This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 30 Desember 2012

SELAMAT TAHUN BARU 2013

Selamat! Kita sudah memasuki tahun yang baru. Jangan lupa bersyukur, Yang Mahakuasa telah memberikan kepada kita kesempatan untuk meghirup udara tahun baru (2013) ini. Dan berdoalah kita, semoga udara yang kita hirup semakin bersih dari segala bibit penyakit. Dan dengan semangat makin membaja kita tantang masa depan yang jauh membentang. Bukankah peta sudah dibuat, dan segala bekal semakin siap? Lalu dengan kerja kita bentangkan layar. Sebab harapan tak boleh pupus, harus semakin mekar.


Jika menjelang perayaan tahun baru Anda sempat mengintip dinding Facebook teman-teman kita, Anda akan mendapati bahwa mereka sudah bulat dengan rencana perayaan tahun baru, dengan cara mereka masing-masing. Beberapa di antaranya merencanakan pesta, makan bersama, joget bersama. Seolah mereka lupa, pesta sering membuat orang mabuk. Bukan karena minuman beralkohol, tetapi kemeriahan itu cenderung membuat orang melayang di awang-awang yang salah, bermimpi tanpa juntrungan, bukan mimpi yang berhimpitan dengan rencana-rencana yang kita susun, yang bahkan, mungkin, sudah mulai atau lewat setengah jalan. Bukan mimpi yang kita tunggu menjelma kenyataan. Mimpi orang di dalam kemeriahan pesta biasanya adalah tujuan itu sendiri. Dan itu maya alias semu. Suka-cita yang disebut orang Jawa: ”Mung sagebyare thathit,” (= hanya sekelebat kilat).

Apakah kita tak boleh berpesta? Oh, tentu boleh. Yang tidak boleh atau sebaiknya tidak, adalah: menyiapkan diri untuk tenggelam di dalam pesta itu dan karenanya yang tertanam di dalam kesadaran kita hanyalah bahwa tahun baru adalah ketika kembang api dinyalakan. Mungkin kita suntuk semalaman hingga terkapar, mabuk kesenangan. Hingga ketika bangun keesokan harinya, dalam sadar sesadar-sadarnya pun tetap saja tidak tahu pada kordinat mana kita berdiri. Dan titik mana mesti kita parani (tuju). Dan dalam konteks seperti inilah ayat ini, ”Demi waktu, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian…” sungguh pas banget!

Sering kita merasa sadar, merasa tahu, padahal kita nyaris tak ubahnya manusia tidur berjalan. Atau seperti ranting hanyut di arus deras, dan sambil bersiul atau bernyanyi riang kita biarkan tubuh dan jiwa kita terbawa arus, yang kadang disebut tren, mode, gaya hidup anak gaul, atau apa-pun-lah sebutannya. Sering batin kita berteriak, ”Inilah aku!” Tetapi, jagad sakisine atau seru sekalian alam hanya mendengar teriakan itu sebagai sebuah igauan, sebab pada saat yang sama masing-masing kita tidak pernah dapat menjadi ’aku.’ Tampaknya, memang, kita tak lebih dari sebuah kerumunan. Kecuali, mereka yang kapan dan di mana pun selalu sadar takaran. Semoga, di dalam perkecualian itu ada engkau, juga saya! Amin. Selamat tahun baru. Merdeka!

Kamis, 13 Desember 2012

Siska Sumartono: ”Barang Kita harus Limited Edition”

Selama ini sulam sering berkonotasi jadul. Maka, ibu 3 anak ini ingin sulam digemari anak-anak muda. Melalui label Sari Ronche miliknya, ia mulai mengaplikasikan sulamannya itu pada celana jeans, rok jeans, overcoat dan blus kerja wanita.Tak ayal, segala jenis produk buatannya bisa bernilai jual tinggi.
Siska menunjukan salah satu aplikasi sulam pada baju

Semula, istri Stefanus Sumartono ini tak pernah membayangkan kalau keahliannya menyulam sejak kecil itu bisa dijadikan lahan untuk mengais rezeki. Ini terbukti lulusan STM Pembangunan Teknik Kimia alumni tahun 1990 ini tercatat malah pernah bekerja di sebuah perusahaan kosmetik selama 17 tahun. Tak tanggung-tanggung, kala itu posisinya sudah bukan karyawan biasa. Namun, dalam perjalanannya itu akhirnya ia menyadari bahwa menjadi karyawan bukanlah minatnya.

”Aku sudah 17 tahun kerja di perusahaan kosmetik. Itu posisinya sudah bagus dan punya anak buah 200 orang. Tapi, akhirnya aku ngerasa di situ bukanlah passion-ku. Aku resign tahun 2007. Dari situ aku ngerasa ingin mulai berbisnis kecil-kecilan. Kebetulan suka sulam sejak kecil. Jadi ya mulai buat produk terus ikut pameran, masuk ke instansi pemerintah dan akhirnya bisa ketemu banyak komunitas yang akhirnya menginspirasi supaya lebih baik lagi,” katanya.
Sulam pada baju bolero

Di saat awal menerjuni bisnis sulam, semula ibu dari Frans Galih Sumartono (15), Imanuel Gading Sumartono (10), Nikolas Ganesya Sumartono (4) ini menjalin kerja sama dengan salah seorang temannya yang memiliki usaha busana muslim ternama di Surabaya. Ia menyulam baju-baju muslim hasil rancangan sang teman tersebut. Namun, akhirnya pada 2009 ia memutuskan untuk mendirikan CV sendiri dan mengeluarkan produk yang diberi nama Sari Ronche.

”Aku awalnya kerja sama dengan temenku yang punya merek baju muslim terkenal di Surabaya. Aku banyak belajar dari dia. Tapi, akhirnya aku putuskan kerja sendiri dengan mendirikan Sari Ronche di tahun 2009. Dengan pesangonku dari perusahaan kosmetik dulu,” imbuhnya.

Banyak terinsiprasi dari baju muslim yang rata-rata disulam maka perempuan kelahiran Surabaya 21 Maret 1970 ini mulai menggunakan sulam pada baju kerja miliknya dan baju-baju yang biasanya dipakai anak muda zaman sekarang.

”Baju-baju kerjaku aku sulam. Itu banyak terinspirasi oleh baju-baju muslim yang disulam pada waktu itu. Karena bukan jiwaku, nuwun sewu saya kurang suka dengan baju-baju yang tertutup, saya suka baju yang modis. Karena sulam imagenya selama ini identik dengan sesuatu yang kuna, jadul, muslim, atau mungkin taplak meja aja, jadi saya ingin mencoba sesuatu yang bisa diterima anak muda. Intinya aku ingin sulam itu bisa dipakai anak muda, ini hanya masalah peletakan sulam, pilihan warna dan desainnya aja kok. Kamu bisa tampil manis dengan sulam. Jadi rok jeans saya sulam. Harga beli jeansnya semula Rp 125.000 atau Rp 150.000, setelah disulam harga jualnya jadi 3 x lipat,” pemilik usaha yang beralamat di Karang Menjangan 8/4 Surabaya ini mengisahkan.

Industri Kreatif

Dengan menyulam desain rumput, perdu, kupu-kupu, capung, rumah laba-laba ataupun pemandangan dan burung, produk-produk keluaran Sari Ronche bahkan bisa menembus harga hingga Rp 2,8 juta untuk sebuah baju saja. Ada kalanya juga penulis buku Baju Kerja Berbahan Tenun Jatim ini menambahkan aksen goni yang ia sulam untuk mempercantik baju-baju rancangannya tersebut. Produk-produk buatan Siska ini bahkan sudah digemari oleh masyarakat yang ada di Balikpapan, Samarinda, Palangkaraya, Jakarta, Ternate dan Palembang.

Perihal harga jual yang mahal, Siska mengatakan tidak ada batasan atau patokan khusus jika itu berkaitan dengan produk seni. Asalkan baju itu berkualitas dan desainnya tidak ’pasaran’ maka harga jual dari suatu produk bisa saja bervariasi.

”Harga jual itu dipengaruhi kualitas bahan, desain, dan kerapian. Untuk sesuatu yang berbau seni, karena sulam juga pekerjaan seni, kita tidak bisa mengukur atau di break down misalnya biaya produksi 25 ribu terus harga jualnya tinggal ditambah 30% dari harga produksi tadi sudah cukup. Tidak bisa begitu. Tapi, dengan catatan barangnya bagus ya. Tidak pasaran. Tidak sama dengan barang-barang konveksi. Istilahnya barang kita harus limited edition. Trik berbisnis saya, saya banyak bermain di pasar atas. Kalau saya mau merebut pangsa kelas bawah jelas saya kalah sama yang punya ratusan karyawan, saya terbentur tenaga kerja juga. Saya juga nggak mau barang saya pasaran. Saya ingin menggaji karyawan saya dengan layak juga. Jadi harga jual tidak ada patokannya,” tuturnya.
Sulam pada bungkus kotak tisu

Siska memang tidak sekadar berproduksi, tidak asal menghasilkan barang sebanyak-banyaknya untuk memburu keuntungan yang lebih besar, melainkan dengan mengoptimalkan daya kreasinya. Begitulah cara kerja industri kreatif yang sering didengung-dengungkan belakangan ini. (niken anggraini)

Rabu, 05 Desember 2012

Sahani: Berjuang bersama Petani



Mencari kios Sahani bukan pekerjaan mudah. Kios di Jalan Palagan Tentara Pelajar, Jongkang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini, letaknya memang agak menjorok ke dalam. Sebuah patung perempuan bercaping dengan keranjang berisi hasil bumi di tangan kanannya, terpajang di halaman. Apa sih sebenarnya Sahani itu? Sejak memasuki halamannya, kita akan merasa bahwa kios ini bukan kios seperti pada umumnya. Pada dinding depan terpajang baliho besar bertuliskan ’’Sahabat Petani Organik’’. Demikian juga ketika masuk ke dalam ruang, informasi mengenai pertanian organik dan kondisi pertanian Indoneisa dapat kita temukan dalam bentuk poster yang terpasang di dinding serta berbagai brosur yang tersusun di meja.

Kios itu diberi nama ’Sahani’ yang berarti sahabat petani. Dengan slogan aman, sehat, adil, Sahani berkiprah di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya dengan menjadi sahabat petani organik memasarkan hasil produksinya. Pertanian organik dipilih Sahani bukan saja karena lebih sehat karena terbebas dari unsur-unsur kimia, melainkan karena adanya nilai besar yang diusung pada saat pendiriannya.

Prihatin

Menurut Imam Hidayat, Manajer Sahani, awalnya Sahani merupakan bagian dari kelompok kerja yang membawahi urusan bisnis Konsorsium Masyarakat Fair Trade yang berdiri di Yogyakarta pada tahun 1991. Kelahiran konsorsium ini sendiri dilatarbelakangi oleh keprihatinan atas buruknya kondisi petani di Indonesia.

Sebagai tulang punggung pemenuhan kebutuhan pangan pokok, petani tidak pernah menjadi tuan bagi usaha pertaniannya. Segala hal yang berkaitan dengan pertanian telah ditentukan harganya oleh pihak luar, seperti harga benih, harga pupuk, bahkan harga jual produk pertanian. Dengan kondisi demikian, petani tak beda dengan buruh di tanah sendiri.

Sebagai langkah awal keluar dari jerat tersebut, dirintislah usaha pertanian organik di beberapa wilayah seperti Magelang, Muntilan, Boyolali, Klaten, Sragen, dan Kebumen di wilayah Jawa Tengah dan Sleman, DI Yogyakarta. Budi daya pertanian organik dipilih karena dalam keseluruhan proses memperhatikan kearifan lokal dan juga ramah lingkungan.

Lebih dari itu, benih tanaman yang dibudidayakan merupakan tanaman lokal --bukan merupakan hasil rekayasa genetic-- yang pemuliaannya sepenuhnya berada dalam tangan petani. Penekanan pada kemandirian petani ini penting karena selama ini, sejak digulirkannya Revolusi Hijau tahun 1970-an, petani tidak memiliki kedaulatan atas jenis padi yang mereka tanam, pupuk yang mereka gunakan, sampai pada tingkat harga produk yang merka hasilkan.

Lebih Mahal

Sebagai sebuah upaya penghargaan terhadap para petani, Sahani mematok harga produksi pertanian di atas harga rata-rata bahan pangan yang dijual di pasaran. Sebagai contoh beras jenis C4 yang di pasar saat ini dijual dengan harga sekitar Rp5.000,00/kg, oleh Sahani dijual dengan harga Rp7.000,00/kg. Itu merupakan harga beras terendah yang dijual oleh Sahani.

Beras lokal yang merupakan produk andalan Sahani dijual lebih tinggi dari harga tersebut. Misalnya mentik Rp7.500,00/kg, beras merah Rp8.000,00/kg, dan rojolele Rp9.000,00/kg. Tahun ini bahkan mulai diproduksi dan dipasarkan juga beras hitam, sebuah varietas yang hampir punah dengan harga jual di tingkat konsumen Rp15.000,00/kg.

Selain beras, Sahani juga menyediakan berbagai hasil pertanian lain seperti sayuran, berbagai jenis kacang (kacang hijau, kedelai, dsb.) dan produk olahan dari hasil pertanian tersebut seperti kecap, emping garut, pati ganyong, dan lain-lain.

Meski harganya cukup tinggi, sejauh ini Sahani tidak mengalami kesulitan berarti dalam hal pemasaran. Hal itu disebabkan pangan organik memiliki segmen pasar tersendiri. Selain mereka yang berkeinginan untuk meningkatkan kualitas kesehatan, masyarakat yang paham akan ketidakadilan dalam sistem pertanian menjadi segemen utama pemasaran produk-produk pertanian organic tersebut.

Idealisme

Sebagai sebuah lembaga bisnis yang menjunjung tinggi idealisme, Sahani hanya bersedia menjadi mitra bisnis petani yang mengorganisasikan diri. Saat ini setidaknya terdapat 11 kelompok tani di wilayah sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta yang bermitra dengan Sahani. Selain membantu dalam memasarkan hasil pertanian kelompok-kelompok tersebut, Sahani juga berusaha membantu kelompok tersebut dalam hal penguatan kapasitas.

Dalam upaya penguatan kapasita, Sahani biasanya menggandeng lembaga mitranya yang bergelut dengan isu-isu yang dibutuhkan oleh kelompok. Demikian juga ketika sebuah kelompok tani menghadapi masalah berkait dengan ketidakadilan struktural yang mereka hadapi, Sahani akan mencarikan lembaga mitra yang mampu mendampingi kelompok tersebut memperjuangkan keadilan.

Dalam hal memasarkan produk pertanian anggota kelompok, Sahani juga menerapkan sebuah idealisme tersendiri. Bersama kelompok-kelompok tani, Sahani membuat kesepakatan bahwa setiap kali panen, petani harus menyisihkan sepertiga di antaranya sebagai bahan pangan keluarga. Sepertinya lainnya untuk kegiatan sosial di tempat tinggalnya (seperti nyumbang dalam tradisi Jawa), dan sepertiga lagi untuk dijual.

Pada awalnya ini bukan hal yang mudah dilakukan. Banyak petani tergiur untuk menjual semua hasil pertaniannya karena harganya lebih tinggi dari produk pertanian non-organik dan memenuhi kebutuhan pangan mereka dari produk non-organik. Kondisi demikian tentu tidak akan merubah situasi ketertindasan petani. Itulah mengapa Sahani kemudian merasa perlu membuat kesepakatan dengan mereka.

Jaringan Pemasaran

Saat ini jaringan pasar Sahani telah terbangun di empat kota yaitu Yogyakarta, Jakarta, Bogor, dan Surabaya. Meningkatnya kesadaran hidup masyarakat dan berkembangnya gaya hidup kembali ke alam menjadikan minat konsumen akan pangan organik semakin meningkat. Namun demikian, tanpa stabilitas ekonomi yang baik, peningkatan kesadaran tersebut tidak berbanding lurus dengan perluasan dan perkembangan pasar produk organik karena tingginya harga.

Meski di sisi pemasaran cukup stabil, hingga saat ini Imam tetap merasakan kegelisahan berkait dengan kesadaran masyarakat akan kondisi pertanian di negri ini. Menurut dia, sejauh ini konsumen Sahani lebih banyak mengkonsumsi produk-produk pertanian organic karena alasan kesehatan dan bukan alasan pemahaman akan hak-hak petani. Kenyataan ini menjadikan Imam dan teman-temannya di Sahani merasa perlu melakukan upaya lebih keras lagi untuk menyebarluaskan informasi kedaulatan petani ini kepada konsumen, baik melalui selebaran maupun perbincangan langsung dengan mereka. [am]

Batik Trenggalek yang Dulu pernah Berjaya Makin Ludes Digerus Batik Pabrikan



Trenggalek pada masa 70-an sampai 80-an cukup dikenal dengan kerajinan bathik tulisnya. Bahkan ada nyanyiannya yang cukup popular yaitu nyanyian Kutha Trenggalek … kalokeng rat produksi batik Tenggalek , tempene alen-alen tekan manca praja… itu merupakan sepenggal bait nyanyian tersebut yang menyiratkan bahwa batik Trenggalek cukup terkenal sampai lain daerah. Bahkan, banyak orang yang lebih mengenal batiknya daripada kota Trenggaleknya. Wilayah yang menjadi sentra utama kerajinan bathik adalah Kelurahan Sumbergedong dan Surondakan Kecamatan Kota Trenggalek. Di kedua Kelurahan ini, dulu setidaknya sampai tahun 1980-1n ada ratusan perajin batik tulis. Bahkan, karena telah menjadi pusatnya bathik di Trenggalek jalan-jalan atau gang banyak yang dinamai dengan nama motif batik seperti Gg sidomokti, Gg Parang kawung, Gg gringsing, dll.

Ada beberapa nama yang menjadi perajin batik tulis yang cukup besar antara lain Suparni, Sukono, dan Nyoto. Di era 80-an produksinya mereka masing-masing sekitar 300 lembar batik/5 hari.

Dengan mempekerjakan 6 orang karyawan saat itu Suparni masih kewalahan melayani permintaan “ Saat itu karyawan saya 6 orang belumlagi saya sendiri, istri saya serta anak saya yang sudah bisa mengerjakan juga ikut membantu mengerjakan batik,” kenang Suparni.

Kini sentra bathik tersebut tinggal nama saja sejak terjadinya krisis ekonomi Tahun 1998 seluruh perajin Bathik yang ada gulung tikar. Yang tersisa hanyalah nama-nama gang yang menunjukkan bahwa didaerah ini dulunya merupakan pusatnya perajin bathik.

Saat Peduli menelusuri kampung ini rata –rata yang dulunya mereka adalah perajin bathik telah beralih usaha, ada yang buka toko (mracang) memelihara ayam, ada yang bercocok tanam dan lebih banyak lagi yang menjadi pekerja serabutan.

Memang ada 1-2 orang yang masih menekuni bathik namun itu hanya dijadikan kerja sampingan saja. Namun secara umum bathik di kampung ini tinggal nama saja kalau dari segi produksinya memang sudah bisa dikatakan mati.

Beralih ke Tukang Cuci

Salah seorang mantan perajin batik yang cukup terkenal adalah Suparni (68) warga RT I/RwI Kelurahan Sumbergedong Kecamatan Trenggalek. Saat Peduli datang ke kediamannya, pagi itu Suparni sedang melayani pelanggan yang memerlukan jasanya untuk menggiling tepung (selep tepung) sedangkan istrinya Sunarmi (62) tampak sedang memasak, sambil menjaga toko (mracang). Di samping itu ia masih menerima jasa loundry atau pencucian pakaian.

Suparni


Saat menceritakan tentang riwayat batik ia tampak masih bersemangat, apalagi istrinya. ’’Sebetulnya saya sudah menjalani usaha batik sejak tahun 1964 dan kebanyakan di lingkungan sini hampir setiap rumah membatik. Bahkan, sungai depan rumah ini dikenal dengan sungai batik karena siang malam tidak pernah sepi dari aktivitas masyarakat yang memcuci hasil garapan,’’ tuturnya.

’’Saat itu saya sendiri dengan 6 orang karyawan sering kewalahan melayani permintaan pedagang langganan saya, memang setiap 5 hari sekali paling tidak 300 lembar habis terjual dan tidak perlu memasarkan ke pasar karena pembelinya datang sendiri,’’ lanjut Sunarmi.

Masih menurut penuturan Sunarmi dari usaha bathiknya itu ia bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, untuk biaya sekolah 6 orang anaknya, bahkan masih menyisakan sebagian untuk ditabung.

Namun, ketika terjadi krisis ekonomi yaitu sekitar Tahun ’98 semua pengusaha batik gulung tikar.

’’Matinya usaha batik di sini ya saat ada krisis itu, pembeli tidak ada, bahan-bahan untuk produksi mahal semua, bahkan seperti bahan pewarna (sogo) hilang dari pasaran. Bila pun ada, harganya sudah tidak nucuk (tidak menguntungkan) lagi. Mau gimana lagi kalau dipertahankan yang jelas ngentekne barang sing wis enek, (menghabiskan apa-apa yang sudah tidak ada -Red)’’ ujar Suparni.

Sejak saat itu untuk memperoleh pengasilan sehari-hari para perajin bathik banyak yang beralih profesi, seperti Suparni sendiri karena usianya sudah cukup tua biarpun memiliki beberapa bidang sawah, namun tidak dikerjakan sendiri. Sawah pembelian dari hasil bathik saat masih jaya-jayanya itu dikerjakan oleh orang laindengan cara bagi hasil.

Sedangkan ia sendiri aktivitasnya hanya sebatas membantu istrinya menunggui penggilingan tepung serta pracangannya, disamping itu sedikit-sedikit dari jasa loundry-nya setiap hari selalu ada.

’’Sejak berhenti mbathik ya ini mas kegiatan saya, buka pracangan dan selep tepung sedang jasa cuci ini baru setahun berjalan. Ya biarpun sedikit yang penting ada pemasukan dan daripada nganggur. Untung, anak-anak saya sudah punya usaha sendiri biar pun kecil-kecilan, ada yang usaha servis elektronik, ada yang usara rental komputer,’’ tutur Suparni.

’’Sebetulnya saat ini bathik mulai laku lagi tapi rasanya sudah males mas … wis tuwek (sudah tua, Red) , apa lagi anak-anak tidak ada yang berminat,’’ tutur Sunarmi istri Suparni.

’’Sekarang sebenarnya masih ada yang mbathik setahu saya di Surondakan masih ada satu,yaitu di sebelah barat Terminal Bus dan di Sumbergedong ada yang besar satu dan beberapa orang sebagai buruh saja,’’ lanjutnya.

Bertahan sampai sekarang

Kediaman Nyoto (50) sekitar 50m masuk gang sempit ke arah barat dari terminal Bus Trenggalek. Saat peduli datang kekediamannya tampak Suwarti istri Nyoto sedang istrirahat setelah selesai mencuci bathiknya. Tampak sekitar 10 lembar kain bathik pada jemuran di gang sempit jalan masuk ke rumah Nyoto, kelihatannya baru saja dijemur karena masih terlihat basah dan masih ada tetesan airnya.

Sambil duduk istirahat di teras rumahnya inilah peduli ngobrol tentang usaha yang digelutinya. Menurut penuturannya ia sudah sejak Tahun 1980 menggeluti usaha bathik ini. Usahanya sempat mengalami masa keemasan namun sejak terjadinya gejolak ekonomi yang tidak menentu perlahan-lahan usaha yang ditekuni mengalami surut sampai sekarang.

Walaupun demikian, sang istri, Suwarti (48) sampai saat ini masih setia menekuni pekerjaan mbathik.

’’Mau kerja apa lagi, lha wong ketrampilan saya ya hanya mbatik, biarpun sangat jauh hasilnya bila dibanding saat masih ramai (80-an –Red) tapi sedikit-sedikit masih ada pemasukan,’’ ujarnya.

’’Paling banter dalam seminggu saya bisa menyelesaikan 10 - 12 lembar. Itu pun saya kerjakan sendiri. Sedangkan pemasarannya ya memang lambat tapi ya tetap ada saja yang beli,’’ lanjutnya.

Menurut penuturan Suwarti, motif yang dikerjakan hanya beberapa motif saja yaitu sidomukti, gringsing, semenrama. Padahal, dulu ia bisa mengerjakan hampir 20 jenis motif batik.

Harga jual batik yang dihasilkan Suwarti ini yang biasa Rp55.000 sedangkan yang bagus (alusan) mulai dari bahan dan pengerjaannya Rp75.000 per lembar. Dari harga itu ia hanya memperoleh untung Rp10.000 sampai15.000 per lembar. Itu pun kalau lakunya cepat.

Kendala utama usaha bathik ini menurutnya adalah bahan baku yang sekarang mahal dan semakin banyaknya batik keluaran pabrik.

’’Saat ini kan sudah jarang orang yang sehari-hari menggunakan sewek (jarit) semua beralih ke pakaian modern, jadi ramainya pembeli hanya saat menjelang Hari Raya dan Agustusan saja,’’ tutur Suwarti.

Dilihat dari keluhan tersebut memang pemerintah sebaiknya segera membuat satu kebijakan (terutama pemerintah daerah) yang bisa membangkitkan kembali Bathik yang sempat menjadi ikon kota Trenggalek. [Purwo Santosa]

Elita Sari Anggarini Memulai Bisnisnya dari Pesangon Perusahaan yang Bangkrut



Pastinya tak seorang pun yang berharap perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan. Sebab itu artinya seseorang harus bersiap kehilangan pekerjaan yang menjadi sumber pendapatannya selama ini. Namun justru dari sinilah perempuan 42 tahun ini jadi berani untuk berwirausaha sendiri. Ketika perusahaannya dinyatakan bangkrut dan harus tutup di tahun 2002 silam, perempuan kelahiran 12 Oktober 1970 ini sempat dihinggapi rasa kesal dan kecewa. Bisa dimaklumi, loyal bekerja sebagai seorang sekretaris selama sembilan tahun tentunya perusahaan bangkrut bukanlah hal yang menyenangkan baginya. Selain harus kehilangan pekerjaan, ia juga harus mulai dari nol lagi bila ingin terus berpenghasilan. Jelas ini bukan perkara mudah. Di usia yang sudah matang, mencari pekerjaan baru tentu bukan hal gampang. Banyaknya lulusan baru yang belum berpengalaman sehingga mau digaji murah akan menjadi kendala yang tak terlihat langsung. Jadi, satu-satunya jalan ya berwirausaha sendiri.

”Perusahaan tempat saya bekerja bangkrut dan tutup mendadak. Padahal, saya sudah bekerja 9 tahun. Agak mangkel juga karena saya sudah bekerja sejak tahun 1995. Mau melamar kerja tentunya kompetitornya yang masih muda-muda itu padahal saya sudah umur 30. Akhirnya saya pilih berwirausaha saja. Saya ikuti semua pelatihan yang ada mulai dari mengolah enceng gondok sampai membuat kue kering,” aku Elita.


Dengan bekal uang pesangon sebesar Rp7.500.000 yang ia dapatkan saat itu, akhirnya mulailah alumnus SMAN 2 Surabaya ini berwirausaha. Namun, lantaran belum berjodoh dengan usaha yang digelutinya itu ia pun harus berkali-kali berganti usaha mulai membuat kerajinan dari enceng gondok, jualan daster batik yang diambil dari Jateng hingga menjual aneka kue kering. Tahun 2005, saat uang pesangonnya sudah menipis, barulah ia menemukan jatah rezekinya dengan membuat gift box seperti saat ini.

”Awalnya saya beli buku-buku kerajinan membuat kotak. Terus coba-coba membuat. Waktu itu uang sudah tinggal 50 ribu saja. Saya buat kotak tisu dan kotak-kotak kado yang saya titipkan di toko buku dan minimarket begitu. Jualnya dengan cara konsinyasi. Tetapi, lama-lama cara berjualan seperti ini ada kelemahannya juga. Model kotaknya suka dibajak orang. Padahal, membuat kotak itu yang rumit kan hitung-hitungan ukurannya. Kalau kita sudah membuat kotak dengan desain baru, tiba-tiba aja ada yang membajaknya dan menjualnya dengan harga rendah kita kan jadi rugi juga,” imbuhnya.

Kenyataan ini membuatnya memutar otak mencari strategi penjualan baru. Penjualan secara langsung dengan sistem putus pasti lebih menguntungkannya. Dengan seringnya ia mengikuti pelatihan yang dibuat oleh Dekranas Surabaya, Desperindag, hingga Dinas UKM, Elita jadi mendapatkan banyak masukan tentang bagaimana cara menjual kotak buatannya tersebut. Sasaran yang ditujunya kini adalah rekan-rekannya sesama pelaku UKM. Ia pun berlaku seperti penjahit, siapa yang mau pesan kotak bisa berbelanja sendiri bahannya dan Elita hanya akan menentukan ongkos pembuatan saja.


”Para instruktur banyak memberikan masukan akan pentingnya sebuah kemasan. Karena kemasan bisa menaikan harga jual barang sebab pangsa pasarnya juga berbeda. Oleh karena itu saya bisa fokus di bidang membuat box kemasan ini. Pasar saya ada di sini. Teman-teman UKM mengaku kesulitan kalau mau pesan kotak kemasan karena ada minimal order-nya. Dari sini saya dapatkan celah baru, nggak apa-apa pesan cuma 1 biji aja tetap saya layani, tapi kalau pesan banyak harganya akan lebih murah. Nggak masalah buat saya meski cuma pesan 1 biji, misalnya minta dibuatkan kotak tempat kalung maupun baju batik,itu malah membuat saya senang juga kok, saya jadi nggak bosan dengan model dan warna yang itu-itu aja. Saya bantu teman-teman UKM itu dengan doa, semoga usahanya maju, nanti kalau usahanya maju nanti dia bisa pesan lagi ke saya. Itu kan namanya berbagi rezeki,” katanya seraya tersenyum.

Di rumahnya yang beralamat di jalan Ketabang Ngemplak no 30 Surabaya itu kini Elita dibantu 4 orang saudaranya yang membantunya membuat box kemasan. Ia memberi nama handycraft buatannya itu dengan label Ondomohen. Nama itu ia ambil lantaran Ondomohen adalah nama kawasan tempat ia tinggal tersebut. Harga jual box paling murah seharga Rp 7.000 berupa tempat box aksesoris. Sedangkan kotak paling mahal berupa box peningset lamaran, pesanan dari seorang beretnis China yang per biji harga kotaknya mencapai Rp125.000. Soal modal, Elita mengaku tak mengalami kesulitan. Sebab sebelum seseorang pesan dibuatkan kotak kemasan ia sudah meminta DP sebanyak 50%.

”Insya-Allah soal modal saya nggak mengalami masalah. Soalnya kalau mau pesan itu DPnya 50%. Dengan modal 50% itu saya belikan bahan keperluan pembuatan box. Nanti kalau pesanan sudah jadi yang 50 %nya lagi itu sudah masuk biaya produksi sebanyak 25%nya. Sedangkan 25 % sisanya merupakan profit usaha saya. Sejauh ini saya baru memperkerjakan 3 orang saudara saya saja, soalnya tetangga saya kebanyakan nggak mau, mereka lebih suka menjadi SPG. Mungkin karena membuat box ini harus mengukur itulah yang membuat mereka nggak berminat mengerjakannya,” tuturnya.(niken anggraini)