Kamis, 28 Februari 2008

PEREMPUAN TANPA KLITORIS


Eni Kusuma

’’Aku tak punya klitoris,’’ bisikku sambil mengamati kelaminku pada sebuah cermin kecil. Aku kecewa menemukan kenyataan ini. Kenyataan yang terjadi padaku. Apalagi aku akan menikah dalam waktu dekat ini. Kuhempaskan cermin kecilku ke ranjang. Sambil membetulkan celana dalamku, aku bangkit dan bergegas mandi.



[]

’’Apa?’’ mata kekasihku terbelalak.

Aku mengangguk, menjawab keterkejutannya. Aku katakan padanya tentang penemuanku. Dan kubilang juga latar belakang kenapa aku 'care' dengan klitoris. Artikel di sebuah media yang membahas klitoris itu telah mengusikku tadi pagi, sehingga aku perlu memeriksa klitorisku sendiri. Ternyata ku tak punya.

Aku sangat kecewa. Betapa tidak, klitoris adalah penis bagi perempuan. Penis kecil itu yang akan berperan untuk mendukung kepuasan seksual. Karena ujungnya dipenuhi banyak syaraf perasa yang akan membangkitkan gairah seksual pada perempuan.

Kupandangai wajah pria yang kucintai itu. Pria idolaku sekaligus guru pribadiku. Pria yang memenuhi mimpi-mimpiku setiap malam. Aku katakan padanya bahwa aku adalah korban dari mitos "sunat perempuan" yang sudah menjadi tradisi di masyarakat Jawa. Sebuah tradisi kuno yang dipicu oleh falsafah penjajah laki-laki zaman dulu tentang perempuan yang menganggap tugas melayani seks laki-laki tidak usah dibarengi dengan kenikmatan seksual bagi perempuan. Maka dipotonglah klitoris yang kecil itu sampai habis. Dan ini terjadi turun temurun. Kemudian menimpa padaku.
’’Jika begitu, bukan salahku kalau kamu tak merasakan kenikmatan di malam pertama kita nanti...’’

Aku terkesiap mendengar kata-katanya. Aku tak menyangka dia akan berkata seperti itu. Sungguh , aku hampir tak percaya jika kata-kata itu keluar dari mulut kekasih yang selama ini aku puja. Aku ingin sekali menelannya hidup-hidup dan aku biarkan dia berada dalam perutku.

Aku diam dan memasang wajah horor. Lebih angker dari cerita 'Anak Anda Setan?' yang diterbitkan oleh Tuyul Publishing.

Dia tertawa. Terbahak malah. Wajah hororku semakin kenceng. Setelah aku tetap tak bereaksi, dia salah tingkah dan.....
’’Maafkan aku, En.’’ ( En adalah nama panggilan dari Endah atau Endang...yang pasti bukan Eni )

Aku (Mungkin Endah atau Endang) tetap diam seratus kata.
’’Apakah sebuah klitoris sangat berarti bagimu?’’ tanyanya hati-hati.

Aku mengangguk.

’’Seberapa pentingkah?’’ tanyanya lagi.

’’Aku nanti tidak bisa merasakan kenikmatan seksual seumur hidupku, aku sudah kehilangan hak asasiku untuk itu.’’

Dia merangkulku. Mendekapku sambil berkata, ’’Aku akan buktikan padamu nanti jika kasih sayangku dan uangku lebih nikmat dari sekedar kepuasan seks bagimu.’’

Aku menangis.

’’Untuk apa cinta dan uangmu jika aku tak bisa orgasme?’’
Dia tersenyum arif.

’’Umh...adek manja....klitoris bukan satu-satunya organ yang bisa membuatmu terangsang untuk bisa menikmati kepuasan seks...masih ada yang laen...’’ kerlingnya.

’’Tapi...’’

’’Percayalah.’’

Entahlah. Aku tak tahu. Yang penting nanti jika aku memiliki anak perempuan tak akan aku biarkan siapapun memotong klitoris anakku. Pembaca, benarkah klitoris itu memiliki pengaruh penting untuk orgasme dalam hubungan seksual? []

Peduli 22 edisi Februari 2008

Senin, 25 Februari 2008

Seruling Asmara


Aku masih ingat dan haqul yakin bahwa tidak ada yang salah pada ingatanku, bahwa hari itu adalah hari Senin-Legi malam Selasa-Kliwon. Aku bukan panitia, tetapi menjadi salah seorang pengisi acara pagelaran seni di salah satu jurusan di Universitas 21 April pada waktu itu benar-benar membuatku sibuk sejak pagi. Aku hanya harus menyanyikan dua buah lagu, Jaka Lelur dan Minggat. Aku sibuk terutama bukan di fisik, tetapi di batin. Aku mesti tampil prima karena ini akan menjadi penampilan pertamaku di almamaterku (aku lulus dari Jurusan Sastra Indonesia Universitas Duapuluh Satu April dua tahun lalu).


Untunglah, akhirnya acara gladhi resik dari pukul tiga hingga empat sore berjalan lancar. Bahkan di luar dugaanku, aku merasa mendapatkan suntikan semangat yang luar biasa dahsyatnya. Kekuatan asmara? Itulah yang kurasakan bekerja di dalam jiwa-ragaku, jika terlalu mewah kalau aku menyebutnya sebagai kekuatan cinta.

Suara seruling itulah! Oh, suara serulingnya ataukah peniupnya? Entahlah. Yang pasti kurasa adalah, saat menyanyi, rasanya semua suara instrumen musik Campursari Tresnalaras hilang ditelan oleh suara seruling itu. Entah bagaimana aku harus menggambarkannya. Aku hanya merasakan bahwa hanya suara seruling itulah yang menuntunku menyanyi. Dengan suara seruling itulah suaraku, vokalku, jalin-menjalin, pilin-memilin, meniti anak tangga di udara, menuju awang-awang, menuju langit, mengangkasa, mendekati Kahyangan Batara Kama dan Dewi Ratih? Oh, betapa indahnya.

Pantaskah aku mengagumi diriku sendiri? Oh, tidak! Aku hanya mengalami –atau jangan-jangan hanya merasa mengalami— sebuah keharmonisan, paling tidak antara suaraku dengan suara seruling itu, yang terbangun sedemikian cepat. Nah, tapi apakah aku hanya jatuh hati pada seruling? Tentu tidak. Aku jatuh hati pada peniupnya. Pada orangnya. Dan tentu lebih dari sekedar kebetulan jika peniup seruling itu ialah laki-laki yang telah kukenal sejak aku menginjakkan kaki pertama kali di Universitas 21 April.

Ia adik kelasku. Namanya Turasmara. Entah, aku tak tahu dan tidak pernah menanyakannya, apa arti namanya itu. Mungkin aku lupa menanyakan makna di balik nama itu karena selalu terpesona oleh ketampanannya. Dulu memang begitu, tetapi sekarang, kehidupan telah cukup mengajariku, dan aku tidak gampang terpesona oleh ketampanan laki-laki. Dulu aku dibuatnya mabuk tak terobati, oleh ketampanannya. Ia tak pernah menerima cintaku, walau juga tidak terang-terangan menolak.

’’Kita bersahabat saja. Aku jadi seperti adikmu, kau jadi kakakku. Itu lebih dari cukup bagiku,’’ katanya.

Yang lebih menyakitkan hatiku, ia selalu bercerita dan bahkan curhat ke aku jika ada sesuatu yang menurutnya istimewa dalam hubungannya dengan kekasih-kekasihnya. Ia berganti pacar sampai empat atau lima kali dalam setahun. Kurang ajar, ya? Tetapi aku lebih kurang ajar lagi. Aku tetap saja menginginkannya, menginginkan cintanya, menginginkan tubuh, keringat, jerit, dan tawanya! Tetapi tak pernah mendapatkannya. Bahkan, ia tegas menolak ketika aku berusaha merenggut keperjakaannya secara kasar (Ah, apa iya ia masih perjaka? Mengakunya sih, begitu). Ia terlalu kukuh. Tetapi waktu itu aku menganggapnya terlalu angkuh.

’’Jangankan yang seperti ini, yang nyata begini,’’ katanya, ’’sedangkan di daalam mimpi pun aku tak pernah membiarkan keperjakaanku terenggut sebelum aku menikah dengan perempuan pilihanku.’’

’’Nah, pilihlah aku. Lalu kita menikah, ddan jika kau tetap tak bersedia menyerahkan keperjakaanmu, maka renggutlah keperawananku,’’ tantangku.

Tetapi ia hanya tertawa. Tetapi tampaknya gemas juga. Diraihnya bahuku, dipeluknya aku, lalu diciumlah keningku. Enak? Samasekali tidak! Nanggung!

Itu sekitar tiga tahun lalu, ketika ia masih aktif di organisasi pecinta alam. Tak pernah sekali pun kulihat ia bermain musik. Yang aku tahu selama itu, keseniannya ya olahraga itu. Paling banter seni beladiri, pencak silat.

Kini, ia tampil dengan wajahnya yang dulu, yang tampan. Yang sungguh mengejutkan adalah, sejak kapan ia belajar bermain seruling dan kemudian bergabung dengan grup campursari Tresnalaras itu?

Ah, jika saja bisa kembali sejenak ke masa lalu, tentu aku dapat mengoreksi kesalahanku.

Begitu lulus, membawa hati yang patah, lalu kubiarkan tubuhku terjatuh ke dalam pangkuan lelaki yang sesungguhnya tidak begitu menarik. Kaya sih kaya, tetapi jiwanya kering. Setiap hari yang ada di hati, otak, dan bahkan di kelopak matanya hanyalah angka-angka. Buktinya, ia selalu menyebut angka. Segala sesuatu diukur dengan angka. Sedangkan aku lebih suka mengukur segala sesuatu dengan nada.

Aku suka menyanyi. Sejak usia belasan tahun aku sudah suka menyanyi. Lagu apa saja, aliran musik apa saja yang sempat kupelajari. Aku tidak pilih-pilih lagu dan jenis musik pada awalnya, sampai akhirnya merasa lebih pas di campursari. Aku sadar terlalu jauh jalan menuju ibukota. Dulu belum ada AFI, belum ada Indonesian Idol. Maka kupikir, selayaknyalah jika kemudian aku memilih setia kepada campursari byang telah membawa, menerbangkanku ke negeri-negeri impian. Maksudku, negeri yang semula hanya bisa kuangankan di dalam lamunan: Singapura, China, Strali, Belanda. Sumpah setia yang nyaris kukhianati sendiri karena kekangan suamiku. Untunglah ada perempuan lain yang secara tidak langsung mempercepat proses pelepasan diriku dari kekangannya.

Aku bercerai dengan Mas Aryok. Baru tiga bulan yang lalu. Kami bertengkar sedemikian hebat, begitu secara tak sengaja kutemukan sisa kondom di saku celananya. Untungnya, kami belum punya anak.

Aku menyesal, mengapa serta-merta memutus hubungan --setidaknya hubungan persahabatan-- dengan Turasmara begitu aku lulus kuliah. Kini aku tahu, seharusnya sesekali aku mengontaknya. Setidaknya untuk menanyakan kabar terakhirnya, hingga aku tidak perlu terkejut ketika tiba-tiba sudah menemukannya sebagai seorang peniup seruling.

’’Kini aku mencintai seruling ini lebih dari apa pun juga,’’ katanya setelah menceritakan kisah cintanya yang ternyata tak kalah konyol dengan kisah cintaku.

’’Apakah itu nggak bisa diubah?’’ tanyaku.

’’Diubah bagaimana?’’

’’Sasarannya….’’

Lalu pembicaraan kami pun melantur tak karuan. Kami sama-sama senang, karena pagelaran seni itu telah sukses.

’’Ra…?’’

’’Apa?’’

’’Aku bosan menjadi manusia.’’

’’Haaa…?’’

’’Aku ingin menjadi sebuah seruling. Maukah kau meniupku?’’
Aabrakadabra! Dan jadilah aku sebuah seruling. Irama tiupan Turasmara benar-benar bagaikan menerbangkanku, membuatku melayang-layang di antara gemerlap bintang. Rembulan pun serasa hanya tinggal sejengkal dari ujung telunjukku.

Aku terus meliuk-liuk di antara serpih awan, menerjang rintik hujan. Inilah kenikmatan yang bertahun-tahun hanya dapat kuangankan. Sekarang menjadi kenyataan. Jemari Turasmara, tiupan lembutnya, sentuhan lidahnya, membuatku makin melambung, melayang-layang di awing-awang.

Lengking suara itu, oh, suaraku sendiri? Dan kini, kami telah menciptakan sebuah lagu baru: Kehidupan Baru. []



Catatan:
Minggat adalah judul lagu karya Sonny Josz
Jaka Lelur adalah judul lagu karya Ranto Edy Gudel

Minggu, 24 Februari 2008

CINTA TAK PERNAH MATI [1]

Oleh: Sugeng Wiyadi

PRAM, air hujan berjatuhan di atap rumah ketika gagang telepon aku letakkan pada tempatnya. Mendung pun luruh di malam sepi. Di ruang tengah ini aku menikmati kekosongan seorang diri. Kepada siapa aku mesti membagi dukaku ini, Pram? Kepada Mama, Papa, atau Jie, suamiku? Mereka tak ada. Mereka sudah pergi ke alam keabadian. Kau masih ingat peristiwa tragis yang menimpaku beberapa tahun yang lalu bukan?



Waktu itu kami pergi tamasya ke Bromo. Kabut tebal menghadang kami di tengah perjalanan. Tapi Jie—yang belum paham liku-liku jalanan—terlalu berani mengemudikan mobil. Dan kami semua harus membayar mahal kecerobohan Jie. Mobil kami ambyur ke dalam jurang. Mama, Papa, dan Jie meninggal seketika di tempat kejadian. Sedangkan aku? Ah, aku masih harus merasa beruntung dengan keadaanku yang sekarang.

Pram, aku sangat kaget ketika menerima interlokal dari Yudhis—teman kita dari Yogya. Rasanya aku tak percaya bahwa begitu singkat perjalanan sejarahmu. Rasanya kita belum begitu lama berpisah. Ternyata dua puluh tahun sudah kita dipisahkan oleh waktu, jarak, dan keadaan. Dan kini—ketika aku merasa sepi melewati hidup seorang diri—aku mesti kehilangan lagi seseorang yang pernah begitu dekat dengan diriku.

Lalu, kepada siapa aku mesti membagi dukaku, Pram? Kepada anak-anakku? Ah, Pram, aku tak punya anak. Perkawinanku dengan Jie terbilang begitu singkat. Lalu, haruskah aku membagi dukaku pada Mooi—herderku yang kini mulai kolokan, kurus, dan sakit-sakitan itu? Atau kepada Bik Sumi, pembantuku yang sangat setia itu?

Rasanya tak mungkin.

Tiba-tiba saja aku mendapat pembenaran atas mimpiku beberapa hari yang lalu. Dalam tidurku, aku seolah-olah melihat matahari padam dan rembulan pecah berserakan. Adapun maknanya ialah: setelah orang-orang yang kukasihi pergi meninggalkan aku, pada gilirannya kau pun membiarkan aku sendirian. Mungkinkah mimpi itu sengaja kau kirimkan sebagai perlambang untukku, Pram?

Di tengah sepi malam dalam renyai hujan, kunikmati duka-nestapa ini sambil mengenangmu. Mengenang profilmu, pribadimu, sifat romantismu—yang pernah sengaja kulupakan selama bertahun-tahun. Barangkali untuk dapat menemukan kembali dirimu secara utuh adalah suatu kesia-siaan. Tapi tak apa. Aku berharap dengan begitu aku masih dapat menebus kesalahan dan dosa-dosaku kepadamu. Dengan begitu kau dapat memaafkan aku. [bersambung]

CINTA TAK PERNAH MATI [2]

Cerpen Sugeng Wiyadi

Masih kuingat roman mukamu yang lembut dan tenang. Masih kuhafal senyum di bibirmu yang senantiasa kau lepaskan bagi siapa saja yang kau kenal. Tapi belakangan, saat kita menyusuri Kaliurang yang tenang, aku menangkap perubahan drastis. Bola matamu tak lagi pijar. Ada kabut tipis menyaput bola matamu.



’’Kau kenapa, Pram?’’ aku bertanya.

Kau memandangku beberapa jurus tanpa kata.

’’Sejak kapan kau tak lagi suka jujur kepadaku?’’

Kau menarik napas berat.

’’Pram, kenapa kau bungkam? Apakah diriku sudah tak punya arti lagi arti bagimu?’’

Kudengar kau melenguh panjang. Ketika bibirmu berucap, yang kudengar kata-kata bernada murung, ’’Mei Hwa, akhirnya aku tahu. Kita tak mungkin bersatu. Aku tak bakal memilikimu sutuhnya.’’

’’Itu tidak benar, Pram! Kau jangan mengigau!’’

’’Justru kau yang mengigau, Mei Hwa!’’

Aku mencoba menyakinkanmu, tapi kau tetap tidak percaya.
Pada suatu malam, kita duduk di pelataran rumah kos. Rembulan jingga melanglang di langit tinggi. Bintang-gemintang bertebaran dan dedaunan gemerisik ramah oleh angin yang bertiup lirih.Tapi aku melihat lagi rona gelisih di raut wajahmu.

Kau diam tanpa kata. Ketika mulutmu bergerak, yang kudengar justru sepotong sajak Chairil Anwar yang selama ini kuketahui tak kau sukai: Hidup hanya menunda kekalahan/ tambah terasing dari cinta sekolah rendah/ dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan/ sebelum akhirnya kita menyerah.

Aku terbahak. Dan kau memandangku sekilas lantas berpaling. Ada sinar ungu sempat kutangkap membias lepas dari sudut matamu. Dan itu membuat tawaku makin panjang.

’’Mei Hwa, aku tak suka kau tertawa begitu,’’ ujarmu.

’’Kamu lucu, Pram. Sungguh lucu,’’ aku tak mampu menghentikan tawaku.

’’Aku bukan pelawak, Mei Hwa!’’

’’Aku tahu. Tapi malam ini kau lucu sekali, Pram!’’

Kau menatapku lurus-lurus.

’’Pram, belakangan ini kegelisahan hatimu begitu kentara. Seolah-olah tanpa akhir. Padahal itu bukan watakmu. Kau adalah manusia optimistis. Sekarang, kau berubah sentimentil.’’

Kau diam saja.

’’Kau pernah mengecam keputuasaan Chairil Anwar yang kau tangkap lewat salah satu puisinya. Dan, malam ini kau justru mengucapkannya. Lucu sekali, kan?’’

Kau menarik napas berat. Kemudian berucap pelan, ’’Mei Hwa, aku memang seperti Chairil. Aku memang merasa putus asa....’’

’’Tidak, Pram! Meskipun kau juga penyair, tapi aku tidak setuju kau menyamakan dirimu dengan Chairil,’’ aku protes. ’’Aku menghargai keputusasaan Chairil saat terbaring sakit menjemput maut. Tapi kau? Kau sehat, Pram!’’

’’Bahwa aku bukan Chairil, semua orang tahu. Bahwa fisikku sehat, itu tidak keliru. Tapi jiwaku sakit, Mei Hwa. Kegelisahanku adalah penyakit jiwaku. Kegelisahan itu sangat manusiawi dan bukan monopoli mereka yang sekarat saja.’’

’’Begitu beratkah beban jiwamu, sehingga kau mendramatisir di hadapanku?’’

’’Jujur saja: ya.’’

’’Karean kau khawatir tak dapat memiliki aku seutuhnya?’’

’’Benar.’’

’’Kau kayak tukang ramal saja, Pram!’’

’’Kamu berhak menertawakanku, Mei Hwa.Tapi waktu yang akan membuktikan kebenaran kata-kataku.’’ [bersambung]

CINTA TAK PERNAH MATI [3]

Cerpen Sugeng Wiyadi

Pertemuan kita pada malam itu merupakan pertemuan terakhir. Setelah studiku selesai, aku pulang ke Solo tanpa pamit padamu. Dan kau pun tak lagi suka mengunjungiku. Kuakui, Pram, perasaanmu memang sensitif. Kau tak mungkin memiliki aku seutuhnya. Kita tak mungkin hidup bersama. Sebab ketika itu aku sudah bertunangan dengan Jie Son Lie—jauh sebelum aku mengenalmu. Dan itulah kesalahan padamu.



Mengapa aku membuka jendela hatiku ketika kau menyatakan cintamu? Kenapa aku tak berterus terang kepadamu? Hanya karena aku mengagumimu sebagai seorang penyair. Di Senisono kita bertemu kali pertama dan berkenalan. Dari Senisono kita berjalan-jalan menyusuri Malioboro. Dari Malioboro kita menapaki jalanan sepi Kaliurang. Di Kaliurang kuserahkan seluruh cintaku kepadamu.

Toh pada akhirnya aku pun kawin dengan Jie Son Lie. Aku lupakan dirimu dalam kebahagiaan pengantin baru. Tapi, belum lagi lahir anak-anakku, terjadilah malapetaka itu. Mama, Papa, dan Jie, meninggal dalam kecelakaan di Bromo. Dunia seakan runtuh menimpaku. Aku kehilangan orang-orang yang mencintai dan mengasihiku.

Pram, dalam kekosongan malam di tengah renyai hujan, biarkan aku mengenangmu. Biarkan kunikmati perasaan bersalahku kepadamu. Baru saja kuterima interlokal dari Yudhis yang mengabarkan kematianmu di rumah sakit karena paru-parumu pecah oleh baksil ganas. Setelah dengan susah payah kau sebut namaku berkali-kali.

Pram, maafkan aku. Aku tidak mungkin turut mengantarmu ke tempat peristirahatan yang terakhir. Aku tak dapat menaburkan melati putih kesukaanmu di atas pusaramu. Aku hanya dapat mengenangmu sambil berdoa agar kau mendapat ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan di alam keabadian.

Oya, Pram, cinta sejati tak pernah mati. Begitu pun cintaku padamu. Maka, janganlah kau sedih karena aku tak bisa turut melepasmu ke pekuruburan. Kau tahu, Pram? Kecelakaan di Bromo beberapa tahun yang lalu itu telah merampas kedua kakiku. Aku hanya dapat duduk di atas kursi roda menunggu ajalku tiba.[*]

Surabaya, Oktober 2006

Lina Si Ratu Holiday


Cerpen: Ayu Andini

Riri baru saja pulang dari Taiwan 1 minggu lalu dan harus segera ke Kendal untuk mengantarkan titipan sahabatnya untuk orang tuanya. Riri berusaha menjalankan amanah dari sahabatnya itu, mengantar 2 dos besar dan 1 amplop tebal, entah apa isinya. Ia menempuh perjalanan Madiun – Semarang – Kendal. Desa Weleri, itulah alamat orangtua temannya.



Riri berkali-kali minta maaf dengan santunnya kepada ibu renta itu, karena terbilang lambat mengantarkan titipan itu.

Ibu Sukesi, demikianlah namanya, hanya menangis sesenggukan. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Riri hanya menyoba untuk menunggu kalimat yang akan keluar dari ibu tua itu.

’’Dia jarang nelpon dan tidak pernah kirim uang ke rumah, Ndhuk.’’

Lina sudah sering keluar negri. Ia suka bercerita bahwa pernah ke Malaysia, Arab dan kemudian Taiwan. Di Taiwan, ia sudah memasuki tahun ke-3 nya. Itungan matematisnya, dia sudah pasti punya banyak tabungan dan sudah bisa dibanggakan orangtuanya. Tetapi, demi melihat keadaan rumah yang jauh dari kata mewah dan juga kursi tua di ruang tamu itu, sepertinya ibu ini tidak tengah membohongi Riri.

Riri hanya diam membisu. Tangis Bu Sukesi masih belum reda. Riri menyoba menghiburnya, ’’Mungkin ada di dalam surat ini, Bu, silahkan, ini dari Lina juga,’’ Riri menyerahkan amplop tebal coklat ke tangan Bu Sukesi, sambil berharap, semoga isinya uang, sehingga Riri akan bisa melihat raut bahagia dari perempuan di depannya.

Setelah di buka, Riri hanya melihat foto-foto Lina di seberang sana, foto dengan rambut dan gaya aneh-aneh, yang seharusnya disembunyikan. Karena itu bukanlah gambar kesuksesannya, melainkan gambar kegagalannya.

Dan setelah kotak itu dibuka pun, isinya hanyalah baju baju tanpa lengan, yang mirip baju kekecilan untuk ukuran Bu Sukesi, dan sudah pasti tidak pantas dipakai oleh wanita setua itu. Seksi banget, sih!

Riri melihat jelas kekecewaan di mata Bu Sukesi. Tidak ada dollar Taiwan di amplop itu, tidak ada barang berharga di kardus itu. Bu Sukesi ke dapur meninggalkan Riri yang teringat kembali akan sahabatnya yang masih di Taiwan.

’’Bu RT, kalau bisa setelah anter anakmu, mampir ya?’’

’’Hei Lina.. ngapain? HP-mu error lagi ya? Selain dewasa, Riri juga jago bahasa Inggris, sehingga selalu diandalkan oleh teman-temannya untuk menghubungi operator selular dan memperbaiki HP yang error, sehingga Lina lebih sering memanggilnya Riri dengan sebutan ’’Bu RT.’’

Pagi itu Lina menelepon, meminta Riri mampir ke rumah majikannnya. Lina memang sangat beruntung dengan pekerjaannya. Dia hanya menjaga 1 nenek jompo dengan keluarga yang sangat menyayanginya dan menganggapnya sebagai anak sendiri. Juga kesempatan berlibur di setiap hari Minggu yang membuatnya mempunyai banyak teman. HP juga selalu yang terbaru dan rasanya tidak pernah kekurangan uang. Malah sesekali Riri ngutang pulsa ke Lina, ketika kangennya sama anaknya di kampung halaman tidak terbendung dan pulsa HP-nya tidak ada.

Riri mengantar anak majikannya lebih awal dari biasanya, supaya bisa pulang tepat waktu dan tetap bisa menyenangkan teman satu-satunya di flat itu.

Mereka tinggal di Anchu Street, di Ta An Distric Taipei City. Lina di lantai 3 sedangkan Riri dilantai 7. Sesekali mereka bertemu, ketika Riri mengantar anak majikannya sekolah dan Lina membawa pasiennya jalan-jalan ke taman.
’’Nyang apa Ndhuk ?’’ sapa Riri yang sudah di tunggu Lina di lantai satu.

’’Aku libur minggu ini Bu RT, tolong liatin baju mana yang paling cocok aku pakai minggu nanti, soalnya aku dah bosan banget dengan baju-bajuku, gengsi banget kalo pakai baju itu-itu aja...’’

Mereka berdua menuju lantai 3 dimana Lina tinggal dengan pasien yang dijaganya. Lina mengeluarkan baju barunya. Terlihat labelnya yang masih belum dilepas, 2000 NTD$, 1700 NTD$, 999 NTD$. Riri menghela napas. ’’Ini semua baju mahal ya?’’ tanyanya polos.

Riri memang baru 3 bulan di Taiwan, belum pernah ke luar negri pula sebelumnya. Niatnya mengadu nasib ke Taiwan adalah untuk bisa mempunyai tabungan bagi sekolah anaknya yang ketika ditinggal berusia 2 tahun. Jadi, dia sudah tahu, barang-barang apa saja yang sebaiknya dibeli, dan sebaiknya tidak. Tabungan pendidikan anaknya adalah segala-galanya.

Riri memang orang desa yang masih polos, hanya kebetulan dia pernah kursus menjahit. Karena itulah Lina selalu mengandalkannya untuk urusan mematut baju. Sambil membatin, ’’Eman banget ya.. ini duit Indonesia sudah berapa juta aja?’’ Riri masih dengan tulus membantu sahabatnya untuk bisa tampil modis di hari Minggu nanti.

’’Silahkan diminum, Ndhuk,’’ suara serak Bu Sukesi memecahkan lamunan Riri. Terlihat jelas warna hitam tergores di pipi kiri perempuan renta itu. Riri berani menyimpulkan bahwa di rumah ini belom ada kompor minyaknya, apalagi kompor gas. Riri juga pernah mengalami masa-masa seperti itu, ketika harus mendekatkan wajah ke tungku pembakaran untuk meniup api supaya menyala. Dan ketika tanpa sengaja menyibak anak rambut yang bergerai ke pipi... hitamlah pipi Riri, karena tanganya kotor kena kayu bakar.

Riri tersadar. Ternyata, rasa irinya ke Lina selama ini samasekali tak beralasan. Riri memang tidak diberi libur oleh majikannya, dengan alasan majikan ingin menikmati week end-nya dan tidak mau diganggu oleh anak-anaknya.

Riri memang tidak diperlakukan seperti anak oleh majikannya, dia hanya seorang pekerja dirumah majikannya, baby sitter yang harus mengurus 3 anak ditambah 1 bayi yang baru lahir.

Riri terkurung di lantai 7, setiap hari selama 2 tahun. Riri hanyalah seorang PRT yang mencoba untuk bertahan demi anak yang dititipkan kepada sang nenek di kampung halaman. Tetapi 2 tahun ternyata mampu mengubah kehidupan sederhana keluarganya. Ayahnya yang dulu tukang becak, kini sudah menjadi tukang ojek dan bisa membantu 3 tetangganya untuk jadi tukang ojek juga di terminal Madiun.

Sebuah potret perubahan ekonomi yang luar biasa. Sedangkan Lina?

Gemerlap di Taiwan, tetapi redup di desanya. ’’Lina.... jangan boros boros di Taiwan ya, belikanlah ibumu kompor. Minimal kompor minyak tanah,’’ Riri langsung mengirim SMS untuk sahabatnya yang masih punya kesempatan untuk mendulang dolar di Taiwan itu. []

Sabtu, 23 Februari 2008

Mari Kita Belajar Mari Kita Berguru

Banyak penyakit yang memaksa penderitanya memantang makanan yang enak-enak. Lau, Jenny P Widjaja pun berpikir, ’’Inilah peluang itu!’’ Peluang yang dimaksudkan, adalah, menyediakan makanan yang enak, bahkan yang sepintas terkesan melanggar pantangan, tetapi dengan perhitungan yang matang sehingga tidak mengundang risiko. Si Sakit pun jadi terus tergugah selera makannya, dan dengan demikian potensi untuk cepat sembuh makin besar. Untuk mendapatkan menu menggairahkan tanpa risiko seperti itu, orang rela membayar lebih mahal. Nah! Membaca Jenny tak kurang dan tak lebih adalah belajar berbisnis kepada orang kreatif (Peduli nomor ini, Red).


Begitulah, setiap ruang, setiap masa, menyodorkan tantangannya, mengisaratkan –bahkan menyorongkannya ke hadapan kita. Para pecundang biasanya lebih suka melarikan diri. Sedangkan orang kreatif akan lebis suka menghadapinya, menyiasatinya, dan berkat tantangan dan bahkan krisis itulah mereka tampil sebagai sang penakluk alias jadi Sang Pemenang.

Tak usah jauh-jauh kita mengambil contoh. Masih ingat Eni Kusuma? Permpuan asal Banyuwangi, Jawa Timur, yang mengaku menderita gagap di masa kecilnya, sering dicela orang karena posturnya yang terlalu mungil, dan sering berhadapan dengana orang-orang yang tidak yakin bahwa ia bisa melakukan pekerjaannya dengan baik? Sepulang dari Hong Kong Februari 2007 ia memutuskan menikah dan berhenti menjadi buruh migran. Bukunya motivasi-nya pun terbit, Anda Luar Biasa!!! –yang kemudian terbukti benar-benar luar biasa dan harus dicetak ulang bulan berikutnya.

Melalui teleponnya ke Redaksi Peduli beberapa hari sebelum tulisan ini dibuat, Eni mengatakan bahwa sebuah stasiun televisi swasta nasional mengundangnya untuk menjadi narasumber acara talk-show yang dipandu Hughes. Sebulan sebelumnya, Eni sempat pula berbicara (jadi narasumber) untuk memotivasi para pimpinan daerah sebuah jaringan waralaba di Jakarta, duduk di kursi yang pernah diduduki orang-orang hebat seperti Hermawan Kertajaya, Tung Dasem Warngin, Andre Wongso, dan lain-lain.

Si Anak Gagap itu, kini telah jadi pembicara? Dan bahkan, katanya pula, ada ayang menawarinya untuk berbicara sebagai motivator keliling Indonesia?

Dulu Eni pernah bilang, memberi nasihat sambil membocorkan rahasianya, ’’Jika mau jadi orang hebat, belajarlah kepada orang hebat. Jika mau jadi luar biasa, bergurulah kepada orang-orang luar biasa. Untuk menjadi semakin kreatif, belajarlah kepada-orang-orang kreatif.’’

Kini, dengan rendah hati, marilah kita berguru, antara lain: kepada Eni. Ya, Eni Kusuma yang benar-benar luar biasa itu! []

Peduli 22

Bukan Majalah Peduli Online

Beberapa orang pembaca peduli kirim SMS, kadang menelepon, pengin ’’diliputkan’’ usaha/bisnis tertentu, misal: bisnis persewaan buku, bisnis air minum curah, ternak ayam. Kadang juga berkomentar untuk sebuah tulisan yang ada di Peduli terbaru. Ketika pesan/komentar itu disampaikan melalui telepon, file-nya memasuki memori si penerima dan bisa jadi akan segera terlupakan. SMS pun biasanya tak akan tersimpan dengan baik. Maka, untuk melengkapi media penyampai pesan-pesan seperti itu, untuk menjalin interaksi yang lebih baik antara redaksi dengan pembaca, pembaca dengan pembaca, kini telah dibangun sebuah blog yang diharap jadi forum pembaca majalah Peduli: http://pembacapeduli.blogspot.com


Blog ini diharapkan juga jadi semacam media silaturahmi. Maka, silakan berkunjung, berkomentar, boleh pula mengajukan pertanyaan, kritik, dan saran.
Redaksi juga sering menerima keluhan, misalnya, di kawasan tertentu di HK, Peduli suka datang terlambat. Atau bahkan ada pula yang ora keduman. Untuk kasus-kasus seperti ini, Redaksi tentu akan senang jika menerima laporan tak hanya melalui telepon atau SMS, tetapi juga email dan, sekarang, bisa pula melalui ruang ’’buku tamu’’ http://pembacapeduli.blogspot.com.

Tentu waktulah yang kemudian akan menguji, apakah kawan-kawan, apakah BMI-HK bersedia meanfaatkan forum ini dengan baik. Sebab, pada akhirnya, kami, redaksi, hanya bisa mengajak, dan kemudian berharap. Mari kita ramaikan forum ini, mari sering-sering berkunjung ke blog ini, sekali lagi: http://pembacapeduli.blogspot.com.

Sesungguhnya pula, di sini tersirat pula ajakan untuk memanfaatkan blog sebagai media kreasi, rekreasi, sekaligus mengatakan kepada dunia bahwa BMI-HK tidak hanya mampu menangani urusan-urusan dapur, atau paling banter mengantar bobo jalan-jalan, antar-jemput anak sekolah, atau berbelanja ke pasar. BMI-HK juga bisa menembus batas-batas ruang itu dengan kesempatan yang ada serta kemampuan yang mereka miliki untuk berinteraksi dengan dunia luar melalui fasilitas internet. []

Majalah Peduli 20

PONIRAN

Linda Setiorini

Matahari sudah di ubun-ubun saat Dina sampai di Causeway Bay. Meskipun harus berpacu langkah dengan orang-orang yang lalu lalang, bibir Dina terus senyum. Bahkan, kadang cekikikan sendirian. Oh, tidak sendirian. Ia lagi asyik ngobrol dengan sang doi yang di Korea.



’’Udah ya say, ntar jam tiga ketemu,’’ dengan manja Dina pamitan.

’’Ketemu di mana?’’dari seberang sang kekasih menggoda.

’’Ah, kamu! Udah ah!’’ suara Dina dibikin genit seraya mengecup HP-nya sampai-sampai lipstiknya tertinggal di casingnya.

’’Kok jam segini baru datang Din?’’selalu itu yang ditanyakan Ida setiap kali ketemu, padahal entah sudah berapa kali Dina menjelaskan kepada semua temannya termasuk Ida bahwa sebelum dia keluar libur, mesti bersih-bersih rumah dulu, lalu menyiapkan sarapan, lalu membangunkan anak plus membantu mereka gosok gigi lalu mengantarkannya ke rumah bobo.

’’Ini ada lodeh kacang dan rebung kesukaanmu Din, pedes banget lho!’’ tawar Mbak Jum seraya menyodorkan piring plastik.

Hari ini Mbak Jum ulang tahun. Teman-teman seapartemen diundang sehingga suasana begitu akrab karena hampir tiap hari ketemu dan sudah saling mengenal. Dina geli saat menyaksikan Siti dan Rina duduk terpisah, padahal dulunya mereka berdua adalah sahabat akrab, setiap hari belanja bareng, libur bareng, pulang bareng, makan sepiring berdua, bahkan mulai dari sepatu sampai topi selalu kembar. Tapi, sekarang mereka ibarat air dan minyak. Rina berdiri sambil merapikan roknya, sudah jelas bahwa dia ingin meninggalkan tempat itu.

’’Mbak, aku pergi dulu ya, mau ketemu teman. Mmakasih lho atas undangan dan makanannya,’’pamit Rina basa-basi. Mbak Jum cuma tersenyum seraya mengangguk.

’’Nemuin temen ato.........?? Ida yang usil menggoda seraya melirik Siti. Mbak Jum menyodok Ida, sementara Siti pura-pura asyik membaca majalah. Dina tersenyum geli melihat tingkah mereka.

Musik dangdut mengalun merdu dari tape recorder-nya Yanti yang selalu dibawa setiap dia libur.

’’Kamu juga mau nemuin temen ya Sit?’’ledek Ida saat meliat Siti mengenakan sepatunya.

’’Nggak mau ke jisok kok,’’elak Siti.

’’Alah, paling-paling ntar baliknya di tempat chatting.’’

’’Itu kan urusan dia Da! Kamu tuh cerewet banget sih?’’ bentak Mbak Jum, sementara Ida cuma nyengir.

’’Siti sama Rina itu masih musuhan ya?’’ tanya Anik yang biasanya libur cuma sebulan dua kali.

’’Ya.......sejak Siti tahu bahwa Daniel itu adalah Poniran, lalu meledaklah perang itu,’’ jawab Ida antusias.

’’Ya ampun! Jadi mereka nggak bertegur sapa itu hanya gara-gara cowok ya?’’ tanya Gianti penasaran.

’’Ya iyalah! Tadinya sih nggak tau siapa yang Poniran duluan. Siti punya cowok namanya Jimmy, lalu Rina punya cowok namanya Daniel. Usut punya usut ternyata Jimmy ama Daniel itu satu orang, nama sesunguhnya Poniran,’’ dengan fasihnya Ida menjelaskan dan disambut tawa geli teman-teman yang ikut mendengarkan.

’’Trus gimana kok bisa ketahuan kalau cowok mereka sama?’’ tanya seseorang yang duduk disebelah tempat mereka, rupanya suara Ida yang bergema menarik perhatian dia.

’’Lho, mereka berdua dulunya kan sahabat akrab. Biasalah berbagi cerita tentang cowoknya, lalu saat Siti utak-atik HP-nya Rina dia melihat nomor HP Daniel sama dengan nomor HP Jimmy.’’

’’Trus Poniran itu siapa?’’ tanya seseorang yang juga ikut-ikutan nimbrung.

’’Ya Jimmy alias Daniel itu, biasa pakai nama samaran, masak mo ngomong Poniran… kan nggak keren?’’ jawab Ida.

’’Kok bisa ketahuan kalau ternyata dia adalah Poniran?’’ sambungnya.

’’Begini, tadinya kan Rina ngajak aku chatting, dia mau kasih tahu aku yang namanya Daniel, dan tak disangka tak diduga ternyata yang namanya Daniel alias Jimmy itu adalah Poniran tetanggaku di kampung,’’ kembali mereka tertawa mendengar cerita Ida.

’’Emang Poniran itu cakep ya Mbak?’’

’’Wow......... jangan di tanya, dia cowok macho men...! Di kampung jadi rebutan, di sekolah jadi idola, pacarnya banyak, tapi sayangnya dia buaya, hampir semua cewek sekampung digasak..."

’’Termasuk kamu kan?’’ potong Mbak Jum.

’’Ih ya nggaklah!’’ bantah Ida seraya memonyongkan bibirnya.

’’Trus Mbak............siapa tadi?’’ mereka makin penasaran dengan cerita Ida.

’’Siti dan Rina?’’ potong Ida.

’’Iya, gimana bisa kenal sama Poniran?’’

’’Ya ampun, ya lewat chattingan Non, emang nggak tahu jika mereka yang seneng chattingan itu sebenarnya orangnya yang asli belum lihat, tapi udah ngomong cintalah, sayanglah, malah manggilnya aja udah papa mama, padahal nggak tahunya di belakang mungkin dah beranak istri, atau duda, atau mungkin pacarnya seabrek tapi ngakunya masih ting-ting,’’ Ida berhenti sejenak untuk mengambil nafas sambil menelan ludah. ’’Kayak Poniran itu, memang sih masih single, cakep, dan banyak deh kelebihannya, tapi jika makan hati apa untungnya, tampangnya aja yang oke, tapi hatinya berbisa, mungkin saja selain Siti dan Rina dia juga menggombali sama cewek lain, tapi yang pasti nggak mungkinlah jika dia pake nama Poniran, makanya jika chattingan hati-hati, jangan mudah tergoda hanya karena tampang, siapa tahu nasib kita sama seperti Siti dan Rina, udah diduain persahabatan putus lagi, tapi ya.............. namanya juga cinta…’’

Dina mencibir mendengar penuturan Ida yang sok bijaksana, dari cara Ida bercerita, dan juga caranya memuji Poniran kayaknya Ida pun punya rasa suka sama Poniran, tapi pura-pura ngasih nasehat, huh dasar, emang Poniran itu kayak apa sih, dilihat dari namanya saja nggak ada yang istimewa, kampungan, pantesnya sih jadi pengembala sapi aja, ato tukang kebun juga boleh, tapi untung juga dia bisa lolos masuk Korea, batin Dina jengkel.

Jarum jam menunjukkan hampir pukul tiga sore,berarti Dina harus online untuk ketemu sama pujaan hatinya.

’’Mbak aku pergi dulu ya?’’ bisik Dina pada Mbak Jum.

’’Hati-hati ya,jangan lama-lama lo, ntar habis duit banyak, kamu mesti ngirit Din!’’ pesan Mbak Jum yang sudah paham ke mana Dina hendak pergi. Selama ini Dina memang paling dekat sama Mbak Jum.

’’Iya Mbak, nanti Mbak Jum tetap di sini kan?’’

’’Kalau nanti aku sudah nggak di sini kamu telepon saja.’’

’’Emang kamu mau ke mana Din?’’ tanya Ida.

’’E.............. ke Chandra kirim uang.’’ jawab Dina seraya berlalu. Yang namanya rahasia jangan sampai Ida tahu kalau tak ingin bocor kayak mulutnya yang ember itu. Dina berlari menerobos orang-orang yang memenuhi Taman Victoria, saat hendak naik lift disebuah building, Dina bertemu dengan Siti, sejenak Dina terpana melihat penampilan Siti yang telah berubah, tadinya Siti cuma pake kaos stret sama celana jeans, tapi sekarang dia memakai baju semacam kemben yang jika ditarik ke bawah kelihatan gunungnya dan jika ditarik ke atas kelihatan pusarnya. Perhisannya bergelantungan bak seorang artis dengan make up warna-warni. Siti benar-benar persis seperti bintang film, ah hanya demi Poniran aja sampai-sampai dia berpenampilan demikian, batin Dina.
’’Mau chattingan ya?’’ sapa Dina. Siti cuma mengangguk sambil tersenyum.

’’Sama, Poniran ya?’’ goda Dina yang membuat Siti tersipu-sipu.

’’Chattingan di mana Sit?’’ tanya Dina saat mereka telah masuk lift.

’’Di lantai 7,’’ jawab Siti.

’’Kebetulan aku juga mau ke sana, aku tadi udah pesen tempat,’’ ujar Dina.

Saat mereka tlah sampai di lantai 7, tempatnya masih penuh, sedangkan jam dinding menunjukkan pukul tiga kurang lima menit.

’’Sebentar ya Mbak, mereka bertiga hampir sign out kok,’’ ujar penjaga warnet begitu melihat Dina dan Siti datang. HP Dina bergetar, ada SMS masuk,’’Say aku dah on line lho, kapan kamu datang? Kangen nih!’’ begitu pesan dari Riyan, kekasih Dina di Korea.

’’Kamu disebelahku saja Din,’’ kata Siti saat tiga orang cewek meninggalkan meja komputernya, kebetulan tempatnya bersebelahan.

Dengan cekatan Dina segera membuka id dan password-nya, lalu masuklah beberapa pesan dari Riyan yang katanya tak sabar ingin segera melihat wajah cantiknya Dina.

Setelah saling mengirim came, Dina tersenyum menatap gambar Riyan yang kelihatan makin cakep saja dengan rambut yang dibiarkan panjang. Selain tampan, Riyan juga pandai merayu, kaya akan humor dan pintar bermain kata-kata, ditambah lagi suaranya yang merdu saat menyanyikan lagu-lagu Malaysia, sehingga Dina rela menghabiskan uangnya berdolar-dolar hanya untuk mendengarkan suara Riyan setiap malam.

Empat bulan sudah Dina menjalin cinta dengan Riyan lewat internet dan telepon, rupanya Dina sudah begitu percaya pada Riyan, sehingga Dina benar-benar mencintai Riyan setulus hati. Tak pernah sedikit pun ada keinginan di hati Dina untuk menghianati ataupun membohongi Riyan meskipun begitu banyak cowok yang menggoda dan mengharapkan cinta Dina.

Dina tersenyum-senyum setiap kali membaca tulisan yang dilemparkan Riyan dari seberang, sementara itu Siti terus cekikikan di sebelah Dina.

’’Busyet, katanya jangankan mobil, pengen pesawat aja dibeliin kalo ada yang jual, hi hi hi.....!’’ Dina cuma mencibir. Dasar rayuan gombalnya Poniran, batin Dina.

Karena Siti terus-terusan tertawa Dina jadi penasaran ingin melihat tampangnya Poniran.

’’Lho Sit, itu kan Riyan!’’ pekik Dina kaget saat karena melihat wajah Riyan ada di komputernya Siti.

’’Apa, ini lo Jimmy, eh maksudku Poniran,’’ jawab Siti tanpa menoleh.

’’Tapi aku juga lagi chattingan sama dia,’’ suara Dina gemetar menahan beribu perasaan. Kontan saja Siti langsung menatap Dina, lantas melihat ke komputer Dina.

’’Lho, kok kamu chattinga sama dia sih?!!!’’ kali ini Siti yang menghardik Dina seraya memelototkan mata.

’’Kamu sendiri ngapain juga chattingan sama dia?!!!’’ suara Dina tak kalah kerasnya karena juga emosi. Karuan saja mereka jadi perhatian orang-orang yang sedang berada di tempat itu.

’’Mbak, Mbak, kalau berantem jangan di sini ya, berisik nih, udah tempatnya sempit lagi…’’ tegur seseorang yang lagi chattingan di dekat mereka. Tentu saja muka Dina jadi memerah karena malu.

Dengan kasar Dina mematikan komputernya, dan setelah membayar sewa komputer tersebut, Dina segera berlari keluar melalui tangga. Hatinya hancur dan pilu, sumpah-serapah pun keluar dari bibirnya yang mungil. Namun jauh di dasar hatinya Dina tak dapat berbohong bahwa dia memang mencintai Riyan yang kini telah berubah menjadi Poniran. []

[Salam sayang buat seseorang di Korea, biarlah waktu yang akan menyatukan cinta kita].
dari Peduli 13 dan 15

Dhawet Jabung Dhawet Khas Ponorogo


Jabung terletak di salah satu sudut (luar) kota Ponorogo, sekitar km 5 arah tenggara. Jika Anda akan masuk kota Ponorogo melalui Trenggalek, berbelok ke kananlah di perempatan Jetis. Anda akan melewati jembatan dan kemudian sampai pada bang-jo (traffic-light) pertama. Di sekitar bang-jo itulah puluhan warung dawet buka dari pukul 9.00 hingga sekitar pukul 17.00 WIB/petang.


Di situlah Anda bisa menikmati dawet khas Ponorogo, yang lebih dikenal dengan Dawet Jabung, yang murah-meriah, hanya Rp 1.000/mangkuk. Selain dawet disediakan pula jajanan seperti kacang goreng, klici, tahu goreng, ote-ote, tempe goreng, dan lentho. Semuanya ditanggung murah meriah.

Dawet Jabung benar-benar khas, dibuat dari pati aren (enau), ketan hitam, dan gula enau/kelapa. Salah seorang penjual dawet mengaku memakai pemanis dari badheg kelapa alias bakal gula kelapa. Jadi, badheg yang baru diambil dari irisan tangkai bunga kelapa (manggar) atau hasil deres itu langsung digunakan sebagai pemanis tanpa menunggu diproses jadi gula. Hasilnya adalah rasa manis yang benar-benar seger, nyes!

Bedanya lagi dengan dawer khas daerah lain seperti Dawet Ayu Banyumas, Dawet Kudus, dan lain-lainnya, Dawet Jabung ini memakai santan pula, tetapi takarannya tidak terlalu banyak, sehingga tidak terasa neg. Bahkan, menurut pengakuan Yanti, seorang penjual dawet yang mengaku bekerja pada orang yang memberinya gaji Rp 10.000/hari, pernah ada seorang laki-laki yang kuwat minum sampai habis sepuluh mangkuk lebih karena taruhan dengan temannya.

Berebut Lambaran

Yang benar-benar unik adalah cara penyajiannya. Mangkuk digunakan sebagai tempat dhawet, dengan sendok pendek, dan disodorkan ke pembeli dengan alas/lepek/lambaran, tetapi pembeli hanya boleh mengambil mangkuknya, sedangkan lambaran-nya tetap berada di tangan si penjual. Akibatnya, pembeli yang baru pertama kali datang biasanya akan memegangi lambaran-nya ketika disodori dan terjadilah tarik-menarik, seperti berebut dengan penjualnya.

Menurut Yanti, orang Ponorogo yang mengajak temannya dari luar kota untuk menikmati dawet Jabung sering mengoda si teman dengan cara membiarkannya untuk mengambil lebih dulu, tanpa diberitahu bagaimana adat-nya. Dan ketika terjadi tarik-menarik lambaran, ditertawailah si teman itu.

’’Kata orang lho Mas, ini Cuma kata orang, aku sendiri gak ngerti. Katanya, kalau lambarannya kita berikan, itu tandanya kalau berjodoh,’’ tutur Yanti. Lho?

Pengin Buka Sendiri

Yanti sebenarnya bukan perempuan asli Ponorogo. Ia berasal dari Nglames, Madiun. Sebelumnya selama 4 tahun ia bekerja di sebuah pabrik jamu di Madiun. Tetapi, karena ada konflik rumahtangga dan ia harus bercerai dengan suaminya, ia lalu membawa anak semata wayangnya ke Ponorogo atas ajakan seorang teman, lantas memasukkan anakknya ke sebuah pondok pesantren, dan ia sendiri bekerja sebagai penjual dawet itu.

Ditanya mengenai pendapatan dari jualan dawet itu, Yanti mengatakan kalau hari-hari biasa berkisar antara Rp 150.000 – Rp 200.000/hari. Tetapi pada hari hari mendekati dan sesudah lebaran, pendapatan bisa melonjak sampai Rp 1 juta sehari. ’’Pernah kok, sampai Rp 1.200.000 dalam sehari,’’ imbuh perempuan yang mengaku medapat buruhan dari pemilik warung Rp 10.000/hari ini.

Apakah dengan penghasilan seperti itu Yanti merasa cukup dan kerasan? ’’Sebetulnya pengin cari pekerjaan lain kalau ada, misalnya di toko atau apa. Tetapi ada teman yang menyarankan untuk membuka warung dawet sendiri. Di kampung saya di Nglames sana sebenarnya ada lahan di pinggir jalan yang bisa aku gunakan, tetapi masih belum punya modal yang cukup,’’ jawabnya. [KEN]

Peduli 20

Perempuan Langit

Bonari Nabonenar


Dengan susah-payah akhirnya perempuan itu sampai pula di balik atap sebuah gedung menusuk langit, gedung berlantai 61 yang dibangun nyaris di puncak sebuah bukit. Seperti berkilat-kilat sesaat cahaya kegembiraannya karena keberhasilan itu. Ia pun merayakannya dengan merentangkan kadua tangannya. Seolah hendak menadah bintang jatuh sebanyak-banyaknya. Gedung berlantai 61 itu dibangun nyaris di puncak sebuah bukit. Tetapi, sesaat kemudian ia tersimpuh, seperti kehabisan tenaga. Seperti sebegitu sedihnya. Lalu diangkatnya dagunya, pelan, dan ditatapnya lagi langit yang menghitam. Bintang-bintang berkedip, dan bulan sabit tampak mirip bibir antara menangis dengan tersenyum.



Lalu ia melepas centhing-nya. Seperti hendak memberi ruang yang lebih leluasa bagi perut dan terutama bagi janin yang sedang tumbuh di dalamnya. Dan laptop itu segera dibukanya. Segera dihidupkannya. Sebentar ia lari-lari kecil mengitarinya, seperti sedang melakukan sebuah ritual atau hanya sekadar biar tampak teatrikal. Andai angin memperkencang diri dan mengempaskan perempuan itu, pastilah jadi sebuah drama.

Ia kembali duduk. Hampir bersimpuh. Dan mulai menulis.
’’Saya berharap di langit benar-benar ada dewa yang yang tak keberatan untuk dibakar asmaranya oleh perempuan manusia seperti saya. Saya pastilah akan memberikan semuanya, jika tiba-tiba ada dewa yang datang ke tempat saya: sekarang, di sini. Alangkah indahnya percintaan itu, jika benar bisa terjadi. Saya tak akan peduli, apakah ia dewa yang pernah membangun affair bersama Kunthi atau Anjani. Maka, kelak aku tak perlu berurusan dengan interogasi berpanjang-panjang, sebab dewa adalah dewa. Kebangsaannya ya dewa. Hukumnya ya hukum dewa, bukan hukum manusia. Pastilah akan sangat berbedaa dengan, misalnya, jika saya mengaku telah bercinta dengan Pakistan, China, Jawa, Dayak, Bugis, Batak, Madura….’’

Perempuan itu menarik tangannya. Meraba perutnya. Menghela napas. Dan kemudian merebahkan dirinya. Ia telentang kini, pandangnya tajam menatap langit yang makin menghitam. Malam makin larut. Tak juga ada dewa yang datang membawa kobaran api asmaranya.

Perempuan itu jadi gelisah. Ia seperti sedang diremas-remas getir, perih, ngilu, sakit. Seberat-berat hukuman yang disandang Dewi Anjani berpuluh tahun menjadi tugu ia akhirnya kembali pulih menjadi seorang wayang. Kunthi yang mengaku telah bermain cinta dengan Dewa Surya tetaplah seorang permaisuri yang dihormati, walau ia harus rela membuang anak pertamanya yang di kemudian hari menjadi Raja Awangga, sebuah kerajaan kecil di bawah naungan Astinapura. Tetapi apakah yang sedang dan akan ditanggung perempuan ini? Ia tak bisa lagi bercerita tentang sebuah pisau yang terjatuh ke pangkuan dan mendatangkan sejenis kutukan: hamil tanpa didahului proses persenggamaan.

Bagaimana pula halnya dengan kisah tentang perempuan yang kehausan di tengah hutan dan meminum beberapa tetes air yang menempel di pucuk daun? Daun apa namanya ya? Daun dewa? Haha! Atau daun asamara?

Perempuan itu membuka halaman baru tanpa menutup atau menghapus tulisannya di halaman sebelumnya. Dan inilah yang dituliskannya:

’’Aku tak mau tahu, apakah mesti menyesali atau malahan bersyukur telah meminum air itu, air yang telah membawaku terbang di langit penuh cahaya. Bukan di siang, dan rasanya bukan pula di malam. Saya melayang-layang melintasi gedung-gedung, bukit, pegunungan, dan laut. Dan sampailah aku di tempat itu, entah di mana, ketika luka menganga menjalarkan nikmat tiada tara! Aku tak rela jika disebut itu hanya mimpi. Sebab, rasanya tidak ada lagi yang lebih nyata lagi. Itulah kenyataan yang lebih nyata daripada yang kuhadapi kini.’’

Perempuan itu lagi-lagi berhenti menulis, mengangkat dagunya, dan tersenyum, untuk dirinya sendiri, puas. Mungkin ia telah mendapatkan kepuasan seperti yang dirasakan seorang penyair setelah menuliskan kata terakhir dalam puisi terbarunya. Ouw! Mungkin juga lebih dari itu.

Lihatlah, ia melompat. Lalu berlari-lari kecil mengitari laptopnya. Oh, tidak! Ia sedang menari. Seperti itulah barangkali seorang bidadari menari. Suara malam mengiringi. O, betapa indah rambutnya yang tergerai, yang melambai. Betapa indah tariannya. Kini ia tak lagi menginjakkan kaki di landasan beton bagian terdekat gedung menusuk langit itu dengan bulan, dengan bintang. Ia melayang-layang di udara dengan indahnya!

Maka, jika pada suatu malam, ketika bulan sabit tampak seperti seiris bibir yang berada di antara tangis dengan senyuman di mana pun: Madiun, Ponorogo, Blitar, Tulungagung, Sha Tin, Lam Tin, Tin Hau, Causeway Bay, Mong Kok, Yuen Long baik-baiklah memandang langit: siapa tahu Anda beruntung dapat melihat perempuan itu menari: melayang-layang di udara begitu indahnya. []

Peduli 19

LAKI-LAKI KAYA DAN PANGERAN MISKIN


Mungkin, bagi sebagian cewek, menemukan pangeran idaman alias seorang pria yang akan diajak menikah adalah gampang. Terutama jika perempuan itu cantik jelita, berkulit mulus, dan halus pula budi-bahasanya. Lha sedangkan aku? Jangankan lenggak-lenggokku, senyumku aja seperti senyum orang kremian dan jauh dari kata seksi.


Emmh....bicara soal pria idaman adalah urusan cewek yang paling menyenangkan sekaligus paling mengkhawatirkan. Sudah menjadi rahasia umum (dilihat dari kategori umur) jika pria berumur 35 sampai 50 tahun (lebih dikit juga gpp) adalah pria yang justru seksi apalagi mapan secara finansial, sehingga banyak cewek yang mengincarnya. Namun tragisnya, pria-pria kategori tersebut sudah ada yang punya...hick! Dan sudah menjadi rahasia umum pula jika di antara mereka yang "duren" alias duda keren, yang tak jarang menjadi rebutan.

Menurutku juga demikian. Sederet pria berumur 35 - 50 tahunan, kaya sekaligus sukses yang termasuk kategori terbaik negeri ini adalah pria terseksi sepanjang sejarah percintaan. Itulah mengapa mereka menjadi incaran para cewek yang memenuhi sederet persyaratan. Pria yang tidak hati-hati, akan kehilangan wibawa. Jika tergelincir, harga diri menjadi taruhannya.

Suatu saat aku bincang-bincang dengan seorang "the best financial motivator" di Indonesia. Aku bilang padanya, bahwa aku ingin kaya dulu baru menikah. Namun dia bilang sebaliknya, ’’Menikah dulu baru kaya, kawin dengan orang kaya, kenapa tidak?’’

Menikah dengan pria kaya merupakan salah satu alasan cewek untuk menikah sejak Zaman Cinderella dulu. Tapi benarkah menikah dengan pria kaya akan membuat kita bahagia? Belum tentu. Ingat cerita klasik tentang orang yang bernama Bernard, ahli bedah jantung dan istrinya Stacy? Stacy mengabdikan diri bersama pria kaya itu. Setiap kali tak lupa ia melengkapi minuman yang ia persembahkan untuk suaminya dengan es batu yang berbentuk hati. Toh suaminya kabur dengan perempuan lain.

Banyak juga pria kaya yang bosan dengan kehidupan rumah tangganya. Selingkuh adalah jawabannya. Entah itu selingkuh dengan satu wanita, dua wanita ataupun banyak wanita, memilih cerai untuk menikah lagi ataupun poligami. Sedangkan bagi pria-pria kaya sekaligus sukses memilih bertahan dan larut dengan pekerjaan dan segala aktivitasnya. Mereka tidak hanya sukses dalam karier tapi juga sukses dalam rumah tangganya. Masalahnya, aku ingin menemukan pria kaya sekaligus sukses itu. Berapa persen pria seperti yang ada dalam impian setiap cewek -termasuk aku itu, di dunia? Sangat langka?

Sebagai rujukannya adalah berapa persen pria kaya di dunia atau jika lebih spesifik lagi di Indonesia? Katakanlah sekian persen saja. Itu saja masih dikurangi dengan pria yang tak normal seperti homo, banci, alkoholik, pecandu narkoba, berpenyakit kelamin, ataupun impoten.

Lalu yang sedikit itu menjadi rebutan semua cewek? Huh....! Aku pasti akan mengundurkan diri dari kompetisi ini, tanpa diminta. Sekarang aku telah memiliki jawaban untuk pertanyaan sang "the best financial motivator terbaik’’ itu, yang ditujukan padaku. Jawabannya adalah : ’’Aku tidak akan berkompetisi untuk pria kaya kategori terbaik alias kategori sukses,’’ lagian kebanyakan mereka sudah ada yang punya. Bukankah hal ini akan sia-sia dan membuang-buang usia? Jika yang masih lajang pun, sudah aku pastikan aku tak kan mampu, aku cukup tahu diri dengan penampilan fisikku...cieeee.

Apakah sisa dari pria kaya? Jawabannya adalah pria miskin. Seperti halnya pria kaya, pria miskin juga memiliki level-level tertentu. Ada pria miskin yang sudah miskin berantakan pula, alkoholik, pecandu narkoba, dan suka ngemplang. Masih ditambah dengan yang homo dan impoten. Lalu jika aku memilih pria miskin, tentu saja harus kategori terbaik yaitu pria miskin yang sukses, penyayang, setia, produktif, berkepribadian dan berkarakter. Tinggal sedikit motivasi saja maka hidupnya akan lebih baik dan lebih bergairah. Nah, jika aku berkompetisi untuk pria miskin yang sukses (karena menurutku kaya itu tidak berarti sukses) maka kemungkinan besar aku mampu. Kenapa? Karena aku juga termasuk pada level "miskin yang sukses" ini. Tinggal mengutarakan hati dan gayung pun kemungkinan besar akan bersambut. Dan sekarang aku sudah menemukannya.

Maka, kalau pun yang tersisa untuk kita hanyalah laki-laki miskin, so what gitu loh!! [ENI KUSUMA]

Dari Peduli Nomor 16

Perempuan yang Menanti Perahu Warna Biru


Retnaningtyas

Jika kecantikannya menjelma api, jangankan belantara tropis di negeri asalnya yang makin hari mekin digerogoti manusia-manusia yang dipompa uang hingga jadipara raksasa, gurun pasir pun bisa jadi padang abu karenanya. Jika kecantikannya menjelma embun pagi, matahari pun akan menggerutu, mengapa ia mesti hadir dan membuyarkan percumbuan yang menguarkan wangi ke segenap penjuru. Dan siapakah yang menginginkan kecantikan itu menjelma liuk samodra yang bersekongkol dengan badai dan melahirkan keperkasaan tujuh tsunami yang bisa memorakporandakan seluruh negri? Bukan aku, dan bukan kau, tentu. Aku, dan tampaknya kau, menginginkan kecantikan itu mekar di angkasa bak kembang api di dalam pesta yang menghabiskan biaya sebesar dana santunan bagi ratusan ribu anak yatim yang dirundung lapar dan sepi.



Tampaknya kita lebih suka larut dalam berandai-andai, karena melihat kecantikan itu sebegitu angkuh, seperti tak tersentuh, begitu kukuh. Ia tegak seperti tiang yang selalu setia menakar gelombang. Tetapi bahwa ia kesepian, tahukah kau?

Setiap percik kembang api itu lalu kembali menyatu menjadi pekatan cahaya yang nyaris tak terlihat oleh mata yang paling sehat dan bahkan oleh mesin pengintai yang paling canggih sekalipun. Ia melesat melebihi kecepatan angan-angan, menyusup ke dalam sesosok tubuh perempuan yang sejak kemarin, sejak kemarin-kemarin, dan bahkan mungkin sejak kemarin-nya kemarin-kemarin, teronggok di bawah tiang itu.

Terik matahari, kelembaban malam, dan debu dan angin laut telah bergotongroyong memoles seluruh tubuh perempuan itu, yang kemudian hanya dapat kita sebut dan kelak kita ingat sebagai perempuan yang menanti perahu warna biru. Ditambah lagi kesedihan, kesepian, dan segala yang merundung dan menimpa sekujur lahir-batinnya, membuata kecantikan itu begitu sempurna. Debu yang biasanya mengusamkan ternyata justru membuat kulit perempuan ini bercahaya. Wajahnya yang siang dan malam tak pernah berhenti membeku membuatnya semakin tampak ayu. Maka, boyonglah panggung teater itu ke sini untuk memigura perempuan yang menunggu perahu warna biru ini, maka Anda akan menyaksikan sebuah monoplay yang sangat bagus. Tak diperlukan lagi musik tambahan, tatacahaya yang hanya akan membuatnya kenes, dan bahkan aktor/aktris lain. Dia saja. Sudah cukup. Sudah sempurna. Sedang di dalam kebisuannya pun kita dapat menangkap ceritanya, apalagi jika ia berkata-kata.

’’Jangan tanyakan namaku, dari mana asalku, dan akan sampai kapan aku menanti di sini. Ya! Aku hanya menanti. Dan katabarkanlah padaku jika kau melihat perahu itu datang atau sekadar melintas di kejauhan sana. Perahu itu berwarna biru. Persis seperti warna langit di hari yang cerah.’’

’’Tidakkah kau melihat, di sebelah sana ada beberapa perahu berwarna biru sedang bersandar?’’

’’Tidakkah kau melihat, dengan teliti, hingga kau yakin bawa itu perahu-perahu yang lain? Birunya pun lain. Bukan biru langit di hari yang cerah.’’

’’Bukankah sebenarnya kau sedang menunggu seseorang, yang, barangkali ada di dalam perahu itu?’’

’’Bisa jadi begitu. Tetapi jangan tanyakan padaku, siapakah dia, seseorang itu, dari mana asalnya, siapa namanya, dan apa pekerjaannya. Sebab aku hanya ingat, dulu kami bertemu di dalam perahu itu, perahu berwarna biru itu.’’

’’Oh, betapa malang nasibmu, wahai perempuan yang menanti perahu warna biru!’’

’’Aku tidak ingin dikasihani. Sebab aku masih punya harapan. Dan itulah jawaban saya untuk pertanyaan yang belum kaukemukakan: Mengapa kau biarkan tubuhmu teronggok disini.’’

Jika kau ingin melihat mata yang dibinarkan oleh kesedihan dan pancaran gairah yang dikuatkan oleh kesepian, datanglah ke hadapan perempuan itu, perempuan yang menanti perahu warna biru itu.

Jika hari mulai redup, tak jarang laki-laki iseng mendatanginya, sekadar berbasa-basi, dan tak sedikit pula yang coba menawarkan cinta. Ada laki-laki hitam, ada laki-laki coklat, ada pula laki-laki bule. Kadang bahkan juga perempuan, menghampirinya dan dan serta-merta menghamburkan rayuan tanpa basa-basi. Dan perempuan yang menanti perahu warna biru itu tak perlu banyak kata untuk membuat mereka mundur membawa wajah ingah-ingih. Cukup dengan sorot matanya yang bisa jadi sebegitu tajam. []

Dari Peduli Nomor 16

BISNIS

Suatu senja saya pulang dari liburan. Naik minibus, duduk di sudut paling belakang. Sendirian. Kubuka buku yang baru kubeli dari seorang teman. Tak berapa lama ada seseorang yang menempati jok di samping saya. Kulirik model wajahnya. Hmm… sepertinya anak Indonesia. Sudah menjadi kebiasaanku yang banyak omong. Adalah kewajiban untuk menyapa duluan. Kututup buku yang ada ditanganku.


’’Dik, mau pulang ke mana?” sebuah pertanyaan spontan meluncur dari mulutku.

’’Ke Bremerhill. Lha Mbak pulang ke mana?’’

’’Kingsford Garden. Kita berdekatan lho, lain kali kita bisa libur bareng ya?’’ tawarku. Dia menyetujui. Aku berikan nomor ponsel serta namaku. Dan obrolan kami berlanjut. Tiba-tiba dia menanyakan buku yang ada di pangkuanku.

’’Mbak, itu buku apa?’’

’’Buku tentang bisnis, Dik,’’ entah mengapa setelah mendengar jawabanku itu, dia pindah tempat duduk ke jok depan yang kebetulan kosong.

Di lain hari saya bertemu teman-teman lama di Taman Viktori. Kami terlibat pembicaraan yang tak ada ujung pangkalnya. Sampailah cerita bahwa aku sering baca buku tentang bisnis. Dan aku menawarkan agar mereka membacanya. Di luar dugaanku, mereka sewot.

’’Aku sudah ikut bisnis, dan aku tidak akan ikut-ikutan yang lain,’’ jawab Si A dengan menyebut nama sebuah MLM yang dia join.

’’Kalau aku sih, nggak mau ikut bisnis apa pun. Yang penting sekarang ngumpulin uang. Nggak usah bisnis-bisnisan segala,’’ kata Si B.

Aku garuk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Lantas topik pembicaraan aku alihkan, karena obrolan kami semakin panas.

Dari dua cerita itu, kutarik simpulan bahwa teman-temanku itu salah paham. Mereka berpikir bahwa yang namanya bisnis identik dengan MLM [Multy Level Marketing] yang sedang ngetren saat ini. Tidak bisa dipungkiri. Bagi yang telah gabung dengan salah satu MLM lantas gagal, mereka akan menebar kekecewaan karena tidak sesuai dengan harapannya. Sehingga virus salah paham menjangkiti masyarakat yang awam pengetahuan. Sehingga mereka akan lari terbirit-birit jika ada seseorang membawa sebuah kata bernama ’bisnis.’

Jangan takut. Marilah kita tengok asal-usul kata itu sediri. Bisnis berasal dari bahasa Inggris. Busy yang berarti sibuk. Business yang berarti kesibukan. Jadi bisnis itu maksudnya suatu tindakan yang membuat sibuk seseorang dengan tujuan mendapat penghasilan [biasanya dalam bentuk uang]. Yang dimaksud ’tindakan’ di sini adalah tindakan positif lho. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, tentu dibarengi dengan kiat-kiat tertentu tergantung dari jenis bisnis itu sendiri. Sedangkan kiat-kiat tersebut bisa Anda dapatkan dari buku, majalah atau referensi lainnya.

Sebagai contoh, banyak dikupas di majalah yang ada di tangan anda ini. Buka PEDULI edisi-edisi lalu. Menanam lombok, ternak kambing, jualan dawet, buka salon, dan sebagainya. Walaupun sederhana, tetapi itu semua termasuk bisnis. Kalau ditangani dengan ulet dan serius insya-Allah hidup Anda bisa survive. Dan tentu MLM [suka atau tidak suka, Red] termasuk dalam deretan jenis bisnis juga. [Nona Amanah]

Dari Peduli Nomor 14

PERMISIF & AL-HAYA'


Pernahkah kita merasa bahwa apa yang terjadi di sekitar kita atau apa yang kita lakukan belum tentu baik menurut kaca mata agama? Kadang kita entah secara sengaja maupun tidak sengaja, secra langsung maupun tidak langsung, mengadopsi budaya luar negeri. Budaya barat yang tentu saja berlawanan arus dengan agama teercinta ini, ISLAM.


Suatu pribadi, dalam hal ini adalah manusia, bila memiliki iman yang kurang, bisa saja terjerumus ke dalam "sesuatu" yang kadang di luar akal sehat. Munculnya budaya free seks, vandalisme, maupun drugs mania, adalah salah satu akibat dari kurangnya iman. Serta pikiran-pikiran yang, maaf, gampang terpengaruh oleh budaya menggiurkan. Bukankah manusia adalah tempat salah dan lupa? Bukankah sesuatu yang menggiurkan itu mudah sekali dijalankan?

Dalam sebuah buku, entah apa judulnya {karena aku sendiri lupa }. Menyebutkan bahwa budaya permisif itu memang gampang sekali mewabah, bahkan bisa menjadi virus. Bila terjangkit virus permisif akut, sulit sekali untuk disembuhkan. Sebahaya itukah?

Permisif itu sendiri memiliki arti yang sebagian orang menyebutnya "buka-bukaan". Dalam bahasa lain, yang agak halus sedikit {paling tidak kita tidak menggunakan irony},diartikan bahwa permisif adalah: suatu perbuatan, sifat, atau sikap yang serba boleh, serba mengijinkan. Sikap serba boleh yang menjadi gaya hidup atau kebiasaan dalam bertingkah laku. Halal/benar, dan haram/salah sudah tidak menjadi ukuran. Naudzubillah....

Seperti telah saya ungkapkan di atas, kita bisa mengambil contoh dari budaya barat, budaya negatif tak mengenal agama. Seperti Samen Leven {kumpul kebo} atau free seks, Vandalisme{tawuran} dan drugs mania. Contoh-contoh seperti ini memang sudah keterlaluan merajalela. Berbahagialah bagi yang tidak mengenal permisif serta berpedoman pada Rukun Islam dan Rukun Iman, serta bersemboyan "Pancasila" dan "Dasa Darma Pramuka".

Adapun Al-Haya' merupakan kebalikan dari permisif. Bisa diartikan sebagai: rasa malu yang dirasakan seseorang sebelum melakukan perbuatan dosa. Al-Haya' adalah sifat yang penuh pertimbangan baik buruk suatu perbuatan dan kematangan pikiran serta iman, Insya'allah...

Nah... Di bawah ini akan saya uraikan sedikit saja perbandigan antara Permisif dan Al-Haya' :

Permisif :
1. Nilai sekular
2. Anthroposentris
3. Hak asasi manusia
4. Tanpa tanggung jawab kepada Allah
5. Serba boleh
6. Norma-norma agama dikesampingkan
7. Pembauran pergaulan pria dan wanita
8. Tanpa hijab
9. Pamer aurat
10. Free seks tanpa batas
11. Seks tidak terarah {hewani}
12. Ke-chaos-an masyarakat
13. Mengagung-agungkan, obral hawa nafsu
14. Tak terlalu menganggap penting nasab
15. Membebaskan kemaluan
16. Membolehkan aborsi.

Al-Haya :
1. Nilai islami
2. Theosentris
3. Kewajiban asasi manusia
4. Tanggung jawab kepada Allah
5. Budaya malu
6. Menjunjung tinggi orma-norma agama
7. Pembatasan pergaulan pria dan wanita
8. Ada hijab
9. Menutup aurat
10. Pelarangan taqrab al-zina
11. Seks terarah {manusiawi}
12. Kepentingan masyarakat
13. Memelihara, menjaga aurat
14. Menjaga keturunan atau nasab
15. Menjaga kemaluan
16. Menghindari aborsi.

Nah..... Sudah agak jelas kan? Tinggal bagaiman kita menjalani gaya hidup kita sehari-hari. Apakah kita termasuk manusia yang menerapkan al-haya'? Ataukah masuk dalam golongan permisif mania? Hanya kita dan Allah Alla Wa Jalla yang tahu...

Semoga bermanfaat buat semua...... Amien, Yarobbal alamin....

Dicopas dari blog-nya Alwanurys

Perajin Meubel Bambu di Trengalek: Mandeg Memroduksi Kualitas Ekspor

Eksportir Tak Lancar Membayar



Dengan sentuhan tangan-tangan kreatif, bambu yang sekian tahun lalu identik dengan kehidupan pedesaan [rumah bambu, dinding bambu] bisa tampil sebagai barang-barang, perabotan, yang berkesan mewah dan bahkan jadi komoditas ekspor.Tetapi, Saiful [perajin di Trenggalek, Jawa Timur] memilih berhenti memroduksi meubel bambu kualitas ekspor gara-gara sistem pembayarannya buruk.



Desa Sumber Gayam, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek dikenal pula sebagai sentra industri kerajinan berbahan bambu. Salah seorang perajinnya ialah Saiful Anam [37]. Bapak dua orang anak ini mengawali usahanya sejak Tahun 1997. Sebelumnya, Saiful bekerja di industri meubel bambu di Bali. Selama 4 tahun bekerja di bali ia banyak memperoleh pengalaman mengenai seluk-beluk mulai dari proses pembuatan meubel dari bambu yang berkualitas sekaligus bagaimana cara melayani konsumen maupun cara-cara pemasarannya.

Setahun setelah mempersunting Ngaisah [27] gadis desa Sumbergayam, laki-laki kelahiran Kencong Jember ini memutuskan membuka usaha pembuatan meubel dari bambu, sesuai dengan ketrampilan yang dimiliki. Dengan modal tidak lebih dari Rp 500 ribu, saat itu ia gunakan membeli bambu dan rotan sebagai bahan bakunya. Dari pembelian tersebut setelah diproses ternyata cukup untuk beberapa set meja kursi. Saat itu seluruh pengerjaannya ditangani sendiri.

’’Awalnya, pembeli dari produk saya sebatas tetangga dan teman dekat saya. Kemudian secara gethok tular produk ini mulai dikenal masyarakat luas utamanya di lingkup Trenggalek,’’ ujarnya.

Hal itu ditandai juga dengan semakin banyaknya pesanan yang mengalir ke rumah produksinya. Untuk meningkatkan pelayanan terhadap konsumen Saiful memutuskan merekrut karyawan untuk membantu produksinya. Setelah dibantu 5 orang karyawan, Saiful bisa menyelesaikan setiap pesanan tepat pada waktunya, bahkan mampu membuat stok produksi.

Pameran

Pada Tahun 2000 Saiful mengikuti beberapa pameran di Kediri dan Surabaya, dan barang yang dibawa semua habis terjual. ’’Selama mengikuti pameran ada beberapa pembeli yang menawarkan kerjasama untuk memasok produk meubel bambu,’’ tuturnya. ’’Salah satunya adalah pengusaha meubel dari Surabaya, meminta dibuatkan yang berkualitas ekspor,’’ lanjutnya.

Tawaran yang datang tersebut oleh Saiful segera direspon, maka selain melayani konsumen lokal ia menyisihkan waktu untuk membuat meubel yang memiliki kualitas standar ekspor. Hal itu bukan perkara sulit bagi Saiful yang telah berpengalaman di Bali selama 4 tahun.

Kiriman pertama saat itu adalah 10 set meja kursi dengan nilai Rp 10 juta, dengan dibayar kontan. Selanjutnya, menurut Saiful setiap bulannya 10 set terkirim ke Surabaya. ’’Sebetulnya harganya tinggi dan keuntungannya cukup lumayan, tetapi faktor utama bagi saya adalah kelancaran pembayarannya. Memang untuk satu sampai empat kali kirim dibayar kontan, namun kiriman selanjutnya kadang dibayar separo, bahkan sempat pembayarannya tertunda sampai saat pengiriman selanjutnya,’’ tuturnya.
Kemudian setelah dirasa hal tersebut akan menjadikan beban pikirannya yang imbasnya akan berpengaruh pada kualitas dan kelancaran produknya, saiful memutuskan untuk menghentikan kiriman ke Surabaya. Ia lebih berkonsentrasi membidik pasar lokal untuk kelas menengah ke bawah.

Saat ini dengan karyawan sebanyak 10 orang, rmah produksi Saiful siap mengolah bahan baku bambu ulung yang berwarna hitam menjadi perangkat meja kursi yang berkesan mewah. Setiap bulannya Saiful mampu menjual 10 sampai 15 set. Selain meja kursi juga memroduksi almari, sekat ruangan, dan perangkat/dekorasi untuk pesta pernikahan yang semua terbuat dari bambu.

Mengenai harga jualnya, produk Saiful ini tergolong murah. Setiap setnya berkisar antara Rp 600 ribu sampai Rp 700 ribu, untuk Almari Rp 700 ribu, meja kursi Rp 700 ribu, penyekat ruangan Rp 600 ribu, sedangkan kwade dipatok harga Rp 1,25 juta.

Karyawan

Kendala utama yang dialamai menurut Saiful adalah tenaga kerja. ’’Karyawan saya ini rata-rata hanya setengah hari kerja karena kebanyakan mereka adalah anak-anak pondok pesantren. Warga sini sendiri kebanyakan tidak telaten apalagi saya hanya mampu membayar Rp 25 ribu/ harinya. Sedangkan mereka pada umumnya minta Rp 35 ribu/hari. Bila saya paksakan saya sendiri yang akan merugi. Karena biaya untuk finishing-nya sekarang mahal terutama seperti harga milamin yang selalu melonjak,’’ ujarnya.

’’Mengenai bahan baku tidak mengalami kendala, karena sudah ada pedagang yang selalu rutin memasok bambu dan rotan. Satu truk bambu seharga Rp 2,5 juta, bila diolah akan menjadi 12 set meubel,’’ lanjutnya.

Dari hasil penjualan yang rata-rata setiap bulannya sebanyak 12 set tersebut, akan memperoleh pemasukan sekitar Rp 7 sampai Rp 8 juta. Setelah dipotong pembelian bahan baku dan biaya operasional paling tidak Saiful masih bisa menyisihkan hasil kurang lebih Rp 1,5 juta.

Pendapatan tersebut sudah cukup lumayan dan bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya selain itu ia juga masih bisa menyisihkan untuk ditabung. [PUR]

dari Peduli Nomor 13

SMART OR STUPID?


Jika Anda perempuan, pernahkah Anda dicurhati seorang teman perempuan yang sudah ’’habis-habisan’’ dengan kekasih pujaannya, namun janji pernikahan oleh sang laki-laki hanya tinggal janji belaka? So, what wrong with her?


Jadilah perempuan yang smart. Jika perempuan bersedia berhubungan seks dengan seorang laki-laki di luar pernikahan, adalah tergolong stupid jika laki-laki itu masih ingin menikahinya. Maka, silahkan tebar pesona [yang ini memang harus dan kudu] tapi tetap pertahankan ’keperawanan’.

Tahukah Anda jika laki-laki sudah dapat apa yang diincarnya, sudah tidak ada tantangan lagi bagi dirinya? Jika seorang perempuan tetap nekad terus mengejar-ngejarnya, laki-laki akan segera muntah.

So, apa yang seharusnya dilakukan agar menjadi perempuan smart? Tebar pesona ke segala arah, dapatkan simpati dari laki-laki yang mengagumi Anda dan ’tinggalkan’ mereka. ’Tinggalkan’ berarti jangan pedulikan, tapi tetap amati. Dengan langkah ini Anda akan bisa memilih laki-laki pujaan dan menyeleksinya. Jika sudah menemukannya, jangan kejar dia. Tetaplah elegant dengan segala aktivitas dan kesibukan Anda. Anda akan memiliki value alias bernilai di mata dia. Perempuan yang menarik di mata laki-laki adalah perempuan yang memiliki ’nilai’. So, teruslah tetap mengembangkan diri dengan banyak belajar.

Jangan pernah kencan terlalu lama --apalagi untuk kencan pertama-- jika Anda masih menginginkan kencan ketiga, keempat dan seterusnya. Kendalikan perasaanmu, Girls!! Saya tahu memang sulit untuk segera meninggalkan laki-laki yang membuat kita dheg-dheg pyar dan termehek-mehek ketika kita sedang kencan dengannya. Tapi, lihatlah jangka panjangnya. Dia akan penasaran sama kita. Itu yang penting. Jangan pernah mau dicium untuk kencan pertama, meskipun kita sangat menginginkannya.
Jika Anda perempuan, pernahkah Anda mengalami Si A yang tidak begitu Anda minati, terus mengejar-ngejar Anda? Karena Anda di mata dia adalah seorang perempuan yang menarik yang membuatnya penasaran. Dan pernahkah Anda mengejar-ngejar Si B namun yang semula dia memuja Anda kini berbalik "menjauhi" Anda? Karena Anda kini di matanya tak lebih dari seorang perempuan yang ’menyebalkan.’

So, bisakah kita tetap terkendali untuk tidak menunjukkan secara transparan kepada laki-laki pujaan jika kita sangat memujanya? Jadilah ’Cinderella’, tokoh dongeng yang pesan moral-nya tetap relevan hingga kini. Jadilah perempuan yang pertama kali mengakhiri kencan. Ingat, Cinderella mengakhiri kencan tanpa ciuman [karena lonceng berbunyi]. Dan Si Pangeran tetap mengejarnya. Jangan pernah ragu-ragu mengakhiri kencan. Jika sang pujaan memang tertarik dengan Anda, dia akan tetap mengejar Anda. Namun, sekali lagi, tetaplah pegang kendali dan jangan GR. Jadilah perempuan yang ’mahal’.

Sekarang, apakah ’tantangan dalam cinta’ ini hanya monopoli laki-laki? Saya rasa tidak. Banyak juga perempuan yang merasa ’bosan’ dengan kejaran-kejaran para laki-laki yang memujanya yang bikin muntah juga. Perempuan yang suka tantangan ini akan ’mengejar’ dengan sangat ’elegant’ target yang lebih tinggi dari yang ada. Masih ingat kasus ’poligami’ oleh high profil di negeri kita? Nah, si perempuan akan sangat bangga bisa menaklukkan seorang laki-laki high profil pujaannya ini. Tapi who knows apakah dia bahagia? Mungkin ini lebih tepat jika si perempuan yang suka tantangan ini menemukan seorang laki-laki high profil yang single. Dan yang ini memang benar-benar sangat tepat. Mendapatkan ’pangeran’ yang diinginkan adalah impian setiap ’cinderella’.

Bagaimana caranya bisa menemukan seorang laki-laki high profil? Berbaurlah dengan mereka yang termasuk high profil. Ingat, Cinderella menghadiri pesta dengan pakaian bak seorang putri, bukan pakaian compang-camping yang bercelemek. Tidak mungkin Anda bisa menghadiri pesta orang-orang high profil dengan profil Anda yang masih low. Tidak mungkin seorang pekerja rumah tangga atau seorang perempuan pemulung sampah tiba-tiba berada di pesta orang-orang high profil kecuali ada yang istimewa dengannya. Jika Cinderella menggunakan magic maka kita juga bisa menggunakan magic pula.

Keunikan, itulah magic-nya. Dan keunikan bukan hanya milik orang-orang tertentu. Keunikan adalah milik semua orang. Bahkan keunikan juga milik seorang perempuan yang high profil sekalipun. Sayangnya, hanya sedikit perempuan yang menyadarinya. Seorang yang high profil sekalipun jika tidak menyadari keunikan dirinya akan sama dengan perempuan-perempuan lain yang tentu saja tidak akan menarik perhatian sang pangeran. Apakah keunikan itu? Inner beauty. Ingat, saudara-saudara tiri Cinderella tidak memiliki inner beauty meskipun terbilang high profil.

Masalahnya sekarang, banyak perempuan yang tidak peduli dengan inner beauty. Apakah hanya dengan sifat dan sikap yang baik? Mungkin. Namun yang jelas, menjadi seorang yang ber-inner beauty membutuhkan pembelajaran. Tidak hanya sekali sulap. Inner beauty identik dengan smart bukan stupid. Sama seperti seseorang yang bijaksana. Kebijaksanaan lahir dari sebuah pembelajaran dan pengendalian diri tanpa henti. Dan orang yang bijak adalah orang yang smart, bukan stupid.[ENI KUSUMA]

DARI: Peduli Mei 2007

KITA HARUS KERAS TERHADAP DIRI SENDIRI


’’Jika kita keras terhadap diri sendiri, maka kehidupan akan lunak terhadap kita, sebaliknya jika kita lunak terhadap diri sendiri maka kehidupan akan keras terhadap kita.’’

Kita tentu sudah mengenal kalimat motivasi ini dari Bapak Motivator No. 1 Indonesia, Andrie Wongso. Kata-kata motivasi ini ditegaskan kembali oleh Johanes Ariffin Wijaya dalam sharing gratis bersama TKW di lapangan rumput Victoria Hongkong, Minggu [21/01]. Para peserta sharing sangat antusias mengikuti jalannya acara. Johanes Ariffin Wijaya adalah seorang inspirator, motivator, pengusaha, penulis buku-buku best seller -yang diantaranya meraih rekor MURI untuk buku I Love U yang pertama kali dijadikan souvenir pernikahan dan ditulis oleh pengantinnya sendiri.



Dalam acara sharing bersama yang berlangsung meriah, Johanes Ariffin Wijaya disamping memberi motivasi-motivasi, juga mengajari para peserta bagaimana BISA mematahkan pensil hanya dengan satu jari saja. Sebagai bukti bahwa para peserta bisa menghancurkan mental block [keraguan-keraguan] di dalam diri. Terbukti jika kita keras [yakin dan tidak ragu-ragu] terhadap diri kita maka sebatang pensil pun akan lunak (patah) dengan satu jari saja. Sebaliknya, jika kita lunak terhadap diri kita, maka sebatang pensil akan keras [tak terpatahkan] dan jari kita akan sakit.

Bukan itu saja, Johanes Ariffin Wijaya memperlihatkan bagaimana dia bisa menggabungkan tiga ikatan tali secara magic. Suatu ilustrasi tentang kekuatan dari "team work". Juga bagaimana dia bisa menebak kata secara magic. Pembicara yang banyak memberikan pelatihan-pelatihan seminar di berbagai kota di Indonesia itu memang unik. Dia yang masih berumur 29 tahun itu menggabungkan ilmu bangunan, ilmu motivasi/inspirasi dengan ilmu sulap yang merupakan salah satu hobinya. Menurut Johanes, magic atau sulap dapat digunakan sebagai metode pembelajaran yang efektif untuk dapat menginspirasi atau memotivasi orang.

Dalam pelatihan tersebut, yaitu mematahkan pensil hanya dengan satu jari, sekitar 10% dari jumlah peserta yang hadir saja yang berhasil mematahkan pensil tanpa gagal sama sekali, 40% berhasil setelah mengalami kegagalan, 25% mencoba namun gagal dan tidak mau mencoba lagi, dan 25% tidak pernah mencoba alias "No Action".

Buku-buku yang ditulisnya pun diserbu oleh para peserta bak kacang goreng di musim dingin. Buku-buku tersebut antara lain "8 Kualitas Mental Positif Untuk Meraih Sukses" -Gradien Book 2004(buku yang sangat luar biasa, karena dalam satu bulan mengalami naik cetak hingga dua kali), "Building Succes = Building Home" [Gradien Book, 2005], "Be A Superteen" (Gramedia Pustaka Utama, 2006), "I Love U" [&M Books 2006] Selain buku-bukunya, penulisnya sendiri yang didampingi istri tercinta, Mimi Kurniasari ditarik-tarik oleh peserta buat pose bersama. "Kapan lagi Mbak ada kesempatan langka kayak gini, minta tanda tangan plus foto bareng penulisnya" kata salah satu peserta acara.

Sebagai seorang trainer, Johanes Ariffin Wijaya telah berbicara di berbagai universitas, sekolah, perusahaan, dan lain-lain. Adapun topik-topik seminar dari Johanes Ariffin Wijaya antara lain: Born to Be Entrepreneur, Born to Win, Motivation for Success for an Entrepreneur, Get Your Amazing Success, Winning Spirit, Train for Trainer, dan Excellence and Performance Leadership.

Sebelum mengakhiri acara yang berlangsung dari pukul 12 siang sampai pukul 3 sore, Johanes Ariffin Wijaya berpesan kepada para TKW Hongkong bahwa "Jika kamu ingin menjadi seorang yang luar biasa, kamu harus mulai berpikir tentang tujuan hidupmu, percaya pada kemampuan dan potensi diri sendiri, bermimpi apa yang ingin kamu capai dan terakhir berani melakukan tindakan untuk mewujudkan mimpimu. Jika tidak berani bertindak, So What Gitu Loh !! Dan mimpi akan tinggal menjadi mimpi. [ENI KUSUMA, penulis buku ANDA LUAR BIASA!!! dan kolumnis pembelajar dot com]


Dari: Peduli Nomor 10

Jumat, 22 Februari 2008

INFO PENTING BWAT YG PUNYA HANDPHONE DI INDONESIA

Jika anda menerima panggilan telepon dari seseorang dengan no.telp yang tidak dikenal atau terdaftar, berkata bahwa dia (pria/wanita) berasal dari divisi engineerin g/teknisi perusahaan salah satu vendor/operator cellphone yang ingin memeriksa sambungan telepon atausinyal atau dengan alasan apapun, dan selanjutnya dia berkata bahwa kita harus menekan tombol # 90 atau #09 atau nomor apapun (bisa juga dengan kode huruf), secepatnya matikan/putuskan sambungan telepon ter sebut tanpa menekan tombol yang mereka minta.


karena saat ini ada penipu-penipu yang menggunakan peralatan dimana jika anda menekan tombol #90 atau #09 maka penipu-penip u tersebut dapat mengakses SIM card telepon kita dan mereka dapat menggunakan line anda dengan dan atas biaya anda.

Mohon forward email ini kepada seluruh teman anda untuk mencegah tindak kriminal ini. dan juga ada beberapa issue lainnya. Jika anda menerima telepon di telepon genggam/cellphone dan layar cellphone anda menampilkan display seperti ini : (LAN).

JANGAN MENERIMA SAMBUNGAN TELEPON TERSEBUT, HARAP LANGSUNG MATIKAN TELEPON ANDA DENGAN MENEKAN TOMBOL POWER(ON/OFF) CEL LPHONE ANDA.

Karena jika anda menerima sambungan tlepon tersebut maka cellphone
anda akan terkena virus. virus ini akan menghapus seluruh IMEI dan InformasiIMSI dari cellphone dan SIM card anda, dimana selanjutnya anda akan terputus hubungan sama sekali darivendor/opera tor manapun. (dimana anda harus mengganti cellphone dn SIM card anda dengan yang baru).Informasi ini telah dikonfirmasi dengan Motorola and Nokia. saat ini terdapat ebih dari 3 juta telepon genggam/cellphone yang terkena Virus ini. anda pun dapat membaca berita taupun informasi mengenai hal ini di situs web CNN.

MOHON PESAN INI DAPAT DILANJUTKAN KEPADA TEMAN-TEMA N ANDA.

Kind Regards,
PT Siemens Indonesia
ACCOUNT ING Department

RFT management
JL.M.T. Haryono Kav 5-6
Jakarta Selatan
Indonesia-12330

T : +62-21-8301105 -06 – 07
F :+62-21-8301112

Nemu di milis ini

KOK, INSPIRATIF?

Dalam obrolan yang sangat akrap, seorang sahabat mengajukan pertanyaan retoris [dalam pelajaran bahasa Indonesia di SMP, Bu Guru menjelaskan bahwa yang dimaksud pertanyaan retoris adalah pertanyaan yang dikemukakan bukan untuk mendapatkan jawaban, tetapi sebagai gaya pengucapan. Jadi orang yang mengajukan pertanyaan retoris bukanlah orang yang ’bertanya’ melainkan ’mempertanyakan’ atau bahkan ’menegaskan sesuatu’].


Pertanyaan retoris itu lebih-kurang begini, ’’Mengapa memilih semboyan [maksudnya untuk majalah Peduli]: informasinya inspiratif?’’ Nah, kan? Belum sempat ada kalimat muncul sebagai reaksinya, sahabat itu sudah menumpangkan kalimat lain, ’’Bukankah akan terasa lebih hebat kalau pakai kata-kata, misalnya: informasinya akurat, atau hanya mengungkap fakta, atau informasinya lebih jernih dan tepercaya, dan semacamnya!’’

Hehe! Akurat? Seakurat apa? Seakurat bidikan panah asmara Arjuna ke jantung perempuannya? Haha. Sejernih apa? Sejernih minyak goreng rendah kolesterol? Setajam lirikan mata yang sedang jatuh hati? Bukannya jernih itu buruk, bukannya akurat itu jelek, dan tajam ada baiknya pula ketika dibutuhkan.

Majalah Peduli diterbitkan untuk membukakan ruang bagi inspirasi kepada para TKI yang masih bekerja di luar negeri, sehingga memiliki gambaran yang jelas mengenai apa yang mesti mereka lakukan kelak, setelah memiliki tabungan yang cukup dan memutuskan untuk menjalani hidup, bekerja, dan menikmati hasilnya di negeri sendiri. Karena itulah, Majalah Peduli menggunakan semboyan: informasinya inspiratif.

Nah, kan? Inspiratif, itulah yang selalu kami upayakan. Dan karenanya, pembaca Peduli akan banyak pula menemukan liputan-liputan menganai usaha kecil yang ’’secara harfiah’’ tidak bisa ditiru begitu saja, karena omzetnya mungkin terlalu kecil. Seorang ibu di sebuah sudut desa pedalaman, misalnya, menekuni usaha pembuatan tempe berbalut gedebog [irisan batang pisang] yang hanya menjual sebanyak yang bisa dibawanya sendiri ke pasar, 2 atau 3 kali dalam sepekan. Omzetnya dalam sepekan itu mungkin hanya berbilang ratusan ribu rupiah, dan angka keuntungannya pastilah terlalu jauh untuk bisa dikatakan menggiurkan.

Maka, apakah yang mendorong Redaksi Peduli untuk menurunkan hasil liputan seperti itu? Tentu, kita tidak mengajak pembaca untuk melakukan usaha yang sama persis baik dalam hal produksi dan apalagi pemasarannya. Yang paling menarik dari laporan seperti itu adalah hikmah, pelajaran, tentang semangat bekerja, tentang ketekunan, tentang istiqomah.

Kadang pikiran sarjana ekonomi pun ora gaduk [tidak bisa menjangkau] dan tidak bisa menerangkan dengan teori-teori akademiknya, bagaimana bisnis modal kecil [mikro] banget itu, dengan omset sangat kecil, dan keuntungan sangat kecil pula bisa dipertahankan bahkan diwariskan dari generasi ke generasi? Bagaimana bisa, ya? Dan, selama masih ada pertanyaan semacam itu, pastilah si penanya benar-benar belum memahami hakikatnya, dan karenanya pertanyaan seperti itu adalah pertanyaan yang sangat lugu, bukannya pertanyaan retoris.

Dan dalam usaha menemukan jawaban-jawaban itu, pikiran kita bergerak, tidak mandeg. Ketika pikiran tidak mandeg, itulah saat yang bagus untuk mendapatkan inspirasi!

Pepatah bilang, sebuah karya lahir dari satu persen inspirasi ditambah sembilan puluh sembilan persen perspirasi [keringat]. Tetapi jangan lupa, walau angkanya hanya 1 %, inspirasi itu adalah ibarat pemantik. [R]

Selasa, 19 Februari 2008

KISAH NYATA


[Oct 1, '07 11:01 PM
for everyone]

TADI PAGI waktu aq belanja ke pasar melihat segerombolan anak2 indo di pojok pasar,karna ras apenasaran ada apa akhirnya aku menuju t4 tsb, YA TUHAN, ternyata seorang gadis usia 17 thn sedang menangis, kutanya secara perlahan ada apakah gerangan,duh sungguh memilukan nasibnya mendapatkan majikan yg sangat jahat,segala tingkah laku majikan dirumah suruh ngikutin, bicarapun suruh nirukan klo dia salah dikit tangan yg bicara, bahkan tak segan masukin benda ke mulut dia, karna udah ga tahan dia kabur tanpa bawa apa2 cuma bawa ktp sama baju yg melekat ditubuhnya, dia menangs trus kuhibur sebisaku , aq melihatnya merasa iba, ternyata dia masih baru blom ngerti apa2.

hati ini rasanya tersentuh banget,kebetulan ada police lewat langsung aja minta bantuan,biar diantar ke lembaga yg menanpung anak2 pelarian, klo balik ke agen rasanya percuma karna kebanyakan agen membantu majikan bukanya membantu kita.

Yah emang nasib ga ada yg tau ga smuanya org kerja diluar negri tu enak,yg mengalami ga enakpun byk,kuambil d yg tersisa didompetku kubantu sebisaku,akhirnya yg lain pada ngikuti kasih saku ala kadarnya,biarpun dirantauan ternyata rasa kesetiakawanan masih ada,rasa kepedulian masih ada,makanya bagi kluarga yg di indo mengertilah sedikit akan suka dukanya org yg kerja diluar negri,jgn diliat aja dari segi uang tanpa peduli keadana yg sebenarnya yg terjadi. []

Oleh: putrie cinta

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Oleh: Ayu Andini*



Eni Lestari, Ketua Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia di Hong Kong (ATKI-HK), memberikan statement menanggapi keterangan keluarga Fitriani, BMI yang terbunuh di Hong Kong 23 Januari 2008 lalu, bahwa agency yang memberangkatkan Fitriani ke Hong Kong, meminta pihak keluarga Fitriani untuk membayar uang sebesar Rp 1.500.000 untuk biaya transportasi Jenazah, dari Airport Juanda, Surabaya, menuju kediaman Fitriani di Desa Kluwut, Wonosari, Malang, Jawa Timur.

Sedih sekali mendengar nasib Almarhumah Fitriani itu --semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan.

Sekedar ingin membandingkan pengalaman pribadi saya selama bekerja di salah satu PPTKIS di Tangerang, saya mempunyai 3 murid yang meninggal masing masing di Taiwan, Malaysia dan terakhir di Taiwan juga.

Saya ingat sekali ketika saya harus terbang ke Surabaya untuk menunggu kedatangan jenasah BMI saya bersama pihak BP2TKI Jawa Timur dan pihak keluarga almarhumah. BMI saya meninggal karena kecelakaan ketika taksi yang ditumpanginya untuk membeli obat bagi pasiennya ditabrak mobil kontainer yang menyebabkan tulang iga kirinya rusak dan akhirnya meninggal setelah sepekan dirawat di Rumah Sakit di Taiwan.

Malam itu jenasah datang pukul 23.00 bersama China Airlines di Bandara Juanda. Kami mengurus jenasah sejak dikeluarkan dari area cargo dan langsung meluncur ke Banyuwangi karena dari sanalah BMI berasal. Suami dan anak anak almarhumah juga hadir di bandara.

Pukul 04.30 ketika tiba di di Banyuwangi, sudah menunggu sanak dan saudara almarhumah. Tak seorang pun yang tak menangis. Betapa tersentuh hati saya. Andai saja ketika saya pergi ke Taiwan dulu terjadi apa-apa sehingga pulang berada di dalam peti jenasah, pastilah keluarga saya akan merasakan hal yang sama.

Ada lagi BMI yang berangkat melalui PJTKI tempat saya bekerja yang meninggal di Malaysia. Kali ini saya menunggunya di Jakarta untuk kemudian membarengi jenasah itu dengan pesawat menuju Jogja. Kami juga menyewakan mobil agar keluarganya bisa datang ke bandara dari desa Prembun. Mobil ambulans yang sudah kami siapkan membawa kami dengan rasa duka yang dalam. Di rumah duka saya harus memberikan kata sambutan di hadapan 300 pelayat yang berlinang air mata. Betapa beratnya posisi saya kala itu. Padahal, semua itu bukan kesalahan saya, bukan? Mewakili PJTKI, saya sudah mengupayakan yang terbaik buat ahli warisnya berupa uang duka dan uang asuransi untuk keluarga yang ditinggalkan. Dan tidak memungut sepeser pun dari mereka, karena kami sadar sepenuhnya bahwa itu semua adalah kewajiban kami.

Terakhir, salah seorang BMI Taiwan mengalami kercelakaan kerja dan saya kembali dapat tugas mengantarkan jenasahnya untuk disemayamkan di Bandung. Saya mengurusnya sendiri tanpa bantuan calo, sejak jenasah mendarat di Bandara Soekarno Hatta, pengurusan bea cukai, karantina, hingga pengurusan dokumen agar jenasah bisa keluar dari cargo bandara Sukarno Hatta. Dan lagi-lagi saya harus berbicara, menyerahkan jenasah kepada keluarganya setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan dari Jakarta ke Bandung.

Banhyak dokumen yang harus diterjemahkan ke dalam bahasa negara penempatan, disahkan oleh notaris tersumpah, dilegalisasi Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, Departemen Luar Negri dan Perwakilan Taiwan di Indonesia. Itu semua membuat jenasah baru sampai di tanah kelahirannya sebulan sejak kematiannya. Kami bisa paham jika reaksi masyarakat dan keluarganya terkesan sinis, bahkan geram.

Saya bisa merasakan kesedihan yang mendalam di keluarga ini, mengingat almarhum sudah tidak mempunyai orang tua, dan ketika memutuskan untuk keluar negri, niatnya murni adalah untuk membantu ekonomi saudara saudara kandungnya. Lantas, ketika terjadi musibah seperti ini, bisa kita bayangkan betapa kehilangannya keluarga ini.

Syukurlah, pada akhirnya saya bisa melewati masa-masa menegangkan itu. Warga akhirnya bersimpati kepada perusahaan kami, yang telah memberangkatkan dan memulangkan dengan penuh tanggung jawab. Dan yang paling penting adalah kami tidak menambah beban keluarga yang ditinggalkan oleh BMI dengan meminta uang transportasi atau apa pun istilahnya, seperti yang dialami oleh keluarga almarhumah Fitriani.

Maka, melalui tulisan sederhana ini, yang ingin saya tekankan adalah, betapa masih ada pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab terhadap nasib BMI-nya, tetapi malah menambah beban keluarga BMI bahkan ketika mereka tertimpa kesusahan yang begitu berat. Dan jika benar pihak agen, atau PJTKI-nya yang meminta uang transport itu, tidakkah mereka takut akan sanksinya, karena jelas-jelas itu melanggar Undang-undang No 39 Tahun 2004 Pasal 73 antara lain ayat 2 (c): ’’memulangkan jenazah TKI ke tempat asal dengan cara yang layak serta menanggung semua biaya yang diperlukan, termasuk biaya penguburan sesuai dengan tata cara agama TKI yang bersangkutan.’’

Coba saja andai Pimpinan PPTKIS tersebut mempunyai rasa empati yang dalam, pastilah sekian juta tidak akan menjadi masalah, dibandingkan dengan harus kehilangan anggota keluarga.

Selanjutnya, apabila pihak PPTKIS yang memberangkatkan Fitriani telah mengasuransikannya sebelum terbang ke Hong Kong, apabila ada asuransi untuk atas nama almarhumah, maka ahli waris Fitriani akan berhak atas uang kematian sebesar 40 juta dan uang penguburan sebesar Rp 5 juta dari pihak asuransi Indonesia. Untuk pengurusan klaim ini, pihak PPTKIS-lah yang wajib melakukannya dengan bantuan pihak keluarga untuk penyediaan dokumen-dokumen yang diperlukan.

Lewat tulisan ini, saya ingin mengajak teman-teman BMI untuk berusaha lebih memahami dan kemudian memerjuanagkan hak yang seharusnya diterima.

Semoga menjadi sebuah pembelajaran bagi kita semua, untuk ikut merasakan kesedihan orang lain, bukannya malah menambah beban mereka justru disaat mereka sedang sedih sesedih-sedihnya, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. [andini76@yahoo.com]

*) Penulis adalah Kepala Cabang Jatim PT Yonasindo Intra Pratama

dari: Intermezo edisi Februari 2008

Senin, 18 Februari 2008

Catatan yang Tercecer dari Penyerahan Hadiah LCC-BI 2007


Secangkir Kopi Sastra di Ruang BCA Causeway Bay

Oleh: Dewita Sekarbumi

''Secangkir kopi''

Sebait kalimat yang dikutip dari puisi 20 Juta untuk Sebuah Patung karya Tania Roos, adalah salah satu puisi yang mengisi acara pengumuman sekaligus penyerahan hadiah pemenang Lomba Cipta Cerpen (LCC) yang diselenggarakan oleh Koran Berita Indonesia.

BCA Causeway Bay yang biasanya hanya dikunjungi oleh BMI yang mau kirim uang atau menabung pagi itu (18 November 2007) mendadak ingar. Sekitar 60 penggemar sekaligus yang penggelut sastra hadir menyemarakkan acara penyerahan hadiah LCC.

LCC ini adalah untuk kedua bagi BI, karena sebelumnya pernah diadakan lomba karya tulis cerpen tahun 2003 dalam rangka memeringati HUT RI ke-58, Berita Indonesia bekerjasama dengan KJRI.

Sayangnya, sejak lomba karya tulis itu pihak penyelenggara terutama KJRI tidak lagi mengadakan lomba karya tulis yang sebenarnya sangat ditunggu-tunggu dan diminati oleh para BMI.
Mengapa LCC ada laghi tahun ini? Tania Roos selaku Ketua Panitia yang dipercaya oleh BI, dengan bahasa polosnya meyampaikan begini, ’’Saya yang mengudrek-udrek Pak Sam Jauhari supaya diadakan lagi lomba karya tulis cerpen.’’

Pak Sam Jauhari yang sudah tak asing lagi di mata BMI-HK, akhirnya menyetujui untuk diadakan lagi lomba cipta cerpen itu. Yang tahun ini diberi nama LCC Bulan Bahasa 2007. Menurut penuturan salah seorang panitia, Etik Juwita, kurang lebih 40 peserta telah ikut perpartisipasi mengikuti LCC yang penjuriannya dipercayakan oleh pihak BI kepada Sastrawan-sastrawan Jatim: Beni Setia, Bonari Nabonenar, dan Arief Santosa.

Sebelum pengumuman pemenang , para juri sempat membuat para peserta bertanya dan deg-degan, karena 15 Cerpen yang masuk nominasi diumumkan di Intermezo bulan Oktober 2007.

Dari sana bisa dikira-kira siapa yang akan menjadi pemenang. Pertanyaan para peserta akhirnya terjawab pada minggu 18 November 2007. Juara I Swastika Mahartika, Juara II Farida Supriyanti dan Juara III Tarini Sorrita. Dan 3 peserta lagi menduduki juara harapan satu sampai harapan tiga sedangkan yang lainnya mendapatkan penghargaan sebagai 15 besar.
Dan suatu kabar baik dari ketua panitia, bahwasannya 15 cerpen terbaik akan dibukukan. Sebenarnya bagi para peserta, hadiah bukanlah tujuan utama mereka, yang penting mereka bisa menyosialisasikan tulisan mereka kepada publik.

Dalam acara pengumuman serta penyerahan hadiah pemenang LCC dalam rangka Bulan Bahasa 2007, sekaligus temu muka para penulis di kalangan BMI, sebelumnya acara diisi dengan berbagai selingan pementasan karya seni oleh teman-teman dari Sekar Bumi, Nongkrong Bareng Fans, dan Forum Lingkar Pena Cabang Hong Kong.

Pementasan karya seni berupa puisi dan cerpen bagi Sekar Bumi sendiri adalah yang pertama kali karena Sekar Bumi adalah organisasi baru di Hong Kong khususnya di kalangan BMI-HK. Sekar Bumi adalah salah satu wadah baru untuk menyalurkan bakat-bakat BMI yang terpendam sama seperti organisasi lainnya yang sama misinya tentunya.
Selain puisi dan cerpen, teaterpun sempat mengisi selingan yang dipentaskan oleh kelompok FLP HK. Bahkan kita patut bangga karena teman kita pun ada yang sanggup menciptakan puisi berbahasa Jawa.

Walau baru pertama kali penampilannya membacakan puisi, Anggi alias Camat Sekar Bumi yang biasanya mementaskan tarian, dia sudah terbilang cukup baik dan menghayati puisi yang dibacakannya. Siang itu ada 4 buah puisi dan 2 cerpen yang mengisi acara selingan, di antaranya cerpen Hati yang Kapalan milik Etik Juwita yang dibacakan oleh Etik Juwita, cerpen Togog Jadi Ratu milik Tania Roos yang dibacakan oleh Anan Sekar Bumi.

Sedangkan 4 puisi yang ditampilkan adalah Pesan Arwah Seorang Babu karya Anan dibacakan oleh Ruba'iyah, 20 Juta untuk Sebuah Patung karya Tania Roos dibacakan oleh Hesti NBF, Srikandi karya Anggi Sarpani Sapon Sekar bumi dibacakan oleh Anggi sendiri, dan Aku mau Peduli karya Tarini Sorrita Sekar Bumi dibacakan oleh Tarini Sorrita, Dwijayanti, Dwi Sapon, dan Eni Fatmawati.

Acara pun diisi dengan bincang-bincang antar peserta lomba dan moderator, yang kebetulan siang itu dimoderatori oleh Afandi, Nugroho KJRI, Etik Juwita selaku panitia merangkap cerpenis dan Tania Roos selaku Ketua Panitia yang juga cerpenis.

Obrolan dibilang cukup seru seputar sastra dan solusi di masa akan datang bagi para BMI yang gemar menulis. Dari obrolan ringan itu terlihat jekas antusias teman-teman penulis untuk bisa tetap menulis dan kalau bisa KJRI pun dapat menyelenggarakan acara seperti LCC dan menyediakan tempat untuk BMI yang berbakat dan gemar tulis-menulis.
Ini disetujui oleh Pak Nugroho alias Nugi, namun dengan jujur dia bilang belum bisa menjanjikan. Semoga dengan adanya LCC ini KJRI pun membuka mata dan telinga untuk BMI yang gemar menggeluti sastra.

Kalau bisa KJRI pun bisa mengadakan workshop kepenulisan dan mendatangkan para sastrawan alias narasumber dari Indonesia ke Hongkong, seperti yang pernah dilakukan oleh Ida Permatasari pendiri Cafe' de Kosta dan Berita Indonesia bekerjasama dengan Garuda Indonesia 2005 lalu.

Maka, lomba menulis, workshop, atau kegiatan meningkatkan serta mengasah wawasan para BMI-HK pada dasarnya seperti halnya secangkir kopi. Ia bikin hangat, nambah semangat, lebih-lebih di pagi hari sebelum kerja yang sesungguhnya mesti dimulai. []