This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 10 Januari 2008

Beternak Tawon: Omzetnya Rp 30 Juta/Bulan

Ini bisnis yang benar-benar manis. Hasilnya dijamin manis. Namanya pun madu! Tetapi, beternak tawon ternyata tak hanya menghasilkan madu.


Anda berpikir bahwa beternak tawon mesti diam di suatu tempat? Untuk skala amatiran, seperti yang dilakukan orang-orang kampung yang hanya memelihara 1 hingga 5 koloni, masing-masing dikandangkan di dalam sebuah kotak [glodhogan], memang tak perlu dibawa ke mana-mana. Tetapi, peternak tawon atau lebah profesional yang memiliki ratusan, bahkan ribuan koloni, mesti menggembalakannya, bahkan sampai ke pulau seberang.

Hariyono SE [30] menekuni bisnis ternak tawon/lebah yang dirintis orangtuanya, TS Gunawan [55], sejak 1979 lalu. Sejak kecil ia suka bermain-main dengan tawon, dan itulah yang sering membuat sang ibu jengkel karena khawatir si kecil tersengat. Seperti pepatah, ’’Bermain air basah....’’ Hariyono kecil pun berkali-kali disengat lebah. Tetapi, pengalaman disengat lebah tidak membuatnya kapok.

’’Ya, memang sering disengat. Mula-mula ya sakit dan bengkak-bengkak seperti pada umumnya orang yang kena sengat lebah. Tetapi lama-kelamaan tubuhnya membentuk semacam antibodi sehingga menjadi kebal,’’ tutur TS Gunawan yang mendampingi Hariyono saat ditemui Peduli di pusat bisnis tawon-nya Jl Raya Lawang, Malang, Jawa Timur.

Inovasi

Bahkan, setelah mengantongi ijasah sarjana dari Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mandala Surabaya, Hariyono tetap saja memilih melanjutkan bisnis beternak tawon. Berbagai inovasi pun lahir dari pebisnis muda yang enerjik ini, yang, bahkan telah mengantongi Asean Best Executive Award 2003 – 2004 dan 2005 -2006, serta Asean Best Executive Citra Award 2006.

Salah satu inovasinya adalah memroduksi sendiri madu propolis [propolis infeksi dan propolis alergi], sebelumnya lebih dikenal sebagai produk impor yang diedarkan dengan sistem multylavel marketing [pemasaran berjenjang].

Mulai memroduksi madu propolis 1985 untuk memasok pasar luar negeri [Malaysia dan Singapura]. ’’Pada waktu itu pasar dalam negeri tampaknya memang belum mengenal produk ini,’’ tutur Hariyono, ’’karena itu kami menjualnya ke luar negri melalui agen. Maksudnya, bukan kami yang secara langsung menangani pemasaran di luar negri itu. Tetapi, kini justru pasar dalam negri lebih banyak menyerap produk ini, dan kirim ke luar negri pun tetap jalan seperti biasa.’’

Tergantung Bunga

Tawon atau lebah mendapatkan sumber makanannya dari bunga. Karena itu, beternak tawon secara profesional tidak bisa menetap hanya di satu tempat secara terus-menerus. Di mana ada banyak bunga, ke sanalah tawon itu dipindahkan. Sistem ini disebut Hariyono sebagai sistem angon atau penggembalaan. Jadi, bukan hanya bebek, kambing, atau sapi yang bisa digembalakan. Tawon pun bisa, dan bahkan harus digembalakan. Jika itik, kambing, sapi, dan sejenisnya bisanya digembalakan di sekitar kandang mereka, maka menggembalakan tawon sering harus menempuh jarak ratusan kilometer. Hariyono telah menggembalakan tawonnya di seluruh Pulau Jawa, dan bahkan juga ke Pulau Bali.

’’Jadi, begini, nggak perlu harus beli lahan. Seandainya kita nggak punya lahan pun, misalnya rumahnya di Surabaya, nggak masalah. Jadi kalau beternak lebah ini sistemnya angon [menggembala, Red] ya berpindah-pindah. Kalau pas nggak ada bunga ya pindah ke tempat lain yang ada bunganya. Sistemnya ya sewa lahan aja. Kalau musimnya bagus bisa 3 bulan, kalau musim bunga nggak bagus ya kadang hanya satu bulan saja. Kalau yang nggak ngerti mengira beternak lebah itu seperti beternak ayam. Di suatu lahan khusus, pakannya didatangkan. Lebah nggak begitu,’’ terang Hariyono.

Produk madu pun ditentukan oleh lingkungan di sekitar lahan yang disewa. Misalnya di lingkungan tanaman randu [pohon kapuk] ya madunya dinamai Madu Randu. Ada pula Madu Kelengkeng, yang harganya lebih mahal daripada Madu Randu.

Selain tergantung bunga yang diambil oleh si tawon/lebah, madu dari lanceng [lebah dari jenis kecil-kecil] harganya jauh lebih mahal ketimbang madu tawon biasa.

Jenis Lebah

Ada 3 jenis lebah yang dibudidayakan oleh Hariyono, yakni Lebah Australia, Lebah Lokal [tawon madu biasa], dan Lanceng. Lebah Australia kapasitas produksinya paling tinggi atau jumlah madunya lebih banyak, tetapi harganya juga paling murah. Sedangkan lanceng produksinya sedikit, tetapi harga madunya paling mahal. Secara pasti, menurut Hariyono produksi madu sulit dihitung karena benar-benar tergantung pada ketersediaan bunga. Tetapi kalau dikira-kira, berkisar antara 0 – 30 kg/koloni/bulan.

Jika Anda mau menyoba atau belajar beternak, beli bibitnya pun dilayani. Harganya berkisar antara Rp 15.000 – Rp 300.000 per koloni [satu kotak]. Harga itu ditentukan oleh besar-kecilnya koloni dan jenis lebahnya.

Dari menjual berbagai jenis produk dari ternak tawonnya, Hariyono bisa meraup pendapatan Rp 30 juta/bulan. Lebih dari itu, seperti diakui Hariyono, ada rasa senang ketika bisa menularkan ilmunya, terutama kepada masyarakat di sekitar lahan yang disewa, dan tak sedikit di antara mereka tertarik untukmenggeluti bisnis yang menghasilkan madu ini.
’’Kita selalu pakai tenaga-tenaga lokal di tempat kita sewa lahan, dan mereka sekaligus bisa belajar beternak tawon secara modern,’’ tutur Hariyono.

Apa sih, bedanya beternak tawon cara modern dan cara tradisional? Menurut Hariyono, yang paling prinsip adalah cara pengambilan madunya. Cara tradisional, mengambil madu dengan cara diperas, sehingga sarang lebah itu tidak bisa dimanfaatkan lagi oleh si lebah. Sedangkan cara modern mengunakan sparator, yakni alat yang bisa mengambil madu tanpa merusak sarang dengan gaya turbulensi. Setelah madu terambil, sarang itu dikembalikan lagi ke kotak pemeliharaan.
Perbedaan lainnya adalah sistem angon itu, yang merupakan tuntutan mutlak ketika jumlah koloni semakin banyak. Sebab, jika dalam kurun waktu tertentu lebah ditempatkan di lahan yang disekitarnya tidak tersedia bunga yang cukup, mereka akan berpindah sendiri ke tempat lain alias bubar! [PUR]

Sate Kelinci dan Play Boy

Sate kelinci kurang populer memang. Tetapi ada yang suka banget, sampai jauh pun mengubernya. Benarkah sate kelinci bagus untuk meningkatkan kesuburan?

’’Ada perempuan yang lama menikah tak kunjung punya anak. E, setelah pasutri itu mengonsumsi sate kelinci, lha kok sang istri hamil dan kemudian, waladalah... anaknya kembar!’’ tutur Drs gunawan, pengusaha sate kelinci di Pakisaji, Malang, Jawa Timur.

Benar sehebat itukah? Walau tak yakin benar, Drs Gunawan sempat berujar, ’’Jangan-jangan kelinci itu memang ada kaitannya dengan kualitas kejantanan, sehingga play boy pun disimboli kelinci. Soalnya, dalam kehidupannya, kelinci itu memang memraktikkan poligami.’’

Tetapi bahwa sate kelinci berkhasiat menurunkan kolesterol dan baik untuk mengobati sesak napas, sudah ada laporan ilmiahnya. Selengkapnya, baca Peduli edisi 11 [Maret 2007].

Perajin Kulit di Blitar, Jawa Timur

Karyawannya Bisa Terima Rp 1 Juta/Bulan


Siapa bilang berbisnis dengan saudara sendiri itu tidak baik? Lihatlah dua bersaudara ini, Zaenal [35] dan Eko [33] bergandeng tangan buka usaha industri rumahan, memroduksi barang-barang dari kulit: dompet, sabuk, sarung tangan, tas, hingga jaket!

Suatu kali wartawan Peduli mengambil titipan kamera dari Hong Kong. Yang dititipi Lely [asal Ponorogo] yang lagi cuti untuk berlibur di Indonesia. Janjian ketemu di rumah Ida Arsusi, di Blitar. Dari Surabaya, naik motor dan saat melintasi kota Wlingi, perut yang lupa nggak dikasih sarapan berkali-kali miss-call, eh, maksudnya: bunyi ’’krucuk-krucuk!’’ Lalu berhenti di warung sate di Jl Raya Pandean, Wlingi. Eh, tak jauh dari warung itu, di kanan jalan dari arah Malang, ada sebuah papan nama yang cukup menarik perhatian, di sebuah toko –ternyata sekaligus juga jadi tempat produksi barang-barang dari kulit.

Eko, salah seorang pemilik ZYN Genuine Leather ini sedang berjaga di situ sambil menunggui seorang karyawannya yang sedang bekerja. Mereka tidak hanya melayani pembelian atau pemesanan, melainkan juga melayani servis. Ini benar-benar jadi tempat singgah yang menyenangkan. Jika Anda tidak puas dengan berbagai model dompet, sabuk, jaket, dan lain-lain yang tersedia, begitu cocok harganya bisa pesan sesuai model yang Anda inginkan.

Harga

Kita bisa mendapatkan sebuah jaket kulit [asli] hanya dengan Rp 175 ribu. Murah, ya? Ya, itu untuk jenis jaket kulit sambung, yakni kulit perca yang disambung-sambung dengan dijahit. Untuk yang kulit utuh, harganya bervariasi antara Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta, tergantung model dan bahan kulitnya, kulit sapi atau kulit kambing. Kulit kambing lebih mahal, karena lebih lembut.

Sarung tangan, dompet, dan sabuk, harganya bervarisi dari Rp 20 ribu hingga ratusan ribu rupiah. Tentu, bagi siapapun yang berminat untuk menjualnya kembali, ada tawaran harga khusus, harga grosir.


Tawaran Kerjasama
Selain menawarkan harga grosir, Eko juga menawarkan kerjasama bagi siapa yang mau menanam modal. Tetapi, Eko yang enggan bicara soal omzet dan keuntungan usahanya ini tidak mau pula menjelaskan berapa prosentasi pembagian hasilnya dengan si penanam modal.

’’Ya, nanti saja Mas, kalau ada yang tertarik baru kita bicarakan. Yang jelas, namanya kerjasama ya harus saling menguntungkan,’’ kilah Eko.

Sebagai gambaran, ZYN Genuine Leather ini telah memiliki 4 buah gerai, salah satu di antaranya ada di wilayah yang tergolong strategis di Blitar, yakni dekat Makam Proklamator RI, Bung Karno. Pusatnya ada di Jl Ngadri Jugo dengan nomor telepon +62342332142.

Selain memasarkan langsung sendiri melalui 4 buah gerainya, ZYN Genuine Leather yang mendapatkan bahan baku kulit dari Garut, Jawa Barat, juga memasok distributor dan penjual di Surabaya, dan Sidoarjo [Pusat Tas dan Koper Tanggulangin].

Karyawan Sistem Borongan

ZYN Genuine Leather memiliki 12 orang karyawan dengan pengupahan sistem borongan. Artinya, karyawan menerima upah sesuai dengan hasil kerjanya. Ternyata, rata-rata para karyawan itu menerima upah per bulan di atas UMR (upah minimum regional) yang untuk Jawa Timur sekarang ini berada di kisaran Rp 700 ribu – Rp 800 ribu. Karyawan ZYN Genuine Leather bisa menerima Rp 1 juta/bulan atau bahkan lebih jika sedang ramai garapan.
Itu semua sudah cukup memberikan gambaran bahwa usaha di bidang produksi barang-barang berbahan kulit ini cukup menjanjikan, bukan? [PURWO SANTOSA]

Waridi, Laki-laki yang Istrinya Bekerja di Hong Kong

Bosan Jadi Buruh, Buka Usaha Penggilingan Tepung


Jangan mentang-mentang tanpa kerja pun bisa makan, lalu suka berpangku tangan. Berkeringat, dengan bekerja, adalah cara hidup yang sehat. Sehat rohani dan jasmani, jiwa dan raga, akal dan okol, seperti Waridi.


Waridi [37], ialah lelaki yang tak mau berpangku tangan. Walau tak mengatakannya sendiri, ia tipe orang yang pegang prinsip bahwa hidup yang sehat harus berkeringat. Artinya, harus bekerja. Karena itulah ia bekerja dengan riang. Selain badan sehat dan dapat uang, menekuni pekerjaannya adalah sekaligus mengobat rindu istri yang banting tulang di negeri orang.

Penggilingan tepung. Itulah usaha yang ditekuni Waridi [37] warga desa Petung, Kecamatan Dongko, Kabupaten Ttrenggalek, Jawa Timur, sejak tahun 2000. Mesin penggiling tepung tersebut merupakan satu-satunya tiang penyangga ekononi keluargannya. Meskipun pendapatan dari jasa gilingan tersebut tidak seberapa namun bagi Waridi, bila setiap harinnya tetap ada orang yang memerlukan jasanya ia sudah merasa beruntung.

’’Kalau dilihat dari hasilnya tidak seberapa,’’ kata Waridi tanpa maumenyebut angka. ’’Tapi, ini merupakan satu-satunya usaha yang saya miliki, dan alhamdulillah dari hasil usaha inilah saya bisa menghidupi keluarga saya,’’ imbuhnya.

Waridi bekerja sendiri mengoperasikan mesin gilingnya itu. Istri satu-satunya, Wijiati [28], yang ia cintai dengan sepenuh hati pun menjadi pekerja rumah tangga di Hong Kong. Maka, jangnkan mengoperasikan mesin giling, memasak, menyuci, dan pekerjaan rumah tangga lain pun ia lakukan sendiri.

Mandiri

Bagi Waridi semua itu dilakukan dengan iklas itung-itung untuk menghilangkan jenuh dan rasa sepi.

Sebelum menikahi Wijiati, Waridi ialah seorang buruh yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.

’’Sebelum menikah, pekerjaan saya hanya buruh. Mulai dari buruh tani, kuli bangunan, serabutan, bahkan menjadi kuli kebun di Kalimantan pun pernah saya lakukan. Jadi, setelah menikah saya berusaha untuk mandiri. Sedikit uang tabungan dari hasil saya buruh selama ini saya belikan satu set mesin giling tepung untuk mendirikan usaha gilingan tepung ini,’’ tutur Waridi.

Penghasilan

Setelah bicara cukup panjang, akhirnya Waridi mau pula buka informasi mengenai penghasilannya. Dari jasa gilingan ini ia mengaku mengantongi pendapatan antara Rp 10.000 sampai Rp 15.000/hari. Menurut Waridi, angka itu tergolong lumayan, cukup untuk memutar roda kehidupannya.

Sementara itu, uang kiriman dari istrinya selalu ia masukkan ke dalam rekening tabungan. ’’Uang kiriman dari istri, tetap saya biarkan di bank. Nantilah diambil setelah ia pulang. Mungkin nanti kami akan menggunakannya sebagai modal usaha tuturnya. [PURWO SANTOSA]

Mengeruk Dolar dengan Mengekspor Bonggol Bambu

Bonggol bambu biasanya dipandang sebagai limbah, bahkan orang enggan mengambilnya untuk sekadar ’kayu bakar’. Ternyata, orang kreatif bisa memanfaatkannya untuk mengeruk dolar!


Bambu biasa ditanam untuk diambil batangnya. Di desa-desa biasa digunakan untuk reng dan usuk [rangka atap rumah]. Juga dianyam untuk dinding, untukberbagai peralatan rumah tangga, dan sekian banyak barang kerajinan lainnya. Nyaris tak ada yang pernah berpikir bahwa bonggolnya pun bisa dijual, bahkan dengan harga yang lebih mahal.

Negara mana yang mau mengimpor tampah, rinjing, krembu, tompo, besek, kalo, gedhek, dan barang-barang lain berbahan dasar bambu dari Indonesia? Tetapi, setelah disentuh tangan-tangan trampil, bonggol bambu yang biasanya dilupakan [tak pernah diambil] bisa diekspor sampai Jepang, Italia, dan juga ke Kanada. Wouw!

Ceritanya, sekitar awal tahun 2001 ada seorang bernama Joemaro Joko Pratomo [asal Solo] yang mencoba menjual barang-barang berbahan bonggol bambu hasil karyanya, di tengah-tengah keramaian pesta buka giling di Pabrik Gula Kebonagung, Malang, Jawa Timur.

Pak Joemaro tidak sekadar menjual barang kerajinannya begitu saja, melainkan juga mendemonstrasikan ketrampilannya membuat patung itik dari bonggolbambu itu. Banyak orang tertarik dan mengerumuninya. Ada sebagian orang yang kemudian membeli barangnya, tetapi sebagian besar sekadar pengin melihat demo pembuatan patung itu. Itung-itung, tontonan gratis! Di tempat inilah sekarang berdiri Galeri 76, yang merupakan rumah produksi dan sekaligus gerai untuk memasarkan barang-barang kerajinan yang dihasilkan, bukan hanya patung itik, melainkan juga patung ikan, burung, kentongan, dan bahkan ada pula lukisan.

Banyak seniman bergabung di sini. Ketika Pak Joemaro mendemonstrasikan keahliannya membuat patung dari bonggol bambu, ternyata bukan hanya calon pembeli dan orang iseng melihat saja yang ikut mengerumuninya, melainkan ada pula mahasiswa Jurusan Seni Rupa Universitas Malang yang kemudian tertarik untukbergabung dengan Galeri 76. Ialah Awang Follys [24] yang kini menjadi salah satu orang kepercayaan Pak Joemaro dalam mengurusi Galeri 76 di kawasan Kacuk, bersebelahan dengan Pabrik Gula Kebonagung, Malang.

Pak Joemaro sendiri jarang-jarang berada di Galeri 76, karena sibuk mengurusi galerinya yang lain, termasuk harus sering bepergian ke luar negeri memromosikan produknya. Sudah sekian negara di jelajahi, di Asia, Eropa, dan Amerika.

Dji Sam Soe Award

Tanpa kreativitas, mustahil pamor bonggol bambu bisa secemerlang ini. Bahkan, apa yang biasanya dikenal sebagai limbah –yang untuk mengambilnya sebagai kayu bakar pun orang enggan— di tangan orang-orang trampil di Galeri 76 bonggol bambu menjadi komoditas ekspor.

Sebagai penghargaan atas kreativitas ini, atas prestasi mendatangkan devisa, termasuk jasa Pak Joemaro menampung pemuda-pemuda kreatif yang semula tidak punya pekerjaan sebagai karyawannya, tahun 2005 Galeri 76 menerima Dji Sam Soe Award, penghargaan yang bisanya diberikan untuk UKM yang dinilai sukses.

Upah Standar UMR

Ada sekitar 20 orang pekerja trampil di Galeri 76. Mereka bekerja dari pukul 08.00 hingga pukul 16.00 waktu setempat. Upah atau gaji mereka, menurut pengakuan Follys, standar UMR, antara Rp 700 ribu hingga Rp 800 ribu. Tetapi, mereka akan menerima tambahan jika rmai pesanan dan harus kerja lembur.

Ketika ditanya apakah tidak tertarik buka usaha sendiri, Follys mengaku belum berpikir ke arah sana. ’’Sementara ini tidak, Mas. Soalnya kami di sini baru sekadar bisa membuat barang-barangnya. Masih belum tahu bagaimana menjualnya. Kalau mengandalkan pasar dalam negeri, rasanya juga kurang menjanjikan,’’ demikian pengakuan Follys.

Mendapat gaji setandar UMR, agaknya juga sudah memuaskan bagi kawan-kawan Follys yang kebanyakan hanya lulusan SMP atau SMA.
’’Soalnya, cari kerja sekarang ini juga susah, lho Mas!’’ timpal Iwan, lulusan SMP yang sejak 2004 bergabung dengan Galeri 76. [PURWO SANTOSA]





Nama: Galeri 76
Lokasi: Malang, Jawa Timur
Pemilik: Joemaro Joko Pratomo
Karyawan: 20 Orang
Kapasitas Produksi: 50 patung itik/4 orang/hari [belum termasuk pengecatan]
Harga patung: Rp 20 ribu – Rp 750 ribu/buah
Pemasaran: Bali, Jakarta, Kalimantan
Ekspor: Perancis, Italia, Jerman, Belanda, Jepang, Kanada, Dubai, Moskow, New Zealand.