Sabtu, 24 November 2012

Karindo (Karya Srikandi Indonesia) Wadah Baru untuk Kegiatan dan Kreativitas BMI-HK


Telah lahir satu lagi kelompok BMI kreatif di HK, yang tidak hanya peduli pada pengembangan diri mereka masing-masing, tetapi juga bertekad untuk berbagi. Mereka sepakat menamakan kelompok ini: Karindo, singkatan dari Karya Srikandi Indonesia. Anda boleh menengok grup-nya di Facebook: Galeri Karindo (Karya Srikandi Indonesia) dan mendatangi serta langsung menyaksikan aktivitas mereka di hari libur (Minggu) di belakang Perpus Causeway Bay. Inilah nama-nama serta pernyataan langsung 10 orang penggagas Karindo, yang berasal dari berbagai daerah (Jawa Tengah dan Jawa Timur):

[1] Gendis Kinasih (Blitar, Jawa Timur)
”Harapan saya, semoga ke depannya Karindo bisa mencetak srikandi-srikandi yang perkasa, penuh semangat memajukan diri untuk berbagi dengan yang lain, baik ketika masih di HK maupun setelah kembali ke Indonesia. Salam Srikandi Indonesia!”

[2] Aqua Gilr (Ponorogo, Jawa Timur)
”Karindo adalah tempat yang nyaman untuk berkumpul karena di markas Karindo terbilang bebas, tak ada ikatan apa pun, sejauh saling menjaga untuk tidak keluar dari batas-batas sopan-santun. Yang berkumpul di Karindo sudah pasti akan mendapatkan pngalaman dan keahlian, karena Karindo menyediakan banyak pelatihan ketrampilan. Harapan saya, semoga dengan adanya Karindo ini, teman-teman yang semula kebingungan mencari tempat singgah saat berlibur, sekarag memiliki tempat untuk singgah dan berkumpul, juga untuk menambah ilmu/pengalaman. Dan semoga untuk ke depanya Karindo semakin tumbuh dan berkembang sebagai wadah bagi BMI (khususnya yang ada di HK) dalam berkarya dan mengeksplorasi bakat yangg terpendam, sehingga bisa membawa perubahan yang lebih baik. Selain ikut pelatihan ketrampilan yang ada di Karindo semua anggota bebas menujukkan karya dan keahlianya. Bagi yang punya akun facebook silakan bergabung ke Grup GALERI KARINDO. Untuk teman-teman yang belum punya akun facebook, silakan datang langsung ke markas Karindo di belakang Perpus Causeway Bay. Dari Karindo, semoga akan lahir BMI yang lembut, berani, dan berprestasi.”

[3] Winnie Larasati (Wonogiri, Jawa Tengah)
”Dunia kuliner adalah hobi dan harapanku. Treus berkarya untuk mampu mandiri di negri sendri. Harapanku terhadap Karindo: tetap eksis dengan misinya yaitu dari BMI untuk BMI.... sematkan semangat Srikandi Indonesia...! Ayo belajar, berkreasi dan berkarya selagi masih ada waktu dan kesempatan sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Karindo merupakan wahana buat mengekspresikan karya cipta para BMI..”

[4] Annie Pur Annie (Tulungagung, Jawa Timur)
”Harapan saya, semoga ke depan Karindo lebih mantep, guyup-rukun, membawa rizki yang barokah bagi semua anggota, menjadi wadah, tempat yang nyaman, saling menjaga diri, menghormati sesama anggota, menjadi tempat untuk menyalurkan bakat, berkreasi, berkarya, dan berbagi ilmu dan semoga berlanjut sampai nanti di tanah air tetap terjalin silaturahi antarsesama anggota dan masih berlanjut hubungan kerjanya, walau berbeda daerah. Alhamdulillah, seneng bisa bergabung di Karindo, disini saya dipercaya sebagai pembina pembuatan kreasi Bros, peniti dari bahan manik-manik kpda temen BMI lain, semoga bermanfaat dan berguna. Di KARINDO ini merupakan tempat untuk berbagi berbagai ilmu, baik kerjinan tangan, masak, perpus kecil, juga dasar-dasar operasional kompter, serta butik dan masih banyak lagi yang lain.”

[5] Cinta Timur (Tulungagung, Jawa Timur)
”Berawal dari kepedulian terhadap sesama lahirlah Karindo, suatu wadah untuk para anggotanya mengekspresika karyanya, sekaligus menjadi arena kecil untuk persiapan terjun di masyarakat sebagai purna TKI yang sukses. Sukses yang saya maksudkan bukan hanya dalam hal materi, melainkan lebih dari sisi dalam bersosial memilih komunitas positif, mengingat Hong Kong adalah negara bebas. Di sini saya diberi kepercayaan dalam penggelolaan perpustakaan. Harapan saya pada Karindo, semoga semua anggota benar-benar berkomitmen dalam kepedulian kepada sesama meski pergantian penggelolaan tidak dapat dihindari mengingat masa kontrak kerja yang ada masa akhirnya. Semoga Karindo terus berkembang pesat hingga ke tanah air melahirkan anggota-anggota yang berpribadi jempol sebagai anggota masyarakat maupun ibu anak-anak dari kami nantinya mengingat di sini rata-rata adalah kaum hawa. Tetapkan tekad dan komitmen sedini mungkin untuk meraih kemakmuran di rantau maupun di tanah air. Salam generasi hebat Srikandi Indonesia!”

[6] Leny Mariana (Madiun, Jawa Timur)
”Harapan ke depannya, Karindo menjadi wadah untuk kita saling berbagi, saling mengembangkann diri. Semoga saat kita pulang kampung nati kita bisa jadi ibu-ibu yang produktif, kreatif dan berpenghasilan tanpa keluar dari rumah. Semoga kiprah Karindo tak berhenti sampai di sini. Semoga kita nanti bisa menjadi wadah kita, para mantan BMI nanti, untuk makmur bersama dengan memulai langkah dari trampil bersama, dan nantinya mampu merebut pasar bersama-sama pula. Salam para srikandi hebat...!”

[7] Ena Elcinoer (Banyumas, Jawa Tengah)
”Jujur kuakui, bahwa aku tidak punya keahlian yang menarik. Apa lagi yang pantas dibanggakan. Saya hanya bisa mengenyam sampai bangku SLTA saja, tepatnya SMK YPE Sumpiuh, Jurusan Manajemen Bisnis, Ketika lulus dan dapat panggilan untk melanjutkan kejenjang lebih tinggi. Namun, apa daya, tiada dana, xixi... Kemudian saya melanjutkan ke sekolah kehidupan di Brunai Darussalam (3 tahun: 2001 – 2004), sebagai kasir dikedai runcit. Karena minat saya di marketing dan jual beli , maka saya memilih bekerja di Brunai. Tahun 2009, saya kembali melanjutkan ke universitas kehidupan di HK. Ditahun pertama dan kedua, libur saya hanya duduk, jalan ke sana-kemari tanpa kegiatan. Tetapi, Tuhan memang adil, saya dipertemukan dengan sahabat-sahabat srikandi yang berbudi, berhati mutiara, dan berjiwa kreatif yang tinggi. Sungguh bangga, saya bisa di antara sahabat-sahabat Karindo, yang meskipun saya tidak punya keahlian seperti yang lain. Ke depannya, saya berharap, Karindo makin maju & lebih baik dari sekarang. Makin bertambah sahabat Karindo yang bergabung dan berkreasi. Saya juga berharap, Karindo mampu mengembangkan lagi kegiatan yang bermanfaat untuk sesama. Jujur, saya ingin sekali tetap bersosialisasi meskipun hanya sekedar memungut sampah di sekitar kita. Sesuai dengan misi Karindo sebagai wadah dari berbagai keahlian, tentunya bertujuan juga dalam berusaha/dagang. Itu memang kembali ke individu masing-masing. Dan berharap, kebersamaan yang terjalin tidak hanya saat ini, tetapi sebisa mungkin sampai kita kembali ke negeri sendiri. Insya-Allah saya kan tetap berkomunikasi dengan sahabat semua. Meskipun sebentar lagi saya akan melepas jabatan saya sebagai kungyan. So, tetap optimis, kreatif, dan semangat selalu para srikandiku. Kayauuu…!”

[8] Sumiati Ajah (Tulungagung, Jawa Timur)
Semoga ke depannya Karindo bisa membawa BMI menuju kemandirian di rantau dan sukses di negeri sendiri. Himbuan saya: Galang persatuan dan kerukunan untuk sesamanya. Empati diri!”

[9] Kharisma Paramitha (Magetan, Jawa Timur)
”Semoga Karindo ke depannya bisa kokoh berdiri dan berkembang sebagai wadah saling berbagi ilmu ketrampilan sekaligus mengasah bakat-bakat/hobi terpendam dengan ide-ide karya kreativitas baru. Sehingga tetap eksis dengan semangat generasi srikandi-srikandi modern yang telaten, mandiri, dan berpotensi. Dan mudah-mudahan juga Karindo konsisten & komitmen dengan slogannya: KAMI DARI BMI UNTUK BMI BERSAMA MEMBENTUK INSAN YANG BERJIWA KREATIF DEMI KEMAJUAN BERSAMA."

[10] Flo Sansiviera (Blitar, Jawa Timur)
”Semoga KARINDO bisa selalu mengepakkan sayapnya, membuktikan slogannya dari BMI untuk BMItanpa tendensi. Bagi saya, kebersamaan setelah di Indonesia, itu yang utama. Kayao!”


Kontak Person:

Winnie Larasati: 59891866
Gendis Kinasih: 96048287
Aqua Girl: 62166833
Leny Mariana: 69925767
Kharisma Paramitha: 61556432
Ena Elcinoer: 54443459
Cinta Timur: 94080928
Sumiati Ajah: 62127075
Flo Sansiviera: 94445945
Annie Pur: 94161800

Tustianti Tularkan Ketrampilannya

Di-Pelabuhan-Cheng-Chau-Anty-berpacu-dengan-waktu

Masih terbilang muda, perempuan yang satu ini sudah punya cukup banyak pengalaman bekerja di negara lain. Anty, demikian sapaan akrap Tustianti, yang kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah 19980 ini sudah merantau sejak 1997. Ia bekerja di Singapura (1997-1999), lalu di Taiwan (2001-2004), dan kemudian di Hong Kong (HK). Sempat gagal menyelesaikan kontrak kerjanya di Hong Kong, lalu kembali lagi ke Taiwan (2005-2007), dan kemudiaan kembali ke HK 2008 hingga sekarang.

Untuk mengisi hari liburnya di HK, Anty belajar di ISS (International Social Servis) yang berada di Wan Chai. Di sini dia belajar bahasa Inggris. Selesai belajar di ISS, ketika belibur bersama teman-teman ia melihat ada pelatihan bikin tas dari tali kor oleh BMI bernama Mbak Ning, dan dia tertarik untuk mencoba ikut belajar bikin tas tersebut. Ia benar-benar menyukai bidang kerajinan ini, sehingga dia mulai berinisiatif sendiri untuk menciptakan model-model anyaman tas yang baru.

Selain bikin tas dari tali kor dia pun pintar bikin tas dengan cara merajut.
”Dulu saya belajar bikin tas rajut dari Mbak Lusi Rose, tetapi hanya belajar sdikit, selebihnya saya pelajari lewat buku panduan merajut syal dan baju, tetapi bahan yang saya gunakan bukan benang rajut atau benang wol, melainkan semacam tali kor, hanya ukurannya yang lebih kecil,” tuturnya.

Keahliannya bikin tas tidak terbatas pada tas berbahan tali, melainkan ia juga trampil membuat tas dari plastik bekas bungkus kopi, bungkus mie, atau bungkus snack.

”Iya Mbak, karena saya ingin memanfaatkan sesuatu yang tak berguna seperti sampah sehingga menjadi barang berharga,” terangnya.

Di HK, Anty tinggal di daerah Cheung Chau, sbuah pulau kecil yang menyimpan keindahan pantai dan panorama alamnya. Banyak turis berkunjung ke Cheung Chau. Jika mau ke sana, kita bisa naik perahu dari pelabuhan Central menuju Cheung Chau dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

Anty memang ramah dan senang membantu, bahkan menjadi semacam pemandu wisata pula sewaktu saya berkunjung ke Cheung Chau. Diantarkannya saya berkeliling Cheung Chau, dan saya pun tahu bahwa nama Anty cukup familiar di pulau kecil ini. Banyak pemilik toko menyapanya ketika kami melintas. Ternyata mereka pernah memesan tas berbahan tali kor buatan Anty.

Selain menerima pesanan tas tali kor dan tas rajut, Anty juga membagikan ilmunya ke tmn-teman sesama BMI. Dia memberi pelatihan di sekitar rumah tempatnya bekerja di Cheung Chau, juga di luar Cheung Chau, yaitu di Wan Chai, tepatnya di atas pasar Wan Chai. Bagaimana dia membagi waktu?

”Untuk teman-teman yang di Cheung Chau biasanya saya mengajarinya tiap hari sewaktu saya dan mereka berbelanja ke pasar. Mereka sudah menunggu saya di taman dekat rumah, dan itu tidak lama karena waktu belanja kan sudah dibatasi majikan. Saya hanya kasih tahu kuncinya dan cara menganyamnya. Selebihnya saya suruh mereka mengerjakan di rumah, biar mereka belanjanya tak kelamaan,” jelasnya.

Nah, pada hari Minggu, dia mengajari teman-teman yang ada di Wan Chai. Ketika dari Cheung Chau saya bareng dia ke Wan Chai, sungguh saya nyaris pingsan karena jauhnya perjalanan. Dari pelabuhan Cheung Chau menuju pelabuhan Central, stelah itu jalan kaki skitar 20 menit menuju MTR Central, lalu naik MTR menuju Causeway Bay. Dari MTR Causeway Bay masih harus berjalan kaki sekitar 20 menit lagi untuk sampai di Pasar Wan Chai.

Mengapa Anty tidak naik bus saja dari Central ke Wan Chai?

”Aduh, kalau saya naik bus, berarti ongkosnya tambah lagi, sedang saya ngajari teman-teman tidak mematok ongkos tinggi. Kasihan nanti teman-teman ikut terbebani,” demikian katanya. Malahan, Anty menggratiskan ongkos pelatihan untuk membuat tas berbahan plastik bekas. Biasanya, mereka yang berlatih pun masing-masing sudah membawa bahannya.

”Insya-Allah, saya ingin mengajak orang-orang di desa saya untuk berkreasi, sehingga mereka bisa menambah pendapatan keluarga, sekaligus memanfaatkan waktu luang. Saya akan tetap membagikan ilmu saya ke semua orang,” ungkapnya mengenai keinginannya setelah kembali ke tanahair kelak. Ia juga ingin mengajak tetangga-tetangganya di Indonesia untuk mengelola sampah.

Sungguh, semangat kedermawanan seperti dimiliki Anty inilah yang akan mengubah dunia menjadi lebih atau semakin baik. [aqua gilr]

Menangkap Peluang di Sekitar Kopi



Kita tahu bahwa kopi adalah komoditas dunia. Bahkan, boleh dikata, dahulu Belanda jauh-jauh datang ke Indonesia juga karena mencari rempah-rempah, dan juga kopi. Hingga kini pun Indonesia masih tercatat di peringkat ketiga pemasok kopi dunia setelah Brasil dan Vietnam. Seperti dilansir Okezone.com, dalam sebuah kesempatan di Nusa Dua, Bali, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Syarief Hasan mengatakan bahwa peluang (Indonesia, Red) untuk bisa menjadi produsen kopi nomor dua di dunia terbuka lebar (24/10/2012).

Prediksi Sang Menteri itu sangat beralasan jika kita melihat potensi yang ada, termasuk kemungkinan untuk terus menggenjot kapasitas produksi kopi luwak, yang merupakan jenis produk kopi termahal di antara berbagai ragam jenis/variasi kopi yang ada selama ini. Lahan kita sangat kondusif untuk intensifikasi maupun ekstensifikasi tanaman kopi. Luwak atau musang, kita juga punya semua jenis pemakan buah yang dapat dijadikan ibarat ”mesin giling” kopi segar. Bahkan, yang namanya binturung, jenis musang terbesar yang mampu menghasilkan kopi luwak (kotor) 10 kg per hari/malam, pun adalah binatang khas/endemik Indonesia (Sumatera).

Itu semua mempertontonkan peluang yang mesti kita baca. Keluarga BMI yang berdomisili di pedesaan, jika mau, sangat berpeluang menjadi produsen kopi luwak. Mestinya pula, ini adalah peluang kombinasi antara bertani (kopi) dan beternak (luwak) yang sangat prospektif, sangat menjanjikan. Kopi luwak itu nyaris seperti emas, mata uangnya dolar, lho! Bahkan, sebuah cafĂ© di sebuh mall di kawasan Malioboro, Yogyakarta, dan sangat mungkin juga di beberapa tempat lain, memasang tulisan tarif khusus untuk secangkir kopi luwak dengan ’$’ dan bukannya ’Rp’ –padahal Malioboro, Yogyakarta, itu masih berada di wilayah Republik Indonesia.

Apakah Anda masih kurang yakin mengenai prospek bisnis ini? Jika Anda sudah mulai tertarik, tidak usah keluar modal terlalu besar (menurut keyakinan Anda itu). Ini bisa dimulai dengan memelihara seekor atau dua ekor musang, sambil menanam pisang dan memelihara lele atau ayam, karena telor/daging ayam dan lele termasuk makanan yang sangat disukai luwak selain buah-buahan. Dengan demikian, setelah keluar tidak terlalu banyak biaya untuk pembuatan kandang luwak, Anda tidak akan banyak keluar biaya untuk perawatannya (biaya pakan), terutama pada saat-saat di luar musim panen kopi. Ketika musim kopi tiba, jatah pakan pun secara bisnis akan sangat berkurang, karena setelah siang hari diberi pakan selingan berupa buah pisang, pepaya, dan sekali atau dua kali dalam sepekan diberi ayam atau lele rebus, pakan utama musang adalah buah kopi segar yang masak pohon, yang sekaligus adalah bahan mentah untuk menghasilkan kopi luwak: komoditas andalan Anda.

Nah, semoga sekarang tidak ada lagi pertanyaan di benak Anda, yang kira-kira berbunyi begini, ”Nanti kalau sudah pulang ke Indonesia terus, saya ini mau buka usaha apa, ya?” Semoga!* [b]

Selamat Datang Musim Hujan



November itu bulan penting, karena di dalamnya ada Hari Pahlawan (tanggal 10). Mungkin juga ada yang penting lainnya, dalam skala internasional, lokal, maupun personal. Untuk yang terakhir itu, misalnya berkaitan dengan hari kelahiran, ulang tahun pernikahan, atau malahan hari ”tragedi putus cinta”. Glodhag! Di luar itu semua, betapa pun anda sedang berada di luar negri, alangkah baiknya jika tak lupa bahwa ini adalah saatnya pergantian musim (di tanah air): musim kemarau segera atau bahkan sudah berlalu, digantikan musim hujan.

Mengingat (musim) hujan janganlah hanya membayangkan ”sepanjang jalan kenangan” (ingat lagunya enggak?), tetapi ingatlah juga bahwa di awal musim penghujan –orang Jawa menyebutnya, ”mangsa tracap” adalah waktu yang paling tepat untuk menanam segala jenis tanaman, terutama di wilayah-wilayah yang sawahnya pun jenis tadah hujan. Coba teleponlah ke kampung halaman, bicarakanlah dengan orang rumah, tanaman apa saja yang masih bisa ditanam agar beberapa tahun ke depan dapat dipanen buah atau batangnya. Ini adalah proyek investasi juga, yang tidak pakai prosedur berbelit alias paling simpel di dunia.

Jika anda menanam sengon laut sekarang, 3 hingga 5 tahun mendatang anda sudah bisa memanen batangnya. Keluar uang beberapa ratus ribu rupiah untuk pembelian bibit dan ongkos tanamnya, misalnya, pasti tidak terlalu memberatkan, apalagi untuk berharap kelak bisa memanen puluhan juta rupiah! Agar bisa panen, anda harus menanam. Begitulah dalilnya. Atau, kita hanya akan terus mendengar ”durian runtuh” di kebun tetangga?

Banyak sekali pilihan jenis tanaman yang bisa ditanam, namun mesti disesuaikan pula dengan keadaan tanah yang akan ditanami. Tanaman mangga atau jeruk, misalnya, sangat bagus ditanam di satu tempat, tetapi kurang cocok di tempat lainnya. Dan menanam lebih banyak jenis tanaman tentu akan lebih baik. Dengan demikian, misalnya: pada musim mangga bisa panen mangga, pada musim durian bisa panen durian, pada musim petai juga panen petai, musim kopi panen kopi, dan seterusnya.

Khusus untuk tanaman yang dipanen batangnya, ketika batang sudah layak jual kita bisa memanennya kapan saja, dan semakin lama nilainya akan semakin bertambah seiring dengan pertumbuhannya.

Sekarang ini di desa-desa di Jawa Timur yang sering saya amati, orang-orang desa yang memiliki tanah pekarangan semakin banyak yang menanam pohon untuk dipanen batangnya, seperti sengon laut, jabon, jati emas. Ketika pohon-pohon itu layak jual, jadilah layaknya saldo dalam buku tabungan yang sewaktu-waktu bisa diuangkan. Maka, ketika perlu uang mendadak, selain bisa menjual binatang ternak juga bisa menjual pohon. Proses penjualan pun sangat gampang, tinggal pencet nomor telepon, calon pembeli akan segera datang dan ketika harganya cocok pemilik pohon pun tidak perlu menebang sendiri.

Buah-buahan pun bisa diunduh terlebih dahulu, atau dijual secara borongan ketika masih berada di pohonnya, jika si pemilik tidak mau bersusah-susah memetik. Gampang, bukan? Banyak hal akan menjadi gampang, dan lebih gampang lagi, bagi orang-orang yang suka menanam. Selamat datang musim hujan, selamat menanam!

BONARI NABONENAR