This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 10 Januari 2008

Air Tuba Dibalas dengan Air Susu

Eni Kusuma penulis buku motivasi Anda Luar Biasa!!! itu, pada suatu sore di hari Minggu mengirim pesan pendek ke awak Redaksi Peduli, ’’Apakah Redaksi Peduli sudah baca Jawa Pos hari ini, tentang seseorang yang bantu biaya sekolah anak-anak tak mampu dengan modal sampah? Pengin sekali saya mengikuti jejaknya.’’

Demikianlah, ternyata di tengah kegelisahan berkait kondisi bangsa yang tak kunjung mentas dari keterpurukan ini, ketika para koruptor makin dijaring seolah makin berkembang biak --dijaring pun sering hanya nyantol sebentar lalu lepas bebas kembali, ketika ketegakan hukum dipertanyakan banyak orang, masih ada sosok-sosok yang membuat kita dapat menarik napas lega. Rasa kemanusiaan kita sebegitu tersentuhnya menyaksikan orang-orang yang tak menunggu jadi jutawan untuk bertindak sebagai dermawan.

Orang tak perlu menunggu jadi Bill Gates, jadi Alfred Nobel, atau jadi Pulitzer untuk jadi dermawan. Juga, tidak perlu menjadi kaya dengan berkorupsi lebih dulu untuk menjadi dermawan. Orang bisa beramal baik dengan apa yang dimiliki, bahkan kalau yang dimilikinya hanya seulas senyum. Ketika senyum itu tulus, itu pun bernilai sedekah, dicatat sebagai amal kebaikan, dan oleh karenanya merupakan bentuk kedermawanan pula.

Kita melihat pula kawan-kawan TKI-HK yang ketika pulang menyempatkan mampir untuk memberikan bantuan bagi seseorang yang terlilit kemiskinan di suatu kampung di salah satu sudut wilayah Jawa Timur, juga ketika para TKI HK yang tergabung di wadah NBF [Nongkrong Bareng Fans Club] atau dari komunitas lain, bahkan juga yang secara individual menyisihkan sebagian hartanya untuk disumbangkan kepada para korban semburan Lumpur Lapindo di Sidoarjo, korban Gempa Jogja beberapa waktu lalu, dan lain-lain.

Kita begitu tersentuh. Sayangnya, media-media di Indonesia tampaknya kurang tertarik atau mungkin memang tidak sempat menyaksikan aksi-aksi kemanusiaan yang sunguh mulia itu. Maka, terkait dengan pemberitaan-pemberitaan tentang duka-derita para TKI yang menerima perlakuan kurang baik hingga yang layak disebut sebagai kejahatan oleh individu, lembaga, termasuk yang bernama Pemerintah Republik Indonesia, kita bisa –untuk aksi kemanusiaan para TKI dermawan itu—mamasang [terbalik] pepatah lama, ’’Air tuba dibalas dengan air susu.’’

REDAKSI
pEDULI 14

SETELAH PULANG JADI APA?

Eni Kusuma

Kalimat itu pertama kali saya dengar dari Mentor saya, Edy Zaqeus [penulis buku-buku best seller] yang menanyakan tentang saya setelah pulang nanti. Dan yang terakhir dari Mr. A Meng, kakak ipar majikan perempuan saya, ketika kami sedang di meja makan di sebuah restoran, menunggu kedatangan famili yang lain untuk makan siang. Kebetulan saya dan dia sedang bertugas memesan tempat. Sambil menunggu itulah kami ngobrol.

Jawaban yang saya berikan pada mentor saya adalah bahwa saya bisa menjadi apa saja asal saya terus belajar apa yang saya ingin lakukan. Jawaban sama pula saya berikan kepada Mr. Ameng. Berikut petikannya yang saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:

Mr. Ameng: Setelah kamu pulang nanti, apa yang akan kamu lakukan?
Saya: Saya bisa melakukan apa saja yang ingin saya lakukan. Karena saya sudah punya uang di bank, hasil tabungan saya selama enam tahun di sini.

Mr. Ameng : Oh ya?

Saya: Gak banyak, tapi bisa membuat saya tenang dalam hal keuangan. Sebagian beli rumah kecil ga begitu bagus, untuk disewakan, sebagian lagi beli sepetak tanah untuk ditanami cabe rawit. Sebagian lagi tetap di bank. Sementara saya bisa tinggal di rumah orang tua atau mertua nanti jika saya menikah.

Mr. Ameng : Perempuan cerdas. Rumah yang ditempati orang lain itu tidak perlu mewah. Kalo bisa jangan beli yang mewah, ini untuk menghindari hal-hal yang merugikan kamu.

Saya: Hehehe...! Makasih.

Mr. Ameng: Jadi orang memang seharusnya begitu. Kebanyakan orang Hong Kong berpikir seperti itu. Lihat kami, kami hidup bahagia. Kami yang sudah berumur 40 tahunan hanya makan tidur dan kerja pun jika kami suka melakukannya. Kami tidak pernah khawatir dengan keuangan kami. Banyak orang Hong Kong tidak pernah khawatir dengan keuangannya, hidup bahagia. Saya lihat orang Indonesia tidak demikian. Sedikit orang Indonesia yang berpikir seperti itu. Kebanyakan mereka suka bersenang-senang di usia muda, malas dan tidak punya tujuan dalam hidup mereka.

Saya: Yah... jika saja banyak orang Indonesia yang berpikir seperti yang seharusnya, seperti yang Anda katakan, tentu Indonesia maju sejak dulu.

Mr. Ameng: Mereka lebih suka menghabiskan uang daripada membuat uang jadi menghasilkan. Mereka lebih suka bekerja keras sepanjang usia daripada mengelola uang yang sudah didapat selama jangka waktu tertentu dengan sedikit kerja saja atau tanpa mereka kerja.

Saya: Benar. Memang seharusnya begitu.

Mr. Ameng: Suatu saat nanti saya bersama keluarga akan mengunjungi Indonesia, kami belum pernah ke sana [Mereka sudah pernah keliling dunia]. Bisakah kami menemui kamu di sana?

Saya: Tentu boleh dengan sanang hati, bagaimana kalo di Bali. di Jakarta sedang banjir.

Mr. Ameng: Apakah di Bali ada restoran dan hotel seperti ini [menunjuk restoran mewah tempat kami makan siang, siang itu].

Saya: Oh tentu! Ada SPA-nya juga...lho!

Mr. Ameng: Wah!

[Saya tidak cerita padanya jika saya menulis buku yang akan segera diterbitkan sebentar lagi....]

*) Eni Kusuma ialah penulis buku Anda Luar Biasa!!! [Buku motivasi pertama yang ditulis oleh pemulung sampah & pekerja rumah tangga].

Sastrawan Jawa Tiwiek SA Bicara Soal TKI


Belum Banyak TKI Memikirkan Lapangan Kerja

Lelaki kelahiran 8 Juni 1948 ini lebih dikenal luas sebagai guru dan sastrawan. Namun, pemilik nama asli Suwigyo Adi ini ternyata juga punya perhatian lebih kepada TKI yang kerja di luar negeri. Penilaian suami Ruliyah ini patut mendapat perhatian TKI.

Kamis sore [01/03] Peduli berkunjung di kediaman Tiwiek SA di Desa Karangtalun, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tuluagung, Jawa Timur. Ngobrol agak panjang tentang sastra, pembicaraan kemudian meluncur ke persoalan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Bermula dari kekagumannya terhadap tulisan sastra karya TKI.

Mantan kepala sekolah yang kini telah dikaruniai dua orang cucu ini mengaku, novel Catatan Harian Seorang Pramuwisma karya Rini Widyawati [mantan TKI Malaysia dan Hong Kong] sampai dia keloni saat tidur. Ia tak menyangka Rini Widyawati yang ’cuma’ lulusan SLTP bisa menulis novel sehebat itu.

’’Saya tidak akan pernah tahu kalau di luar negeri banyak TKI mendapat perlakuan yang tidak manusiawi kalau saya tidak membaca novel Rini,’’ ungkap penerima penghargaan dari Yayasan Rancage dan Yayasan Umm Aminah Foundation tahun 2006 itu.

Salah seorang kemenakannya, sebetulnya ada yang pernah jadi TKI, yakni di Abu Dhabi. ’’Tapi kalau pulang, dia tidak pernah cerita tentang perlakuan yang diterima TKI selama bekerja di sana,’’ ungkap Tiwiek dalam bahasa Jawa.

Menyayangkan

Menurut Tiwiek SA, banyak sekali orang Tulungagung yang menjadi TKI di luar negeri. Bahkan, menurut dia, di Jawa Timur, Tulungagunglah yang paling berhasil. Di sekitar rumah tinggalnya juga tak sedikit yang berangkat ke luar negeri sebagai TKI.

Bagaimana penilaiannya terhadap TKI? ’’Di sini [Tulungagung—Red], anak sini kalau ke luar negri itu sasarannya, pertama, rumah. Pasti rumah. Rumah mereka bagus-bagus. Kedua, setelah rumah adalah kendaraan. Terus, nanti pulang, ya sudah, ya cuma motor-motoran nggrang-nggreng, mobil-mobilan nggrang-nggreng. Nah, nanti uangnya habis, balik ke luar negeri lagi. Kalau tidak begitu, barang-barang yang telah dibelina dijual lagi. Itu karena kebutuhan hidup bergerak terus dan memerlukan biaya, sementara dirinya tidak lagi bekerja.’’

Disayangkan Tiwiek SA, jarang dari mereka yang berpikir untuk membuka lapangan kerja. ’’Ya, ada yang berpikir membuka lapangan kerja, tapi cuma sedikit. Yang banyak, ya yang seperti itu tadi,’’ ungkapnya.

Menurut dia, kalau TKI memikirkan lapangan kerja, tentu dirinya tidak perlu lagi berpikir untuk kembali lagi ke luar negeri setelah pulang ke kampung halaman. TKI sudah bisa mendapatkan penghasilan dari pekerjaan yang telah diciptakannya sendiri. Malah kalau sampai bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain, tentu itu lebih baik lagi.

Berjasa

Namun demikian, Tiwiek SA mengakui bahwa para TKI memiliki jasa besar terhadap kemajuan daerahnya, bahkan negaranya. Buktinya, kata dia, beberapa desa di Tulungagung rumahnya bagus-bagus dan jalannya aspal mulus-mulus.

’’Desa bisa menjadi seperti itu sebagian juga karena jasanya TKI,’’ kata pengarang yang hingga akhir 2006 lalu telah menghasilkan lebih dari 200 karya sastra, baik berbahasa Jawa maupun berbahasa Indonesia.

Oleh karena jasa-jasanya itu, Tiwiek SA berpendapat, tak sepantasnya para TKI mendapat perlakuan yang buruk seperti yang dikisahkan di dalam bebeberapa karya sastra karangan TKI dan mantan TKI. [KUS]

E N O K

Retnayu Ayu


’’You are the love of my life,
i knew it right from the start,
the moment i looked at you,
you found a place in my heart...’’




MP-3-ku terus mendayu-ndayu, meluruh-larutkan hatiku dalam sendu yang suntuk. Aku mendesah, lalu kutarik nafas beratku dalam-dalam, iringi resahku, mengenang kembali kisah beberapa tahun lalu.

’’Kak...’’ sapa manjanya menggelitik telingaku.

’’Hai...’’ balasku. Aku masih jalan pelan keluar dari toko itu. Ah, ia begitumemesonaku.

Enok. Nama sapaan yang sangat kusuka itu nyaris melupakan aku dari rangkaian huruf yang cukup panjang yang membentuk nama lengkapnya.

Aku telah melewati 36 musim di negeri ini, yang semula terasa aneh, dan makin lama makin aneh, yang anehnya: seiring dengan meningkatnya keanehannya meningkat pula ’oke’-nya.

Setiap hari aku mesti mondar-mandir menjalankan pekerjaanku. Berangkat pagi hari lalu pulang kembali ke apartementku menggiring senja. Ah, hidupku selalu saja begitu. Selalu di dalam irama yang tidak menentu. Kadang aku merasa sebegitu jemu. Terlebih, manakala rasa sepi menggerus lubuk hati.

’’Enoooook.......!’’ pekikku, ketika mendapati Enok di suatu sore yang indah setelah sekian lama ia menghilang sejak pertemuan kilat yang sangat indah itu. ’’Wah, Nok! Dari mana saja kamu, kok baru muncul?’’

’’Iya, Kak, aku baru saja ambil holiday!!’’ senyum manis membumbui kalimatnya.

’’Holiday ke mana Nok?’’

’’Ya, biasa Kak, ke Kota Buaya.’’

’’Apa kamu berasal dari Kota Buaya Nok?’’

’’Iya. Kalau Kakak dari mana?’’

’’Kota Apel.’’

’’Oooo....’’

’’Iya, Nok! Dingin...dingin empuk!’’

’’Ah, Kakak!’’

’’Ah!’’

’’AAAhhhh....!!’’

’’Oh...’’

’’Ehm....’’

’’Hahahahaha.......!!!’’

Bumi pun serasa bergetar saat tawa kami meledak bersama. Untung saja kepalaku tak meledak pula karena angan-angan yang menggelembung nyaris tak terkendali: mengangankan kedekatan yang sedemikian dekat dengan Enok! Tapi, apakah ini bukan pungguk merindukan bulan?
’’Kak...?’’
’’Oh, ya?’’
’’Kakak kapan pulang?’’
’’Gak tahu ya Nok. Kenapa emang?’’

’’Nggak kena apa-apa, hehe.....!’’ cengengesnya sambil membalikkan badannya. Seseorang telah menariknya keluar dari toko itu. Seseorang yang ingin kumaki.

Baru dua kali pertemuan kami. Waktunya pun singkat-singkat. Enok boleh pergi, ditarik orang lain atau atas kemauannya sendiri. Tetapi, ia kini serasa telah memenuhi seluruh diriku, seluruh jiwaku. Aku selalu mengangankannya ketika jaga, dan selalu memimpikannya jika tidur. Tidak ada lagi ruang di diriku ini bagi yang lain selain Enok. Tetapi, apa ya yang dirasakan Enok sendiri? Terlalu jauh jarak mesti ditempuh. Terlalu dalam jurang...! Bagaimana aku mesti mengabarkan keadaanku ini kepada Enok? Dengan meneriakkannya, atau membisikkannya? Atau menyerahkan semuanya kepada angin yang mendesau? O....!
Aku tak siap ditolak. Rasanya jauh lebih indah menikmati ini semua di dalam mimpi, daripada harus menghadapi kenyataan jika penolakan itu terjadi.

Kubiarkan kegersangan jiwa ini senantiasa melanda, karena aku sadar bahwa aku sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Kadang kularikan hati, sesekali kuhibur diri, dan ada pula saatnya mencoba menepis habis semua hasrat yang semakin kuat menjerat. Ah, mengapa bisa jadi begini! Mengapa?

Bila saja aku dapat gadaikan jiwa? Tapi, kepada siapa....? Pertanyaan-pertanyaan hampa terus mengulur, sampai tibilah di hari Minggu yang cerah itu. Kupercepat langkah kakiku, dengan tergesa kusongsong sosok bayang: Enok! Oh, ia sedang menungguku!

’’Kak....!’’

’’Met pagi manisku.....!’’ begitulah godaku, selalu. Dengan santai kami berdua akhirnya melangkahkan kaki memasuki ruang besar perpustakaan pusat, kebanggaan kota ini. Rasanya aku telah sampai di ujung mimpi, dan mendapati kenyataan yang ternyata begitu indah: kami duduk berdampingan di depan komputer. Dan mengalirlah huruf-huruf membentuk sebuah puisi buat Enok:

dirimu yang selalu penuhi lamunanku
membuatku suntuk dibekuk rindu
mengristal segenap kekagumanku
apakah cinta apakah kasih apakah sayang sedia
tak henti mengalir dan bermuara di kedalaman
samodra: hatiku-hatimu

Lalu kutekan ’send’ dan dalam hitungan detik sampailah puisi itu di layar komputer Enok. Seperti yang aku duga, sebuah cubitan diiring kata, ’’Dasar!’’ mendarat di lenganku. []

Peduli Maret 2007

MONGKOK I’M IN LOVE

Tanti


Udara dingin mulai menyapa Hong Kong, pun malam itu. Meski baru menyapa namun dingin sudah mulai merasup yang membuat pori-poriku berdiri. Entah kenapa perasaanku malam ini menjadi begitu gelisah. Sebentar-sebentar kupandangi laki-laki di sampingku. Laki-laki yang memiliki senyum menggemaskan dan perhatianya kepadaku selama ini. Dan entah kenapa pula justru ketika perpisahan itu semakin dekat rasa aneh ini muncul, takut di tinggal olehnya, takut kehilangan dia, takut kesepian temaniku kembali. Ah, entahlah.

’’Hayo, kenapa dari tadi mandangin terus? Suaramu benar-benar mengejutkanku, andai kau tahu pikiranku sudah tak bisa lepas darimu, matilah aku. Aku hanya melempar senyumku, tanpa jawaban, dan yang pasti merah jambu hadir dipipiku. Aku mempercepat langkahku di Ladies market, Mongkok itu, mengantarmu membeli beberapa souvenir untuk teman-temanmu di Indonesia. Tiba-tiba kurasakan seseorang memegang pergelangan tanganku. Aku menoleh sesaat dan kulihat senyummu mengembang. Ah, andai kau tahu, hatiku begitu berdebar, wajahku pasti kembali berwarna merah jambu, atau malah lebih merah? Yang aku tahu, aku pun tak berusaha melepaskan genggaman itu, aku menikmatinya. Dengan senyuman yang selalu menghiasi bibir ini, kami terus berjalan menyusuri Ladies Market.

’’Mas, apa sih sebenernya yang ingin Mas cari di sini? Kataku mencoba mengalihkan perasaan yang sudah mulai tak karuan ini. Dia memandangku sekilas sambil tersenyum.

’’Gak tahu nih, mo nyari apa,’’ bisikkmu di telingaku.

’’Ah, Mas Indra ah, masak gak tahu, trus ngapain kita ke Mongkok?’’ aku pura-pura cemberut. Dia malah memepererat genggaman tanganya, menarikku pada sebuah tempat penjualan aksesoris, kalung. Terlihat dia memilih beberapa kalung bertali hitam berliontin yang terbuat dari kayu yang di bentuk mungil-mungil tapi indah.

’’Mana yang bagus ya? Sejenak kamu memilih-milih beberapa liontin di depanku. Aku pun ikutan jongkok memperhatikannya, menurutku semunya bagus, sampai-sampai aku sendiri tak bisa memilih.’’

’’Lha, mana yang tadi pertama kali menarik perhatian Mas Indra?’’ aku menggodanya sambil membalikkan semua pertanyaanya.

’’Dasar!’’ senyumnya yang menggemaskan langsung menyungging. Senyum yang selama ini aku suka, senyum yang benar-benar menarik perhatianku.

’’Menurutku semuanya bagus, tetapi menurutku pilihlah yang pertama menarik perhatiaamu, Mas!’’

’’Bagaimana kalau yang ini, bagus gak?’’ Sambil menunjuk sebuah kalung brliontin kapak kecil, melihat laki-laki yang berbadan gagah sepertimu memang pantas kalau memilih liontin itu. Berwarna kuning tua dan memang terlihat gentle.

’’Bagus Mas, iya pilih aja itu,’’ kataku sambil berusaha mengambil satu buah liontin itu dan meletakkan di telapak tanganya.

’’Bagus deh, kayaknya cocok kalau yang makai Mas Indra,’’ godaku. Dan kamu pun malah membawaku ke dalam pelukan mesramu.

’’Iya deh, aku beli yang ini,’’ akhirnya tanpa di tawar terlebih dahulu, kau pun membayar liontin itu.

’’Tar ya, beli anting-anting dulu,’’ katamu sambil senyum-senyum nakal.

’’Lha ternyata mau pulang kelihatan aslinya, pakai anting, kalung trus apalagi hayoo? Aku senyum-senyum saja menggodanya. Entah kenapa aku suka sekali melihat senyum itu. Kamu hanya membalasku dengan senyuman yang aku suka, sambil memilih beberapa anting-anting kecil polos di depanku.

’’Pilihin dunk mana yang bagus buat cowok,’’ aku pun ikutan memperhatikan beberapa anting kecil di depanku, dan akhirnya aku memilih anting mungil yang memang kupikir terlihat cocok untuknya. Terlihat dia tersenyum puas memandang oleh-oleh mungilnya.

’’Kamu mau di beliin apa, Cinta?’’ Pandanganmu beralih kepadaku.

’’Terima kasih, gak usah deh Mas!’’ aku hanya membalasnya dengan tersenyum.

’’Halah mesti, kebiasaan kamu ini, sini deh” kamu menarikku ke tempat souvenir di sebelah.

’’Nah, ini cocok buat kamu, harus memilih, kalau tidak aku marah,’’ akhirnya mau tidak mau aku mengikuti kemauan dia, karena jujur aku pun tak ingin mengecewakanya.

’’Ya udah, ini aja Mas!’’ sambil kutunjuk jepit rambut merah jambu yang mungil itu. Terlihat dia memperhatikan sejenak kembali tersungging senyum itu.

’’Bagus, indah, ya udah ini aja gak mau yang lain,’’ tatap mesramu membuat jantungku seakan berhenti berdetak.

’’Udah Mas, Cinta mau yang ini saja, satu kenangan cukup yang penting spesial,’’ senyumku centil.

’’Iya, iya...’’ lembut dia acak rambutku.

Hanya itu yang kami beli, namun sepanjang perjalanan di Ladies Market membuat hati kami seolah semakin berbunga. Genggaman tangan itu semakin erat, senyum dia pun tak pernah lepas dari bibirnya.

’’Mas Indra, kenapa senyum-senyum?’’ Aku pura-pura bertanya ketika sepatah kata pun tak lagi terucap meski kami hampir sampai di pintu keluar Ladies market, Mongkok itu.

’’Aku hanya membayangkan apa yang bakalan Hendra katakan ketika melihat kita bergandengan tangan,’’ dan ternyata aku pun langsung ikut membayangkan apa yang sedang dia bayangkan.

Hendra, cowok gondrong ketua rombongan itu. Tapi akhirnya aku berpikir, Hendra bukanlah anak kecil, meski dia mengetahui dia laki-laki yang fair, dan setia kawan, itu yang aku ketahui tentangnya setelah kurang lebih 2 minggu hidup di lingkup dia dan kawan-kawanya. Pun mungkin dengan Mas Edy, aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Pembawaan mereka bertiga asyik semua. Maka itu aku betah menemaninya selama 2 minggu ini di Hong Kong karena tugas.

’’Iya, ya mas, aku pun bisa membayangkan dia takkan berhenti menggoda kita, tetapi memang kita kenapa Mas? Kembali aku pura-pura sambil menatapnya mesra.

’’Tau, ah!’’ perlahan sambil cemberut dia lepaskan genggaman tanganya. Dan tiba-tiba aku berhenti di pinggir jalan itu, cemberut pula. Merasa aku tak lagi mengikutinya dari belakang, akhirnya dia berhenti, memandangku sekilas, tersenyum, mengulurkan tanganya sebelah. Dan bisa di tebak senyumku pasti merekah.

’’Gitu aja ngambek...!’’ bersamaan kami berucap. Tawa kami kemudian meledak. Dan begitu kami keluar dari Ladies Market, genggaman ini tak pernah terlepas bahkan lebih erat, mungkin seerat hati kami yang akan mulai berbunga. Yah, siapa tahu rencana Tuhan, kita hanya bisa menjalaninya. Membiarkan semua seperti air yang mengalir.[]


Hong Kong, Januari 2007
Selamat Tahun Baru 2007
Special untuk teman-teman dari Surabaya yang kemarin datang ke Hong Kong, sukses selalu ya…..!


cerpen peduli april 2007