This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 27 Desember 2011

KECAP ANAK


Setiap ada kesempatan berkunjung dari pulau ke pulau saya selalu mengamati hal-hal yang "kecil". Salah satunya adalah: lauk-pauk u anak-anak. Ada kesamaan: apa pun lauknya, kecap pelengkapnya. Misal: lauknya tempe, ayam, telur goreng, ikan asin dan sebagainya, penyedapnya adalah kecap.

Memroduksi kecap khusus untuk lauk anak mestinya sangat bagus. Bukan seperti sekarang, kecap merek nasional sampai lokal --belum ada yang membidik untuk segmen lauk anak2. "Kecap Ananda: spesial untu lauk anak mengandung super DHA"--kemasannya juga harus berbeda,botolnya mengandung unsur yang disukai anak. Saya yakin, produk ini bakal laku.

Untuk produksi kecap yang dibutuhkan: botol, jedhi besar (kuali), label, gula kelapa, dan bumbu. Sehari produksi 500 botol sudah cukup (per botol untung Rp 2.000 saja). Hayo siapa yang mau produksi kecap? Semua kecap No 1. [Abdul Aziz]


Peluang Bisnis Susu Kedelai

Para ilmuwan meyakini bahwa susu kedelai dapat memberi manfaat bagi tubuh fisik kita, seperti:

1. Memperkuat tubuh fisik. Mengandung 4,5 gr protein, 1,8 gr lemak, 1,5 gr karbohidrat, 4,5 gr fosfor, 2,5 gr zat besi, 2,5 gr kalsium, vitamin, ribovlavin dan sebagaianya dalam setiap 100 gr susu kedelai untuk meningkatkan tubuh fisik kita.


2. Mencegah diabetes. Susu kedelai mengandung selulosa dalam jumlah besar sehingga dapat mencegah penyerapan gula secara berlebihan. Mengurangi kadar gula dapat mencegah diabetes. Susu kedelai merupakan asupan penting bagi penderita diabetes.

3. Mencegah tekanan darah tinggi. Susu kedelai mengandung steroid, potasium, magnesium yang merupakan zat ampuh untuk memerangi natrium, salah satu penyebab utama hipertensi. Pada saat sodium dalam tubuh dapat.

4. Mencegah serangan jantung koroner. Steroid, kalium, magnesium dan kalsium dalam susu kedelai dapat memperkuat dan meningkatkan aliran darah, meningkatkan nutrisi ke otot jantung, menurunkan kolesterol serta meningkatkan aliran darah untuk mencegah kejang-kejang. Minum satu gelas susu kedelai setiap hari dapat menurunkan hingga 50 % kambuhnya kembali penyakit jantung.

5. Mencegah stroke. Magnesium dan kalsium dalam susu kedelai dapat mengurangi lipid dan memperbaiki aliran darah pada otak sehingga secara efektif mencegah terjadinya infarksi dan pendarahan otak. Lecitin dalam susu kedelai juga dapat mengurangi kematian sel otak serta memperbaiki fungsi otak.

6. Mencegah kanker. Protein, selenium dan molibdenum dalam susu kedelai bersifat menekan tumor ganas. Sangat efektif terutama terhadap kanker lambung, kanker usus dan kanker payudara. Menurut survei, kemungkinan berkembangnya kanker bagi orang yang tidak minum susu kedelai akan meningkat 50 % dibandingkan dengan mereka yang secara teratur mengkonsumsi susu kedelai.

7. Mencegah bronkhitis. Asam dalam susu kedelai dapat mencegah kejang otot, sehingga dapat mengurangi dan mencegah timbulnya bronkhitis.

8. Mencegah penuaan. Selenium, vitamin E dan vitamin C adalah antioksidan sempurna yang dapat meremajakan sel-sel kita, terutama sel otak.

9. Mencegah kepikunan, AIDS, sembelit, dan obesitas atau kegemukan. [Annie Tse/Secret China]

Senin, 26 Desember 2011

MUASAL KRIPIK DAUN JATI

Di dunia kesenian, orang memisahkan secara tegas antara kreasi (penciptaan) dengan inovasi (pembaruan) dan memberi derajat lebih tinggi pada hal yang pertama tadi: penciptaan. Tetapi, dalam pengertian sehari-hari, insan yang sering melakukan proses dan menghasilkan pembaruan-pembaruan dijuluki juga sebagai insan kreatif.

Bicara soal kreativitas, Pemerintah kita, Republik Indonesia, tampaknya sedang memompakan semangat baru dengan menggeser urusan ekonomi kreatif ke Kementerian Pariwisata (dan Ekonomi Kreatif) serta mengembalikan urusan ”kebudayaan” ke Kementerian Pendidikan (dan Kebudayaan).

Sesungguhnya, bagaimanakah kreativitas itu bekerja pada satuan masyarakat yang lebih kecil (ambil contoh di sebuah desa) atau bahkan di tiap individu manusia? Pada tataran individu, kreativitas bekerja dengan cara yang unik, datang dengan cara yang sering tidak sama antara pada seseorang dengan orang lain. Ada yang pikiran dan perasaannya mencapai kesegaran optimal di waktu malam, di waktu pagi, dan ada pula orang yang mencapai puncak kondisi kreartif-nya pada waktu siang hari bolong.

Ada orang yang bisa bekerja dengan baik ketika berada di antara banyak orang, bekerja secara gotong-royong, masuk dalam tim, melainkan ada orang yang baru bisa bekerja secara optimal jika dibiarkan sendirian. Dan seterusnya, dan seterusnya. Kreativitas, uniknya lagi, sering muncul jusru dalam/dari kesempitan. Karena itu, jika Anda sering mendengar kata-kata, ”Ambil kesempatan di dalam kesempitan,” kini gantilah kata-kata itu dengan, ”pacu kreativitas dalam kesempitan!”

Adalah Mariyatun, seorang pembuat kue pesanan di Desa Jono, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro. Sekitar sebulan lalu, ia mendengar kabar bahwa desanya akan didatangi dan diinapi ratusan orang dari berbagai penjuru Pulau Jawa. Para pendatang itu adalah para pengarang sastra Jawa, guru, dosen, Staf Ahli Kementerian Informasi dan Komunikasi, termasuk di antaranya: Arswendo Atmowiloto.

Mereka datang di desa Jono untuk mengikuti acara Konggres Sastra Jawa III. Sampai 3 hari sebelum Konggres, Mariyatun memeras otak. Merasa bahwa kesempatan begitu sungguh langka, maka Mariyatun terpacu untuk memanfaatkannya. Obsesinya hanya satu, berkaitan dengan dunia kuliner yang ditekuninya: bagaimana menciptakan sesuatu yang baru, yang belum ada di tempat lain, di waktu sebelumnya.

Maka, lalu terciptalah ”kripik daun jati (muda)” yang walau agak sepet dan sedikit pahit, tetapi laris dijual sebagai oleh-oleh peserta Konggres. Begitulah, kreativitas sering memang harus dipicu!

BONARI NABONENAR

Rabu, 18 Agustus 2010

Bukan Karyawan Biasa

Siapa bilang menjadi karyawan tak bisa membuat seseorang bisa mendapatkan celah guna mendapatkan uang lebih untuk tambahan kebutuhan rumah? Coba liat saja apa yang dilakukan Hadi Isnawan ini. Sekalipun setiap hari ia bekerja sebagai karyawan percetakan milik kakak iparnya, tapi ia juga bisa mendapatkan tambahan lebih dari sekedar karyawan biasa. Suami Sarinah ini bisa dibilang sebagai sosok pekerja keras. Dari sekitar pukul 8 pagi hingga sore ia bekerja pada usaha percetakan yang didirikan oleh kakak iparnya yang terletak di dearah Kendangsari gang XI Surabaya. Di sore harinya ia mencoba mencari kerja tambahan lagi. Memang, usaha yang digelutinya masih di bidang percetakan juga, dan masih menggunakan peralatan cetak milik kakak iparnya, namun untuk usahanya yang satu ini pendapatannya masuk ke kantong pribadinya sendiri. Bukan masuk ke CV milik kakak iparnya itu.

’’Kebetulan sama kakak ipar saya nggak apa-apa memanfaatkan mesin cetak miliknya, asal kerjaan saya sudah beres dan dilakukan diluar jam kerja saya,’’ kata Hadi.

Kebetulan kakak ipar Hadi sejak delapan tahun silam, mendirikan usaha percetakan yang sejak dulu sering menerima pesanan buku dari badan pendidikan dan pelatihan milik pemerintah Provinsi Jawa Timur. Hadi yang kala itu sudah bosan menjadi pekerja bangunan di ajak kakak iparnya untuk membantunya mengelola usaha sang kakak ipar tersebut. Seiring perjalanan waktu, setelah ia menikah sekitar empat tahun silam, ia berupaya mendapatkan uang tambahan di luar pekerjaannya sebagai karyawan sang kakak ipar tersebut. Maklum saja sebagai kepala keluarga, ia harus bertangung jawab memenuhi kebutuhan keluarganya.

’’Sebenarnya gaji dari kakak ipar saya lumayan juga. Tapi, kebutuhan saya semakin hari kan semakin bertambah. Apalagi sekarang ada anak yang harus minum susu setiap hari. Jadi saya harus berpikir untuk mencari tambahan,’’ katanya memberi alasan.

Untunglah ayah dari Dian Chandra Sheva Isnawan ini pandai mencari celah untuk orderan. Bila selama ini cetakan yang ia kerjakan berupa buku maka ia sekarang mencari orderan yang bukan buku.

’’Kakak saya sering terima pesanan cetakan buku dari diklat Jatim, jadi orderan ya paling banyak buku-buku pelatihan ataupun buku panduan aja. Terus saya pikir kenapa saya nggak coba membuat cetakan-cetakan lainnya? Saya bilang ke kakak ipar saya boleh nggak saya coba untuk membuat pesanan lainnya seperti kartu nama atau undangan gitu. Kata kakak ipar saya nggak apa-apa, ya sudah saya jalankan aja,’’ terang Hadi lagi.

Bergerilya

Maka, Hadi pun mulai bergerilya. Saat sang kakak ipar memintanya untuk belanja kertas untuk pesanan buku yang datang ke CV-nya, Hadi memanfaatkan moment itu untuk menanyakan pada toko tempat ia membeli kertas itu apa ia memerlukan pesanan buku untuk nota, sticker ataupun spanduk. Jika toko itu memerlukannya, maka ia menawarkan diri untuk membuatkannya. Kadang Hadi pun menyempatkan diri mengunjungi beberapa toko lainnya untuk menayakan apakah mereka mau pesan nota tau tidak. Usaha ini tak sia-sia. Pelan tapi pasti pesanan mulai berdatangan. Selain nota ataupun sticker Hadi juga mulai mencari pelanggan untuk memesan undangan pernikahan ataupun sunatan. Usaha ini juga membuahkan hasil. Hadi juga mulai menerima pesanan undangan pernikahan ataupun sunatan dari orang-orang yang ditemuinya saat belanja kebutuhan CV kakak iparnya itu.

Untuk memenuhi permintaan pelanggannya yang mana menginginkan bentuk kertas undangannya menarik kadang Hadi menyiasatinya dengan membeli kertas undangan yang sudah jadi terus dicetak di tempatnya.

’’Kalau untuk yang tinta hitam atau yang nggak pakai warna mesin cetak kakak ipar saya bisa. Tapi, kalau mintanya tinta yang warna, biasanya saya cetakan di tempat cetak lain aja,’’ terang Hadi.

Soal keuntungan besar yang bisa diraupnya dari usaha sampingan ini, menurut bapak satu anak ini tidak terlalu membuatnya terburu-buru untuk mendapatkannya. Menurutnya saat ini yang penting usaha masih bisa berjalan dengan terus, sudah menjadi hal yang disyukurinya. Soal untung besar, belum menjadi sesuatu yang ingin dikejarnya dalam waktu dekat ini. Ia sudah merasa cukup memperoleh keuntungan yang tidak terlalu besar namun orderan yang datang padanya selalu datang setiap hari.

’’Untuk undangan kadang tergantung harga kertasnya. Kadang kalau pelanggan minta undangan yang harganya sekitar Rp 2.500, itu biasanya harga kertas undangannya sekitar seribu rupiah. Keuntungan bisa dibilang nggak terlalu besar, kan nanti saya harus membelikan plastik buat sampul undangannya. Terus saya juga harus membelikan sticker buat nempel nama, terus saya juga harus setting tulisannya, beli lempengan cetakan juga. Jadi kalau dihitung-hitung keuntungan juga nggak terlalu besar,’’ terang Hadi.

Menunjukkan Hasil

Usaha yang ditekuni Hadi ini lambat-laun mulai menunjukkan hasil. Langganan-langganan yang dulu dilayani kini jadi kerap merekomendasikan saudara atau teman mereka untuk pesan undangan, nota ataupun membuat aneka brosur ke Hadi ini bila mereka ingin membuat undangan ataupun aneka keperluan tadi. Lantaran pesanan yang dilayaninya juga mulai meningkat maka waktu untuk bekerja pun mulai sedikit ekstra pula.

Kadang Hadi harus tidur mendekati jam 12 malam dan bangun menjelang subuh untuk segera menyelesaikan orderan undangan, nota ataupun brosur yang datang padanya itu. Meski lelah, pria kelahiran Blitar ini berusaha keras memenuhi permintaan pelanggannya tepat waktu. Sebab jika pelanggan kecewa atas layanannya menurutnya itu bisa jadi boomerang yang mempengaruhi orderan yang akan datang padanya dibelakang hari kelak. Itu sebabnya ia berusaha kerja tepat waktu. Rasa lelah itu terbayar sudah manakala semua orderan selesai tepat waktu dan pelanggan segera melunasi pembayaran pesanannya itu.

Kini hasil kerja sampingannya itu sedikit demi sedikit terlihat hasilnya. Uang dari kerja sampingan ini bisa dipakai Hadi sebagai tambahan membeli seekor sapi yang kini ada di rumah orang tuanya di Blitar sana. Selain itu ia juga bisa membeli sebuah sepeda motor pula meski dengan cara menyicilnya.

’’Insya Allah tiga bulan lagi cicilan sepeda motor ini habis. Ini semua berkah dari Allah. Buat saya ini patut untuk disyukuri. Karena semua kerja keras itu kalau ditekuni dengan telaten dan sabar akan membuahkan hasil yang baik,’’ ujar pria yang kini sedang menabung agar bisa membeli rumah KPR ini. [niken anggraini]

Rabu, 11 Agustus 2010

Lagi Booming Burung Cinta (Lovebird)

’’Padahal, beberapa tahun lalu ini seekor paling seratus atau dua ratus ribu,’’ komentar seorang pengunjung Pasar Burung Splendid, Kota Malang, ketika mendengar seorang penjaga kios menjawab calon pembeli yang menanyakan harga seekor lovebird, ’’Yang kacamata kepala emas sejuta…’’ Memang lagi booming. Masih ingat betapa mahal tanaman hias gelombang cinta beberapa waktu lalu, yang kini sudah nyaris tak terdengar lagi kehebohannya? Nah.

Kali ini giliran burung cinta alias love bird yang sedang booming. Cipto, seorang pegawai di lingkungan Pemkab Trenggalek, hanya karena sejak anak-anak gemar burung, membeli sepasang lovebird kacamata kepala emas (begitulah ia menyebutnya), kepada teman sekantornya. Sepasang burung itu dibelinya dengan harga pertemanan Rp 1.500.000 (satu setengah juta rupiah). Itu disebut harga pertemanan, karena, ’’Harga pasarannya sejuta rupiah per ekor, lho!’’ katanya.

Ceritanya makin menarik ketika burung yang tergolong mahal itu (harga sepasang burung itu bisa dibelikan seekor kambing peranakan etawa yang cukup besar) dibawanya ke kampung. Orang tuanya gumun gak karuan melihat burung mahal itu. Dan gemparlah seluruh keluarga ketika ternyata kandanagnya kurang brukut, ada celah yang membuat seekor di antaranya melepaskan diri dan terbang entah ke mana.

Cipto tak putus asa. Ia kembali membeli seekor lagi sebagai gantinya yang lepas itu. Dan, sekitar 7 bulan kemudian ia sudah memiliki 3 ekor lovebird, karena 5 telor dari sepasang indukan yang dipeliharanya itu hanya satu yanag menetas. Sebagai pengalaman pertama, lumayanlah. Tetapi, gara-gara temannya merajuk untuk membelinya, anakan lovebird yang baru umur 2 bulan itu, beberapa waktu lalu, dilepaskan dengan harga Rp 1 juta.

Kini, pasangan lovebird milik Cipto itu sudah bertelor lagi. Ada 6 butir telornya. Dalam 3 bulan ke depan ia sangat mungkin dengan gampang menjual anakan yang menetas dengan harga Rp 1 juta/ekor. Bayangkan, kalau punya 80-an pasang indukan seperti Ipunk, seorang penangkar lovebird yang tinggal di Jl Lesti Gg I/44 Kota Malang, yang sempat dikunjungi Peduli itu.

Ipunk Purwo Adi, biasa disapa Ipunk, beruntung karena adiknya yang bekerja di sebuah perusahaan di Surabaya, mendapat klepercayaan sang bos untuk menerima hibah/grartis beberapa pasang love bird impor berikut kandangnya. Sepasang di antaranya yang didatangkan langsung dari Belanda, bahkan pernah ditawar dengan Rp 25 juta. Wouw!

Itulah awalnya Ipunk menangkar lovebird, yakni Juni 2009. Berapa Ipunk mendapat penghasilan per bulan dari anakan yang ia jual dari hasil penangkarannya itu, ia tidak mau mengaku. Tetapi, dari sekian banyak lovebird yang dimilikinya, ia menjual anakannya dengan harga bervariasi, sesuai jenis dan warna bulunya, dari Rp 200 ribu hingga Rp 1,5 juta/ekor.

Diakui Ipunk, kini permintaan pasar sangat tinggi. Bahkan, banyak yang pesan dan ia belum bisa memenuhinya. Jenis yang harganya melambung, menurut Ipunk, adalah jenis yang sering dilombakan dan mendapatkan juara.

Walau penangkaran lovebirdnya tergolong besar, Ipunk sepertinya santai, bahkan sehari-harinya ia tampak lebih sibuk membantu istrinya yang mengelola industri rumahan: kripik tempe.

Ipunk tak mengalami kesulitan berarti dalam usahanya menangkar lovebird, karena melalui orangtuanya sejak kecil ia sudah akrap dengan pemeliharaan/penangkaran burung kenari. Orangtua Ipunk kini juga masih mengembangkan penangkaran kenarinya, bahkan mulai juga mencoba menangkarkan cucak rawa. Sepasang cucak rawa yang dibelinya Rp 30.000.000 (tiga puluih juta rupiah) itu baru menunjukkan tanda-tanda kawin. Kandangnya dilengkapi kamera CCTV, jadi bisa selalu dimoniotor tanpa mengganggu ketenteraman si burung.

’’Ya, memang ini untuk lovebird lagi booming. Ngga tahu nanti sampai kapan. Tetapi kalau cucakrawa, itu harganya sudah stabil. Sejak dulu memang burung mahal,’’ ujar Ipunk. [purwo]