This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 06 Maret 2008

YANG BERKAITAN DENGAN USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG

Jenis-jenis Sapi Potong.
Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :




A. Sapi Bali.
Cirinya berwarna merah dengan warna putih pada kaki dari lutut ke bawah dan pada pantat, punggungnya bergaris warna hitam (garis belut). Keunggulan sapi ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang baru.

B. Sapi Ongole.
Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah.

C. Sapi Brahman.
Cirinya berwarna coklat hingga coklat tua, dengan warna putih pada bagian kepala. Daya pertumbuhannya cepat, sehingga menjadi primadona sapi potong di Indonesia.

D. Sapi Madura.
Mempunyai ciri berpunuk, berwarna kuning hingga merah bata, terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor dan kaki bawah. Jenis sapi ini mempunyai daya pertambahan berat badan rendah.

E. Sapi Limousin.
Mempunyai ciri berwarna hitam bervariasi dengan warna merah bata dan putih, terdapat warna putih pada moncong kepalanya, tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat produksi yang baik []

dikopipaste dari sini

Senin, 03 Maret 2008

Sujatno, Si Pembuat Tahu: Dulu Karyawan Kini Pengusaha


Dibuat dari kedelai, tahu mengandung protein nabati yang sangat dibutuhkan tubuh manusia. Bahkan, beragam menu mewajibkan kehadiran tahu: tahu thek, tahu campur, batagor, dan lain-lain. Pengin tahu gimana suka-dukanya menggeluti bisnis pebuatan tahu? Tahu, ternyata bisa pula jadi jalan seseorang dari karyawan menjadipengusaha.


Sujatno [34] warga Desa Kertosono, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, menekuni usaha pembuatan tahu sejak 2001. Usaha ini dijalankan bersama istrinya, Hariani [26]. Ketrampilan membuat tahu yang dimiliki ayah Eka Minangsari [11] ini didapat ketika ia menjadi karyawan sebuah pabrik tahu.

Dengan modal Rp 3 juta Sujatno membeli sebuah mesin giling membangun bilik dari papan sebagai tempat produksi.

Proses pembuatan tahu ternyata tidak terlalu rumit. Kedelai yang bersih direndam dalam air selama 3 hingga 4 jam, lalu digiling dengan mesin. Pada saat proses penggilingan harus diberi air. Hasil gilingan itu lalu direbus sampai memdidih, diangkat dan disaring memakai kain kasa yang halus sampai yang tersisa pada saringan tersebut tinggal ampasnya saja.

Hasilnya adalah cairan putih serperti susu. Agar cairan bisa mengental haruslah diberi cuka tahu secukupnya dan didiamkan sekitar 10 menit. Setelah mengental barulah diangkat dan dimasukkan ke dalam cetakan tahu dan di-pres. Maka, jadilah tahu yang siap dijual [atau digoreng sendiri, Red].

Pemasaran

Soal pemasaran, Sujatno tak menemui kesulitan. Soalnya, ketika ia jadi karyawan di pabrik tahu milik orang lain, ia juga sekaligus menjadi tenaga penjualnya. Maka, Sujatno sudah memiliki pelanggan.

Teknik pemasaran yang selama ini dilakukan Sujatno adalah merekrut pedagang di setiap pasar untuk dijadikan pedagang tetapnya. ’’Pada awalnya untuk pemasaran memang saya pasarkan sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu dan saya coba untuk merekrut dan memberi kepercayaan pada pedagang untuk menjual tahu produksi saya ternyata itu lebih praktis dan hemat biaya,’’ katanya.

’’Saat ini saya memiliki 5 orang pedagang tetap. Dari 5 orang tersebut yang 2 orang setiap harinya mengambil sendiri ke tempat saya, dan yang 3 orang lainnya saya kirim,’’ ujarnya Jatno.

Dengan dibantu istri dan seorang karyawan, pada tahun-tahun pertama Sujatno sudah menghabiskan rata-rata 1 kuintal kedelai tiap hari. ’’Pada saat itu biaya produksinya masih kecil dan harga kedelai belum semahal sekarang,’’ katanya. Tidak mengherankan bila laba yang diperolehnya pun cukup besar. Lihatlah, baru 3 tahun menekuni usaha pembuatan tahu itu Sujatno sudah mampu membangun rumah serta membeli mobil.

Saat ini, dibantu istri dan dua orang karyawannya, dalam sehari bisa menghabiskan 2 kuintal kedelai, itu sama dengan sekitar 5.000 potong/biji tahu.

Kalkulasi

Untuk mengolah 2 kuintal kedelai menjadi tahu yang siap jual membutuhkan biaya produksi sebesar Rp 110.000, dengan rincian Rp 50.000, untuk upah kerja 2 orang karyawan, sedangkan yang Rp 20.000 untuk biaya bahan bakar mesin penggiling [solar] dan Rp 40.000 untuk kayu bakar.

Jika setiap iris tahunya dijual dengan harga Rp 200, maka akan diperoleh Rp 1.000.000. Kemudian setelah dikurangi biaya produksi dan pembelian bahan baku kedelai yang saat ini mencapai Rp 4.000/kg maka pendapatan Sujatno setiap harinya tidak kurang dari Rp 90.000.

Sujatno mengaku tak menemui hambatan dalam usahanya ini, selain persoalan harga bahan baku, kedelai yang terus naik. Soal pemasaran tidak ada masalah. Bahkan, bila tidak musim ikan dan pada bulan-bulan mengahadapi hari raya, pasar sering mengalami kekurangan pasokan. [PURWO SANTOSA]





nama pengusaha: Sujatno
umur: 34 tahun
alamat: Desa Kertosono, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur
jenis usaha: pembuatan tahu
bahan baku: kedelai
mulai: 2001
modal: Rp 3 juta
omzet: Rp 30 juta/bulan
keuntungan: Rp 2,7 juta/bulan

TKW Miskin TKW Kaya

Menik melamun di waktu luang ketika menunggu anak asuhnya les. Tiba-tiba seorang kawan (TKW juga) menyapanya. Setelah berbasa-basi, mereka segera terlibat pembicaraan santai. Biasalah, masalah uang. Lho? Masalah bukan masalah santai, ya? Hehe.


’’Sebentar lagi saya mau pulang (maksudnya ke Indonesia, Red). Saya sudah memiliki tabungan, tetapi saya tak tahu apa yang harus saya lakukan dengan uang itu. Saya akan kembali menjadi orang yang tak punya pekerjaan, di tanah air,’’ tutur Nena --begitulah Menik menyapa perempuan muda teman bicaranya itu-- setengah mengeluh.

’’Oh, bagus itu,’’ sahut Menik, ’’ memiliki tabungan adalah kabar baik. Kamu telah menabungkan gajimu, walau mungkin tidak seluruhnya, itu adalah sebuah kebijakan sekaligus kebajikan. Tabunganmu adalah asetmu. Tetapi, jika kamu bisa mengubah asetmu menjadi pendapatan pasif atau pendapatan portofolio, itu lebih cerdik lagi. Karena asetmu itu akan menjadi aset yang menghasilkan pendapatan. Atau menurut istilah Robert T Kyosaki, kau telah menjadikan uangmu bekerja untuk kamu dan bukannya kamu yang bekerja untuk uang’’ kata Menik dengan gaya ekonom yang sedang naik daun.

’’Jelasnya seperti apa?’’ Nena tampak belum begitu mudheng.

’’Pendapatan pasif adalah pendapatan yang diperoleh bahkan ketika seseorang tidak melakukan pekerjaan secara fisik. Bisnis persewaan menghasilkan pendapatan pasif. Sedangkan pendapatan portofolio adalah jika uang yang kita miliki kita investasikan dalam aset kertas (saham, obligasi, atau reksadana). Uangmu akan ’’bekerja’’ alias mendatangkan keuntungan, bahkan ketika kita sedang tidur.’’

’’Jika begitu, bagaimana kalau aku membeli rumah lalu disewakan, untuk kos-kosan, misalnya? Sementara, saya sendiri menumpang di rumah mertua?’’

’’Itu bagus. Kamu mempunyai bangunan sekaligus sumber pendapatan yang akan terus mengucur, bahkan di saat kamu sedang menganggur.’’

’’Oh, betul juga ya, Mbak? Sementara itu, daripada menganggur, saya akan menyalurkan hobi saya bercocok tanam, syukur-syukur bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari tanaman-tanaman itu.’’

’’Itu lebih bagus lagi. Dan jangan lupa, setiap kamu mendapatkan uang tunai, dari hasil panen atau dari uang sewa rumah itu, segeralah menginvestasikannya, dalam bentuk deposito, saham, obligasi, atau reksadana.’’

’’Lah, tapi, bagaimana dengan olok-olok orang, bahwa saya miskin dan hanya bisa numpang di rumah orangtua?’’

’’Mau pilih yang mana: kaya tetapi sebenarnya miskin, atau tampak miskin, tetapi untuk kemudian menjadi kaya, atau setidaknya menjadi jauh lebih aman masa depan, termasuk masa tua kamu kelak?’’

’’Ehm….!’’

’’Jika Mbak Nena beli rumah untuk ditempati sendiri, itu akan menyedot aset, membutuhkan biaya yang tidak sedikit bahkan hanya untuk merawatnya saja. Belum lagi untuk mengisinya dengan perabotan-perabotan.’’

’’Oh, iya, ya!’’

’’Sementara itu, jika uang tabunganmu itu kamu gunakan semuanya untuk modal usaha yang menuntut kamu bekerja penuh sepanjang hari, itu akan sangat melelahkan. Memang, mau bekerja terus, sampai mati kelelahan?!’’

’’So, what…??’’

’’Sebenarnya kamu telah menemukan jawabannya, kan? Apa kamu mau memilihnya atau tidak, itu kembali ke kamu juga.’’
’’Mbak, sampeyan ini…. Ehm….?’’

’’Aku akui, aku masih terbilang miskin. Karena itu aku belum punya rencana untuk segera kembali ke Indonesia. Tabunganku pasti belum sebanyak tabunganmu. Apalagi, aku juga baru saja melek finansial. Dan aku telah membagi kemelekan itu dengan kamu. Gitu loh! Hehehe…..! [ENI KUSUMA]

MENGIKUTI SELERA SENDIRI

Lain ladang lain belalang. Itu peribahasa. Dan kita pun boleh meneruskannya dengan, ’’Lain kepala lain rambut,’’ atau, ’’ Lain orang lain selera.’’ Ya, kali ini kita bicara soal selera. Ada nasihat lama berkaitan dengan selera, kurang lebih begini: ’’Jika sampeyan membuka usaha, janganlah terlalu menuruti selera sampeyan sendiri.’’ Loh, bagaimana ini? Kok kita disuruh mengabaikan dan bahkan melawan selera sendiri ini gimana se?


Jangan keburu emosi. Itu nasihat yang bijak pula, lho! Maksudnya, kalau kita suka makan soto, jangan keburu pede (baca: penuh percaya diri) buka usaha warung soto tanpa terlebih dulu memerhatikan selera orang-orang di sekitar warung yang hendak kita buka. Siapa tahu mereka lebih suka nasi pecel, gulai, atau rawon, misalnya?

Misal pula, jika kita mau buka rumah makan di Jogjakarta, jangan mentang-mentang kita doyan pedas lalu bikin menu makanan dan khususnya sambal yang pedas-pedas (terlalu pedas, apalagi!) Kok bikin sambal tidak boleh pedas, bagaimana pula ini? Bukankah sejak Zaman Batu yang namanya sambal itu sudah pedas? Nanti dulu, jangan terlalu emosional, jangan seperti orang kepedasan gitu!

Itu sih, kalau sampeyan kepengin rumah makan yang sampeyan buka banyak didatangi pembeli. Sebab kita tahu, rata-rata orang Jogjakarta doyan masakan yang menonjol rasa manisnya dan tidak doyan pedas, apalagi yang terlalu pedas. Namanya juga rata-rata, tentu ada perkecualiannya. Tetapi, apakah sampeyan akan lebih mengharapkan hanya orang-orang yang masuk dalam kelompok perkecualian itu? Bukankah jumlahnya pasti jauh lebih sedikit daripada ’’kelompok rata-rata’’ atau ’’pada umumnya’’? Itung-itungan ini pastilah menarik untuk didiskusikan.

Artinya, sampeyan dihadapkan pada pilihan, menjaring dari kelompok yang jumlahnya kecil (segmen terbatas) atau menjaring kelompok yang lebih banyak jumlahnya (segmen luas). Hukum pasar akan mengatakan bahwa membuka usaha untuk segmen luas jauh lebih menjanjikan daripada segmen terbatas. Itu prinsip dasarnya, yang tentu saja tidaklah mutlak seperti itu untuk semua kondisi.

Kita kembali ke Jogjakarta tadi. Soal buka rumah makan. Jika kemudian kita bisa menunjukkan itung-itungan yang meyakinkan, misalnya bahwa kelompok perkecualian itu angkanya ternyata cukup besar, kita tentu berpeluang untuk ’melanggar’ hukum pasar tadi. Artinya, kita punya peluang untuk membuka usaha bagi kalangan yang lebih terbatas tanpa harus kehilangan masa depan. Angka yang besar itu, misalnya, didukung oleh kenyataan bahwa Jogjakarta, selain dihuni orang-orang asli Jogjakarta, dihuni pula oleh banyak kaum pendatang: pelajar, mahasiswa, pebisnis, dari berbagai wilayah nusantara, dan bahkan banyak pula orang asing-nya.

Peluang kita untuk membuka rumah makan ’’selera pedas’’ akan semakin besar jika di antara angka pendatang itu, misalnya, yang berasal dari Jawa Timur (yang rata-rata berselera pedas) cukup menjanjikan. Ditambah lagi, makin besar lagi peluang kita, jika kita berhasil mendapatkan fakta atau kenyataan bahwa’semua’ rumah makan yang ada di Jogjakarta ber-’selera manis’.

Maka, rumah makan ’selera pedas’ kita tentu akan segera menarik perhatian, karena ngijeni (tidak ada pesaing atau kompetitornya). Yakinlah, orang-orang berselera pedas (ada pula yang menyebutnya: selera pemberani) akan berbondong-bondong mendatangi rumah makan kita.

Nah, pada saat seperti itulah kita baru boleh bilang: ’’Menuruti selera sendiri, so what gitu loh!’’ [bn]

Minggu, 02 Maret 2008

SYAIR JIWA

Cerpen Eni Kusuma W

’’Ajari aku malam pertama,’’ kataku sembari menatap wajah Arie. Pria terkasih itu. Entahlah, seperti biasa dia hanya diam membisu, tanpa reaksi. Bahkan ketika kulucuti semua pakaianku di hadapannya. Dia tersenyum. Dan batinku menangis ’’Aku sudah dewasa Arie, lihat dadaku dan lihat kemaluanku juga.’’



Kali ini pun begitu. Aku menarik-narik tangannya. Menarik-narik resleting celana jinsnya. Tapi aneh, kini dia membiarkan jemariku. Sehingga aku dengan leluasa bisa membuka dan melihat sesuatu di sana. Oh, inilah dia!

’’Aku ingin merasakannya,’’ kataku memohon.

’’Ouhh...’’ dia melenguh panjang.

’’Ajari aku...’’ aku tetap memaksa.

’’Tidak bisa, karena kau belum siap,’’ jawabnya sambil merapikan kembali celananya.

’’Aku sudah siap!’’ kataku sambil memerlihatkan tubuh telanjangku. Dia mengangkat tubuhku dan membaringkannya ke ranjang. Aku beringsut kesal dan membelakanginya. ’’Aku akan membacakan beberapa syair untukmu, Adik Manis.’’

Oh!

seekor merpati datang kepadamu
menanggung rindu
melapor kepadamu dengan hati pilu
sesuatu yang begitu kau ingin tahu
tapi tak kan kuberikan karena kau belum menjadi milikku

’’Aku sudah mau menjadi milikmu,’’ aku menjawab syairnya dengan suara agak keras.

’’Setahun lagi, setelah kau lulus,’’ sahutnya sambil mengacak-acak rambutku.

’’Gih..sekarang mandi. Abis itu kuantar kau ke sekolah dan kujemput nanti, adik manis!’’ lanjutnya.

’’Kampus, Arie! Bukan sekolah, dan aku bukan adik manis!’’ protesku.

Tapi, dengan malas kuikuti juga perintahnya. Aku bosan, tapi bukan pada Arie dan syair-syairnya.

Aku bergantung padanya. Dia yang membiayai hidupku selama ini. Ibuku yang janda itu sebelum meninggal telah menjodohkan aku dengannya. Seorang pria yang kutahu sebatang kara, dua puluh delapanan, mapan dengan gaji lumayan. Semula aku tak mau. Namun, karena merasa tak punya siapa-siapa lagi, akhirnya aku mau juga, tinggal serumah dengannya, tapi dengan kamar terpisah, di sebuah kota yang warganya seperti tak saling peduli.

Malam kembali lagi. Aku sembunyi di balik selimutku. Sungguh, kali ini aku merasakan itu. Kulihat celana dalamku basah. Apa artinya? Kuraba sejenak. Sekilas nikmat melintas. Mmmmhhhh. Aku mendesah gelisah. Aku benar-benar tersiksa. Belum pernah aku merasakan ini sebelumnya.

Aku bangkit dan berjalan ke arah kamar tidur.

’’Arie, aku tak bisa tidur malam ini.’’ Kubisikkan itu di telinganya. Kuharap dia terbangun. Tiba-tiba naluriku menyuruhku untuk meraba kemaluannya. Arie menggeliat membalikkan badannya, membelakangiku. Sepintas kudengar lenguhannya.Oh! Namun tak ada reaksi apa-apa. Aku menunduk, terisak, lalu terlelap.

aku lihat wajah-wajah itu sepintas
membuat jiwa berbinar
karena keindahan yang aku lihat

Syairnya membangunkanku. Diciumnya bibirku sekilas.

’’Tidakkah kau tahu aku menunggumu di sini?’’ tanyaku dengan nada geram.

’’Aku tahu,’’ jawabnya enteng sambil mendekapku.

’’Apakah kau tak cinta padaku sehingga kau membiarkanku tersiksa begini? Kau tak suka tubuhku?’’

wahai wajah semu merahku,
siapa yang tak ingin tubuhmu
yang hanya mau makan dari yang baik-baik
yang lebih harum dari wewangian
tentunya lebih lezat dari durian

Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Menggigit hidungku dengan mesra. Sambil membisikkan kata-kata yang tak kupahami maksudnya, ’’Aku berada dalam perjanjian dengan Rabbku.’’

Kelembutannya telah mencairkan amarahku. ’’Setahun itu lama.... Arie. Kenapa tidak sekarang saja?’’

semangat itu laksana matahari
yang menyatakan cintanya
dan purnama
yang mengukirkan huruf-huruf
dalam cahayanya
jika tiba waktunya
adakah sesuatu yang akan menghalangi kita?
bahkan Rabb pun akan tersenyum melihat kesabaran kita

’’Aku tak mau melihat matahari selain melihat sinar matamu. Aku juga tak mau rembulan menyapaku. Aku hanya ingin disapa olehmu.’’

Arie tertawa lebar tanpa suara. Dia memelukku erat-erat, seperti tak mau ia lepaskan lagi. Mungkinkah karena aku mulai bisa menjawab syair-syair indahnya? Tapi yang membuatku terpana, dia meneteskan airmata.

Setahun baru saja usai. Minggu lalu, saat aku pulang dari wisuda, ketika aku ingin memberitahukan padanya bahwa aku lulus dengan predikat sangat memuaskan, Arie pergi untuk selamanya. Aku sedih. Meraung tanpa suara. Meratap-ratap tanpa linangan airmata.

Kudengar sayup-sayup, gema syair. O, indahnya! Syair dari ayat-ayat suci yang kini mulai bisa kupahami.

kepada yang senang berjumpa dengan Rabb
maka Rabb akan lebih mencintainya

Tiba-tiba kudengar syair yang tak kutahu dari mana datangnya. Mungkin dari Arie yang kucinta. Atau dari relung hatiku yang telah tertanami jiwa Arie. Jiwa Arie Legawa, yang tak pernah lari dariku. Aku menatap langit, kulihat burung-burung melambaikan sayapnya. Arie telah banyak mengajariku.*