This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 04 Desember 2012

H Subandi:Bekerja sebagai Ibadah



Ibadah haji tak hanya membawa berkah bagi pesertanya. Masyarakat yang mendukung perlengkapan ibadah haji juga kebanjiran untung. Salah satunya adalah H Subandi, pengrajin gelang monel. Sudah sejak tahun 2002 pria asal Tulungagung yang akrab dipanggil Bandi ini mengerjakan gelang monel untuk para peserta haji asal Jatim.

Pada musim haji 2007 lalu, sudah sejak 2 bulan sebelum haji tepatnya pertengahan Oktober 2007 Bandi mempekerjakan 15 karyawan lepas yang hanya dipekerjakan selama 2 bulan dalam kurun waktu Oktober hingga awal Desember 2007. Bandi diwajibkan menyelesaikan gelang haji tersebut sebanyak tak kurang 40.000 gelang sesuai dengan banyaknya peserta haji tahun 2007.

Dalam waktu 8 jam dalam setiap harinya, Bandi dan tim-nya mampu membuat 100 – 300 gelang haji. Keistimewaan gelang haji ini adalah bahannya yang terbuat dari monel sehingga tidak membuat iritasi kulit. Setiap gelang haji juga harus diukir nama masing-masing peserta haji, nomor urut haji, asal embarkasi daerah, nomor urutan kloter, nomor paspor, logo Pancasila, dan tulisan arab asal negara para calon jamaah haji (CJH).

Sehingga untuk meminimalisasi kesalahan, Bandi dan ke-15 karyawannya memutuskan bekerja di area Asrama Haji Sukolilo Surabaya.

’’Kami membawa semua peralatan dan bahan kesini. Kami bekerja mulai jam 07.30 sampai jam 15.00 wib. Masing-masing karyawan membuat gelang antara 5 – 10 gelang setiap harinya,’’ ujarnya.



Bahan monel sendiri, didapatkan Bandi dari Jepara kemudian dibawa ke Tulungagung. Di sana bahan monel tersebut sudah dibentuk menjadi gelang. Nah, di asrama ini gelang-gelang tersebut tinggal diukir nama masing-masing peserta haji.

Karena penulisan nama masing-masing peserta haji, nomor urut haji, asal embarkasi daerah, nomor urutan kloter, nomor paspor, logo Pancasila, dan tulisan arab asal negara para CJH tidak boleh salah dan tidak gampang hilang, tiap karyawan harus benar-benar teliti dalam membuat gelang.

Untuk setiap gelang, Bandi mematok harga Rp 25 ribu. Biaya tersebut sudah dibebankan pada biaya haji masing-masing orang sehingga Bandi tinggal dibayar oleh departemen agama usai seluruh peserta haji resmi diberangkatkan.

Bagaimana Bandi bisa sampai menjadi pembuat gelang haji? Tahun-tahun sebelumnya gelang haji terbuat dari plastik yang diberi nama. Karena harus dipakai selama sebulan, gelang-gelang tersebut akhirnya banyak yang rusak. Dengan rusaknya gelang-gelang tersebut justru menyulitkan peserta haji sendiri saat mereka kesasar atau terjadi musibah saat naik haji. Berdasarkan hal tersebut Pemprov Jatim memutuskan membuat gelang haji berbahan monel. Maka, Bandi pun dipilih untuk membuat gelang monel tersebut karena buatannya bagus dan terjangkau.

’’Sebenarnya tak ada aturan khusus pembuatan identitas haji seperti ini tergantung setiap embarkasi. Ada yang pakai gelang monel seperti yang saya buat, ada juga yang pakai kalung atau tas,’’ terang Bandi yang juga pernah merasakan naik haji pada tahun 2005 lalu.

Namun apa yang dilakukan Bandi ini menurutnya lebih didasarkan pada ibadah. Banyaknya gelang yang harus dibuat, kerumitan dan masa pembuatan yang hanya sekitar 2 bulan tidak sebanding dengan harga gelang. Apalagi usai kegiatan haji tersebut, ke-15 karyawan Bandi kembali melakukan pekerjaan tetapnya masing-masing sementara Bandi kembali menjadi penjual aksesoris monel di Tulungagung.

Namun Bandi menyadari membuat gelang ini sama dengan menuntun CJH agar ibadah hajinya lancar. Berdasarkan hal tersebut Bandi melakukannya dengan ikhlas.

Keuletan, ketelitian dan perasaan sabar harus selalu menyertai beberapa pembuat gelang itu, karena ini merupakan pekerjaan yang tidak mudah dan menyangkut keselamatan para CJH. ’’Jadi buatnya memang harus sempurna tanpa salah. Kalau ada salah sedikit saja langsung kita ulang dengan gelang baru. Gelang yang salah tadi langsung kita buang karena kita menggunakan sistim ditatah jadi kalau keliru ya nggak bisa dipakai lagi,’’ terangnya.


Yang menjadi kendala Bandi adalah penulisan pada gelang yang masih manual menggunakan alat tatah listrik. Ia berharap ada alat yang lebih canggih lagi yang bisa mengukir tulisan di gelang dengan lebih cepat sehingga pekerjaan tersebut cepat selesai. Meski begitu Bandi cukup bersyukur mendapatkan pekerjaan ini dan dengan senang hati akan bekerja bila tahun depan dipilih lagi. [DEWI]

Jenis usaha: Pembuat gelang haji
Modal awal: Rp 200 juta
Kiat sukses: bekerja sebagai ibadah

KIAT SUKSES BUKA RESTO

Konsisten dan Pilih yang Tepat


Untuk bertahan di bisnis resto, ada beberapa hal yang harus diperhatikan para calon pengusaha. Beberapa tips sukses mengembangkan resto coba dibagikan Hadi SW, Direktur Thai Ekspress, beberapa waktu lalu. Tips pertama yang harus diperhatikan untuk terjun di bisnis resto adalah memilih menu dari negara yang tepat dan memiliki prospek kedepan.
Misalnya saja, di Asia ini ada banyak negara yang bisa dipilih. Ada Jepang, China, Thailand, Singapura, Korea dan masih banyak lagi. Di Surabaya ini jumlah Chinese resto dan Japanese resto sudah cukup banyak, sehingga bagi pemain baru harus mencari negara lain yang patut untuk diangkat sebagai andalan.

’’Untuk bisnis Asia resto, dalam kurun waktu hingga 2 tahun mendatang, menu-menu Thailand akan sejajar dengan menu-menu negara asia lain seperti Chinese dan Japanese yang saat ini telah mendapatkan tempat di masyarakat,’’ tutur Hadi SW. bias juga makanan tradisional Indonesia yang kini mulai diminati, seperti masakan Jawa Timur, Sunda, Cianjur, Padang, Lombok dan masih banyak lagi.

Setelah memilih negara yang akan dikembangkan, pengusaha harus merancang konsep yang matang. Baik konsep penyajian, desain ruangan hingga konsep menggaet market. Namun Hadi mencontohkan, jika seorang pengusaha sudah memilih Thailand menu sebagai ciri khas, menu-menu dari negara Asia lainnya seperti Chinese menu harus ditiadakan.

Terkadang, ada beberapa pengusaha yang mencoba memadukan Chinese menu atau Indonesian food dengan alasan sebagai menu pilihan untuk masyarakat. Padahal dengan kehadiran menu ini, tak jarang resto yang sebelumnya menampilkan menu khas dari Thailand bisa berubah menjadi Chinese resto atau Indonesian resto, jika peminat lebih banyak memesan menu-menu yang semula dijadikan pilihan.

’’Konsep seperti sedikit membingungkan konsumen. Mereka yang masuk biasanya bingung membedakan anatara menu Thailand, Vietnam dan Korea dengan menu Chinese food yang disajikan. Seharusnya kalau memang ingin menekuni resto seperti ini harus konsisten dan meninggalkan sama sekali menu China,’’ tipsnya.

Jika modal Anda tipis dan hanya ingin memulai langkah kecil dulu, langkah awal Anda bisa menitipkan produk ke toko kue atau kafe. Bisa juga, Anda menerima pesanan dan menjualnya di kalangan terdekat, seperti teman, saudara, atau orang tua murid di sekolah anak-anak Anda.

Bagaimana dengan membuat waralaba? ’’Tergantung Anda, apakah ingin bewiraswasta atau berwirausaha? Bila Anda memiliki konsep kuat, modal cukup, dan SDM memadai, tidak ada salahnya menjadi seorang wiraswasta, memulai semuanya dari nol. Tapi, jika Anda ingin yang praktis, sementara modal dan lokasi sudah ada, maka bisa memilih berwirausaha melalui waralaba,’’ papar Hadi.

Namun, Hadi mengingatkan, waralaba bukan jaminan pasti sukses. ’’Di bidang makanan, Anda tidak bisa hanya membeli waralaba lalu pasif dan tidak terjun langsung ke lapangan. Karena, ini masalah selera dan pelayanan terhadap konsumen. Anda harus tahu betul pasar Anda,’’ tutur Hadi. [dewi]

Kasiadi, Jualan Caping

Laris Manis Saat 17-an dan Musim Panas


Di tengah maraknya produk-produk modern yang hadir di negeri Indonesia, pria bernama singkat Kasiadi (58) ini justru percaya diri dan mantap menjual barang yang sangat sederhana, caping.
Pria asal Lamongan ini sejak tahun 1985 telah berjualan caping di sepanjang jalan Embong Cerme Surabaya. ’’Saya jualan disini (Embong Cerme, red) sejak tahun 85’ dan mungkin sekarang saya satu-satunya penjual caping di Surabaya,’’ kelakar pria murah senyum ini.

Karena jarangnya penjual caping di Surabaya, hingga sekarang Kasiadi justru eksis menggeluti usaha ini. Buktinya, setiap hari Kasiadi mampu mengantongi pendapatan minimal Rp 20 ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Padahal prinsip hidup Kasiadi sangat sederhana, ’’Yang penting keluarga saya tidak kelaparan dan bisa makan nasi meskipun Cuma makan nasi dan garam,’’ ungkapnya.

Sebenarnya usaha yang ditekuni Kasiadi berawal dari coba-coba. Kala itu Kasiadi bekerja di sebuah pabrik hingga pada tahun 85’ ia kena PHK. Saat ia menganggur di rumah ia melihat beberapa tetangganya mahir membuat anyaman bambu, diantaranya caping, bakul nasi dan tampah.

Kasiadi pun tertarik untuk menjualkannya dan ia memilih wilayah Surabaya sebagai tempat jualan. ’’Kalau saya pilih daerah Lamongan atau sekitarnya pasti jualan saya nggak laku. Makanya saya pilih daerah Surabaya sebagai tempat jualan karena saya yakin di Surabaya orang jualan barang anyaman seperti ini masih jarang,’’ ungkapnya.

Pertengahan tahun 1985 Kasiadi membulatkan tekad berjualan di Surabaya dan memilih jalan Embong Cerme sebagai tempat jualan. ’’Saya memilih tempat jualan di daerah ini karena tak mau ambil risiko diusir Satpol PP. dan mulai tahun 85’ sampai sekarang saya belum pernah diusir Satpol PP,’’ kenangnya. Namun, pada awal 90-an Kasiadi memutuskan hanya menjual caping. Alasannya, produk yang lain sudah banyak yang berjualan, sementara caping hanya dijumpai di tempat Kasiadi.

Selain itu Kasiadi memilih tempat ini karena berdekatan dengan Pasar Keputran. Para pelanggannya memang banyak dari penjual dan pembeli Pasar keputran. ’’Biasanya yang beli caping saya para bakul di Pasar Keputran atau pembeli yang rata-rata pedagang sayuran keliling yang kulakan di Pasar Keputran,’’ terangnya.

Selain itu, saat tujuh belasan caping Kasiadi laris manis. Yang banyak dibeli adalah caping ukuran kecil seharga Rp 15 ribu. ’’Kalau tujuh belasan caping kecil laris buat karnaval anak-anak sekolah. Sementara caping besar yang harga Rp 20-25 ribu banyak dibeli bakul saat musim panas seperti bulan April – September,’’ terangnya.

Meski peluang bisnis yang lain masih banyak, Kasiadi mengaku tak tertarik berbisnis lain. Menurutnya, kalau berbisnis lain ia tak punya kemampuan. Selain itu baginya berjualan caping sudah mencukupi kehidupannya hingga bisa menyekolahkan anaknya sampai SMU. ’’Lagian kalau saya jualan yang lain, kasihan para tetangga saya yang bikin caping nanti mereka nggak punya pendapatan lagi,’’ pungkas Kasiadi yang mendapatkan untung Rp 5 ribu untuk setiap caping ini. [DEWI]


Jenis usaha: Pedagang caping
Modal awal: Rp 10 ribu
Omzet per bulan: Rp 300 – 500 ribu
Kiat sukses: Tekuni sesuatu dengan sungguh-sungguh, maka hasilnya akan kelihatan

Usaha Meracang di Tengah Himpitan Minimarket [3]

Nur Azizah, Pelaku Bisnis Meracang
Untung Sedikit yang Penting Pelanggan Tak Lari

Usaha meracang telah dilakoni perempuan lulusan Universitas Airlangga jurusan Ekonomi Akuntansi ini. Sejak menikah Nur Azizah memang memfokuskan diri menjadi ibu rumah tangga. Setelah putra-putrinya beranjak besar, ia kemudian memutuskan membuka meracang di depan rumahnya untuk mengisi kesibukan. Zizah –begitu ia akrab dipanggil, menjual aneka kebutuhan pokok rumah tangga. Ada gula, beras, minyak goreng, telur, mie instant, kosmetika, kebutuhan wanita, kebutuhan bayi, rokok, hingga makanan dan minuman ringan.

Memulai usaha pada 2003, Zizah mengeluarkan modal awal sekitar Rp 7 juta. Dana tersebut untuk pembelian rak dan perangkatnya sebesar Rp 2 juta dan pembelian isi dagangan sebesar Rp 5 juta.

Zizah cukup bersyukur tempat tinggalnya cukup jauh dengan pasar tradisional ataupun pusat belanja sehingga penduduk sekitar memang sangat membutuhkan toko meracang sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, lanjut Zizah, di lingkungan tempat tinggalnya banyak bertebaran tempat-tempat meracang sehingga kadang-kadang persaingan harga jadi tak sehat.

’’Selisih Rp 50 saja, pelanggan langsung lari ke tempat lain. Makanya, prinsip saya untung sedikit nggak apa-apa yang penting pelanggan tak lari,’’ ungkapnya.

Untuk memantapkan usahanya, Zizah sering bertanya kepada para pelanggannya apa saja yang mereka butuhkan, sehingga Zizah bisa langsung melengkapi dagangannya.

Misalnya saja, saat lingkungannya banyak anak sekolah, Zizah melengkapi kebutuhan untuk anak-anak sekolah seperti buku dan peralatan tulis dan makanan yang disukai anak-anak seperti es krim dan aneka snack.

Untuk kulakan, Zizah juga tak bosan-bosan mencari informasi tempat kulakan yang paling murah untuk mengejar harga dagangan yang kompetitif. Meski untuk itu Zizah harus menempuh jarak yang cukup jauh.

Uniknya, pembeli yang berhutang pun sering ditemuinya. Zizah masih menoleransi beberapa pelanggan yang berhutang. Nyatanya, menurut Zizah mereka akan membayarnya tepat waktu. [KD]


Jenis usaha: Meracang
Modal awal: Rp 7 juta
Omzet per bulan: Rp 3 - 4 juta
Kiat sukses: Untung sedikit yang penting pelanggan tak lari
Metode pemasaran: Selalu melengkapi kebutuhan pelanggan

Usaha Meracang di Tengah Himpitan Minimarket [2]

Kafi Maulana, Pemilik Warung Meracang
Berharap Pemerintah Tertibkan Minimarket

Begitu lulus SMU, pria ini langsung memutuskan membantu orangtuanya melanjutkan bisnis meracang. Telah berpuluh-puluh tahun orangtua Kafi Maulana membangun bisnisnya ini.
’’Saya nggak ingat kapan orangtua buka usaha ini. Tapi, sejak saya lahir orangtua sudah punya usaha ini,’’ jelas pria single yang lahir 1975 ini.

Sebenarnya Kafi sempat ingin bekerja di pabrik atau kerja kantoran, namun melihat orangtuanya sudah cukup tua, Kafi bersama kakak perempuannya memilih meneruskan bisnis keluarganya.

Toko Kafi yang terletak di pinggir jalan Gedangan Sidoarjo, Jawa Timur, cukup besar dan berisi beragam kebutuhan. Mulai kebutuhan pokok seperti gula, beras, minyak goreng, telur dan sebagainya, hingga kebutuhan pendukung lainnya seperti kebutuhan sekolah, kebutuhan memasak, kebutuhan perempuan dan sebagainya. Kafi juga menambahkan penjualan pulsa dan wartel di tokonya ini. Hal ini untuk mengantisipasi sepinya pembeli, setelah banyak orang memilih minimarket yang kini sudah merambah gang-gang kecil di pinggiran kota.

’’Di wilayah saya sudah ada tiga minimarket yang berdiri. Ini sama saja ’membunuh’ usaha kecil seperti saya ini. Padahal, harga mereka jauh lebih mahal. Selisih harganya saja bisa sampai Rp 500,’’ ungkapnya.

Padahal, bila pelanggan belanja di tempatnya dan terlalu mahal mereka langsung protes. Anehnya, lanjut Kafi, mereka menikmati belanja di minimarket meski harganya jauh lebih mahal.

Padahal, bedanya hanya soal tempat saja, minimarket memang menyediakan tempat yang nyaman dan dilengkapi AC.

Kafi berharap, pemerintah memiliki kebijakan untuk menertibkan minimarket-minimarket yang didirikan seenaknya.

Kalau hal ini dibiarkan, ia yakin bisnis meracang seperti yang berpuluh tahun menjadi sumber kehidupannya akan mati pelahan-lahan. Untuk itu segala trik bisnis diterapkannya agar usahanya laris. Termasuk diperbolehkannya pembeli berhutang dalam jumlah tertentu, atau bayar mundur sebulan sekali saat gajian.

’’Ada yang sudah langganan bertahun-tahun, bayarnya kalau suaminya gajian setiap awal bulan. Ya nggak apa-apalah, ketimbang nggak laku. Yang penting modal kembali,’’ terangnya.[KD]


Jenis usaha: Meracang dilengkapi wartel dan penjualan pulsa
Modal awal: Sekitar Rp 200 ribu
Omzet per bulan: Rp 5 - 6 juta
Kiat sukses: Beri kelonggaran cara pembayaran pada pelanggan