belajar dan menambah pengetahuan memang tidak bisa di batasi tempat dan status, biarpun kita hanya pekerja migran di sektor rumah tangga, tidak ada salahnya bila kita memiliki ilmu setara dengan mereka yang mengenyam pendidikan lebih tinggi.

Bagi yang ingin bergabung dengan Shiny Creative bisa mengontak:
-Anik Hernawati, Telepon: 98576732, Facebook: Nick Manggo.
-Artinim Telepon: 63811407. Facebook: Ani Ninek.
Atau silakan gabung di group Facebook: Shiny Creative.

Sabtu, 02 Februari 2013

Sop Ikan Batam Nagoya di Surabaya

Indonesia yang merupakan negara maritim memang kaya akan ikan. Surabaya juga merupakan tempat yang menjanjikan untuk bisnis kuliner berbahan ikan. Ikan tidaklah sulit dicari di sini. Selain bisa diolah dengan bumbu penyet, ikan juga bisa dimasak dengan bumbu berkuah.




Masakan Jawa Timur memang identik dengan pedas dan asin. Sehingga bila ada masakan dengan citarasa seperti itu, maka bisa dipastikan jika orang Jawa Timur akan menyerbunya lantaran sesuai dengan lidah mereka.

Sop Ikan Batam Nagoya yang merupakan makanan khas dari Batam itu ketika merambah Surabaya juga diserbu warga Surabaya. Pengunjung resto ini tak hanya dari Surabaya saja, beberapa diantaranya malah ada yang datang dari Sidoarjo, Malang dan Gresik pula. Terkadang ada pula pengunjung yang datang dari Sulawesi ke tempat itu bila mereka sedang ada urusan di Surabaya. Pertimbangan dipilihnya Surabaya sebagai tempat pengembangan dari resto ini juga didasarkan karena Surabaya merupakan kota kedua terbesar setelah Jakarta, dimana perputaran roda ekonomi berjalan dengan cepat sehingga daya beli masyarakat juga ikut bergerak cepat pula.

Jadi dengan fakta yang sedemikian ini maka tinggal kreatif-kreatifnya seseorang saja dalam menciptakan menu yang digemari masyarakat. Jika selama ini ikan kebanyakan dimasak dengan penyetan sambal atau menjadi bahan untuk pembuatan kerupuk ataupun abon maka kali ini resto tersebut mencoba menyajikannya dalam bentuk berkuah sebagai alternatif pilihannya.

”Surabaya itu identik dengan makanan yang pedas, makanya kami juga menyediakan varian menu yang mendekati selera orang Jatim di resto Sop Ikan Batam ini. Selain Sop Ikan Batam, sebagai alternatif menu lainnya kami juga menyediakan Sop Kepala Kakap dan Gulai Ikan Kakap yang bercitarasa mendekati masakan Jatim,”ujar Anwar Hidayat selaku operational manager dari Sop Ikan Batam Nagoya kepada Peduli.

Kendati merupakan usaha waralaba, namun penggunaan ikan di resto ini tidak langsung didatangkan dari Batam lagi. Semuanya menggunakan ikan-ikan yang ada di Surabaya. Hanya bumbu saja yang secara khusus masih didatangkan dari Batam. Ini sengaja dilakukan untuk menjaga kesegaran dari ikan yang menjadi bahan baku dari masakan ini. Meski berbahan ikan namun masakan yang ada di resto ini tidak menimbulkan rasa amis. Dengan bumbu yang sengaja dirahasiakan saat ditanya Peduli tapi yang jelas bau amis yang ada di ikan tidak terasa dalam masakan di resto ini. Pengunjung yang datang pun terbilang lumayan banyak. Dalam sehari resto yang kini ada di Tunjungan Plaza Mall I lantai 5 ini bisa menjual 80-90 porsi Sop Kepala Ikan yang berbahan dari ikan tengiri itu. Soal harga jual juga terbilang ramah di kantong warga Surabaya. Sop Ikan Batam dijual dengan harga 20 ribu, Sop Kepala Kakap 25ribu, Gulai Kepala Kakap 45 ribu, Tomyam 25 ribu, dan Nasi Goreng Sea Food dijual dengan harga 18 ribu.

Untuk menjaga kualitas mutu bahan dan rasa, di resto ini masakan baru di masak ketika pengunjung datang memesan makanan. Sebelum disajikan ke pengunjung bagian quality control akan mencicipi dulu masakan tersebut sudah sesuai belum dengan stadarisasi rasa yang sudah diberikan oleh pemilik waralaba ini atau belum. Bila rasa masakan dirasakan kurang dari standar maka bagian quality control akan meminta memasak ulang menu yang di pesan tersebut.

Saat ditanya oleh Peduli bagaimana kiatnya untuk menyisati harga jual makanan agar pelanggan tak kabur ketika terjadi kenaikan harga bahan baku masakan yang terkadang fluktuatif tergantung pada keadaan, pria asal Bogor berumur 36 tahun ini mengatakan kalau nilai kenaikan bahan baku tidak berkelanjutan maka kenaikan harga jual tidak perlu dilakukan.

”Paling kalau harga BBM naik aja yang mau nggak mau terpaksa harga jual menu ikut naik. Buat kami kalau selama ada profit, itu harga jual nggak perlu naik. Kecuali kalau sudah chaos gitulah baru ambil action harga jual menu baru naik. Karena kami bahan bakunya ikan semua jadi di sini nggak mungkin memberlakukan subsidi silang. Jadi naik satu ya naik semua. Tapi kalau kenaikan harga bahan baku yang sifatnya cuma sementara aja dan tidak berkelanjutan ya kami nggak menaikan harga. Misalnya pas lebaran yang lalu, harga ikan tengiri yang biasanya 1 kg cuma 36 ribu tiba-tiba naik menjadi 50 ribu, karena kenaikan ini cuma sementara dan kami masih ada keuntungan jadi kami tidak menaikah harga jual. Karena kenaikannya cuma sementara aja. Habis itu harga ikan kembali normal lagi,”katanya membeberkan kiatnya.[niken anggraini]

Pekerjaan dan Hobi Jalan Terus

Menjadi pekerja sekaligus menjadi pelaku usaha UMKM ternyata bisa dilakoni oleh perempuan yang satu ini. Disamping masih aktif menjadi juru warta disebuah tabloid yang terbit di Surabaya, istri dari Achmad Setyoadi ini juga getol menjadi wirausahawan kecil-kecilan menyeriusi usaha yang berawal dari hobinya sejak dulu.

Tak selamanya menjadi pekerja dan pebisnis tak bisa dilakoni secara bersamaan. Hal ini dibuktikan perempuan kelahiran Surabaya, 2 Februari 1982 silam ini. Usai berkosentrasi menulis berita, ia bisa saja segera beralih berkosentrasi membuat bros cantik untuk mempermanis penampilan seorang muslimah.




Dimata Rere Nia Achmad, jarum, benang dan kain perca bisa mencuri perhatiannya ketika ia penat dengan pekerjaannya. Meski bukan penjahit, tapi wanita yang pernah menulis buku Kisah Klasik Penyandang Disabilitas yang digagas oleh Peduli Difabel ini juga mahir mengubah guntingan-guntingan kain perca yang ada menjadi bentuk bros yang cantik.

”Menurut saya ini kegiatan yang sederhana. Mendesain bros, dijahit sana-sini, bisa jadi semacam pelarian lelah saya ketika bosan dengan pekerjaan,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Rere ini kepada Peduli.

Ketika disinggung mengapa ia masih melakoni kegiatan mencari uang meski sudah memiliki penghasilan tetap tiap bulan, perempuan berzodiak Aquarius ini mengaku ingin mendapatkan tambahan penghasilan disamping mendapatkan penghasilan dari pekerjaan rutinnya sebagai kuli tinta saat ini.

”Saya pengen punya penghasilan tambahan tapi tidak menganggu pekerjaan rutin saya. Kan bisa jadi usaha untuk bekal hari tua,” imbuhnya.




Ide memulai usaha pembuat bros ini dimulai pada 19 September 2012 silam. Waktu itu ia ingin membuka bisnis online tanpa modal awal. Dia pun membangun butik virtual yang kala itu dikhususkan untuk menjual busana muslimah dan anak-anak melalui alamat blog di http://raniasuit.blogspot.com. Butik online itu diberi nama Rania yang memiliki arti cantik. Selain itu Rania juga merupakan kependekan dari namanya sendiri Radian R. Nia. Di butik ini, ia hanya menjadi perantara penjualan dari pemilik merek busana itu. Jika ada penjualan dari butiknya barulah ia mendapatkan keuntungannya.

Sayangnya perempuan yang juga terlibat dalam penulisan buku Entrepreneur Story hasil kompetisi menulis di Es Teler 77 ini tidak memiliki keahlian dalam berniaga dan menawarkan barang-barang dagangannya. Beruntunglah ia punya sahabat yang membantunya. Dari sahabatnya yang bernama Agustina itulah Rere mengaku banyak belajar berbinis. Mulailah ia menjadi reseller dari salah satu merek busana muslimah.

”Urusan penyediaan dan pengiriman barang dibantu oleh Mbak Tina (panggilan Agustina). Saya melayani customer yang order dan promo,” lanjut anak kedua dari tiga bersaudara.

Rupanya, blog Butik Online Rania mendapat respon positif. Butik ini banyak dikunjungi orang. Agar lebih bervariatif lagi barang-barang di butik onlinenya itu Rere pun menambah barang dagangannya dengan menjual bros-bros hasil karya teman-temannya. Lamban laun, Rere terpikir untuk memajang bros handmade-nya sendiri. Berbekal dari seringnya ia melihat cara membuat bros dari buku-buku dan berekperimen membuat bros sendiri maka munculah pemikiran untuk menjual bros buatannya itu. Dengan modal Rp 50.000 ia mulai kulakan bahan aneka kain untuk bahan membuat bros. Beruntung Rere memiliki ibu yang rajin mengumpulkan kain sisa dari menjahitkan baju. Ia juga memiliki seorang budhe yang bekerja sebagai penjahit, sehingga sisa kain perca bisa dihibahkan padanya. Dengan begitu biaya bahan untuk membuat bros lumayan tersedia.
”Jujur waktu itu saya nggak pede sama sekali menjual bros-bros buatan saya. Saya bukan orang yang expert membuat bros. Tapi justru teman saya membantu meyakinkan,”jelasnya.

Perempuan yang mengaku doyan makan bakso dan mie ayam ini tidak menyangka kalau bros-bros buatannya yang berbagai model itu akhirnya mendapat sambutan yang bagus dari khalayak. Dari waktu ke waktu grafik penjualan brosnya semakin naik. Agar pelanggan tak kecewa Rere pun berusaha memprioritaskan kualitas bros handmade-nya ketimbang kuantitas barang produksi. Bros-bros ini diberi label Rania sama dengan nama butiknya.

Selain berjualan secara online pemilik kulit sawo matang ini juga giat membawa bros-bros buatannya saat ia pengajian. Dari berjualan di pengajian ini juga rasa percaya diri Rere makin berkembang. Respon positif dari pembeli makin meyakinkannya kalau bros buatannya sangat diminati pasar. Ia pun gencar mengikuti sejumlah bazar yang ada di dalam dan luar kota. Bahkan hingga keluar pulau. Butik online dan bros handmade Rania juga menjadi sponsor acara. Aneka bros-bros cantik dari bahan kain kaos, katun, sifon dan flanel dipadu dengan kancing bikinannya ini dijual di mall, pusat perbelanjaan, toko souvenir dan busana yang ada di Surabaya dan Sidoarjo.

”Sebagai pemula didunia bisnis, ini adalah langkah kecil yang menyenangkan. Semua tidak lepas dari doa orang-orang baik di sekeliling saya, dan yang utama izin suami dan ridha Allah SWT,” ungkapnya.

Ketika ditanya soal harga jual, wanita yang belum dikaruniai keturunan ini menyebutkan harganya ramah dikantong. Murah tapi tidak murahan, begitu dia menegaskan. Pembelian grosir atau minimal 12 buah, harga terendah Rp 3000 perbuah.

”Saya sengaja melayani grosir karena ada beberapa pembeli yang ingin menjual kembali bros-bros Rania. Klik saja di facebook Rania Suit Suit atau blog-nya,” kata Rere setengah berpromosi.[niken anggraini/foto dok:pribadi]

Minggu, 30 Desember 2012

SELAMAT TAHUN BARU 2013

Selamat! Kita sudah memasuki tahun yang baru. Jangan lupa bersyukur, Yang Mahakuasa telah memberikan kepada kita kesempatan untuk meghirup udara tahun baru (2013) ini. Dan berdoalah kita, semoga udara yang kita hirup semakin bersih dari segala bibit penyakit. Dan dengan semangat makin membaja kita tantang masa depan yang jauh membentang. Bukankah peta sudah dibuat, dan segala bekal semakin siap? Lalu dengan kerja kita bentangkan layar. Sebab harapan tak boleh pupus, harus semakin mekar.


Jika menjelang perayaan tahun baru Anda sempat mengintip dinding Facebook teman-teman kita, Anda akan mendapati bahwa mereka sudah bulat dengan rencana perayaan tahun baru, dengan cara mereka masing-masing. Beberapa di antaranya merencanakan pesta, makan bersama, joget bersama. Seolah mereka lupa, pesta sering membuat orang mabuk. Bukan karena minuman beralkohol, tetapi kemeriahan itu cenderung membuat orang melayang di awang-awang yang salah, bermimpi tanpa juntrungan, bukan mimpi yang berhimpitan dengan rencana-rencana yang kita susun, yang bahkan, mungkin, sudah mulai atau lewat setengah jalan. Bukan mimpi yang kita tunggu menjelma kenyataan. Mimpi orang di dalam kemeriahan pesta biasanya adalah tujuan itu sendiri. Dan itu maya alias semu. Suka-cita yang disebut orang Jawa: ”Mung sagebyare thathit,” (= hanya sekelebat kilat).

Apakah kita tak boleh berpesta? Oh, tentu boleh. Yang tidak boleh atau sebaiknya tidak, adalah: menyiapkan diri untuk tenggelam di dalam pesta itu dan karenanya yang tertanam di dalam kesadaran kita hanyalah bahwa tahun baru adalah ketika kembang api dinyalakan. Mungkin kita suntuk semalaman hingga terkapar, mabuk kesenangan. Hingga ketika bangun keesokan harinya, dalam sadar sesadar-sadarnya pun tetap saja tidak tahu pada kordinat mana kita berdiri. Dan titik mana mesti kita parani (tuju). Dan dalam konteks seperti inilah ayat ini, ”Demi waktu, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian…” sungguh pas banget!

Sering kita merasa sadar, merasa tahu, padahal kita nyaris tak ubahnya manusia tidur berjalan. Atau seperti ranting hanyut di arus deras, dan sambil bersiul atau bernyanyi riang kita biarkan tubuh dan jiwa kita terbawa arus, yang kadang disebut tren, mode, gaya hidup anak gaul, atau apa-pun-lah sebutannya. Sering batin kita berteriak, ”Inilah aku!” Tetapi, jagad sakisine atau seru sekalian alam hanya mendengar teriakan itu sebagai sebuah igauan, sebab pada saat yang sama masing-masing kita tidak pernah dapat menjadi ’aku.’ Tampaknya, memang, kita tak lebih dari sebuah kerumunan. Kecuali, mereka yang kapan dan di mana pun selalu sadar takaran. Semoga, di dalam perkecualian itu ada engkau, juga saya! Amin. Selamat tahun baru. Merdeka!

Kamis, 13 Desember 2012

Siska Sumartono: ”Barang Kita harus Limited Edition”

Selama ini sulam sering berkonotasi jadul. Maka, ibu 3 anak ini ingin sulam digemari anak-anak muda. Melalui label Sari Ronche miliknya, ia mulai mengaplikasikan sulamannya itu pada celana jeans, rok jeans, overcoat dan blus kerja wanita.Tak ayal, segala jenis produk buatannya bisa bernilai jual tinggi.
Siska menunjukan salah satu aplikasi sulam pada baju

Semula, istri Stefanus Sumartono ini tak pernah membayangkan kalau keahliannya menyulam sejak kecil itu bisa dijadikan lahan untuk mengais rezeki. Ini terbukti lulusan STM Pembangunan Teknik Kimia alumni tahun 1990 ini tercatat malah pernah bekerja di sebuah perusahaan kosmetik selama 17 tahun. Tak tanggung-tanggung, kala itu posisinya sudah bukan karyawan biasa. Namun, dalam perjalanannya itu akhirnya ia menyadari bahwa menjadi karyawan bukanlah minatnya.

”Aku sudah 17 tahun kerja di perusahaan kosmetik. Itu posisinya sudah bagus dan punya anak buah 200 orang. Tapi, akhirnya aku ngerasa di situ bukanlah passion-ku. Aku resign tahun 2007. Dari situ aku ngerasa ingin mulai berbisnis kecil-kecilan. Kebetulan suka sulam sejak kecil. Jadi ya mulai buat produk terus ikut pameran, masuk ke instansi pemerintah dan akhirnya bisa ketemu banyak komunitas yang akhirnya menginspirasi supaya lebih baik lagi,” katanya.
Sulam pada baju bolero

Di saat awal menerjuni bisnis sulam, semula ibu dari Frans Galih Sumartono (15), Imanuel Gading Sumartono (10), Nikolas Ganesya Sumartono (4) ini menjalin kerja sama dengan salah seorang temannya yang memiliki usaha busana muslim ternama di Surabaya. Ia menyulam baju-baju muslim hasil rancangan sang teman tersebut. Namun, akhirnya pada 2009 ia memutuskan untuk mendirikan CV sendiri dan mengeluarkan produk yang diberi nama Sari Ronche.

”Aku awalnya kerja sama dengan temenku yang punya merek baju muslim terkenal di Surabaya. Aku banyak belajar dari dia. Tapi, akhirnya aku putuskan kerja sendiri dengan mendirikan Sari Ronche di tahun 2009. Dengan pesangonku dari perusahaan kosmetik dulu,” imbuhnya.

Banyak terinsiprasi dari baju muslim yang rata-rata disulam maka perempuan kelahiran Surabaya 21 Maret 1970 ini mulai menggunakan sulam pada baju kerja miliknya dan baju-baju yang biasanya dipakai anak muda zaman sekarang.

”Baju-baju kerjaku aku sulam. Itu banyak terinspirasi oleh baju-baju muslim yang disulam pada waktu itu. Karena bukan jiwaku, nuwun sewu saya kurang suka dengan baju-baju yang tertutup, saya suka baju yang modis. Karena sulam imagenya selama ini identik dengan sesuatu yang kuna, jadul, muslim, atau mungkin taplak meja aja, jadi saya ingin mencoba sesuatu yang bisa diterima anak muda. Intinya aku ingin sulam itu bisa dipakai anak muda, ini hanya masalah peletakan sulam, pilihan warna dan desainnya aja kok. Kamu bisa tampil manis dengan sulam. Jadi rok jeans saya sulam. Harga beli jeansnya semula Rp 125.000 atau Rp 150.000, setelah disulam harga jualnya jadi 3 x lipat,” pemilik usaha yang beralamat di Karang Menjangan 8/4 Surabaya ini mengisahkan.

Industri Kreatif

Dengan menyulam desain rumput, perdu, kupu-kupu, capung, rumah laba-laba ataupun pemandangan dan burung, produk-produk keluaran Sari Ronche bahkan bisa menembus harga hingga Rp 2,8 juta untuk sebuah baju saja. Ada kalanya juga penulis buku Baju Kerja Berbahan Tenun Jatim ini menambahkan aksen goni yang ia sulam untuk mempercantik baju-baju rancangannya tersebut. Produk-produk buatan Siska ini bahkan sudah digemari oleh masyarakat yang ada di Balikpapan, Samarinda, Palangkaraya, Jakarta, Ternate dan Palembang.

Perihal harga jual yang mahal, Siska mengatakan tidak ada batasan atau patokan khusus jika itu berkaitan dengan produk seni. Asalkan baju itu berkualitas dan desainnya tidak ’pasaran’ maka harga jual dari suatu produk bisa saja bervariasi.

”Harga jual itu dipengaruhi kualitas bahan, desain, dan kerapian. Untuk sesuatu yang berbau seni, karena sulam juga pekerjaan seni, kita tidak bisa mengukur atau di break down misalnya biaya produksi 25 ribu terus harga jualnya tinggal ditambah 30% dari harga produksi tadi sudah cukup. Tidak bisa begitu. Tapi, dengan catatan barangnya bagus ya. Tidak pasaran. Tidak sama dengan barang-barang konveksi. Istilahnya barang kita harus limited edition. Trik berbisnis saya, saya banyak bermain di pasar atas. Kalau saya mau merebut pangsa kelas bawah jelas saya kalah sama yang punya ratusan karyawan, saya terbentur tenaga kerja juga. Saya juga nggak mau barang saya pasaran. Saya ingin menggaji karyawan saya dengan layak juga. Jadi harga jual tidak ada patokannya,” tuturnya.
Sulam pada bungkus kotak tisu

Siska memang tidak sekadar berproduksi, tidak asal menghasilkan barang sebanyak-banyaknya untuk memburu keuntungan yang lebih besar, melainkan dengan mengoptimalkan daya kreasinya. Begitulah cara kerja industri kreatif yang sering didengung-dengungkan belakangan ini. (niken anggraini)

Rabu, 05 Desember 2012

Sahani: Berjuang bersama Petani



Mencari kios Sahani bukan pekerjaan mudah. Kios di Jalan Palagan Tentara Pelajar, Jongkang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini, letaknya memang agak menjorok ke dalam. Sebuah patung perempuan bercaping dengan keranjang berisi hasil bumi di tangan kanannya, terpajang di halaman. Apa sih sebenarnya Sahani itu? Sejak memasuki halamannya, kita akan merasa bahwa kios ini bukan kios seperti pada umumnya. Pada dinding depan terpajang baliho besar bertuliskan ’’Sahabat Petani Organik’’. Demikian juga ketika masuk ke dalam ruang, informasi mengenai pertanian organik dan kondisi pertanian Indoneisa dapat kita temukan dalam bentuk poster yang terpasang di dinding serta berbagai brosur yang tersusun di meja.

Kios itu diberi nama ’Sahani’ yang berarti sahabat petani. Dengan slogan aman, sehat, adil, Sahani berkiprah di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya dengan menjadi sahabat petani organik memasarkan hasil produksinya. Pertanian organik dipilih Sahani bukan saja karena lebih sehat karena terbebas dari unsur-unsur kimia, melainkan karena adanya nilai besar yang diusung pada saat pendiriannya.

Prihatin

Menurut Imam Hidayat, Manajer Sahani, awalnya Sahani merupakan bagian dari kelompok kerja yang membawahi urusan bisnis Konsorsium Masyarakat Fair Trade yang berdiri di Yogyakarta pada tahun 1991. Kelahiran konsorsium ini sendiri dilatarbelakangi oleh keprihatinan atas buruknya kondisi petani di Indonesia.

Sebagai tulang punggung pemenuhan kebutuhan pangan pokok, petani tidak pernah menjadi tuan bagi usaha pertaniannya. Segala hal yang berkaitan dengan pertanian telah ditentukan harganya oleh pihak luar, seperti harga benih, harga pupuk, bahkan harga jual produk pertanian. Dengan kondisi demikian, petani tak beda dengan buruh di tanah sendiri.

Sebagai langkah awal keluar dari jerat tersebut, dirintislah usaha pertanian organik di beberapa wilayah seperti Magelang, Muntilan, Boyolali, Klaten, Sragen, dan Kebumen di wilayah Jawa Tengah dan Sleman, DI Yogyakarta. Budi daya pertanian organik dipilih karena dalam keseluruhan proses memperhatikan kearifan lokal dan juga ramah lingkungan.

Lebih dari itu, benih tanaman yang dibudidayakan merupakan tanaman lokal --bukan merupakan hasil rekayasa genetic-- yang pemuliaannya sepenuhnya berada dalam tangan petani. Penekanan pada kemandirian petani ini penting karena selama ini, sejak digulirkannya Revolusi Hijau tahun 1970-an, petani tidak memiliki kedaulatan atas jenis padi yang mereka tanam, pupuk yang mereka gunakan, sampai pada tingkat harga produk yang merka hasilkan.

Lebih Mahal

Sebagai sebuah upaya penghargaan terhadap para petani, Sahani mematok harga produksi pertanian di atas harga rata-rata bahan pangan yang dijual di pasaran. Sebagai contoh beras jenis C4 yang di pasar saat ini dijual dengan harga sekitar Rp5.000,00/kg, oleh Sahani dijual dengan harga Rp7.000,00/kg. Itu merupakan harga beras terendah yang dijual oleh Sahani.

Beras lokal yang merupakan produk andalan Sahani dijual lebih tinggi dari harga tersebut. Misalnya mentik Rp7.500,00/kg, beras merah Rp8.000,00/kg, dan rojolele Rp9.000,00/kg. Tahun ini bahkan mulai diproduksi dan dipasarkan juga beras hitam, sebuah varietas yang hampir punah dengan harga jual di tingkat konsumen Rp15.000,00/kg.

Selain beras, Sahani juga menyediakan berbagai hasil pertanian lain seperti sayuran, berbagai jenis kacang (kacang hijau, kedelai, dsb.) dan produk olahan dari hasil pertanian tersebut seperti kecap, emping garut, pati ganyong, dan lain-lain.

Meski harganya cukup tinggi, sejauh ini Sahani tidak mengalami kesulitan berarti dalam hal pemasaran. Hal itu disebabkan pangan organik memiliki segmen pasar tersendiri. Selain mereka yang berkeinginan untuk meningkatkan kualitas kesehatan, masyarakat yang paham akan ketidakadilan dalam sistem pertanian menjadi segemen utama pemasaran produk-produk pertanian organic tersebut.

Idealisme

Sebagai sebuah lembaga bisnis yang menjunjung tinggi idealisme, Sahani hanya bersedia menjadi mitra bisnis petani yang mengorganisasikan diri. Saat ini setidaknya terdapat 11 kelompok tani di wilayah sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta yang bermitra dengan Sahani. Selain membantu dalam memasarkan hasil pertanian kelompok-kelompok tersebut, Sahani juga berusaha membantu kelompok tersebut dalam hal penguatan kapasitas.

Dalam upaya penguatan kapasita, Sahani biasanya menggandeng lembaga mitranya yang bergelut dengan isu-isu yang dibutuhkan oleh kelompok. Demikian juga ketika sebuah kelompok tani menghadapi masalah berkait dengan ketidakadilan struktural yang mereka hadapi, Sahani akan mencarikan lembaga mitra yang mampu mendampingi kelompok tersebut memperjuangkan keadilan.

Dalam hal memasarkan produk pertanian anggota kelompok, Sahani juga menerapkan sebuah idealisme tersendiri. Bersama kelompok-kelompok tani, Sahani membuat kesepakatan bahwa setiap kali panen, petani harus menyisihkan sepertiga di antaranya sebagai bahan pangan keluarga. Sepertinya lainnya untuk kegiatan sosial di tempat tinggalnya (seperti nyumbang dalam tradisi Jawa), dan sepertiga lagi untuk dijual.

Pada awalnya ini bukan hal yang mudah dilakukan. Banyak petani tergiur untuk menjual semua hasil pertaniannya karena harganya lebih tinggi dari produk pertanian non-organik dan memenuhi kebutuhan pangan mereka dari produk non-organik. Kondisi demikian tentu tidak akan merubah situasi ketertindasan petani. Itulah mengapa Sahani kemudian merasa perlu membuat kesepakatan dengan mereka.

Jaringan Pemasaran

Saat ini jaringan pasar Sahani telah terbangun di empat kota yaitu Yogyakarta, Jakarta, Bogor, dan Surabaya. Meningkatnya kesadaran hidup masyarakat dan berkembangnya gaya hidup kembali ke alam menjadikan minat konsumen akan pangan organik semakin meningkat. Namun demikian, tanpa stabilitas ekonomi yang baik, peningkatan kesadaran tersebut tidak berbanding lurus dengan perluasan dan perkembangan pasar produk organik karena tingginya harga.

Meski di sisi pemasaran cukup stabil, hingga saat ini Imam tetap merasakan kegelisahan berkait dengan kesadaran masyarakat akan kondisi pertanian di negri ini. Menurut dia, sejauh ini konsumen Sahani lebih banyak mengkonsumsi produk-produk pertanian organic karena alasan kesehatan dan bukan alasan pemahaman akan hak-hak petani. Kenyataan ini menjadikan Imam dan teman-temannya di Sahani merasa perlu melakukan upaya lebih keras lagi untuk menyebarluaskan informasi kedaulatan petani ini kepada konsumen, baik melalui selebaran maupun perbincangan langsung dengan mereka. [am]

Batik Trenggalek yang Dulu pernah Berjaya Makin Ludes Digerus Batik Pabrikan



Trenggalek pada masa 70-an sampai 80-an cukup dikenal dengan kerajinan bathik tulisnya. Bahkan ada nyanyiannya yang cukup popular yaitu nyanyian Kutha Trenggalek … kalokeng rat produksi batik Tenggalek , tempene alen-alen tekan manca praja… itu merupakan sepenggal bait nyanyian tersebut yang menyiratkan bahwa batik Trenggalek cukup terkenal sampai lain daerah. Bahkan, banyak orang yang lebih mengenal batiknya daripada kota Trenggaleknya. Wilayah yang menjadi sentra utama kerajinan bathik adalah Kelurahan Sumbergedong dan Surondakan Kecamatan Kota Trenggalek. Di kedua Kelurahan ini, dulu setidaknya sampai tahun 1980-1n ada ratusan perajin batik tulis. Bahkan, karena telah menjadi pusatnya bathik di Trenggalek jalan-jalan atau gang banyak yang dinamai dengan nama motif batik seperti Gg sidomokti, Gg Parang kawung, Gg gringsing, dll.

Ada beberapa nama yang menjadi perajin batik tulis yang cukup besar antara lain Suparni, Sukono, dan Nyoto. Di era 80-an produksinya mereka masing-masing sekitar 300 lembar batik/5 hari.

Dengan mempekerjakan 6 orang karyawan saat itu Suparni masih kewalahan melayani permintaan “ Saat itu karyawan saya 6 orang belumlagi saya sendiri, istri saya serta anak saya yang sudah bisa mengerjakan juga ikut membantu mengerjakan batik,” kenang Suparni.

Kini sentra bathik tersebut tinggal nama saja sejak terjadinya krisis ekonomi Tahun 1998 seluruh perajin Bathik yang ada gulung tikar. Yang tersisa hanyalah nama-nama gang yang menunjukkan bahwa didaerah ini dulunya merupakan pusatnya perajin bathik.

Saat Peduli menelusuri kampung ini rata –rata yang dulunya mereka adalah perajin bathik telah beralih usaha, ada yang buka toko (mracang) memelihara ayam, ada yang bercocok tanam dan lebih banyak lagi yang menjadi pekerja serabutan.

Memang ada 1-2 orang yang masih menekuni bathik namun itu hanya dijadikan kerja sampingan saja. Namun secara umum bathik di kampung ini tinggal nama saja kalau dari segi produksinya memang sudah bisa dikatakan mati.

Beralih ke Tukang Cuci

Salah seorang mantan perajin batik yang cukup terkenal adalah Suparni (68) warga RT I/RwI Kelurahan Sumbergedong Kecamatan Trenggalek. Saat Peduli datang ke kediamannya, pagi itu Suparni sedang melayani pelanggan yang memerlukan jasanya untuk menggiling tepung (selep tepung) sedangkan istrinya Sunarmi (62) tampak sedang memasak, sambil menjaga toko (mracang). Di samping itu ia masih menerima jasa loundry atau pencucian pakaian.

Suparni


Saat menceritakan tentang riwayat batik ia tampak masih bersemangat, apalagi istrinya. ’’Sebetulnya saya sudah menjalani usaha batik sejak tahun 1964 dan kebanyakan di lingkungan sini hampir setiap rumah membatik. Bahkan, sungai depan rumah ini dikenal dengan sungai batik karena siang malam tidak pernah sepi dari aktivitas masyarakat yang memcuci hasil garapan,’’ tuturnya.

’’Saat itu saya sendiri dengan 6 orang karyawan sering kewalahan melayani permintaan pedagang langganan saya, memang setiap 5 hari sekali paling tidak 300 lembar habis terjual dan tidak perlu memasarkan ke pasar karena pembelinya datang sendiri,’’ lanjut Sunarmi.

Masih menurut penuturan Sunarmi dari usaha bathiknya itu ia bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, untuk biaya sekolah 6 orang anaknya, bahkan masih menyisakan sebagian untuk ditabung.

Namun, ketika terjadi krisis ekonomi yaitu sekitar Tahun ’98 semua pengusaha batik gulung tikar.

’’Matinya usaha batik di sini ya saat ada krisis itu, pembeli tidak ada, bahan-bahan untuk produksi mahal semua, bahkan seperti bahan pewarna (sogo) hilang dari pasaran. Bila pun ada, harganya sudah tidak nucuk (tidak menguntungkan) lagi. Mau gimana lagi kalau dipertahankan yang jelas ngentekne barang sing wis enek, (menghabiskan apa-apa yang sudah tidak ada -Red)’’ ujar Suparni.

Sejak saat itu untuk memperoleh pengasilan sehari-hari para perajin bathik banyak yang beralih profesi, seperti Suparni sendiri karena usianya sudah cukup tua biarpun memiliki beberapa bidang sawah, namun tidak dikerjakan sendiri. Sawah pembelian dari hasil bathik saat masih jaya-jayanya itu dikerjakan oleh orang laindengan cara bagi hasil.

Sedangkan ia sendiri aktivitasnya hanya sebatas membantu istrinya menunggui penggilingan tepung serta pracangannya, disamping itu sedikit-sedikit dari jasa loundry-nya setiap hari selalu ada.

’’Sejak berhenti mbathik ya ini mas kegiatan saya, buka pracangan dan selep tepung sedang jasa cuci ini baru setahun berjalan. Ya biarpun sedikit yang penting ada pemasukan dan daripada nganggur. Untung, anak-anak saya sudah punya usaha sendiri biar pun kecil-kecilan, ada yang usaha servis elektronik, ada yang usara rental komputer,’’ tutur Suparni.

’’Sebetulnya saat ini bathik mulai laku lagi tapi rasanya sudah males mas … wis tuwek (sudah tua, Red) , apa lagi anak-anak tidak ada yang berminat,’’ tutur Sunarmi istri Suparni.

’’Sekarang sebenarnya masih ada yang mbathik setahu saya di Surondakan masih ada satu,yaitu di sebelah barat Terminal Bus dan di Sumbergedong ada yang besar satu dan beberapa orang sebagai buruh saja,’’ lanjutnya.

Bertahan sampai sekarang

Kediaman Nyoto (50) sekitar 50m masuk gang sempit ke arah barat dari terminal Bus Trenggalek. Saat peduli datang kekediamannya tampak Suwarti istri Nyoto sedang istrirahat setelah selesai mencuci bathiknya. Tampak sekitar 10 lembar kain bathik pada jemuran di gang sempit jalan masuk ke rumah Nyoto, kelihatannya baru saja dijemur karena masih terlihat basah dan masih ada tetesan airnya.

Sambil duduk istirahat di teras rumahnya inilah peduli ngobrol tentang usaha yang digelutinya. Menurut penuturannya ia sudah sejak Tahun 1980 menggeluti usaha bathik ini. Usahanya sempat mengalami masa keemasan namun sejak terjadinya gejolak ekonomi yang tidak menentu perlahan-lahan usaha yang ditekuni mengalami surut sampai sekarang.

Walaupun demikian, sang istri, Suwarti (48) sampai saat ini masih setia menekuni pekerjaan mbathik.

’’Mau kerja apa lagi, lha wong ketrampilan saya ya hanya mbatik, biarpun sangat jauh hasilnya bila dibanding saat masih ramai (80-an –Red) tapi sedikit-sedikit masih ada pemasukan,’’ ujarnya.

’’Paling banter dalam seminggu saya bisa menyelesaikan 10 - 12 lembar. Itu pun saya kerjakan sendiri. Sedangkan pemasarannya ya memang lambat tapi ya tetap ada saja yang beli,’’ lanjutnya.

Menurut penuturan Suwarti, motif yang dikerjakan hanya beberapa motif saja yaitu sidomukti, gringsing, semenrama. Padahal, dulu ia bisa mengerjakan hampir 20 jenis motif batik.

Harga jual batik yang dihasilkan Suwarti ini yang biasa Rp55.000 sedangkan yang bagus (alusan) mulai dari bahan dan pengerjaannya Rp75.000 per lembar. Dari harga itu ia hanya memperoleh untung Rp10.000 sampai15.000 per lembar. Itu pun kalau lakunya cepat.

Kendala utama usaha bathik ini menurutnya adalah bahan baku yang sekarang mahal dan semakin banyaknya batik keluaran pabrik.

’’Saat ini kan sudah jarang orang yang sehari-hari menggunakan sewek (jarit) semua beralih ke pakaian modern, jadi ramainya pembeli hanya saat menjelang Hari Raya dan Agustusan saja,’’ tutur Suwarti.

Dilihat dari keluhan tersebut memang pemerintah sebaiknya segera membuat satu kebijakan (terutama pemerintah daerah) yang bisa membangkitkan kembali Bathik yang sempat menjadi ikon kota Trenggalek. [Purwo Santosa]

Elita Sari Anggarini Memulai Bisnisnya dari Pesangon Perusahaan yang Bangkrut



Pastinya tak seorang pun yang berharap perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan. Sebab itu artinya seseorang harus bersiap kehilangan pekerjaan yang menjadi sumber pendapatannya selama ini. Namun justru dari sinilah perempuan 42 tahun ini jadi berani untuk berwirausaha sendiri. Ketika perusahaannya dinyatakan bangkrut dan harus tutup di tahun 2002 silam, perempuan kelahiran 12 Oktober 1970 ini sempat dihinggapi rasa kesal dan kecewa. Bisa dimaklumi, loyal bekerja sebagai seorang sekretaris selama sembilan tahun tentunya perusahaan bangkrut bukanlah hal yang menyenangkan baginya. Selain harus kehilangan pekerjaan, ia juga harus mulai dari nol lagi bila ingin terus berpenghasilan. Jelas ini bukan perkara mudah. Di usia yang sudah matang, mencari pekerjaan baru tentu bukan hal gampang. Banyaknya lulusan baru yang belum berpengalaman sehingga mau digaji murah akan menjadi kendala yang tak terlihat langsung. Jadi, satu-satunya jalan ya berwirausaha sendiri.

”Perusahaan tempat saya bekerja bangkrut dan tutup mendadak. Padahal, saya sudah bekerja 9 tahun. Agak mangkel juga karena saya sudah bekerja sejak tahun 1995. Mau melamar kerja tentunya kompetitornya yang masih muda-muda itu padahal saya sudah umur 30. Akhirnya saya pilih berwirausaha saja. Saya ikuti semua pelatihan yang ada mulai dari mengolah enceng gondok sampai membuat kue kering,” aku Elita.


Dengan bekal uang pesangon sebesar Rp7.500.000 yang ia dapatkan saat itu, akhirnya mulailah alumnus SMAN 2 Surabaya ini berwirausaha. Namun, lantaran belum berjodoh dengan usaha yang digelutinya itu ia pun harus berkali-kali berganti usaha mulai membuat kerajinan dari enceng gondok, jualan daster batik yang diambil dari Jateng hingga menjual aneka kue kering. Tahun 2005, saat uang pesangonnya sudah menipis, barulah ia menemukan jatah rezekinya dengan membuat gift box seperti saat ini.

”Awalnya saya beli buku-buku kerajinan membuat kotak. Terus coba-coba membuat. Waktu itu uang sudah tinggal 50 ribu saja. Saya buat kotak tisu dan kotak-kotak kado yang saya titipkan di toko buku dan minimarket begitu. Jualnya dengan cara konsinyasi. Tetapi, lama-lama cara berjualan seperti ini ada kelemahannya juga. Model kotaknya suka dibajak orang. Padahal, membuat kotak itu yang rumit kan hitung-hitungan ukurannya. Kalau kita sudah membuat kotak dengan desain baru, tiba-tiba aja ada yang membajaknya dan menjualnya dengan harga rendah kita kan jadi rugi juga,” imbuhnya.

Kenyataan ini membuatnya memutar otak mencari strategi penjualan baru. Penjualan secara langsung dengan sistem putus pasti lebih menguntungkannya. Dengan seringnya ia mengikuti pelatihan yang dibuat oleh Dekranas Surabaya, Desperindag, hingga Dinas UKM, Elita jadi mendapatkan banyak masukan tentang bagaimana cara menjual kotak buatannya tersebut. Sasaran yang ditujunya kini adalah rekan-rekannya sesama pelaku UKM. Ia pun berlaku seperti penjahit, siapa yang mau pesan kotak bisa berbelanja sendiri bahannya dan Elita hanya akan menentukan ongkos pembuatan saja.


”Para instruktur banyak memberikan masukan akan pentingnya sebuah kemasan. Karena kemasan bisa menaikan harga jual barang sebab pangsa pasarnya juga berbeda. Oleh karena itu saya bisa fokus di bidang membuat box kemasan ini. Pasar saya ada di sini. Teman-teman UKM mengaku kesulitan kalau mau pesan kotak kemasan karena ada minimal order-nya. Dari sini saya dapatkan celah baru, nggak apa-apa pesan cuma 1 biji aja tetap saya layani, tapi kalau pesan banyak harganya akan lebih murah. Nggak masalah buat saya meski cuma pesan 1 biji, misalnya minta dibuatkan kotak tempat kalung maupun baju batik,itu malah membuat saya senang juga kok, saya jadi nggak bosan dengan model dan warna yang itu-itu aja. Saya bantu teman-teman UKM itu dengan doa, semoga usahanya maju, nanti kalau usahanya maju nanti dia bisa pesan lagi ke saya. Itu kan namanya berbagi rezeki,” katanya seraya tersenyum.

Di rumahnya yang beralamat di jalan Ketabang Ngemplak no 30 Surabaya itu kini Elita dibantu 4 orang saudaranya yang membantunya membuat box kemasan. Ia memberi nama handycraft buatannya itu dengan label Ondomohen. Nama itu ia ambil lantaran Ondomohen adalah nama kawasan tempat ia tinggal tersebut. Harga jual box paling murah seharga Rp 7.000 berupa tempat box aksesoris. Sedangkan kotak paling mahal berupa box peningset lamaran, pesanan dari seorang beretnis China yang per biji harga kotaknya mencapai Rp125.000. Soal modal, Elita mengaku tak mengalami kesulitan. Sebab sebelum seseorang pesan dibuatkan kotak kemasan ia sudah meminta DP sebanyak 50%.

”Insya-Allah soal modal saya nggak mengalami masalah. Soalnya kalau mau pesan itu DPnya 50%. Dengan modal 50% itu saya belikan bahan keperluan pembuatan box. Nanti kalau pesanan sudah jadi yang 50 %nya lagi itu sudah masuk biaya produksi sebanyak 25%nya. Sedangkan 25 % sisanya merupakan profit usaha saya. Sejauh ini saya baru memperkerjakan 3 orang saudara saya saja, soalnya tetangga saya kebanyakan nggak mau, mereka lebih suka menjadi SPG. Mungkin karena membuat box ini harus mengukur itulah yang membuat mereka nggak berminat mengerjakannya,” tuturnya.(niken anggraini)

Selasa, 04 Desember 2012

Usaha Jenang Syabun di Tulungagung

Pasar Bagus, Untung Bagus, Modal Kurang


Kesulitan mengembangkan usaha dialami oleh pasangan Asro’i dan Siti Fathonah, pemilik usaha rumahan jenang syabun di Kabupaten Tulungagung. Bagaimana tidak? Pasar bagus, untungnya juga lumayan. Tapi sayangnya, mereka kesulitan modal.
Diakui oleh Siti Fathonah, selain bulan puasa dan saat-saat sekolah libur, pasar penganan berbahan utama beras ketan, gula, dan kelapa tersebut sangat bagus dan cukup stabil. Sehingga, menurut dia, usaha itu sebetulnya bisa dijadikan sumber penghasilan yang bisa diandalkan.

Pasar terbaik bagi produk jenang syabun adalah saat-saat menjelang lebaran, saat ada pertunjukan di daerah sekitar, atau saat musim hajatan. Di waktu-waktu itu, menurut Fathonah, pemesan atau pembeli jenang syabun sangat banyak.

Untung yang didapat dari jenang syabun juga lumayan. Selama ini, untuk sekali membuat jenang syabun, Fathonah menghabiskan beras ketan sebanyak 10 kg dan 35 kelapa. Dari 10 kg beras ketan itu, jika habis terjual semua, keuntungan yang diperoleh sebanyak Rp 762.500.


Bahan sebanyak 10 kg beras ketan itu, dijelaskan Fathonah, jadi sebanyak 2000 biji jenang syabun. Jenang syabun produk Asro’i dan Fathonah selain dijual sendiri ke konsumen langsung, juga sebagian dititipkan ke toko-toko terdekat. Jenang dijual dalam bentuk kemasan. Tiap kemasan berisi 8 biji jenang dan oleh keluarga itu satu kemasan dijual seharga Rp 4.250. ’’Nanti, di toko, satu kemasnya dijual Rp 4.500 – Rp 5.000,’’ kata Fathonah.

Ibu dari 6 orang anak itu mengaku, dirinya sering kebingungan sendiri saat menghadapi banyak pesanan. ’’Kami bingung bukan apa-apa. Tapi karena tak punya modal untuk memenuhi pesanan-pesanan itu. Soalnya, hasil selama ini, ya untuk makan sehari-hari. Padahal sebetulnya, untuk sekali buat jenang, dengan bahan 10 kg ketan, modalnya nggak banyak. Hanya Rp 300.000. Itu sudah komplit,’’ kata Fathonah yang mengaku menjalankan usaha itu sudah turun-temurun.

Pinjaman Modal

Jenang syabun rasanya manis. Kalau digigit atau dikunyah, layaknya jenang, ia agak a lot. Jenang ini, kata Fathonah, disukai anak-anak. Banyak juga yang membeli untuk oleh-oleh. Di tempat-tempat hajatan dan saat lebaran, jenang ini disuguhkan kepada tamu bersama kue-kue jenis lain.

Ya, pasar jenang syabun termasuk bagus. Buktinya, baru melayani permintaan di sekitar tempat tinggalnya saja, Fathonah dan suaminya sudah kewalahan.

Fathonah mengatakan, kalau ada yang memberikan pinjaman modal, itu sangat bagus. ’’Kalau ada yang meminjami, bagusnya menjelang lebaran. Saat itu, banyak pesanan. Kalau ada modalnya, buat jenang bisa sampai satu kuintal beras ketan dalam sehari. Bener lho, Mas, ini. Tapi itu kalau ada dananya itu tadi,’’ ungkap Fathonah tertawa.


Untuk saat ini, kata dia, boro-boro masak 1 kuintal ketan tiap hari. Bisa bertahan sekali masak 10 kg ketan saja perhari, itu sudah bagus. ’’Habis gimana? Anak yang besar sudah SMA, adiknya SMP, semua butuh biaya, sedang jenang syabun inilah sumber penghasilan kami satu-satunya,’’ ungkap warga Desa Sembung tersebut.

Itulah sebabnya Fathonah merasa kesulitan untuk mengembangkan usahanya itu. Kini, bersama sang suami dan dibantu oleh anak-anaknya, Fathonah hanya bisa berusaha untuk bertahan bagaimana bisa tetap berproduksi seperti biasanya, yakni 10 kg beras ketan sekali masak. [KUS & PUR]


Siti Fathonah, pengusaha jenang syabun


Jenis usaha: pembuatan jenang
Nama produk: Jenang syabun
Pengusaha: Asro’i dan Siti Fathonah
Alamat: Desa/Kecamatan Sembung, Kabupaten Tulungagung
Modal: Rp 300.000 (untuk sekali masak sebanyak 10 kg beras ketan)
Keuntungan: Rp 762.500 (dari beras ketan 10 kg)

Bebas Nyethe di Café Mak Tin



Jupriono (40) sudah 10 tahun menjalankan Café Mak Tin. Usaha itu bukan ia yang merintis, sebab Café Mak Tin sudah dijalankan secara turun-temurun. Jupriono mengelola café tersebut sejak 1997. Munculnya café-café di sekitarnya, yang penampilannya lebih oke, ternyata tidak berpengaruh negatif terhadap pengunjung cafenya. Menurut Jupriono, pengunjung cafenya tetap membludak di tengah semakin banyaknya kompetitor. Satu hal yang menarik di café ini, pengunjungnya mayoritas nyethe. Menurut Kusuma, salah seorang pengunjung setia Café Mak Tni, selain kopinya enak, cethe di café tersebut juga mantap. Cethe adalah ampas kopi. Ampas kopi yang biasa tinggal di dasar gelas kopi itu, diangkat, kemudian diletakkan di atas lepekan, lalu ampas kopi tersebut dioles-oleskan ke kertas batang rokok. Itulah yang disebut nyethe. Jika olesan di batang rokok sudah kering, rokok barulah disulut. Rasanya akan berbeda dari rasa rokok aslinya.

Dan ternyata, potongan-potongan kertas koran yang bertebaran di mana-mana itu ada fungsinya, yaitu berkaitan dengan nyethe itu. ’’Kertas-kertas ini fungsinya untuk mengeringkan cethe di lepek ini, Mas. Kalau cethe-nya terlalu banyak airnya, kan encer. Supaya nggak terlalu encer, potongan kertas ditaruh di atas cethe. Kertas Koran ini kan menyerap air, Mas,’’ kata Kusuma.

’’Tapi di sini tidak jual cethe, Mas. Mereka nyethe-nyethe sendiri. Saya ndak nyuruh, juga ndak nglarang. Di sini saya hanya jual kopi,’’ kata Jupriono.
Namun, tak hanya kopi seduh saja yang dijual. Ia pun menjual kopi bubuk. Kopi bubuk dikemas di dalam plastik. Setiap kemasan berisi 1 kg kopi bubuk. Untuk kopi yang dijualnya itu, Jupriono mengaku Café Mak Tin menggoreng kopi sendiri, bukan beli kopi bubuk dari toko. Ia beli kopi bijian, lalu dibantu oleh 15 orang karyawannya, kopi itu diolah menjadi kopi bubuk dan kopi seduh.

’’Sehari gula putih saja habis 1 sak atau 50 kg. Kopi bisa sampai 70 kg habisnya sehari,’’ kata Jupriono.

Ditanya apakah ada resep khusus untuk kopinya sehingga digemari oleh banyak orang, Jupriono menggeleng dan dengan cepat menjawab, ’’Nggak. Nggak ada resep khusus. Ini murni kopi thok. Kan ada yang dicampuri arak, ada yang dicampuri kacang ijo, jagung, tapi di sini hanya kopi. Hanya di sini nggorenge kuwi lho rahasiane (menggorengnya itu lho rahasianya, red). Kalau yang lain-lain kan ndak dikasih gula. Kalau di sini, kopi digoreng, terus kalau sudah hendak diangkat dari wajannya itu, dipyur-pyuri (ditaburi, red) gula dulu,’’ ungkapnya.

Tentang kenapa para pengunjung betah tinggal di cafenya dan kembali dating di hari lainnya, Jupriono mengaku tidak tahu. ’’Tapi mungkin karena kebebasan di sini, Mas, yang membuat pengunjung betah. Soalnya, pengunjung di sini saya bebaskan saja. Maksudnya, mau di sini seharian, terserah. Mau tertawa, mau ngobrol, juga silakan. Mau duduk, mau tiduran kalau ada tempatnya, ya silakan. Itu, Mas, mungkin. Bagi saya di sini, mereka mau apa, terserah. Yang penting, di sini tidak dipakai mabuk atau ngobat atau yang nggak bener lainnya. Itu saja,’’ pungkas Jupriono yang enggan difoto close up. [KUS & PUR]

Hanya Jual Kopi, Minimal Rp 2 Juta/Hari



Pendapatan café ini termasuk fantastis. Setiap harinya dalam 24 jam, income yang didapat minimal Rp 2 Juta. Padahal, café ini hanya menjual kopi. Tidak ada es, rokok, jajanan, atau jualan lainnya. Cuma kopi thok! Tapi, pengunjungnya selalu berjubel

Seperti Minggu siang (02/12) itu, ketika Peduli berkunjung ke café bernama Café Mak Tin di Jalan Bolorejo, Desa Bolorejo, Kecamatan Kalangbret, Kabupaten Tulungagung itu. Di depan dan samping café, sepeda motor parkir berderet-deret.

Di dalam dan di sebelah luar café, puluhan lelaki berusia remaja hingga tua, asyik duduk-duduk sambil ngobrol, merokok, dan masing-masing menghadapi segelas kopi di atas meja. Bahkan, karena bagian dalam dan sebelah luar bagian depan tak cukup menampung pengunjung, pemilik café terpaksa memasang meja dan kursi untuk pengunjung di bagian luar di belakang café.

Apa yang membuat café ini begitu ramai diserbu pengunjung, bahkan sampai 24 jam setiap harinya?

Kalau dilihat kondisi fisik perlengkapan dan bangunannya, café ini sebetulnya sangat jauh dari layak, apalagi dari kondisi ideal sebuah café atau warung. Lantainya sangat jauh dari mulus. Lantai hanya terbuat dari bata merah yang ditata, tidak ditutup semen. Bata merah itu terlihat dan warnanya sudah sewarna dengan tanah saking lamanya. Hal itu memberikan kesan kumuh yang sangat kentara. Terlebih, di atas lantai itu, juga di atas meja dan kursi, berserakan potongan kertas bekas koran. Sehingga, selain kumuh, lantai terkesan kotor dan tak terawat.

Dindingnya memperparah kesan itu. Dinding memang dicat putih. Tapi, warna putih itu sudah memudar menjadi kelabu. Bahkan, temboknya di sana-sini sudah mengelupas. Ada beberapa poster di dinding, tetapi poster-poster itu tidak mampu melenyapkan kesan lawasnya. Meja dan kursi pun terkesan asal ada. Tidak berseragam baik bentuk, ukuran, desain, maupun warnanya. Bahkan, tak semua meja dan kursi dicat atau dipelitur.


Bangunan café itu sendiri bukanlah bangunan ideal untuk sebuah café. Sebab, bentuk bangunannya adalah bangunan rumah tinggal. Diakui oleh Jupriono (40), pemilik café, bangunan itu mulanya memang rumah tinggal, tetapi kemudian dialihfungsikan menjadi café.

Sebagai rumah tinggal, rumah tinggal itu pun bentuknya bukan rumah tinggal modern, melainkan rumah tinggal kuno. Dan, sebagai rumah tinggal kuno, rumah itu pun bukan rumah kuno yang memiliki kesan antik sehingga menarik.

Jadi, dilihat kondisi fisik perlengkapan dan bangunannya, café ini betul-betul tidak memiliki dayatarik dan dayajual. Namun ternyata, seperti dikemukan Jupriono, café yang setiap hari buka selama 24 jam itu, pengunjungnya mencapai 300 – 400 orang/hari.

Apa maknanya? Maknanya adalah, untuk sebuah usaha, bangunan yang tidak megah, tidak keren, dan tidak menarik pun mampu membuat sebuah usaha berkembang dan maju pesat. Setidaknya, Jupriono telah membuktikannya. Dari jualan kopi saja, dirinya mendapat pemasukan minimal Rp 2 juta/hari. Hanya jualan kopi! [KUS & PUR]

Jenis usaha: Café
Nama usaha: Café Mak Tin
Produk: Kopi seduh dan kopi bubuk
Pengusaha: Jupriono (40)
Alamat: Jalan Bolorejo, Desa Bolorejo, Kecamatan Kalangbret, Kabupaten Tulungagung
Modal: Rp 2,5 juta – Rp 3 juta.
Pendapatan: Minimal Rp 2 juta/hari

H Subandi:Bekerja sebagai Ibadah



Ibadah haji tak hanya membawa berkah bagi pesertanya. Masyarakat yang mendukung perlengkapan ibadah haji juga kebanjiran untung. Salah satunya adalah H Subandi, pengrajin gelang monel. Sudah sejak tahun 2002 pria asal Tulungagung yang akrab dipanggil Bandi ini mengerjakan gelang monel untuk para peserta haji asal Jatim.

Pada musim haji 2007 lalu, sudah sejak 2 bulan sebelum haji tepatnya pertengahan Oktober 2007 Bandi mempekerjakan 15 karyawan lepas yang hanya dipekerjakan selama 2 bulan dalam kurun waktu Oktober hingga awal Desember 2007. Bandi diwajibkan menyelesaikan gelang haji tersebut sebanyak tak kurang 40.000 gelang sesuai dengan banyaknya peserta haji tahun 2007.

Dalam waktu 8 jam dalam setiap harinya, Bandi dan tim-nya mampu membuat 100 – 300 gelang haji. Keistimewaan gelang haji ini adalah bahannya yang terbuat dari monel sehingga tidak membuat iritasi kulit. Setiap gelang haji juga harus diukir nama masing-masing peserta haji, nomor urut haji, asal embarkasi daerah, nomor urutan kloter, nomor paspor, logo Pancasila, dan tulisan arab asal negara para calon jamaah haji (CJH).

Sehingga untuk meminimalisasi kesalahan, Bandi dan ke-15 karyawannya memutuskan bekerja di area Asrama Haji Sukolilo Surabaya.

’’Kami membawa semua peralatan dan bahan kesini. Kami bekerja mulai jam 07.30 sampai jam 15.00 wib. Masing-masing karyawan membuat gelang antara 5 – 10 gelang setiap harinya,’’ ujarnya.



Bahan monel sendiri, didapatkan Bandi dari Jepara kemudian dibawa ke Tulungagung. Di sana bahan monel tersebut sudah dibentuk menjadi gelang. Nah, di asrama ini gelang-gelang tersebut tinggal diukir nama masing-masing peserta haji.

Karena penulisan nama masing-masing peserta haji, nomor urut haji, asal embarkasi daerah, nomor urutan kloter, nomor paspor, logo Pancasila, dan tulisan arab asal negara para CJH tidak boleh salah dan tidak gampang hilang, tiap karyawan harus benar-benar teliti dalam membuat gelang.

Untuk setiap gelang, Bandi mematok harga Rp 25 ribu. Biaya tersebut sudah dibebankan pada biaya haji masing-masing orang sehingga Bandi tinggal dibayar oleh departemen agama usai seluruh peserta haji resmi diberangkatkan.

Bagaimana Bandi bisa sampai menjadi pembuat gelang haji? Tahun-tahun sebelumnya gelang haji terbuat dari plastik yang diberi nama. Karena harus dipakai selama sebulan, gelang-gelang tersebut akhirnya banyak yang rusak. Dengan rusaknya gelang-gelang tersebut justru menyulitkan peserta haji sendiri saat mereka kesasar atau terjadi musibah saat naik haji. Berdasarkan hal tersebut Pemprov Jatim memutuskan membuat gelang haji berbahan monel. Maka, Bandi pun dipilih untuk membuat gelang monel tersebut karena buatannya bagus dan terjangkau.

’’Sebenarnya tak ada aturan khusus pembuatan identitas haji seperti ini tergantung setiap embarkasi. Ada yang pakai gelang monel seperti yang saya buat, ada juga yang pakai kalung atau tas,’’ terang Bandi yang juga pernah merasakan naik haji pada tahun 2005 lalu.

Namun apa yang dilakukan Bandi ini menurutnya lebih didasarkan pada ibadah. Banyaknya gelang yang harus dibuat, kerumitan dan masa pembuatan yang hanya sekitar 2 bulan tidak sebanding dengan harga gelang. Apalagi usai kegiatan haji tersebut, ke-15 karyawan Bandi kembali melakukan pekerjaan tetapnya masing-masing sementara Bandi kembali menjadi penjual aksesoris monel di Tulungagung.

Namun Bandi menyadari membuat gelang ini sama dengan menuntun CJH agar ibadah hajinya lancar. Berdasarkan hal tersebut Bandi melakukannya dengan ikhlas.

Keuletan, ketelitian dan perasaan sabar harus selalu menyertai beberapa pembuat gelang itu, karena ini merupakan pekerjaan yang tidak mudah dan menyangkut keselamatan para CJH. ’’Jadi buatnya memang harus sempurna tanpa salah. Kalau ada salah sedikit saja langsung kita ulang dengan gelang baru. Gelang yang salah tadi langsung kita buang karena kita menggunakan sistim ditatah jadi kalau keliru ya nggak bisa dipakai lagi,’’ terangnya.


Yang menjadi kendala Bandi adalah penulisan pada gelang yang masih manual menggunakan alat tatah listrik. Ia berharap ada alat yang lebih canggih lagi yang bisa mengukir tulisan di gelang dengan lebih cepat sehingga pekerjaan tersebut cepat selesai. Meski begitu Bandi cukup bersyukur mendapatkan pekerjaan ini dan dengan senang hati akan bekerja bila tahun depan dipilih lagi. [DEWI]

Jenis usaha: Pembuat gelang haji
Modal awal: Rp 200 juta
Kiat sukses: bekerja sebagai ibadah