This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 04 Juli 2010

Menulis sebagai Investasi*

Selamat kepada para aktivis FLP-HK dan segenap pendukungnya, yang telah menggelar Festival Sastra Migran (9/5). Mereka adalah insan-insan yang tak pernah mau diam menunggu, yang selalu menyibukkan diri dalam kerja yang sangat bermanfaat, baik bagi diri dan lingkungan mereka. Dan hebatnya, mereka merasa senang sambil bercucuran keringat itu! Gerakan literasi, memperkuat diri dan lingkungan melalui sarana tulisan, dengan membaca dan menulis, sungguh merupakan perjuangan dalam damai yang, yakinlah, hasil bakal bisa dipetik di kemudian hari.

Ndilalah pula tulisan ini saya buat ketika tadi siang saya bersama beberapa penulis berbicara di depan mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) –almamater saya. Senang berada di antgara mereka. Dan pertanyaan mereka pun kadang terasa lucu, kadang mengejutkan pula!

’’Benarkah kadang-kadang Anda menulis hanya untuk kesenangan, dan membiarkan tidak mendapatkan apa-apa karenanya?’’ demikian salah satu kalimat pertanyaan yang langsung diarahkan kepada saya.

’’Ya, demikianlah, jika istilah ’apa-apa’ itu kita maksudkan sebagai ’uang.’ Menulis telah menjadi ’darah’ dalam hidup saya. Karena itu, sekali lagi jika ’apa-apa’ tadi kita maksudkan adalah ’uang’ tak sedikit saya melakukan kgiatan, termasuk menulis, dan tidak hanya tidak mendapatkan apa-apa, bahkan malah ’merugi’.’’

Diam. Tidak ada protes, tidak ada komplain. Saya tahu, mereka menunggu kalimat saya selanjutnya. Maka, saya pun melanjutkan kalimat saya.

’’Saya menulis untuk banyak media. Menulis di blog, di koran, di majalah. Bahkan melayani pesanan, misal, seseorang tiba-tiba memesan sebuah puisi berbahasa Jawa untuk dibaca pada pernikahan anaknya. Ada juga pejabat yang, melalui SMS, memesan dua kuplet pantun untuk menutup pidatonya. Sesuai hukum ekonomi, mereka yang melakukan pemesanan itu biasanya memberi imbalan, uang, di atas harga rata-rata, kalau tulisan itu ada harga rata-ratanya! Sedangkan tulisan yang saya kirimkan ke media atas inisiatif saya, tentu saya hanya menunggu, apakah honornya memuaskan, sekadar bisa buat beli rokok, atau bahkan ternyata tidak ada honor!’’

’’Lho, media cetak menerima tulisan tanpa mau memberi honor?’’

’’ Anda heran? Dan itu benar-benar ada. Saya bisa memberikan alamatnya jika Anda mau!’’

Mereka semakin diam! Wah. Cerita saya tampaknya menarik, ya? Dalam hati sebenarnya saya tertawa kecil. Ini bagian yang cukup indah. Betapa tidak? Saya diundang hari itu untuk memberikan suntikan semangat kepada para mahasiswa adik kelas saya, bahwa menulis (tentunya juga: membaca) itu sedemikian bermanfaatnya bagi kehidupan kita, dan saya dengan gagah-berani mengatakan tak masalah kalau dari tulisan kita tidak dapat apa-apa, tidak dapat honor?

Tak betah berlama-lama mempermainkan perasaan mereka, maka saya pun segera meluncur ke bagian kalimat-kalimat yang tampaknya paling mereka tunggu-tunggu.

’’Benar memang, sering saya tidak mendapatkan honor atas tulisan saya yang dimuat di media cetak. Tetapi, saya tetap merasa beruntung, bukan sok beruntung, lho. Mengapa? Sebagai anggota masyarakat, dengan melakukan urun rembug melalui tulisan, saya telah mengekspresikan rasa dan pikiran saya, dan karenanya saya telah melakukan hal yang baik bagi kesehatan jasmani dan rohani saya. Apalagi kalau tulisan saya itu kemudian membuat orang lain merasa senang, merasa mendapatkan informasi baru. Bukankah keberadaan saya menjadi lebih berguna? Apakah yang lebih mewah dari perasaan suka-cita karena merasa bermanfaat seperti itu? ’Itu keuntungan nonmaterialnya.’’

’’Memang masih ada keuntungan materialnya? Bukankah ini kisah tentang tulisan yang tidak mendapatkan honor?”

’’Sabarlah. Tidak ada honor itu kan dari koran yang memuatnya. Tetapi, kalau ada pembaca yang tertarik, dan kemudian mengundang saya untuk acara diskusi dengan tema seperti yang saya tulis itu, dan saya mendapatkan honor bagus dari acara diuskusi itu, apakah itu bukan material?’’

Waduh, halamannya hampir tak cukup! Begini saja, kesimpulan akhirnya, baik dapat honor maupun tidak dapat honor pada pemuatan pertamanya, dengan menulis sesungguhnya kita sedang berinvestasi. Bukankah orang bijak bilang, ’’Jika kita melakukan kebaikan dengan niat baik, maka Tuhan akan membalas dengan kebaikan berlipat-ganda pada saat dan tempat yang tidak kita duga?’’

Nah!


*) Dipublikasikan pertama di Majalah Peduli

Minggu, 11 April 2010

Sedih dan Gembira

April adalah bulan yang selalu saja mengingatkan kita kepada perempuan hebat bernama Kartini. Ia adalah lambang perlawanan terhadap ketertinggalan dan penindasan atas perempuan. Karena itulah ia dijuluki pahlawan emansipasi perempuan.

Kini kita membayangkan, andai saja Ibu Kartini masih berada di tengah-tengah kita, ia akan menangis sejadi-jadinya melihat kaumnya masih saja dipinggirkan, masih saja harus terpelanting dari negri yang dicintainya, untuk menegakkan kehidupannya. Sudah begitu, masih dapat perlakuan kurang baik pula. Masih dicitrakan sebagai warga negara kelas sekian pula. Padahal, sekian banyak warga lain ikut (lebih) menikmati cucuran keringat, airmata, dan bahkan darah mereka!

Apalagi jika sampai dengar kabar mengenai bergelimpangannya BMI korban penipuan orang-orang jahat. Dan notabene, pelaku kejahatan itu sebagian besar adalah: laki-laki. Kaum perempuan adalah kaum ibu. Dari merekalah generasi penerus bangsa dilahirkan. Kalau ada pepatah mengatakan ibu adalah bumi, dan laki-laki adalah langit, seharusnyalah tidak dimaknai bahwa langit lebih tinggi daripada bumi dan karenanya lebih mulia. Langit dan bumi adalah pasangan, yang satunya tidaklah lebih tinggi dan lebih mulia daripada lainnya. Bumi menumbuhkan segala macam flora, hal yang tak bisa dilakukan oleh langit. Dan langit menurunkan hujan, hal yang tidak dilakukan oleh bumi. Karena itulah, pertentangan mana lebih mulia: laki-laki atau perempuan, hanyalah urusan orang-orang cupet nalar (pikiran sempit). Yang pasti, kalau ada kaum atau bangsa yang menistakan perempuannya, niscaya bangsa itu sedang berada di bibir jurang kehancurannya sendiri. Dan tangis Ibu Kartini akan semakin menjadi-jadi.

Tetapi, ada kabar lain yang bisa membuat Ibu Kartini trersenyum bangga. Banyak BMI-HK yang gigih menuntut ilmu sambil banting-tulang mengais rezeki di Negeri Beton ini. Ada yang ambil kursus, ada yang ambil diploma, ada pula yang rajin ke perpustakaan, dan kemudian menuliskan buah pikirannya. Ibu Kartini pasti tersenyum bangga. Dan akan mengelus dengan penuh kasih setiap kaumnya yang tak kenal putus asa memerjuangkan hak-haknya sebagai manusia, melawan siapa pun yang merendahkan atau bahkan menistakan perempuan.

Apalagi bila dengar rencana kawan-kawan akan menyelenggarakan Festival Sastra Buruh Migran. Ibu Kartini pasti bertambah bangga lagi. Bukan hanya di dalam perasaan, tetapi pastilah disertai tindakan. Beliau akan segera menghubungi Ketua Panitianya, dan meminta agar beliau diberi kesempatan untuk membuka acara yang sangat bergengsi itu. Beliau putri seorang bupati, pasti tidak akan terlalu susah untuk mendapatkan tiket pesawat kelas eksekutif sekalipun.

Maka, jika kelak Festival Sastra Buruh Migran jadi digelar di HK, kalau tidak dibuka Presiden atau Menakertrans, atau Menteri Pemberdayaan Perempuan, biarlah dibuka Ibu Kita Kartini!*

Menggelar Festival Sastra Buruh Migran, Mau?

’’Tolong sampaikan ide saya agar Pak Gubernur dan tokoh-tokoh Jawa Timur yang lain, syukur Pak Menteri, agar mau ngasih dukungan/sambutan pada acara yang digelar BMI-HK nanti via internet. Dari PC diproyeksikan ke screen di panggung. Ini belum pernah dilakukan oleh pejabat-pejabat kita, memanfaatkan internet untuk memantau aktivitas BMI atau sebaliknya. Saya yakin ini akan diikuti pejabat-pejabat lain. Dengan begitu, akan bisa enyelamatkan ratusan juta rupiah. Lha wong kita yang di sini ngumpulne uang receh untuk mendanai yayasan-yayasan, rumah baca, TPQ, dan kaum dhuafa di tanah air... mereka malah berbondong-bondong ngabisin uang negara utk hajat kecil. coba uang segitu buat rakyat kecil yang butuh, kan lebih bermanfaat.’’

Begitulah bunyi sebagian surat Mbak Susie Utomo (Peduli No 46) yang sangat inspiratif itu. Lalu kita teringat sebuah acara yang cukup bergaung yang pernah kita gelar 2007 di Blitar: Festival Sastra Buruh. Tahun 2008 dan 2009 sudah lewat tanpa acara yang semula digagas untuk digelar setiap tahun di bulan Mei itu.

Maka, surat Mbak Susie itu bagaikan nggugah macan turu (membangunkan singa dari tidurnya). Di dalam sarasehan istimewa yang berlangsung secara marathon dengan beropindah-pindah tempat: kamar dan lobi hotel, warung, pantai, ruang tamu, trotoar, di Trenggalek, Magetan, Madiun (6 – 8 Februari 2010) terbulatkanlah tekad untuk kembali menggelar festival itu tahun ini. Di bulan Mei nanti.

Namanya juga festival atau pesta, ia bisa digelar di mana saja. Bisa di Indonesia, bisa di Hong Kong, Taiwan. Bisa di Trengalek, atau di Kudus. Bisa di kota atau di desa yang jauh. Bisa pula digelar di pinggir laut macam di Karanggangsa itu. Bisa pula digelar secara serentak atau berurutan waktu di beberapa tempat sekaligus.

Begitu luwesnya. Kalau ada yang merasa perlu dan bisa mengundanag sastrawan BMI-HK untuk datang ke Indonesia, atau mengundang/mengajak sastrawan mantan BMI untuk unjuk karya: baca cerpen atau puisi di Hong Kong, ya silakan saja.

Ini adalah persoalan kemauan. Pemerintah boleh bilang lagi krisis keuangan, dana habis untuk pemilukada atau menyantuni korban bencana, silakan saja. Kita tidak tahu kondiosi yang sebenarnya. Karena rakyat diperbolehkan meminta (mengambil uang tabungan yang dibayarkannya melalui pajak dengan bermacam bentuknya) ya kita coba meminta. Kalau tidak diberi, apa pun alasannya, ya kita terima. Maksudnya, kita terima alasannya itu, apapun juga. Bukankah kita bukan pemalak?

Kita akan berupaya untuk, setidaknya, menginspirasi banyak orang, termasuk para pemegang kendali kebijakan dari tingkat rukun kampUng, rukun kabupaten, rukun provinsi, atau rukun negara, bahwa pertama-tama adalah niat. Adalah kemauan, dan keyakinan bahwa yang diniati, yang dimaui, adalah sesuatu yang bagus, baik, ada manfaatnya.

Festival Sastra Buruh Migran itu, di mana pun dapat digelar, dengan sederhana atau Pun dengan gegap-gempita, ia tetaplah sesuatu yang besar, adalah sebuah prestise, sebuah kebanggaan bagi kawan-kawan buruh migran di mana pun berada, bahkan bukan hanya bagi mereka yang menyukai tulisan (sebagai penikmat atau pun sebagai kreator). Sebab, istilah buruh migran itu sudah otomatis nggepyok semuanya, seperti ketika masyarakat memiliki kesan negatif terhadap BMI, padahal konon sesungguhnya kalaulah ada yang layaK dilabeli negatif itu hanya sebagian sangat kecil saja, yang ikut terkena getahnya toh juga semua BMI? Begtulah gambarannya. Dan kita berkepentingan untuk menegakkan rasa bangga kita sebagai manusia yang berkarya, apa pun bidang yang kita geluti sekarang ini.

Jadi gimana ini, menggelar Festival Sastra Buruh Migran 2010, mau? Yuukkkk……….. ya!

Jumat, 05 Maret 2010

Penghargaan Prestasi dan Dedikasi bidang Sastra/Penulisan bagi BMI/Mantan BMI Hong Kong

Selain sumbangan berupa devisa, Buruh Migran Indonesia (BMI) juga memiliki andil besar dalam bidang Budaya, termasuk Pariwisata. Selama ini kita kenal adanya buruh yang juga bekarya sebagai seniman, termasuk di antaranya sebagai penulis/sastrawan.

Di dalam bidang penulisan, ada BMI-HK yang kemudian kembali ke tanah air dan hidup sebagai penulis/motivator (Eni Kusuma, Banyuwangi). Eni dipandang sebagai sosok yang mampu menginspirasi, terlebih bagi sesama BMI/mantan BMI. Etik Juwita, mulai jadi cerpenis ketika masih bekerja di Hong Kong, salah satu cerpennya yang pernah dimuat Jawa Pos berjudul Bukan Yem terpilih dan masuk 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008 versi Pena Kencana.

Karena ketrampilannya menulis, Tania Rosandini (Malang), bahkan kemudian alih pekerjaan dari pekerja rumah tangga (di Hong Kong) menjadi jurnalis Radar Taiwan (di Taiwan). Ada beberapa BMI-HK yang juga bekerja sebagai koresponden tetap dan penulis lepas untuk media cetak yang terbit di Indonesia.

Terbentuknya komunitas/organisasi seni di kalangan buruh migran asal Indonesia di Hong Kong seperti: Forum Lingkar Pena, Sanggar Budaya, Sekar Bumi, dan lain-lain yang tidak hanya terlibat dalam acara-acara di kalangan BMI, melainkan juga berpartisipasi dalam acara-acara kesenian antarbangsa menunjukkan bahwa mereka layak disebut juga sebagai Duta Bangsa di bidang Budaya/Pariwisata.

Para BMI/Mantan BMI-HK juga telah menunjukkan sumbangan yang nyata terhadap pemberdayaan bangsanya melalui penguatan/peningkatan program memasyarakatkan tradisi baca/tulis di kampung halaman mereka, seperti yang dibangun oleh Maria Bo Niok (Wonosobo, Jawa Tengah) dengan rumah baca Istana Rumbia-nya. Di Jawa Timur ada juga kelompok belajar seperti yang dibangun oleh Nadia Cahyani (Magetan) dkk.

Mereka, para BMI/Mantan BMI-HK berprestasi/berdedikasi itu telah menunjukkan bahwa kepergian mereka bukan hanya untuk mengentaskan diri dan keluarga mereka dari berbagai persoalan. Mereka ternyata telah menunjukkan kepedulian yang luar biasa terhadap masyarakat di sekitarnya.

Oleh karena itulah, memberikan dukungan kepada mereka dalam bentuk penghormatan/penghargaan –betapa pun kecil nilai nominalnya—sebagai bentuk dukungan terhadap prestasi, dedikasi, konsistensi mereka adalah penting. Penting untuk lebih menginspirasi seluruh anak negri ini, bukan hanya sesama BMI/Mantan BMI.

Forum Budaya Buruh Migran Indonesia (FBBMI) menggagas pemberian penghargaan bagi BMI/Mantan BMI-HK yang berprestasi, berdedikasi, dan konsisten terkait bidang penulisan/sastra dalam rangka ikut memeringati Hari Buruh Sedunia (1 Mei) 2010.

Penghargaan direncanakan diberikan dalam bentuk piagam, piala, dan sejumlah uang.

Penghargaan diberikan untuk:

[1] Organisasi
Penghargaan Prestasi dan Dedikasi bidang Sastra/Penulisan Bagi BMI/Mantan BMI Hong Kong 2010 diberikan kepada sebanyak-banyaknya 3 organisasi yang:
[a] Berkedudukan di HK baik resmi (memiliki legalitas formal) maupun tidak resmi (informal)
[b] Menunjukkan aktivitas yang secara langsung maupun tidak langsung merupakan bagian dari upaya pemberdayaan diri/lingkungan melalui kegiatan membaca dan/atau menulis
[c] lolos seleksi

[2] Perorangan
Penghargaan Prestasi dan Dedikasi bidang Sastra/Penulisan Bagi BMI/Mantan BMI Hong Kong diberikan kepada sebanyak-banyaknya 5 orang yang:
[a] berstatus sebagai BMI-HK/Mantan BMI-HK
[b] menunjukkan prestasi/dedikasi/konsistensi dalam bidang penulisan fiksi/nonfiksi.
[c] lolos seleksi

[3] Buku
Penghargaan Prestasi dan Dedikasi bidang Sastra/Penulisan Bagi BMI/Mantan BMI Hong Kong diberikan untuk sebanyak-banyaknya 10 buah buku yang:
[a] merupakan hasil karya BMI-HK/Mantan BMI-HK
[b] dapat berupa buku fiksi/nonfiksi
[c] lolos seleksi


Catatan:
[1] Ini masih berupa keinginan
[2] Tim Sleksi akan dibentuk kemudian
[3] Mohon dikoreksi, dan jika ada yang perlu ditambah/dikurangi

[4] Kontak:
forumburuhmigran@gmail.com
bonarine@gmail.com

Rabu, 02 Desember 2009

detikcom : Fuel Surcharge Penerbangan Menipu Konsumen

title : Fuel Surcharge Penerbangan Menipu Konsumen
summary : Konsumen tidak peduli bahwa dirinya tengah diperdaya oleh operator penerbangan selama ini melalui pembebanan fuel surcharge (FS) pada setiap rute� penerbangan dengan besaran yang mencekik leher. (read more)