This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 04 Desember 2012

Usaha Meracang di Tengah Himpitan Minimarket [1]

Usaha meracang (toko kelontong) sering menjadi alterntif utama usaha sampingan rumah tangga. Selain tak butuh modal besar, usaha meracang bisa dilakukan di rumah, garasi, atau membuat toko kecil di areal rumah. Mau tak mau, meracang memang dibutuhkan oleh masyarakat. Apalagi bila letak rumah cukup jauh dari pasar atau pertokoan. Meski untung sedikit, usaha meracang menjadi usaha sampingan yang hingga kini dipilih banyak orang.

Meracang biasa ditemui dalam dua jenis, yakni meracang yang menjual kebutuhan pokok basah seperti sayur-mayur dan lauk-pauk, atau meracang yang menjual kebutuhan pokok kering seperti beras, gula, garam, teh, dan sebagainya.

Karena merupakan usaha rumahan, meracang sering dianggap remeh sebagai usaha ’iseng’. Padahal bila ditekuni, meracang bisa jadi sumber pendapatan pokok sehari-hari, dan tak sedikit orang yang menjadi kaya lantaran meracang.

Kesulitan utama bisnis ini –seperti dijelaskan oleh Nur Azizah, seorang pelaku bisnis meracang-- adalah banyaknya pelaku usaha sehingga menimbulkan persaingan bisnis tak sehat.

’’Di desa saya setiap sepuluh rumah hampir bisa dipastikan ada yang berjualan meracang,’’ tegasnya.

Karena banyaknya penjual maka bersaing harga sudah sangat biasa. Meski hanya terpaut Rp 50 saja pembeli bisa lari dan mencari meracang yang paling murah.

’’Kalau berbisnis meracang memang harus mengikuti harga pokok pasar sehingga bisa mematok harga yang paling murah. Meski untung sedikit yang penting pelanggan tak lari,’’ terang perempuan lulusan Universitas Airlangga yang memilih menjadi ibu rumah tangga sekaligus membuka meracang di rumahnya.

Hal yang sama juga dibenarkan oleh Kafi Maulana. Pria jebolan SMU yang membuka meracangnya di Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, setiap saat mengikuti perkembangan harga.

’’Saya sering kelayapan ke pusat-pusat belanja, mini market sampai ke pasar-pasar tradisional untuk membandingkan harga. Jangan sampai harga yang saya patok lebih mahal dari tempat lain,’’ ungkapnya.

Meski begitu Kafi kecewa juga dengan maraknya minimarket yang merambah tempat-tempat terpencil. Hal ini sangat merugikan bisnis meracang seperti yang ditekuninya dan menimbulkan persaingan tak sehat. Apalagi, lanjut Kafi, minimarket tersebut punya keungulan kelengkapan produk dan tempat yang nyaman.

Meski begitu Kafi bisa menjamin barang dagangannya jauh lebih murah ketimbang yang dijual di minimarket.

’’Selisih harganya besar, bisa sampai Rp 500 per mata dagangan. Jadi, jangan tergoda minimarket karena sebenarnya mereka jelas-jelas mahal,’’ terangnya.

Untuk melariskan usahanya, Kafi mendampingi usaha meracangnya dengan usaha wartel dan penjualan pulsa. [KD]

Senin, 03 Desember 2012

Ngethek 25 Tahun Murtiani Terima Bantuan Gubernur Jatim


Murtiani (53), sudah 25 tahun menekuni pekerjaan sebagai ethek. Ia memulai pekerjaan berjualan sayur-mayur dan kebutuhan dapur secara berkeliling sejak 1987. Mula-mula dia menjanjajakan daganganya dengan cara menggendong dan menyusuri jalan-jalan di kampungnya. Dia mendapatkan dagangan yang hanya sebatas sayur-mayur, di pasar kecil di desanya sendiri, tepatnya di Dusun Sumbersari, Desa Sumberasri, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Dagangan yang hanya satu tenggok itu, kemudian dijajakan keliling dari rumah ke rumah. Dengan bermodalkan uang Rp10.000, ia akan mendapatkan keuntungan duapuluh persen atau sekitar Rp2.500.

Dua tahun kemudian, dari hasil menabungnya dia beli sepeda pancal bekas, dan memulai berdagang naik sepeda dengan ranjang bambunya. Kalau sebelumnya dia belanja hanya di pasar desa dengan barang dagangan yang amat terbatas, dengan sepeda bekas itu, dia berani belanja ke Pasar Penataran yang jaraknya lima kilometer dari desanya.


Subuh dia berangkat, bermodalkan uang Rp50.000 sudah bisa membuat ranjang bambunya yang bertengger kuat di sepedanya, penuh dengan barang dagangan. Dari sayur mayur, buah-buahan juga jajanan matang. Dan pelangganya pun bukan sekedar orang di kampungnya sendiri. Sejak mengayuh sepeda meninggalkan Pasar Penataran, otomatis dia sudah mulai menjajakan dagangannya. Untuk menuju desanya dia harus melintasi dua desa, jadi sepanjang perjalanannya, dia sudah mendapatkan pembeli yang nantinya bisa jadi akan jadi pelanggan tetapnya.

Ibu enam anak ini tak kenal lelah menjalankaan pekerjaannya. Para pelanggan tetapnya sangat tertolong dengan jasanya. Karena itu, dia merasa rugi jika harus berhenti dari pekerjaanya. Dia hanya mengambil libur jika melahirkan saja. Itu pun hanya satu bulan saja. Bahkan, saat hamil tua dia masih semangat dan dengan lincah mengayuh sepeda usangnya. Tak jarang dia membawa serta anaknya yang masih kecil, dimasukkan ke dalam keranjangnya.

Mengapa dia memilih menjadi peng-ethek daripada menekuni pekerjaan lain yang biasa dikerjakan para penduduk desanya yang kebanyakan bekerja sebagai buruh di perkebunan cengkih? ”Jualan begini hasilnya bisa langsung dirasakan. Jika bekerja di perkebunan kan harus nunggu saat gajian baru mendapatkan uang. Selain itu, bakul ethek itu keuntunganya pasti, tak pernah rugi.’’


Menurutnya, pada barang dagangan tertentu, dia bisa meraup keuntungan limapuluh persen, dari harga awalnya. Dan setiap hari bisa dipastikan barang dagangannya laku semuanya. Kalaupun tersisa hanya bumbu-bumbu dapur saja, yang masih bisa dijual pada hari-hari berikutnya.

”Tidak tertarik untuk cari kerja di luar negri?”

”Ah, tidak, sejak dulu aku tidak pernah tergiur jadi TKW, karena aku tidak akan tega meninggalkan anak-anakku,’’ jawabnya diiringi tawa lepas.

Sebagai istri kedua, ia mengaku nafkah yang didapat dari suaminya tidaklah banyak. Suaminya yang seorang petani, harus membagi hasil kerjanya dengan istri pertama dan anak-anaknya. Dari hasil kerjanya jadi peng-ethek inilah Murtiani mampu meringankan beban suaminya, mencukupi kebutuhan anak-anaknya yang berjumlah enam orang.

”Memang, uang yang aku dapatkan tidaklah bisa kugunakan untuk membangun rumah yang besar dan bagus, ataupun menyekolahkan anakkku ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi seperti hasil yang di dapat TKW, namun aku cukup bersyukur karena nyatanya kami masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga masih bisa berpakaian yang layak, dan makan yang cukup, tanpa harus meninggalkan keluarga,’’ begitu ia mengungkapkan.

Tahun 2002 anak sulungnya pergi merantau ke Malaysia, dan kini bisa dikatakan sukses, karena selain berhasil membeli beberapa bidang tanah, juga membelikan sepeda motor untuk ibunya ini. Dengan sepeda motor barunya itulah Murtiani saat ini berjualan. Modalnya pun bertambah jadi Rp500.000 per hari, dan daganganya semakin bervariasi.

Dengan ponsel bututnya dia juga menerima pesanan membelikan barang tertentu yang tidak selalu dibawanya setiap hari. Banyak pelangganya yang hendak selamatan atau ada acara kecil- kecilan cukup minta tolong Murtiani membelikan semua perlengkapanya. Dan tentunya akan meraup keuntungan yang lebih banyak dibanding hari biasanya. Bahkan, dia punya pelanggan tetap yang sejak dia berjualan dengan cara menggendong sampai kini tak pernah berpaling ke lain ethek.

Bulik Murtiani memang punya kelebihan lain dibanding ethek lainnya. Selain sikapnya yang ramah dengan suara khasnya yang nyaring, dia tak segan mengutangi kepada orang yang kebetulan tidak punya uang. Selain para ibu rumah tangga, pelanggan tetapnya adalah sebuah warung makan, yang membeli hampir separo barang dagangannya tiap harinya.

Karena ketekunannya, Murtiani menyandang gelar penjual ethek terlama di desanya, dan pada November 2012, dia mendapatkan hadiah dari Gubernur Jawa Timur, berupa satu unit sepeda pancal, satu unit timbangan duduk, satu pick-up barang dagangan yang terdiri dari sayur-mayur, aneka bumbu dapur, dan buah- buahan. Dapat juga uang tambahan modal Rp 200.000. Dan hadiah ini tentunya sangat berarti bagi orang kecil seperti Murtiani. Mengingat satu desa hanya dua orang saja yang mendapatkan hadiah itu, yaitu dia dan salah seorang temannya yang juga sesama peng-ethek. (eka minasih)

Menjajakan Kereta Mainan Mendulang Uang dari Anak-anak

Penjaja mainan anak ternyata bisa meraup untung sampai ratusan ribu rupiah dalam beberapa jam kerja saja. Dalam 10 bulan modal usaha yang dikeluarkan sudah bisa kembali. Waktu luang yang ada bisa dimanfaatkan untuk usaha yang lainnya lagi. Dijumpai Peduli beberapa waktu lalu di sebuah pasar kaget, pria asal Jombang ini tengah sibuk mengoperasikan alat pengendali kereta mainan usai menaikan seorang bocah ke dalam gerbong kereta. Saat Peduli menanyakan berapa harga kereta mainan itu dan bisa dibeli dimana, pria berumur 39 tahun ini langsung menawarkan kereta yang dibawanya itu kepada Peduli.

”Kalau Mbak mau, beli saja kereta milik saya ini. Saya jual 14,5 juta. Komplit Mbak. Sudah dapat rel-nya, ditambah gensetnya sekalian rombongnya juga. Itu murah Mbak. Kalau Mbak mau beli yang baru harus pesan dulu sekitar 3 bulan. Itu belum rel-nya. Gensetnya juga harus beli sekitar Rp 1,5 juta. Bikin rombongnya juga sekitar 2 jutaan. Lebih baik beli punya saya ini saja,” ujar pria berperawakan sedang ini berpromosi kepada Peduli.

Agar Peduli tertarik membeli, pria yang sebelumnya pernah mencoba menjual bubur ayam ini gencar berpromosi lagi.

”Usaha seperti ini enak dan mudah. Sekali naik anak-anak diminta membayar 3 ribu. Kereta berkeliling paling lama 5 menit. 1 gerbong kereta mainan bisa dinaiki 2 anak. Kalau ada 4 gerbong sekali berputar bisa menampung 8 anak. Dalam 5 menit saja kita sudah bisa dapat uang 24 ribu. Saya ini paling apes dapat uang 50 ribu dalam sehari. Ini saja baru sekitar jam 5 sore tadi saya buka, sekarang saya sudah dapat uang Rp 117.000. Padahal ini baru jam 7 malam. Kalau saya buka sampai jam 10 malam nanti, saya bisa dapat uang lebih banyak lagi,” ujarnya seraya menunjukan uang yang sudah ia dapatkan untuk meyakinkan agar Peduli mau membeli kereta mainannya itu.

Saat Peduli memancing dengan pertanyaan berapa lama modal yang sudah dikeluarkan tadi bisa kembali, pria yang kos di daerah Brebek-Waru, Sidoarjo ini langsung mengatakan akan kembali sekitar 10 bulan.

”Kalau Mbak setiap hari keluar itu bisa kembali dalam 10 bulan. Anggap saja sedang apes dan lagi sepi orang terus cuma dapat uang 50 ribu dalam sehari ya, kalau dikalikan 30 hari itu sudah ketemu 1,5 juta. Kalau 1,5 juta dikali sepuluh bulan sudah ketemu 15 juta. Modal sudah kembali bukan? Tapi itu kalau lagi apes. Kalau lagi rame bisa lebih cepat lagi balik modalnya. Saya saja seminggu lalu buka dari jam 5 sore terus saya tutup jam 11 malam dapat uangnya 450 ribu mbak,”lanjut Budi.

Ia pun lantas memberikan tips bagaimana supaya bisa dapat uang banyak seperti dirinya kala itu.

”Sering-sering denger kabar dari orang mbak. Kalau ada acara orang hajatan nikahan yang ada hiburan dangdutan atau semacamnya ikutan aja. Buka di tempat itu. Bisa juga ikutan teman-teman perkumpulan pasar kaget seperti saya ini. Anggota pasar kaget saya ini ada 25 orang, kami biasanya pindah-pindah jualannya. Seperti hari ini di daerah sini. Besok kami geser dikit ke arah utara, terus lusa ke daerah mana lagi. Pokoknya kami berkoordinasi satu sama lain. Jadi bisa pindah-pindah lokasi. Kelompok saya ini jualannya dari bundaaran Waru ini sampai RSUD Sidoarjo sana,”katanya.

Kesukaan Anak-anak

Ia menambahkan tidak perlu khawatir jika tidak ingin bergabung dengan komunitas pasar kaget yang harus berpindah tempat dan terkadang sampai jauh, sebab usaha ini bisa dibuka di tempat yang mana bisa dibuka sendirian saja.

”Nggak usah takut nggak laku. Pasti lakunya. Pokoknya di mana banyak anak-anak pasti ada yang naik mainan ini. Sekarang ini banyak orang tua yang rela nggak beli pakaian untuk dirinya sendiri asalkan anaknya bisa seneng-seneng. Nah, mainan kereta ini kesukaan anak-anak. Cari lokasi yang ramai anak-anak. Bisa diperkampungan. Bisa juga di perumahan. Kalau perlu minta izin sama orang RW-nya. Nanti ngasih sedikit sumbangan untuk uang kas RW. Kalau saya sama teman-teman pasar kaget ini biasanya urunan 2 ribuan, terus uangnya kita kumpulkan untuk dikasih ke kas RW. Kadang nggak minta izin juga nggak apa-apa kok. Jangan takut kalau soal lokasi. Saya punya lokas-lokasi yang strategis. Kalau mbak jadi beli saya kasih tahu sama mbak semuanya. Biar mbak bisa menjajakannya di sana,” terang Budi panjang lebar.

Tak hanya itu, Budi pun semakin gigih memberi tahu enaknya memiliki usaha semacam ini kepada Peduli lagi.

”Kalau mbak belum pernah berdagang, saran saya sih jangan berdagang pakaian atau sejenisnya gitu. Soalnya takutnya mbak nggak kuat mental. Kebanyakan orang kalau mau beli barang kan suka tawar menawar. Nah, kalau pedagang pemula itu suka malu gitu menawarkan barang dagangannya sendiri. Belum lagi merasa sakit hati kalau barang dagangannya di tawar orang. Kalau nggak kuat mental bisa-bisa gulung tikar dalam waktu singkat karena perputaran barangnya lumayan lama. Makanya enakan menjajakan mainan untuk anak seperti ini. Kita tidak perlu tawar menawar lagi. Tinggal dikasih tahu aja sekali naik bayar 3 ribu rupiah, nanti mereka langsung memutuskan mau naik kereta apa nggak. Tapi kebanyakan mau naik. Karena orang tua suka nggak tega kalau anaknya sudah minta naik begitu,” imbuhnya.

Biaya Operasionalnya Kecil

Keunggulan lainnya menurut Budi adalah investasi barang tetap dan pengeluaran untuk operasional lumayan kecil. Sehingga pendapatan yang diperoleh banyak.

”Kalau orang jualan pakaian itu, uang yang didapatkan itu harus segera diputer, dibelikan barang agar bisa berjualan kembali. Kalau nggak begitu ya nggak bisa dagang lagi. Padahal untuk berjualan kan banyak yang dibutuhkan selain kulakan barang, kita perlu transport untuk beli barang dan berjualan keliling. Dengan begitu keuntungan yang didapat jadi sedikit setelah dikurangi yang tadi itu. Beda dengan usaha kayak gini ini. Saya paling hanya mengeluarkan sekitar 3 liter bensin untuk operasional mainan ini. Itu pun cuma dari jam 5 sore hingga 10 malam saja. Punya usaha kayak gini ini bisa dijadikan investasi mbak,”lanjutnya.

Keuntungan lainnya menurut Budi ia bisa punya banyak waktu luang yang ia pakai untuk usaha lainnya.

”Saya kalau pagi hari bisa tiduran lebih lama. Kadang saya juga pakai waktu di pagi hari itu untuk dagang bersama teman-teman saya yang lainnya. Jadi bisa punya banyak usaha selain menjajakan mainan anak-anak ini,”ucapnya lagi.

Selain dari berkeliling menjajakan main kereta dari satu tempat ke tempat lain untuk mendapatkan uang, menurut Budi, ia juga bisa menempuh dengan cara lain lainnya, yakni menyewakan alat ini pada acara ulang tahun anak.

”Saya juga menyewakan mainan ini di acara ulang tahun anak-anak kok. Bisa tawar menawar sama yang punya acara dulu. Mau berapa jam menyewa mainan saya ini. Tempo hari saya sewakan 200 ribu untuk acara sekitar 3 jam. Setelah dari acara itu saya pindah ke tempat lain untuk buka lagi,”tambahnya.

Jika seseorang merasa malu ataupun tak mau repot mengoperasikan sendiri usahanya ini, orang itu bisa mencari orang lain yang bisa dipercayainya untuk menjalankan usahanya ini.

”Cari saja saudara atau siapa yang bisa dipercaya gitu. Saya ini kan juga begitu. Sebenarnya yang punya kereta mainan ini teman saya. Dia minta tolong saya menjalankannya. Kami bagi hasil 50%-50% tiap hari. Saya langsung ngasih uang yang saya peroleh hari ini ke teman saya itu. Hasil uang hari ini dibagi dua. Dan teman saya itu sudah pesan ke saya, kalau ada yang mau membeli kereta mainan ini silakan saja. Ya dengan harga yang saya katakan tadi. Jadi hubungi saja saya kalau mbak mau beli kereta mainan ini,”tuturnya seraya memberikan nomor hpnya ke Peduli. [niken anggraini]

Berusaha Mandiri setelah Tempat Kerja Bangkrut

Tak hanya bisnis dibidang kuliner saja yang tak pernah sepi dari pelanggan. Pekerjaan sebagai penjahit pun agaknya sama seperti bisnis kuliner. Selalu dibutuhkan orang dan bisa menambah pundi-pundi tabungan.

Perempuan kelahiran 13 Maret 1978 ini sedang sibuk menjahit saat dikunjungi Peduli di tokonya yang berada di jalan Kenongosari no 21 itu. Di toko yang dibangun di halaman depan rumahnya itulah ia membuka usaha terima jahitan disamping wartel, isi ulang pulsa, terima laundry, perlengkapan tulis menulis dan segala macamnya.


Anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Muslikan dan Asmi ini berkisah awal ia memutuskan untuk membuka usaha menerima jahitan seperti sekarang ini dilakukannya setelah butik tempat kerja sebelumnya bangkrut dan ditutup tahun 2008 lalu. Sejak kuliah di jurusan tata busana di Universitas Adi Buana Surabaya pada tahun 1999, Ana memang sudah bekerja di butik yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Pagi hingga sore ia bekerja di butik dan sekitar jam 5 sore ia berangkat kuliah hingga malam hari. Pekerjaannya di butik itu justru sebagai karyawan penjaga butik atau SPG, bukan sebagai desainer.

”Butiknya cuma jual pakaian jadi yang sudah dikirim dari Jakarta dan Bandung. Jadi tidak butuh desainer ataupun penjahit lagi,” ungkap Ana.

Untuk menambah biaya kuliahnya, ia pun tak segan-segan berdagang juga. Rumahnya yang kebetulan berada di pinggir jalan oleh orang tuanya dihalaman depannya dibangun sebuah bangunan toko di tahun 2000 sebagai tempat usaha.

”Waktu itu saya meminjam uang di koperasi simpan-pinjam yang ada di kantor desa sebesar 5 juta untuk usaha. Uang itu saya belanjakan untuk membeli perlengkapan bayi seperti selendang gendongan, popok, baju, selimut bayi, celana bayi begitu. Kebetulan di seberang toko kan ada klinik bersalin, jadi kalau jualan perlengkapan bayi lumayanlah. Banyak yang beli. Selain itu juga jual aneka kebutuhan anak sekolah seperti kaos kaki, pulpen, kertas folio, amplop, penghapus dan macem-macemnya. Bukanya pagi sebelum saya berangkat kerja di butik. Kalau saya ke butik tokonya saya tutup. Kalau saya lagi tidak ada kuliah seperti Sabtu dan Minggu tokonya saya buka setelah magrib sampai jam sepuluh malam,”papar Ana.

Rupanya Ana juga punya ketrampilan menjahit sejak SMA. Ibunya, nyonya Asmi dulunya juga seorang penjahit, maka Ana pun diminta untuk ikut kursus menjahit ketika ia masih sekolah Aliyah (setingkat SMA untuk sekolah Islam) dulu.

”Tapi juga nggak begitu niat. Gurunya keliatannya nggak begitu bersemangat kalau mengajar. Jadi saya juga setengah hati kalau belajar. Saya malah banyak belajar dari tetangga saya yang seorang penjahit. Ibu saya memang penjahit, tapi yang di jahit baju kebaya zaman dulu yang modelnya pakai kutubaru itu. Jadi bukan penjahit moderen. Makanya saya belajarnya justru dari tetangga saya,” ungkap Ana.

Tanpa Pesangon

Lulus Aliyah ia sempat menjadi guru privat mengaji selama setahun. Ketika ibunya memintanya untuk melanjutkan kuliah di bidang agama, Ana menolaknya. Alasannya ia memang tidak begitu tertarik untuk mencari ilmu di bidang agama untuk saat itu. Ia akhirnya mengatakan kalau akan memperdalam dunia tata busana dan ingin menjadi guru di bidang tata busana. Maka ia pun memutuskan untuk kuliah di kampus Adi Buana jurusan tata busana. Sembari bekerja dan kuliah, ia pun mulai menerima jahitan di tokonya tersebut.

Sayangnya, setelah lulus kuliah dan hendak mengikuti ujian masuk pegawai negeri di daerah Situbondo, sang pemilik butik memintanya untuk terus membantunya. Karena tidak tega akhirnya Ana pun membatalkan rencana ikut ujian masuk pegawai negeri tersebut.

”Yang punya butik istri polisi. Jadi jarang ada di butik. Saya diminta mengurusnya,” imbuh Ana.

Seiring berjalannya waktu butik tempat Ana tak sanggup bersaing dan akhirnya terpaksa harus tutup. Ana yang waktu itu dipercaya sebagai pekerja sempat dipercaya oleh sang pemilik untuk mengurus penjualan aset-aset butik untuk dijual supaya bisa kembali dalam bentuk uang.

”Baju-baju yang tersisa di butik saya jual sampai laku seharga 14 juta. Sayangnya setelah uang saya berikan dan butik tutup saya tidak diberi pesangon sedikit pun. Entah kenapa sampai begitu,” kata Ana menjelaskan.

Lantaran tak ada komunikasi lagi dengan sang pemilik butik maka Ana pun akhirnya memutuskan untuk mandiri dan konsen mengurus tokonya tadi .

”Saya pinjam uang lagi ke koperasi simpan pinjam desa untuk usaha. Uangnya saya puter sebagi modal untuk beli segala macem isi toko. Kebetulan juga ada tetangga yang mau menjual 2 KBU wartelnya. Saya beli dan saya pasang di sini juga,”sambungnya.

Tanpa Papan Nama

Meski di tokonya tidak tertulis papan namanya sebagai penjahit namun Ana mengaku tak pernah sepi jahitan. Jika para penjahit umumnya mengaku panen jahitan saat menjelang lebaran ataupun saat musim pernikahan, Ana justru mengaku setiap hari menerima jahitan.

”Para pelanggan butik tempat saya bekerja dulu, begitu tahu kalau saya bisa menjahit akhirnya malah lari ke sini untuk menjahitkan baju. Alhamdulillah setiap hari ada sekitar 3 buah jahitan yang datang. Padahal saya satu hari cuma bisa menyelesaikan 1 buah baju saja, yang saya kerjakan kan tidak hanya menjahit kadang juga terima pesanan merangkai hantaran peningset juga. Jadi untuk menyelesaikan dengan cepat jahitan yang datang agak susah juga. Misalnya lagi konsen memotong atau menjahit tiba-tiba ada yang datang beli pulsa, beli alat tulis, beli jajan ataupun pakai wartel begitu, makanya menyelesaikan jahitannya agak susah juga,” jelas Ana.

Agar pelanggan jahitannya puas Ana pun mengaku mengerjakan sendiri semuanya. Ia memilih tidak menggunakan jasa karyawan. Ia mengerjakan sendiri bahkan hingga mengesum jahitan pun dikerjakannya tanpa menyuruh orang lain.

”Bukannya apa-apa sih, tapi saya memang inginnya begitu. Belajar dari pengalaman teman yang juga seorang penjahit. Dia memperkerjakan karyawan untuk mengesum jahitan, setelah jadi dan diberikan ke pelanggan ternyata ada komplain dari pelanggan, entah kurang apanya. Teman saya jadi membongkarnya dan mengesumnya sendiri. Itu kan jadi 2 kali kerja namanya. Kalau mau menyuruh lagi takut karyawannya tersinggung. Jadi nggak enak sendiri. Makanya saya mengerjakan semuanya sendiri. Biar pelanggan puas,” akunya.

Untuk ongkos jahit, Ana mengaku bervariasi. Tergantung tingkat kesulitan juga. Untuk baju seragam anak sekolah untuk satu stel-nya Ana mematok harga Rp65.000. Untuk kain batik yang dibentuk sewek bawahan saat berkebaya dengan model sederhana ongkos jahitnya Rp35.000. Sedangkan untuk kebaya dengan furing model sederhana tanpa payet ongkosnya sekitar Rp70.000. Dan untuk baju model gaun pesta harga ongkos jahitnya bisa mencapai Rp100.000 lebih.

”Alhamdulillah rezeki ada saja. Jahitan selalu datang terus. Kadang meski jahitan yang sebelumnya belum selesai, ada aja pelanggan yang sudah datang membawa bahan baru untuk dijahitkan lagi. Padahal yang kemarin saja belum selesai kok sudah ditambahi lagi. Tapi ya diterima aja, disyukuri karena ada rezeki yang datang,” katanya menutup perbincangan. [niken anggraini]

Mendirikan Perusahaan Busana Muslim Bermodal Rp 1 Juta dan Sebuah Mesin Jahit

Tekad yang kuat untuk bisa menjadi pengusaha muslimahlah yang pada akhirnya membuat Yuniar Djafar bisa menjadi pengusaha aneka perlengkapan muslimah yang sebenarnya malah bertolak belakang dengan pendidikannya dulu.

Ditemui Peduli di tokonya Eline yang berada di ITC Mega Grosir Lantai UG Blok G 7, yang berada di jalan Gembong Surabaya bulan November silam, perempuan lulusan D 3 Jurusan Pemasaran UNAIR ini tampak dengan ramah menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Peduli padanya. Ia mengaku ihwal mula ia akhirnya bisa mendirikan usaha busana muslim ini diawali dengan membuat busana muslim anak untuk TK, TPA /TPQ di tahun 2000.

’’Di tahun itu saya bersama beberapa teman pengajian saya berpikir untuk mendirikan sebuah usaha. Setelah berpikir mau usaha apaan, akhirnya kami putuskan untuk membuat busana anak saja. Karena waktu itu busana anak merek Danis sedang ramai-ramainya,’’ kisahnya.

Ia bersama dua orang rekannya sesama pengajian Anik dan Ni Nyoman Astuti nekat mendirikan sebuah usaha konveksi dengan bermodalkan uang seadanya. Busana anak yang mereka hasilkan itu mereka beri label Etima. Mulailah ketiga wanita ini memproduksi baju di rumah Yuniar di jalan Libra Surabaya dengan perlatan yang seadanya.

’’Etima itu kami ambil sebagai singkatan dari etika mulia. Maksudnya akhlakul karimah begitulah. Waktu itu modalnya bisa dibilang modal dengkul. Peralatan yang kami punya cuma satu mesin jahit dan mesin obras yang nganggur karena kebetulan kami punyai di rumah,’’ terangnya.

Dengan modal yang kala itu tak sampai 1 juta mereka membuat beberapa baju. Busana-busana itu kemudian mereka tawarkan pada beberapa teman-teman mereka. Selain itu busana anak tadi juga mereka tawarkan untuk masuk ke salah satu pemilik butik muslim di Surabaya. Secara tidak sengaja anak si pemilik butik kala itu masuk TK Islam. Atas anjuran si pemilik butik tadi Yuniar disarankan untuk mengajukan proprosal ke sekolah tersebut agar pembuatan seragamnya di pesankan pada konveksinya.

’’Alhamdulillah dapat pesanan 50 baju. Dari DP yang mereka berikan itulah kami beli bahan. Pokoknya begitu terus, kami rajin cari oderan, kami mintai DP untuk beli bahan. Kalau uang dari DP tadi kurang, kami cari pinjaman dulu dari keluarga kami. Setelah baju-baju tadi di bayar penuh nanti kami kembalikan pinjamannya tadi,’’ jelas Yuniar.

Seiring berjalannya waktu, sekitar tahun 2006, Yuniar menerima pesanan jilbab bergo (jilbab instant) berbahan kaos dari salah satu pelanggannya. Meski awalnya tidak tertarik menerima pesanan itu toh akhirnya ia coba juga.

’’Bahan kaos itu beda dengan kain. Kami belinya harus kiloan. Dan setiap kilo nggak bisa dipastikan cukup atau tidak untuk satu desain. Makanya saya agak setengah hati. Tapi akhirnya saya buatkan juga. Ternyata kok bagus. Akhirnya saya ganti bahan kaos yang polos tadi dari yang kaos bermotif misty agar memberi kesan yang berbeda. Dan ternyata bagus juga,’’ imbuhnya.

Sejak saat itu pesanan pun mulai mengalir. Sebagai patokannya adalah jilbab merek Rabbani yang sebelumnya sudah menjadi pioneer di jilbab bergo berbahan kaos. Jilbab –jilbab merek Rabbani yang ia liat itu kemudian ia modifikasi hingga lahirlah model baru untuk mereknya. Selain jilbab, Yuniar bersama dua rekannya juga membuat mukena untuk anak.

’’Saya membuat mukena itu dari ukuran S sampai XL. Mulai dari anak-anak sampai untuk dewasa gitu. Kan biasanya setiap anak inginnya punya mukena yang kembaran dengan punya ibunya. Karena itulah sizenya jadi bermacam-macam begitu,’’ tutur Yuniar.

Kini usaha yang dirintis Yuniar bersama 2 rekannya hampir sepuluh tahun ini sudah mengeluarkan empat merek untuk membedakan produk-produk desainnya. Untuk jilbab ia memberinya label Estyle. Sedangkan untuk untuk busana wanita remaja dibawah 25 tahun diberinya label Noume. Sementara itu untuk busana anak-anak label yang ia gunakan adalah Wui! Dan untuk aneka perlengkapan ibadah haji mereka memberinya merek Shiba yang memiliki arti kerinduan.

Dengan karyawan berjumlah sekitar 10 orang kini usahanya ini menghasilkan produk mulai jilbab hingga perlengkapan haji setiap bulannya mencapai 750 buah produk. Dari setiap produknya itu ia pun memasang harga yang bervariasi, untuk jilbab paing murah 50 ribu. Untuk baju anak sekitar 45 ribu. Mukena dewasa sekitar 125 ribu. Sedangkan untuk baju gamis dewasa paling murah 90 ribu. Pelan tapi pasti kini Yuniar pun sudah memiliki 2 agen yang berada di luar pulau, yakni di Bontang dan Burneo.

Meski kini usaha yang dimilikinya sudah mulai berkembang namun Yuniar mengaku bahwa kebisaannya dalam mengembangkan usahanya ini bukan lantaran ia bias menjahit atau pun memiliki latar belakang desain.

“Saya itu dulunya cuma modal nekat saja. Saya tahu banyak soal desain ya karena kebetulan saja saya menyukainya dan tahu sedikit. Saya sendiri tidak punya latar belakang sekolah desain. Pokoknya belajar aja dari kedaan,” akunya.

Ketika disinggung awalnya apa yang membuatnya begitu keukeuh mendirikan usaha kala itu, diakui Yuniar hal tersebut dikarenakan alasan untuk berdakwah semata.

’’Dulu saya kan aktif sebagai pengurus pengajian di salah satu masjid begitu. Saya ingat banget, kalau ada kegiatan aja nyari dana buat kegiatan itu susahnya minta ampun. Makanya saya berpikir untuk mendirikan usaha sendiri aja biar nantinya kalau ada kegiatan seperti itu saya bias turut mendanai dari usaha saya itu. Ya, untuk dakwalah,’’ katanya menutup perbincangan. (niken anggraini)



Nama Usaha: Konveksi
Nama Pemilik : Yuniar Djafar, Anik S dan Ni Nyoman Astuti
Modal Awal: Rp 1 juta
Alamat :Jl.Libra 37 Surabaya 60133