This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 10 Januari 2008

Mery

[1]

Kadang aku merasa tak sanggup lagi menikmati indahnya sinar mentari pagi. Maka, jika aku tersenyum, sering itu hanya di bibir saja, bukan senyum yang meletik dari dalam perasaanku yang sesungguhnya. Senyum yang hanya kubuat untukmenunjukkan bahwa aku masih bisa hidup yang sebegini getir. Getir dan pahit. Dan perih!

Rasanya aku juga inginmenutup telinga dari suara-suara ejekan dan cemoohan orang-orang sekitar.

Apakah aku memang sebodoh itu? Apakah salah orang menyinta? Aku menyintai Burhan. Dan sekarang ia telah jadi suamiku. Tetapi ia bukan milikku, melainkan milik kami. Ya, kami berempat memilikinya bersama-sama. Aku istrinya yang keempat itu, yang, telah mendapatkan seorang putri kecil dari perkawinan kami.

[2]

Oh, Mery! Ada apakah dengan matamu? Dengan otakmu? Dengan rasamu? Mengapa kau sebegitu menggebu menikah dengan laki-laki yang lebih pantas jadi kakekmu? Kau masih tujuh belas, sedangkan ia sudah di atas lima puluh. Karena ia memanjakanmu? Tidakkan ada laki-laki yang jauh lebih muda yang bersedia memanjakanmu? Kumbang mana yang tahan tak hinggap di kelopak yang mekar menguarkan keharuman khas putik yang meminta dibuahi?

Karena aku miskin. Dan nyaris tak pernah disayangi. Ibu mati ketika aku masih balita. Adikku masih balita juga saat itu. Ayah lalu menikah lagi, dan tak suka membawa kami. Dua bocah kecil yang masih bau bayi mesti ikut neneknya yang miskin pula. Kakek sudah lama tiada. Rumah kecil itu pun sudah sedemikian rapuh luar dan dalamnya.

[3]

Malam tiba-tiba terkoyak. Angin berkesiut dan makin mengencang. Makin mendesis. Barangkali dari hamparan langit menjulur berjuta lidah raksasa, mendesis bersama, dan siap menyemburkan bisa. Petir pun menyahut. Lalu bersahut-sahut. Dan hujan pun turun. Pada saat seperti itulah rumah rapuh itu kedatangan tamu yang kelak kita kenal bernama Burhan. Yang kelak menjadi suami Mery. Air hujan yang sukses menerobos genting jatuh ke cangkir kopi yang disuguhkan kepada Burhan. Tetapi laki-laki bersarung itu sebegitu menikmatinya, seperti peminum menikmati anggur yang diperam ratusan tahun. Burhan memang datang sebagai kumbang yang tersedot keharuman kelopak yang menyimpan putik menunggu dibuahi.

Lalu mereka menikah. Lalu mereka kawin. Putik pun dibuahi. Dan jadilah buah. Buah hati. Buah cinta, atau buah apalah disebutnya. Tetapi, saat benih itu tumbuh dan menggelembungkan perut Mery, Burhan makin menjauh. Atau mungkin, makin mendekati keempat putik-nya yang lain. Atau, mungkin juga, memburu putik yang lain lagi, jika ia masih sebegitu
bersemangatnya ketika usianya makin dekat dengan angka 60.

Burhan tampaknya hanya mau menikmati ekspresi Mery saat menjeritkan suka-cita, dan tak mau mendengarkan jerit kasakitan saat kelopaknya pecah demi kelahiran manusia baru. Burhan tidak mau hadir pada detik-detik yang sangat ditunggu-tunggu. Juga pada hari-hari, pekan, bulan, dan bahkan tahun-tahun berikutnya. Mery pun makin menderita, jauh lebih menderita daripada saat ia hanya perlu menahan keinginan beli baju baru, tas baru, sepatu baru karena kemiskinan memaksanya untuk membeli rombengan.

[4]

Apakah angin baik, apakah angin jahat, yang melemparkan laki-laki tua itu ke rumah rapuh di bawah naungan rimbun bambu itu? Burhan masih mengenali rumah itu dengan segenap suasananya. Hanya aromanya yang kini berbeda. Tiada lagi keharuman itu. Yang ada hanya pesing dan dan busuk dedaun yang disengatkan udara yang terpompa. Ada seorang bocah kecil, dan ibunya, yang menyambut kedatangan Burhan. Amarah itu menguap tiba-tiba. Gerimis pun turun bagaikan air mata para perempuan yang berharap.

Burhan menangis. Seperti mengiba. Dan Mery, dan bocah kecil itu, tak mau lari ke mana. Mereka mematung, seperti sedang menatap langit yang menggelap tiba-tiba. Dan gulungan tsunami itu, mungkin juga akan segera menerjang mereka.

Malam itu pun tiba-tiba jadi beku. Entah kapan mencairnya. Ketika laki-laki tua itu mendengkur di samping gadis kecil yang terlelap, Mery meraih pena dan selembar kertas yang sudah memudar warna putihnya. Lalu ditulisnya, ’’Kadang aku merasa tak sanggup lagi menikmati indahnya sinar mentari pagi. Maka, jika aku tersenyum, sering itu hanya di bibir saja, bukan senyum yang meletik dari dalam perasaanku yang sesungguhnya…’’

Ngopak, Mei 2007
PEDULI Juni 2007

Kemerdekaan

Yang lebih tinggi nilainya daripada hidup ini adalah kemerdekaan. Yang lebih tinggi nilainya daripada kemerdekaan adalah cinta.

Marilah kini kita lihat, bagaimana wajah kita yang sebenarnya, apakah menyiratkan kepahaman kita mengenai kemerdekaan, dan lebih dari itu: apakah kita masih punya cinta?

Mari becermin di jalan raya, jalan raya kita, jalan raya di kota-kota Indonesia (yang kini sedang mempersiapkan atau tengah larut dalam ingar-bingar pesta ulang tahun). Para pejalan kaki sudah dirampas hak-haknya oleh negara dan bahkan oleh kawan sendiri pula. Apalagi pemakai kursi roda, tampak sering dianggap tidak ada. Para pengendara menjejalkan pemandangan ke mata kita bahwa mereka hanya patuh pada hukum rimba: yang (kendaraan) besar melahap yang kecil. Yang kecil sesuka hati menggasak yang lebih kecil lagi. Dan pembunuhan yang sering diatasnamakan ketidaksengajaan menjadi pemandangan sehari-hari di jalan-jalan raya. Tidak ada kemerdekaan di jalan-jalan raya kita, apalagi cinta.

Beberapa waktu lalu beberapa orang secara interaktif melapor melalui Radio Suara Surabaya bahwa gara-gara kehabisan formulir –bahkan ternyata masih ditenderkan-- pengurusan KTP (Kartu Tanda Penduduk) di wilayah Sidoarjo menjadi terkatung-katung. Padahal, para pelapor itu adalah orang-orang bisnis yang sering terlibat urusan yang memerlukan KTP.

Kadang-kadang, yang lebih menjengkelkan, sudah urusan tidak beres, pegawai yang menanganinya tak sedikit pun menunjukkan sikap sebagai pelayan rakyat.

’’Kenapa sih, ngurus KTP saja sebulan gak selesai?’’

’’Sekarang formulirnya lagi habis, dan masih ditenderkan. Kalau memang sudah ada formulirnya, apa pula kepentingan kita mengulur-ulur pembuatan KTP?’’

Begitulah susahnya jadi rakyat di Zaman Merdeka yang sudah dapat pula gelar Dr (Direformasi) ini. Tak punya KTP bisa ditilang, salah-salah dijebloskan ke dalam sel tahanan. Mau ngurus, enak aja pejabat bilang: formulirnya masih ditenderkan. Nah, jika terlambat membayar tagihan listrik rakyat mesti didenda, apakah pejabat yang teledor sampai hitungan bulan terjadi kekosongan formulir KTP tidak bisa diperkarakan?

Maka, apakah artinya kemerdekaan bagi rakyat jika para pemimpin dan segenap aparaturnya masih bermental pangreh praja, bermental penguasa, dan mengaku melayani rakyat hanya di bibir saja?

Itulah sebabnya, saya selalu sedih ketika berada di kota ini dalam suasana peringatan Hari Kemerdekaan (Agustusan). Banyak gang, dan bahkan jalan ditutup untuk menggelar pesta bernuansa gembira-ria: berpawai, bernyanyi, berjoget, dan bakar-bakar kembang api.

Saya tidak antiperingatan Hari Kemerdekaan. Tetapi, saya kira untuk saat ini diperlukan suasana yang lain. Suasana yang lebih khidmat, bukannya hiruk-pikuk, tentu dengan upacara, dengan mengibarkan Bendera Merah-Putih, Lagu Indonesia Raya, dan jangan lupa: pembacaan Pancasila. Itu tidak mahal, kok. Tidak perlu menarik iuran Rp 25.000 – Rp 100.00/keluarga.

Cobalah itung, berapa biaya Pesta Agustusan di tingkat RT, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/Kotamadya, Provinsi. Kita akan mendapatkan angka yang sangat besar. Hanya untuk berpesta, menikmati hiruk-pikuk, dan melupakan esensinya. Itulah yang sungguh-sunguh menyedihkan. Bangsa macam apakah kita ini, yang tega bersuka-ria, sementara setiap hari, bahkan setiap detik, media menyorongkan ke depan mata kita pemandangan yang mengenaskan: balita yang kehilangan keluarganya, orang-orang yang kehilangan sanak-saudara, harta-benda, termasuk rumah dan isinya karena banjir, gunung meletus, gempa, semburan lumpur, kecelakaan angkutan darat, sungai, laut, udara. Mereka adalah saudara-saudara kita, saudara sebangsa dan setanah air.

Mestinya kita tidak akan setega itu. Sebab cinta itu nilainya sebegitu tingginya, bahkan lebih tinggi daripada kemerdekaan itu sendiri.[]

Peduli Agustus 2007

Buah Cinta Itu

Retnayu

’’Jeng, kutitipkan, rawat dan peliharalah buah cinta kita. Besarkan, bimbing, dan bentuklah agar dia bisa menjadi sepertimu.’’

Tetesan air mata yang mengalir di pipiku mengiringi kepergian suamiku. Ia sangat menyayangiku.

Saat itu, putri tunggal kami masih berusia 10 tahun, ketika harus kehilangan kasih sayang dari seorang ayah yang begitu didambakannya. Suamiku meninggalkan kami berdua karena penyakit liver yang telah lama dideritanya. Dan anakku masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Sedangkan aku sendiri hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang tidak pernah tahu bagaimana cara mencari dan mendapatkan uang. Aku terbiasa hanya menunggu gaji suami.

Oh, betapa bingungnya aku pada saat itu karena ditinggal mati suamiku. Ibarat si buta yang kehilangan tongkatnya. Bagaimana selanjutnya nasib kami berdua? Kebutuhan hidup meninggi setinggi gedung-gedung yang dibangun para konglomerat saat ini. Biaya sekolah putriku....? Padahal, bisa menyekolahkan putri kami hingga ke jenjang yang setinggi-tingginya adalah cita-cita kami.

Putriku harus bisa tetap sekolah sesuai harapan kami dulu, karena aku tidak ingin dia menjadi seorang wanita lemah yang tidak bisa apa-apa seperti aku.

Akhirnya, dengan hati yang sangat berat aku titipkan buah cinta kami, putriku, putri kami, Rayi Anggraini-ku, kepada kedua orang tuaku untuk diasuh dan dididik karena aku harus berangkat ke Jakarta untuk masuk ke sebuah PT yang kemudian memberangkatkanku ke Hong Kong.

Itulah awal kisahku, mengapa aku sampai menapakkan kakiku di Hong Kong yang sangat menjanjikan ini sebagai seorang buruh migran Indonesia. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun pun berganti tahun, kugeluti pekerjaanku sebagai buruh di negri asing ini, dari satu kontrak sampai ke kontrak berikutnya dengan beraneka macam watak dari setiap majikan yang mempekerjakanku.

Kuteteskan peluhku tuk meraup rezki halalku, kegenggam dolar, kulambungkan setinggi angan tuk jelang hari depan, isi nafas asa seorang wanita biasa yang bercita-cita tempatkan martabat buah hatinya tuk sampai di jenjang keberhasilan yang sesuai dengan tuntutan zman.

’’Bu..!’’ sebuah sapa lembut di gendang telingaku dan aku menolehkan mukaku. Kulihat putriku berdiri tepat di belakangku.

’’Ngger…’’ kulemparkan suatu sebutan kesayangan pada putriku.

’’Ibu nanti duduk di kursi yang nomor tiga itu ya Bu....?’’ begitu pinta putriku.

’’Oooh, itu, iya....ya...!’’ begitu jawabku.

Ya, hari ini aku memang sedang melangkahkan kakiku dengan ringan, menuju auditorium Bulaksumur untuk menghadiri wisuda putri tunggalku. Kebahagiaanku....tiada terkira, karena bisa terpuasi oleh keberhasilan putriku meraih gelar dari bidang yang dipilihnya di Fakultas Psikologi ini. Haru, sangatlah haru rasa hatiku, memupus semua letih dan menghapus jejal langkah tertatih yang kusandang hampir sepanjang umurku dengan menggadaikan hati dan tenaga di negri yang jauh berbentang samudra.

Air mataku menetes membasahi pipi tatkala menyaksikan acara demi acara yang berlangsung. Dan sampai ketika terdengar alunan lagu, ’’Terpurukku di sini, teraniaya sepi, dan kutahu pasti, kau menemani, dalam hidupku, kesendirianku, teringat kuteringat, pada janjimu kuterikat, hanya sekejap ku berdiri, kulakukan sepenuh hati, peduli, ku peduli, siang dan malam yang berganti, sedihku ini tak ada arti, jika kaulah sandaran hati, kaulah sandaran hatiiiiiiiii...........’’

Kusimak dengan seksama alunan lagu yang dilantunkan Letto itu, membuat anganku melayang jauh, membisikkan sebuah nama. Perlahan kusentuhkan tanganmu dan kutarik untuk mendekap dadaku.

’’Mas, telah kutunaikan harapanmu, janjiku, janjuimu, adalah hantarkan ’Rayi’ kita ke dunia yang lebih baik dari masa-masa kita dulu! Terima kasih Tuhan, yang telah menempatkan buah hati kami pada harkat dan martabat yang sesuai dengan harapan seorang janda, yang hanya memiliki rasa cinta dan setia.’’ []

cerpen peduli Sept 2007

Kau Suamiku

Amine Nareswari


Kalimat penutupmu romantis benar.

’’Aku kadang membayangkan ada seorang yang kucintai membangunkan dengan mengecup keningku.’’

Ow, romantis betul. Sama dengan yang kuangankan beberapa waktu. Mendapati kau yang masih pulas ketika akan berangkat. Dan kutinggalkan kecupan di keningmu, di pipimu, sedikit di bibirmu sebelum kepergianku. Indah ya?

Sorenya kau menungguku dengan secangkir kopi, musik mengalun pelan dan entah buku atau koran atau apa pun di genggammu, lalu kaucium aku. Menikmati sore berdua. Menunggu matahari tergelincir dan kita beranjak.

Pagi berikutnya kita habiskan hari bersama. Menikmati udara gunung yang pekat uap airnya. Mendekap satu dengan yang lain dalam dingin pagi yang menggigit. Kucium telingamu yang dingin. Kukulum bibirmu yang kering karena dingin. Hhh...

Dan malam-malam kita akan berada di satu tempat ke tempat lain. Menikmati konser musik klasik, nonton pameran lukisan, pentas teater, diskusi film.

Cantik benar. Memang mimpi selalu indah, cantik. Tetapi begitu tersadar, mimpi ternyata cuma sebagai mimpi. Aku tetap tinggal di sini, dengan keseharianku. Tanpa kau yang masih di negrimu sana dan mungkin memang menunggu hari untuk bisa berdua. Dengan aku. Ehm.

Aku mencintaimu, suamiku. Hari yang akan mengantarku menggapaimu merambat begitu pelan. Bahkan mungkin tak pernah beranjak juga dari tempatnya yang dulu. Sementara kita mati-matian mendayungnya, mengubah arah layar karena tahu angin berubah arah. Tetapi, tak ada yang kita lakukan dengan karang yang mengunci rapat kapal kita.

Tak ada. Tak ada yang akan berubah. Sebelum kapal yang akan kita labuhkan terbebas dari karang yang mengandaskan mimpi ini. Tetapi, tak ada satu dari kita yang mau melepaskan diri. Kita hanya berharap ada angin kencang bertiup, lalu kapal terbawa dan terlepas dengan sendirinya. Sekalipun kita sama tahu itu hampir mustahil terjadi kita masih saja menunggui. Sambil mengubah-ubah layar, mendayung di daratan, dan menghitung waktu yang berjalan.

Sampai kapan? Mungkin sampai kita bosan. Sampai kita kelelahan. Sampai ada hal lain yang lebih menarik dilakukan, lebih menantang. Sampai... yang tak akan pernah sampai.
’’Karena profil dia obsesimu...!’’

Selalu muncul kalimat itu jika aku lamunkan kau. Lamunkan kenapa bisa jadi separah dan sedalam ini yang kurasai. Kalimat d’Eta, perempuan temanku yang sosoknya sering mengilhamiku itu, barangkali memang menjadi jawab dari banyak pertanyaanku. Tetapi tak cukup. Tidak dengan sendirinya aku berhenti berpikir, bertanya, tentang apakah yang tengah terjadi. Apa yang kita lakukan ini.

Suami. Isteri. Kita nikahkan diri. Kita berakad dengan cara kita sendiri. Dan kita merasai sebagai suami-isteri. Kau suamiku, aku isterimu. Tetap. Dalam khayal kita. Dalam angan kita. Dalam mimpi kita. Sementara kita tetap begini. Tak ada kau di sampingku, tak ada aku di sampingmu. Pernikahan yang hanya untuk memuaskan mimpi kita. Pernikahan yang hanya menghibur mimpi agar terus tersenyum dan mendatangi kita. Menebar bunga-bunga, menguarkan aroma yang membuat kita mabuk di dalamnya. Lalu, tak sadarkan diri.

Ketika siuman, kita dapati masing-masing tetap begini. Memendam mimpi. Sampai akhirnya........ mati. []

cerpen peduli okt 2007

Beragam Produk dari Tawon

Tawon, ternyata tidak hanya meghasilkan madu. Sengatnya pun bermanfaat untuk terapi berbagai keluhan, terutama keluhan/penyakit yang tidak mempan diobati secara medis. TS Gunawan yang merintis Peternakan Lebah Rimba Raya menjelaskan secara gamblang satu per satu produk yang didapat daripeternakannya.

MADU. Siapa tak kenal madu? Madu sangat baik bagi kesehatan. Anda kenal pula istilah STMJ kan? Ialah singkatan dari jenis minuman ’kesehatan’: Susu, Telor, Madu, Jahe. Madu bisa dan biasa disukai orang tua, anak-anak, laki, perempuan. Ada kalanya orang tak suka minum ini, minum itu, makan ini, makan itu, tetapi siapa tak doyan madu? Kalau ada yang tidak disukai [perempuan] itu adalah dimadu. O, itu madu yang dihasilkan oleh poligami, bukan madu lebah.

ROYAL JELLY. Tentang royal jelly, TS Gunawan bertutur, ’’Royal jelly adalah cairan/susu yang disuapkan tawon pekerja kepada Sang Ratu [istilah untuk indukan lebah].

Tawon Ratu itu hanya ada seekor di dalam setiap koloni. Ialah yang menghasilkan larva yang kemudian tumbuh menjadi lebah pekerja [pencari madu]. Termasuk menghasilkan penggantinya, menjelang saatnya ia mati. Keistimewaan tawon ratu, ia bisa berumur sampai 4 – 6 tahun. Padahal, menurut TS Gunawan, usia maksimal tawon pekerja berkisar 40 hari. Ternyata sangat pendek ya, usia seekor tawon itu? Hebatnya, di dalam usianya yang pendek itu mereka tak pernah berhenti melakukan kebaikan, mengumpulkan madu untuk dirinya, keluarga besarnya, dan bahkan untuk bangsa manusia.

Bagaimana tawon ratu dipersiapkan? Apakah untuk menjadi ratu tawon harus melalui pemilihan umum? Tentu saja tidak. Untuk mempersiapkan bakal ratunya, para tawon pekerja menyuapi larva dengan royal jelly. Larva yang terus-menerus disuapi dengan royal jelly akan tumbuh menjadi individu yang berbeda dengan yang lain. Secara fisik ia juga lebih besar. Setelah dewasa [setelah jadi ratu] tugasnya hanya satu: bertelur. Lha, telur-telur itulah yang kemudian berkembang menjadi larva, dan kemudian menjadi tawon dewasa jika tak keburu di-bothok!

Lha, ini dia! Peduli lupa bertanya, di manakah raja tawon? Kok yang dikenal hanya ratunya saja? Eh, jangan-jangan semua tawon pekerja sekaligus adalah juga suami Sang Ratu. Jika benar begitu, berarti tawon itu mempraktikkan poliandri. Waladalah!

PROPOLIS. ’’Jika madu adalah ibarat nasi bagi tawon, maka propolis adalah jamunya,’’ demikian penjelasan Ts Gunawan. Karena itu propolis, masih menurut TS Gunawan, sangat efektif untuk mengobati penyakit-penyakit seperti: maag yang menahun, tukak lambung, tukak usus duabelas jari, dan lain-lain. Selain itu, baik juga untuk menyegah alergi. Maka produk propolis yang dihasilkan di Peternakan Lebah Rimba Raya ini juga dipisahkan antara Propolis Infeksi dan Propolis Alergi.

BEE POLLEN. Adalah serbuk sari bunga jantan yang dikumpulkan oleh lebah, dibawa dengan kantong yang ada pada kaki mereka. Bee Pollen sangat bermanfaat untuk meningkatkan fungsi hati, jantung, dan pencernaan. Baik juga untuk mengatasi gangguan lambung, diabetes, insomnia, dan menyegah pendarahan otak, dan lain-lain. Jika madu ibarat nasi dan propolis ibarat jamu, menurut TS Gunawan, bee pollen adalah lauk-pauk bagi tawon.

MADU SUSU RATU. Ini adalah produk unggulan yang merupakan paduan antara madu, royal jelly [susu ratu]. Juga sangat bagus untuk penyembuhan berbagai alergi dan infeksi. Rasanya lebih segar dan lebih enak.

SENGAT. Walau mengandung racun yang bisa menyebabkan bengkak, sengat tawon tidak mematikan. Bahkan dengan cara tertentu [menyengatkannya di titik-titik akupunktur] sengat lebah bisa dimanfaatkan untuk mengobati berbagai penyakit. Cara kerjanya, efek sengat pada titik-titik akupunktur itu akan membuka kembali syaraf-syaraf yang terjepit. TS Gunawan mengaku tidak membuka praktik terapi dengan sengat lebah ini, tetapi jika ada orang datang memerlukan pertolongan ia akan siap membantu.

LARVA. Larva lebah banyak mengandung protein. Paling cocok diolah dengan cara di-bothok [diberi bumbu tertentu, lalu dibungkus dengan daun pisang dan dikukus]. Sebelum wawancara, Peduli terlebih dulu menjajal seberapa enak makan dengan lauk bothok tawon. Wouw! Memang enaaaakkkk!

LILIN. Sarang lebah bisa dijadikan bahan untuk pembuatan lilin. Orang Jawa memakai istilah ’malam’ atau ’keplak’ untuk menyebut lilin dari sarang lebah ini. Lilin dari sarang lebah ini juga punya segudang keunggulan dibandingkan dengan lilin yang dibuat dari bahan lain. [PUR]